___ Cobaan paling berat itu tiba – tiba mantan datang dan ngasih undangan, berkabar lebih dulu ke KUA. Monyet kan si Bagas.____
Bulan penuh kejutan, paket lengkap buatku.
Beberapa hari lalu bahagia naik jabatan, ketawa –tiwi bareng teman hingga gigi kering. Selfi berbagai gaya andalan sampai katanya buat dokumentasi perusahaan, siang ini aku menahan diri untuk tidak menangis jungkir – balik, setelah mendapat hadiah yang diantar Abang Gojek.
Satu undangan tercetak rapi, dinamai Andini Sahara dan pasangan dengan nama mempelai Bagas Alvino dan Levi Syarhaila. Aku terbatuk- batuk, menahan genangan air mata dan berkali – kali menarik napas guna memperbaiki saluran pernapasan.
Ya, katanya fokus pada karir sebagai Direktur namun sudah menyebar undangan. Kenapa tidak jujur saja, sebenarnya fokus pada pernikahan dan masa depan bersama perempuan pilihan.
Aku menoleh kiri – kanan, sepi dan kosong. Mereka semua sedang istirahat makan, ada yang keluar dan di pantry, aku sengaja mendekam di kubikel sebab tuntutan deadline yang masih segunung.
Terisak – isak, aku tak sanggup lagi menahan diri. Memukul d**a guna menenangkan diri, benar tidak sih aku ditinggal menikah dengan orang yang begitu aku sayangi bertahun – tahun, ditemani dari nol namun hanya ampas yang aku dapatkan.
" Tega banget lo Gas, melupakan gue yang nemenin lo selama delapan tahun." Lirihku, airmata jatuh membasahi kertas putih, salinan laporan yang masih aku selesaikan." Jahat, lo jahat!"
Aku mendengar derap langkah keluar yang terburu – buru dari ruangan Arkan, namun aku tidak bisa mengontrol diri untuk tidak menangis. Percuma menutupi, dia lebih cepat melihat.
" Kenapa An?" nada bicaranya seperti khawatir, nyaris hanya itu yang aku dengar dari seperti biasanya yang suka bentak sana – sini padaku.
Aku menggeleng, membelakangi Arkan langsung. Nggak enak juga nangis di depan bos, malu dan bakal jadi bahan bully – an ke depannya.
Aku menyadari, tangannya meraih undangan yang tergeletak begitu saja diatas meja. Arkan tidak mengenal siapa Bagas, tapi dia tahu cerita menyedihkan aku diputusin diparkiran Mall, Mas Ardi yang cerita.
" Dia menikah?" tanyanya lagi.
Aku tak bisa menjawab, hanya terisak – isak lagi.
" Kalau kamu butuh penenangan diri, balik saja An. Gapapa, laporannya biar saya yang selesain."
Aku tidak salah dengarkan?
Buru – buru aku menghapus airmata, tidak enak dong kalau nyampe big bos yang menangani pekerjaan aku sebagai pimpinan dibawahnya.
" Enggak apa – apa Pak, aku cuma butuh nangis bentaran doang kok." Kataku terputus – putus.
Arkan menggeleng." Balik saja An, nanti malah aneh kalau kamu nangis di sini, kelihatan sama yang lain."
Aku berterima kasih berkali – kali di dalam hati atas kemurahan belas kasihan yang Arkan berikan padaku hari ini.
" Hati – hati baliknya."
Aku mendengar pesan darinya sebelum meninggalkan kubikel, aku memasukkan buku – buku dan laptop kedalam tas. Berniat pulang lalu mencurahkan semua sakit yang disiksa perasaan, Bagas mengapa bersikap seperti ini padaku.
BIGBOSS
Tasya tak henti – hentinya menenangkan aku ditelpon, menyemangati untuk tidak berlarut – larut patah hati ditinggal menikah. Aku memilih untuk tidak mengabari Mama, pasti akan lebih terluka dibanding aku saat ini.
Walau begitu, aku masih tetap tidak bisa berhenti menangis hingga malam. Aku menumpahkan semua persediaan air mata di atas kasur, sulit untuk menerima Bagas tidak menjadi pendamping hidup, justru aku datang sebagai tamu undangan. Delapan tahun lho? Ini bukan hitungan hari, dia anggap semuanya sampah, beneran sampah hubungan yang aku rajut penuh cinta.
Hingga ketukan pintu kost berkali – kali terdengar dari luar, aku segera bangun dan mengintip siapa sosok tersebut. Berharap Bagas menemuiku dan mengatakan surat undangan tadi siang hanyalah sebuah candaan, bukan Levi Syarhaila namun tetap Andini Sahara sebagai pengantin perempuan.
Kecewa, pintu terbuka lebar dan bukan Bagas di sana. Melainkan Arkan Putra, dua tangannya berisi makanan dan minuman yang dipesan dari Starbucks.
" Sudah enakan?" Arkan terlihat perduli, aku hanya menghela napas panjang. Menatap tidak mengerti agenda si – bos diluar pekerjaan.
Mataku sembab, baju tidur begitu kusut dan rambut acak –acakan. Masih sempat bertanya sudah baikan? Sebenarnya Arkan buta atau minus berapa sih?
" Untuk apa bapak kesini? Mau ngerayain kesedihan saya, bawa – bawa makanan sebanyak ini?" Aku melongsor ke lantai, menyandarkan diri di pintu.
