Princess?
Tembakan saling bersahutan menggema di luar dan dalam gedung pencakar langit yang ada di kawasan Rotherdam, Belanda. Dua kubu saling menyerang satu sama lain, dengan jumlah yang sangat banyak, sekitar ribuan orang.
"Awas!" teriak Alexander seraya menyingkirkan gadis bertopeng harimau dengan gesit.
Gadis itu refleks memeluk Alexander, suara ledakan tepat di sampingnya. Sepertinya musuh melemparkan drone asap, dapat dilihat di hadapan mereka kini dikelilingi kepulan asap hitam.
"Kau tidak apa-apa, Alin?" tanya Alexander berbisik. Gadis itu menggeleng.
Mereka segera menjauh dari kepulan asap tersebut, karena dapat dipastikan musuh menyerang mereka dengan cara mengelabui pandangan. Alinka, gadis itu sedikit terkejut saat Alexander kini membawanya ke luar menuju balkon gedung tersebut.
"Hei, mau ke mana?" tanya Alinka heran.
Alexander sedikit geram, dia melihat Alinka tidak fokus semenjak perang berlangsung. Dia tidak habis pikir, apa yang telah meracuni otak Alinka sehingga tidak fokus seperti itu.
"Tolong fokus, Princess!" tekan Alexander, sorot matanya menandakan amarah dan kekhawatiran bersatu.
"Sorry," ucap Alinka. Dia kembali bersemangat, mencoba untuk tetap fokus. Alinka memegang pistolnya dengan erat, dia akan kembali merangsek membantu pasukannya. "Ayo!" teriak Alinka pada Alexander.
Alexander pun ikut kembali merangsek ke dalam, dia melesatkan tembakannya ke arah musuh, beberapa musuh bertumbangan di tangannya. Begitu pun dengan Alinka, gadis itu kini semakin gesit menerjang musuh.
Seorang pria tergesa-gesa dari lantai 22 menuju lantai 20 gedung tersebut, dia adalah Bryan panglima dari peperangan dari kubu Black Tiger yang diketuai oleh Alinka. Dia harus segera menuju tempat di mana ketuanya itu berada, ada hal yang harus dia sampaikan. Dia tidak bisa memberitahukannya melalui mikrofon yang dia pakai, karena rusak terjatuh dan keinjak oleh musuh.
"Argh, sial!" umpat Bryan ketika melihat beberapa musuh mengejarnya. Dia berlari menuruni anak tangga seraya melayangkan tembakan pada musuhnya, Bryan berjalan mundur.
Akhirnya, musuh yang mengejar Bryan telah tumbang, dia sedikit leluasa untuk menuju lantai 20 tujuannya. Bryan mempercepat larinya, suara tembakan di lantai 20 ternyata tak kalah memekakan telinga dari lantai-lantai lainnya.
Dia melihat siluet tubuh yang dicarinya, Bryan pun semakin merangsek masuk seraya menembak musuhnya dari belakang. Tak sedikit musuh yang dia tendang seraya berlari menuju tujuannya.
"Apa yang terjadi, Bryan?" tanya Alexander.
"Mikrofon rusak," ucapnya pada Alexander.
"Apa yang membuatmu ke sini?" tanya Alinka tanpa melihat Bryan, matanya tetap fokus ke depan.
"Kubu musuh menambah pasukannya, banyak pasukan kita yang tumbang karenanya di bawah sana." Bryan berbicara penuh emosi.
"s**t!" umpat Alinka .
"Di mana paman Carlos?" tanya Alexander.
"Dia di bawah, memimpin pasukan kita," jawab Bryan.
Alinka berlari ke arah balkon, dia melompat melalui jendela kaca yang terbuka. Matanya dengan cekatan berlari ke arah pojok, dia segera mengeluarkan ponselnya. Dia menghubungi Melvin untuk segera datang membawa pasukan baru karena keadaan semakin terdesak.
Suara helikopter terdengar jelas tepat di atas Alinka, matanya memicing. Pasalnya, helikopter itu dia tidak mengenalnya, Alinka khawatir jika itu dari kalangan musuh, dia bisa mati konyol di sana jika kalah cepat.
Alinka segera berlari kembali masuk ke dalam, seluruh musuh yang ada di dalam lantai tersebut telah tumbang, begitu pun dari kubu Alinka banyak yang bertumbangan. Mayatnya tergeletak di lantai tersebut, bau anyir menyengat di dalam ruangan.
"Ada 5 helikopter di atas sana," ucap Alinka tak tenang.
