Rey telah mencari tahu tentang keberadaan ayah Alinka. Roger, pria itu ternyata tengah berada di Amerika Serikat mengelola bisnisnya yang menang menggurita. Rey mengakui bahwa ayah Alinka memang bukanlah orang sembarangan. Anaknya saja sudah berani bermain di dalam hal ekstrem, bagaimana dengan ayahnya?
Namun, tenang saja. Hal itu tidak menyurutkan semangat Rey. Pria itu telah bertekad untuk menemui Roger ke Amerika Serikat dan akan menyampaikan tujuannya. Lebih cepat, maka akan lebih baik.
Tujuan apakah itu? Tentu saja, tujuan untuk meminang Alinka secara halal. Dia ingin melanjutkan hubungannya ke jenjang yang lebih serius. Meski sebenarnya Rey sendiri dapat menebak bahwa Alinka akan menolaknya secara terang-terangan.
"Rey, apa kau yakin akan menemui Mr. Roger ke Amerika?" tanya Rico—tangan kanan Rey.
"Benar, Paman. Aku akan bertindak secepatnya," jawab Rey.
"Maaf, bagaimana jika Mr. Roger akan menolakmu secara mentah-mentah?" Rico bertanya kembali.
"Justru itu, Paman. Jika kali ini aku mencoba, lalu gagal, maka aku akan terus berusaha sampai berhasil," jawab Rey.
"Bukankah kau tahu sendiri, Paman, aku sudah memendam perasaan ini sejak lama. Ketika aku tahu semuanya tentang dia, harusnya aku bertindak lebih cepat sebelum dia dimiliki oleh orang lain," lanjutnya.
Rico tersenyum, dia menepuk pundak Rey. Anak muda yang sudah dia anggap sebagai anak itu memang mempunyai semangat yang tinggi. Apalagi, sikapnya yang tak pernah mau menyerah sebelum mencoba, dan bersikukuh untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.
"Rey!" panggil Rafael dari belakang.
Rey dan Rico langsung berbalik badan, menatap ke arah Rafael yang menghampiri keduanya. Rafael tersenyum ramah pada Rico, lalu menjabat tangannya. Begitupun pada Rey, sebagai rasa hormat pada atasan sekaligus sahabatnya itu.
"Ada apa?" tanya Rey.
"Kira-kira berapa lama kau akan di Amerika Serikat?" tanya Rafael.
"Kenapa memangnya?" tanya Rey.
"Ada beberapa kolega bisnis dari Amerika Serikat yang menginginkan bekerja sama dengan perusahaan kita. Apa kau hanya akan fokus pada tujuanmu, atau sambil bekerja?" Rafael bertanya serius.
"Tentu saja keduanya. Atur jadwalku bertemu dengan beberapa kolega itu, dan berikan atu satu hari untuk menemui ayahnya Alinka!"
"Okey, nice. Aku akan susun jadwalnya terlebih dahulu," ujar Rafael. "Paman, aku pamit, berikan pepatah pada sahabatku itu supaya tidak gegabah!" Rafael melirik ke arah Rico seraya terkekeh.
"Tenang saja, aku akan mengurusnya."
Perbincangan pun kembali berlanjut. Rico memberikan pepatah agar Rey tidak gegabah dan ceroboh dalam mengambil keputusannya. Tentunya Rey paham dan senang, karena Rico selalu ada menjadi pengganti ayahnya.
Setelah Rico pamit untuk mengecek markas Black Eagle, kini Rey merogoh ponselnya. Dia akan mengirim pesan pada Alinka, hari ini tidak ada percakapan di pesan singkat mereka. Karena, Alinka memang cuek, kadang membalas, kadang juga tidak. Rey mengetik sebuah kalimat seraya tersenyum sinis.
[Akan aku pastikan, kau akan menjadi istriku secepatnya, Nona.]
***
Alinka tengah berkutik pada komputer di hadapannya. Beberapa hari tidak masuk kantor, ternyata ada banyak laporan yang mesti dicek dan ditandatangani. Satu per satu laporan tersebut Alinka cek secara teliti.
Ting!
Bunyi notifikasi masuk pada ponselnya. Alinka meliriknya sekilas, dia belum melihat siapa yang mengirimnya pesan di siang hari. Karena, Alinka merasa tanggung, masih ada lima laporan yang belum dia tandatangani secara digital.
Tak lama kemudian, bunyi telepon masuk terdengar. Alinka berdecak malas, di saat akan mengangkat telepon tersebut, sambungannya telah mati. Sepertinya orang di seberang sana tengah melatih kesabaran Alinka.
"Tak tahukah orang itu bahwa aku sedang sibuk?" gumamnya.
Bunyi telepon masuk kembali terulang. Alinka berdecak sebal. "Oh, my god! Pekerjaanku tanggung."
"Halo, ada yang bisa saya bantu?" tanya Alinka tanpa basa-basi ketika mengangkat teleponnya.
"Apa kau sedang sibuk? Jangan lupa membuka pesan dariku dan balas pesannya!" jawaban sekaligus perintah dari orang di seberang sana.
Alinka membekap mulutnya. Suara itu? Alinka kaget, dia langsung melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Dia menepuk jidatnya, ternyata yang meneleponnya adalah Rey.
"Kenapa kau diam saja? Kau mendengarkanku, 'kan?" tanya Rey di seberang sana.
"Ya, aku sibuk!"
"Jangan lupa bac—"
Belum sempat Rey mmelanjutkan kalimatnya, Alinka sudah menutup panggilan tersebut. Dia berdecak sebal, tetapi penasaran dengan isi pesan yang dikirim oleh Rey. Dengan cepat, Alinka membuka isi pesan tersebut.
[Akan aku pastikan, kau akan menjadi istriku secepatnya, Nona.]
[Semangat bekerja, aku tahu kau sibuk. Maaf telah mengganggumu. Jangan lupakan makan siang, kau perlu makan. Karena menanggung banyak beban, perlu sehat.]
"Oh my god," gumam Alinka pelan.Tanpa sadar senyumannya terbit secara perlahan.
Alinka memanggil Alexander untuk datang ke ruangannya. Sepertinya, dia memang perlu berbicara dengan sepupunya itu terkait sikap Rey dari awal. Tak perlu menunggu lama, pintu ruangan terbuka, Alexander langsung duduk di sofa.
"Ada apa kau memanggilku, Alin?" tanya Alexander.
"Ada yang ingin aku bicarakan padamu," ujar Alinka seraya berjalan menuju sofa, lalu mendudukkan bokongnya.
"Apa itu?" tanya Alexander.
"Tentang Rey. Sebenarnya, aku ingin bercerita sejak awal, tapi baru diberi keberanian sekarang. Dia sejak awal selalu menggodaku, bahkan sekarang sering mengirim aku pesan," ujar Alinka.
"Dia memang menyukaimu sejak lama," ujar Alexander.
"Ya, aku tahu itu."
Alexander menatap Alinka dalam, dia meminta wanita cantik itu untuk menjelaskan secara detail tentang perilaku Rey padanya. Alinka menurut, dia menceritakan hal itu tanpa ditutup-tutupi. Alexander tersenyum jahil ketika Alinka merasakan jantungnya berdebar kencang saat berdekatan atau menerima pesan dari Rey.
"Aku rasa kau perlu bersyukur dicintai pria seperti Rey," ujar Alexander.
"Astaga, Xander. Bahkan, aku baru mengenalnya beberapa hari. Aku tidak bisa percaya begitu saja!" Alinka meninggikan oktaf suaranya.
Ting!
Alinka langsung membuka ponselnya, lalu mengklik pesan yang masih dari nomor sama. Siapa lagi kalau bukan Rey? Alexander menatap Alinka meminta penjelasan.
[Besok, aku akan menemukan ayahmu, Princess. ]
"Lihat ini! Dia sudah gila." Alinka memberikan ponselnya pada Alexander.
"Kalau begitu, kita lihat saja apa yang dibicarakannya benar atau tidak," ujar Alexander.
Alexander pamit untuk melakukan meeting di luar kantor bersama kolega bisnis. Baru beberapa langkah Alexander pergi dari ruangan Alinka, bunyi telepon masuk terdengar di ruangan tersebut.
"Halo," sapa Alinka dengan sedikit sebal.
"Halo, Princess. Aku tahu, kau pasti telah membicarakanku dengan Alex, 'kan?"
Alinka terpaku, dari mana Rey bisa tahu? "Apa kau cenayang?" tanya Alinka spontan, membuat Rey tertawa terbahak-bahak.
"Tidak. Hanya saja, sepertinya aku diberikan kekuatan oleh Tuhan untuk mengetahui seluk beluk tentang calon istriku."
"Dasar biaya," gumam Alinka.
"Apa?"
"A-ah, tidak. Kau aneh!"