Arkan ikut lesehan, kalau keadaan aku sedang normal akan kaget menyadari tingkah konyol barusan. Berhubung kesehatan fisik dan perasaan sedang berantakan, aku hanya menatap sendu padanya.
" Saya sengaja bawa ini semua biar kamu merasa lebih enakan, gimana sih kamu An sebagai perempuan." Arkan membuka bungkus satu – persatu, aku hanya menatapnya tanpa ekspresi.
" Tumben Bapak baik? Sayang ke saya?" aku semakin tidak waras, kalau Arkan mengambil dokumentasi saat ini, lalu menunjukkan padaku setelah sadar. Aku akan meminta maaf berkali – kali.
Arkan diam, hanya melirik sekilas dan mengulur minuman dingin padaku." Nih, diminum. Biar dingin tuh hati, kasihan banget dari tadi sedih terus."
Biasanya aku mendengar amarah Arkan dan hari ini, perhatiannya cukup menggugah pikiran negatif di otakku.
" Bapak beneran sayang ke saya, masa sih?" air mataku jatuh, seperti drama – drama Korea namun aku menjadi peran utama. Jujur, aku adalah pecinta drakor, bahkan sering bergadang demi menamatkan setiap episode.
" Saya hanya peduli, kamu jangan salah paham dong."
" Lebih dari sekali Bapak peduli, jangan – jangan Bapak ingin menyakiti saya seperti Bagas?" Aku memukul dadanya, marah yang ingin tersalurkan." Bapak juga mau meninggalkan saya lalu menikah dengan yang lain?"
" Tidak." Katanya, mata kami beradu dan saling bertatapan. Walau setengah sadar, sepertinya tatapan Arkan sangat berbeda.
Aku berdehem, membenturkan kepala berkali – kali ke pintu agar sadar.
" Jangan An, ntar kamu gegar otak lho. Kasihan kan, mereka mesti sakit gara – gara kamu." Arkan menahan kepalaku dengan lengannya, sumpah caranya manis sekali.
Harum parfumnya menyeruak indera penciuman, sebab jarak kami cukup dekat.
" Untuk apa sih Bapak mampir ke kost, sudah larut juga kan?"
" Saya kepikiran kamu, kelihatannya dalam sekali patah hatinya. Sebagai bos yang baik, saya memberi sedikit bela sungkawa pada karyawannya." Kata – katanya masih belagu, namun aku tidak mempermasalahkan." Kamu besok bisa ke kantor kan? Banyak proposal yang tidak bisa saya selesain, butuh kamu."
" Jadi Bapak bawain aku makanan sebanyak ini, buat menyogok?"
Arkan menggeleng." Ya enggaklah, kalau kamu bisa peka saya sangat bersyukur."
Aku mendorong tubuh Arkan agar menjauh, kesal mendengar jawabannya." Bapak tidak pengertian banget sih, saya ini ditinggal nikah lho."
" Kamu harus profesional dong, mana pekerjaan mana urusan perasaan." Arkan ikut menyandarkan tubuh ke dinding, kami berlawanan arah." Kamu boleh menangis tapi secukupnya, jangan buang – buang air mata untuk orang yang tidak akan kembali, orang yang tidak akan kamu miliki juga."
" Bapak enak, enggak pernah merasakan kan bagaimana menyayangi orang selama bertahun – tahun. Bapak tinggal menerima jodohan keluarga, tidak perlu memikirkan cinta."
Aku melihat Arkan tersenyum tipis, sebentar menatapku." Saya pernah kok mencintai seseorang, ditemani sejak masih belum menjadi apa – apa, seperti kamu."
Aku hanya mendengar, menyeruput minuman yang diulurkan Arkan.
" Dia sudah tidak mau ditemani, untuk apalagi saya mesti memaksa." Arkan mengurut lehernya, sepertinya tidak biasa bersandar pada benda keras. Ya iyalah, di mana – mana anak orang kaya sandarannya sofa empuk.
" Bapak tidak sedih?"
Arkan tidak sepenuhnya bos menyebalkan, dia ada sisi baiknya juga kok. Aku mencoba untuk berbaikan, tidak menaruh benci terlalu berlebihan.
" Sedih, sebagai lelaki yang mencintai."
Aku memejamkan mata, sakit kepalaku datang kembali.
" Apalagi melihat orang yang saya sayangi, menangis sepanjang hari."
Dadaku seperti tidak beraturan, debarannya sampai terlihat jelas mendengar ucapan terakhir Arkan yang menjurus padaku.
" Saya balik deh An, cepet sembuh ya." Pamitnya cepat, aku membuka mata dan melihat dia sudah menjauh menuju mobil.
Hari ini Arkan banyak anehnya, dari di kantor yang memperbolehkan pulang padahal jam kerja masih tersisa empat jam lagi. Malam – malam, mengunjungi kost dengan makanan mahal bertumpuk, memberi cuma – cuma lalu bersikap perhatian. Apa benar Arkan menaruh rasa?
Walau aku tidak yakin sepenuhnya, namun dari beberapa sikap menunjukkan pada arah yang satu pemikiran dengan Mas Ardi dan Mbak Talita. Meskipun misteri little girl itu belum terpecahkan, jangan sampai. Akan seperti bisul nantinya, menyebar dan berdampak buruk pada anak kantor.
Nasib baik kalau diucapkan selamat, yang ada mereka mengira aku menjilat Arkan demi jabatan. Sudah pasti dan sangat mudah ditebak, anak – anak kantor hanya baik di depan, belakangnya busuk semua!
TBC