Kenaikan Jabatan

1374 Kata
___ Yang paling romantis itu bukan cowok datang bawa bunga, tapi melamar bawa keluarga ___ Jomblo ngebet nikah. Melalui voting suara, aku mendapatkan nilai unggul daripada pesaing. Tak habis pikir, padahal namaku kurang tenar di kantor. Ya, selain hanya sibuk lemburan, aku bukan orang yang suka menjilat atasan guna naik jabatan. Ingat, disaat Arkan mengajak nonton secara paksa. Aku sampai emosi, dia memperlakukanku seperti perempuan simpanan. Namun, Arkan bukan tipe lelaki seperti itu, tenang saja. Di perjalanan pulang berkali – kali meminta maaf, padahal aku sudah tidak mempermasalahkan. " Kalian enak benar sih, naik jabatan aja mesti di Hotel." Mbak Talita mengerucutkan bibir, menatap aku dan Mas Ardi bergantian. " Apanya sih yang enak Mbak? Mas Ardi mungkin ia enak. Lah gue?" sumpit di tanganku menunjuk diri sendiri, kami tengah menikmati makan siang di restaurant Jepang. Ya, anggap saja syukuran kenaikan jabatan. Traktir Mbak Talita sepuasnya, enak kan hidup mereka? Yang merana aku. " Tanggung jawabnya besar, terutama Andini tuh." Mas Ardi memonyongkan mulut kearahku, penuh makanan. " Gaji juga besar dong Mas." Mbak Talita terkekeh," tahun depan giliran gue dong yang dipromosiin, doain ya." Aku dan Mas Ardi mengamini serentak." Asal kuat saja, ketemu Dewa bos." " Dewa bos, Mas?" aku bingung mendengar istilah tersebut, yang paling familiar adalah big – bos dan itu adalah sebutan untuk Arkan, si orang hutan tidak berkeprimanusiaan. Mas Ardi mengangguk." Jadi lo belum tahu, dewa bos siapa?" Aku menggeleng, menghabiskan sushi tei." Siapa tuh?" " Papanya Arkan lah, pemilik semua perusahaan." Kata Mas Ardi." Lo besok juga bakal sering ketemu, biasanya bakal lebih protektif ke Divisi kita. Lo siap – siap deh, jangan baperan." " Mulutnya lebih jahat dari orang hutan, Mas?" " Namanya bapak sama anak, beda – beda sedikit." Aku bergidik ngeri, membayangkan Dewa bos marah lebih sadis daripada Arkan. Bagaimana bisa tidak baperan. Aku malah berniat undur diri sebelum pelantikan. " Gue nyerah deh, Mas saja yang datang nanti malam, wakilin gue." " Hus!" Mbak Talita menepuk pundakku," jangan buat malu Divisi kita An. Masa lo mau kalah saing, inget dong. Mas Ardi dan lo saingan, gimana sih!" Aku menepuk jidat, lupa kalau Mas Ardi sudah pindah Divisi dan menjadi pesaing sehat. Sebenarnya bukan persaingan luar, lebih ke internal. Setiap Divisi punya tuntutan masing – masing, dari kinerja, target dan kedisiplinan. Baik secara tim maupun individu, sebanyak lima Divisi, hanya bagian perencanaan yang membawahi Tiga orang, sebelumnya ada Mas Ardi, Mbak Talita dan aku. Alasannya simple, kami secara langsung terhubung dengan Arkan. Si – bos tidak butuh banyak karyawan pada tim perencanaan. Menghambat, katanya. Sebelum aku, ada satu perempuan dan sistem kerjanya tidak ke kantor. Namanya Lena Anastasya. Aku tidak pernah kenal apalagi bertemu, sebab aku hanya karyawan biasa dan bekerja dilantai dua sebelum dimasukkan ke tim Mas Ardi. Kabarnya, Lena Anastasya adalah calon istri dari Arkan Putra. Si – bos, biasalah keluarga konglomerat. Menjaga harta dan menjaga garis keturunan agar tidak tercoreng, sistem perjodohan menjadi hal yang layak demi kemajuan bisnis. Mereka korban, kasihan kan. Mendadak aku terkikik sendiri, mungkin tuntutan keluarga yang membuat Arkan menjadi boss sengak, belagu dan paling menyebalkan. " Lo kenapa? Ketawa sendiri, enggak jelas." Mbak Talita menatap aneh padaku. " Mbak, Arkan tuh beneran dijodohin ya?" Aku melongokkan kepala, mendekati mbak Talita disebelah Mas Ardi. " Iya, dengan Lena Anastasya." Mbak Talita menyudahi makannya." Sekarang lagi ambil master di Amsterdam. Gila, gue nyampe lupa. Little girl itu tangannya si Lena dong, ya enggak mas?" Mas Ardi geleng – geleng." Jarinya Lena bantet- bantet, dia kan rada gendutan Ta. Yang kemarin kurusan kok, kira – kira se Andini lah." Aku meneguk air ludah, secara kasar. Kenapa sih mereka masih membahas tragedi little girl yang Arkan jadikan story, tidak asik. Mbak Talita mengamati jemariku secara detail, seperti menemukan sebuah petunjuk. " Gue merasa mirip jari lo deh An, ada bekas luka kalau tidak salah." Berusaha mengingat – ingat. Aku menghela napas panjang, seolah – olah enggan disamakan." Please deh Mbak, gue jangan dibawa – bawa juga ke ranah pribadi si orang hutan." Mas Ardi senyum sendiri, aku mulai ketakutan. " Kenapa Mas?" " Ingat saja, lo dan Arkan sama – sama jomblo, kenapa