"Bukan dari kita," lanjutnya.
Alexander, Bryan, dan seluruh pasukan Black Tiger yang tersisa mereka tercengang dengan fakta itu. "Benar bukan dari kita?" tanya Alexander, gadis itu mengangguk.
"Sial, paman Carlos juga mengatakan bahwa di bawah pihak musuh semakin banyak pasukannya. Kemungkinan mereka juga akan mencari kita. Bagaimana dengan Melvin?" tanya Alexander.
"Dalam perjalanan," jawab Alinka.
Mereka memutuskan untuk turun ke lantai 19, tetapi derap langkah terdengar saling bersahutan di belakang mereka. Jumlahnya lumayan banyak, mereka menggenggam senjatanya masing-masing. Alinka menyuruh sisa pasukannya untuk bersiap, bisa saja mereka adalah pihak musuh yang akan menyerang mereka.
Bryan berbisik. "Lambang mereka berbeda, Princess."
Dua kubu itu sudah saling berhadap-hadapan, mereka memicingkan matanya. Tidak ada pergerakan sama sekali di antara mereka, pemimpin dari keduanya tidak ada yang memberikan arahan sedikit pun.
Pria dengan sosok tegap berjalan ke arah pasukan Black Tiger, dia sejak tadi mengawasi gadis yang diapit oleh kedua pria yang berdiri di depan pasukannya. Pria itu yakin, bahwa gadis dan kedua pria itu adalah pemimpin pasukan.
Alinka tampak tenang, dia menyuruh semua pasukannya untuk diam, karena mereka juga tidak melakukan apa-apa. Pria itu telah berada di tengah-tengah, Alinka tidak ingin berlama-lama akhirnya dia pun memutuskan untuk berjalan ke tengah, tepat di mana pria itu berada.
"Apa itu kau, Princess?" tanya pria tersebut menatap sorot mata Alinka dalam.
"Princess? Siapa kau, sehingga memanggilku seperti itu?" Alinka bertanya balik.
Aku yakin, dia gadis yang aku cari. Batin pria tersebut.
"Lupakan. Apakah kalian di sini sedang menyerang Alfred dan Bashan?" tanya pria itu. Alinka mengangguk.
"Aku ketua Black Eagle, maukah pasukanmu bergabung denganku? Sepertinya pasukan kau juga sudah terdesak di bawah sana. Kita bisa bekerja sama untuk menangkap kedua b******n k*****t itu," tawar pria tersebut.
Tanpa pikir panjang, suara ledakan di bawah sana membuat Alinka mengangguk cepat. Dia tidak membutuhkan waktu banyak, bekerja sama untuk menangkap kedua b******n k*****t tersebut lebih bagus, akan lebih cepat selesai tentunya. Keduanya deal bersalaman, Alinka segera berbalik pada pasukannya, dan memberitahukan apa yang tadi terjadi.
Mereka akhirnya bersatu, melanjutkan aksinya menuju lantai 19 yang sejak tertunda. Tampak mereka disuguhkan oleh pasukan bersenjata yang telah bersiaga menyambut kedatangan mereka. Pasukan Black Tiger dan Black Eagle diarahkan untuk segera menyerang mereka, adegan baku hantam pun terjadi. Tembakan dari senjata yang mereka pakai semakin memekakan telinga.
"Biarkan mereka di sini, ayo kita menyusup untuk merangsek ke lantai 18!" ajak Rey, pemimpin Black Eagle.
Alinka, Alexander, Bryan, dan Demian mengangguk cepat. Mereka segera menyusup di tengah-tengah peperangan tersebut. Jumlah musuh yang lumayan banyak, sedikit menyulitkan mereka. Perlu gesit dan cekatan untuk berlalu dari sana.
"Melvin sudah datang, dia dari atas akan segera menyusul," ucap Alinka, setelah mendengar suara dari mikrofonnya.
"Siapa?" tanya Rey penasaran.
"Pasukan tambahan kami," jawab Alexander.
Duar!
"Awas!"
Rey dengan refleks memeluk tubuh Alinka, dia melindungi gadis tersebut. Entah kenapa, Alinka sedikit lengah dalam pertarungannya malam ini. Alexander, Bryan, dan Demian dengan gesit merangsek ke depan, menyerang musuh yang melemparkan granat.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Rey, dalam hatinya dia sangat khawatir.
"Aku tidak apa-apa," jawab Alinka, seraya mengatur degup jantungnya yang terasa berbeda.
"Berhati-hatilah!"