enggak coba bareng gitu?" " Jomblo? Barusan tadi si Lena katanya calon istri, gimana sih." Aku menyandarkan tubuh ke kursi, mencari nama Bagas di IG dan bersiap – siap stalker tapi masih diblokir. Duh, sayang. " Arkan enggak suka dengan jodohannya, orang tua mereka saja yang minta pernikahan itu ada." Mas Ardi menatapku. " Kasihan ya, padahal sudah dewasa, masih juga ikut aturan keluarga." Mendadak aku mengasihani si Arkan. " Tidak enak jadi anak konglomerat kalau dari sisi kemauan keluarga, duitnya emang enak sih." Mbak Talita menikmati dessert. " Ayah gue selalu ngomong, biar sederhana asal bahagia." Aku ikut menikmati dessert yang diberikan oleh waiters." Awalnya enggak setuju sama pendapat Ayah, mendengar cerita tentang Arkan, gue jadi bisa petik sedikit hikmahnya, kalau harta nggak bisa buat kita bahagia selamanya." " Enaknya tuh, bahagia keluarga dan juga harta." Pendapat Mas Ardi. Kami berdua manggut – manggut setuju, setiap orang maunya diposisi enak begitu kan. Jarang yang ada sih, sebab kehidupan ibarat roll coaster. Naik – turun, dapat bahagia berganti duka. Intinya pelajaran, apa yang mesti dipetik dan dipisahkan yang tidak baiknya. BIGBOSS Tamu – tamu undangan mulai berdatangan, aku didampingi Ayah dan Mama. Orang tua mana yang tidak bangga anaknya naik jabatan, setidaknya hampir setara dengan Bagas. Lagi – lagi lelaki itu, aku hampir menangis mengingat namanya. Harusnya dia datang, memberi sebuket bunga dan berkali – kali mengucapkan selamat. Aku hanya bisa pasrah, tak akan ada ucapan seperti itu. Kalau sampai ada lelaki yang memberikan ucapan selamat padaku, mungkin dia akan menjadi pendamping hidup. Kecuali Mas Ardi, dia sudah beristri dan Ayah dari tiga anak. Tidak mungkin aku jadi yang ke –dua. " Wih, Bu bos cantik amat." Mbak Talita menyenggol lenganku, lalu terkekeh. " Eh, Mbak." Sapaku sedikit kaget, ditemani suaminya Mbak Talita mengucapkan selamat padaku dan juga Mas Ardi. " Si kecil nggak Mbak ajak sekalian?" tanyaku. " Enggak, besok kan mesti sekolah. Kasihan kalau balik malam, jadi kurang istirahat, An." Hanya ada kami berdua, suami Mbak Talita sudah menemui Mas Ardi. Kami cukup dekat dengan keluarga masing – masing walau jarang bertemu. " Mas Ardi niat banget boyong sekeluarga diacara pelantikan." Aku tertawa," enak kan Mbak kalau ada keluarga kecil. Gue saja nikah belum, gimana mau bawa anak." " Tuh, orang tua lo udah lebih dari kata cukup. Sabarlah, yang baik memang sedikit lamban, menguji kesabaran lo sebagai seorang istri." " Istri apanya Mbak? Lha wong, calon juga kandas." Aku putus asa, menatap belas kasihan pada Mbak Talita. " Mau dibantuin nyari jodoh enggak?" mbak Talita memberi penawaran, mulai simpati. Aku mengangguk." Boleh deh Mbak." Belum lagi Mbak Talita buka suara, sodoran sebuket bunga mewah sudah ada dihadapan. Aku mendongak, menatap siapa pengulur bunga tersebut. " Selamat untuk kenaikan jabatan kamu dan Mas Ardi, nih ambil." Secara paksa Arkan meletakkan buket bunga padaku. " Terimakasih, Pak." Jawabku, mendadak kikuk mendapat perlakuan tidak biasa dari Arkan, walau tidak manis. " Jangan kepedean, saya juga ngasih ke Mas Ardi kok." Katanya berusaha menjelaskan. " Ngasih apa Ar ke Mas Ardi?" Mbak Talita menoleh ke belakang, Mas Ardi tidak memegang apapun, seperti bunga yang aku dapatkan. " Jabat tangan, lumayan, daripada tidak sama sekali." Mbak Talita hampir tertawa lepas, manggut – manggut sebagai tanda menghargai. Mas Ardi memberengut, menyadari dirinya tidak mendapatkan gift spesial dari Arkan. " Sebanyak lima orang yang bakal dilantik, cuma lo yang dapet bunga. Cie, ada yang aneh dari Arkan. Jangan – jangan dia mulai ngelirik lo An." Bisik Mbak Talita setelah Arkan menuju kursi utama. Aku berdehem, geleng – geleng kepala." Ini permintaan maaf Mbak, tadi malam abis marah persis setan, gara – gara aku salah report, ingat kan?" Mbak Talita berpikir, lalu tertawa lagi." Serius dia minta maaf dengan memberi bunga begini?" " Mungkin, bisa jadi kan?" Aku mengangkat bahu, pura – pura santai padahal sudah kepikiran ucapan sendiri saat tiba di Hotel tadi. Masa Arkan yang bakal menjadi pendamping hidup? Ralat dong, jangan dia. " Berarti lo beneran orangnya." Aku tak sempat menanyakan maksud ucapan Mbak Talita, keburu dipanggil Mas Ardi untuk menuju kursi peresmian, sebentar lagi acara akan dimulai. Sambil melambaikan tangan permohonan maaf, aku meninggalkan Mbak Talita. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN