Kedua pria yang sudah cukup berumur tengah kalangkabut di lantai 15 gedung yang kini diserbu oleh dua kubu. Hal ini jauh dari prediksi mereka, karena awalnya mereka hanya diserang satu kubu saja, dengan jumlah yang tidak terlalu banyak. Hanya bisa diprediksi bahwa kubu tersebut membawa pasukan sekitar 1000 orang.
Penjagaan di gedung tersebut semula hanya sekitar 700 orang, Alfred dan Bashan tidak tahu menahu jika akan ada penyerangan dadakan. Mereka memutar otaknya secara cepat, sehingga dalam waktu setengah jam mereka dapat menambah pasukan 5x lipat, membuat kubu lawan terdesak.
Namun kini, rasa lega mereka yang melihat kubu lawan terdesak telah lenyap. Jumlah lawan berkali-kali lipat dari pasukannya. Keadaan dua k*****t itu semakin tak karuan. Jujur saja, bukannya mereka ingin menjadi seorang pengecut, tetapi jumlah lawan kali ini bukanlah tandingannya.
"Bagaimana ini, Bashan?" tanya Alfred yang sangat panik.
Bashan melirik ke arah rekannya itu. "Aku berusaha meminta bantuan, tetapi sepertinya ponselku telah diretas," jawab Bashan.
"Apa maksudmu?" tanya Alfred menaikkan oktaf suaranya.
"Coba gunakan ponselmu itu, Alfred!" perintah Bashan yang tak kalah panik.
Dengan cepat Alfred menuruti perintah Bashan, dia membuka ponselnya untuk meminta bantuan pada rekan gelapnya yang lain. Namun hasilnya nihil, hanya suara operator yang menjawab panggilan tersebut.
"Damn it!" umpat Alfred.
"Dari pada kita mati di sini dicap sebagai pengecut, aku mempunyai ide," ucap Bashan.
"Apa? Kau akan ke luar dan membiarkanmu ditangkap oleh mereka, begitu, hah?" tanya Alfred menatap tajam Bashan.
Bashan mendekat ke arah Alfred, dia membisikkan sesuatu di telinga rekannya itu. Alfred terlihat sedang mencerna apa yang sedang Bashan rencanakan. Beberapa detik kemudian, Alfred mengangguk.
Kedua pria itu segera berlari ke arah satu kamar khusus yang ada di lantai itu, mengobrak-abrik setiap lemari yang ada di dalamnya.
"Ini, ada sisa tiga!" teriak Alfred, Bashan langsung menghampiri, dan merebut sebuah pakaian khusus ciri khas pasukannya.
"Tunggu apa lagi, ayo pakai!" perintah Bashan yang melihat Alfred masih terdiam.
Alfred segera memakai pakaian khusus tersebut, begitu pun dengan Bashan. Wajah mereka ditutup oleh masker, kepalanya ditutup oleh penutup kepala yang dirancang khusus.
Setelah selesai, kedua pria itu langsung ke luar dari kamar tersebut. Mereka segera berlari ke luar dari lantai 15, tampak penjagaan masih utuh di dalam lantai tersebut.
"T-tuan," sapa salah seorang pasukannya.
"Diam!" gertak Alfred membuat orang itu menunduk.
Alfred dan Bashan berjalan menuju lantai bawah yakni lantai 14, mereka memegang senjata lengkap. Tatapan matanya menyorot tajam, tampaknya di lantai 14 masih aman.
"Sepertinya mereka belum sampai ke lantai ini," ucap Bashan berbisik.
"Ya. Kita harus hati-hati, karena posisi kita saat ini dikepung," jawab Alfred.
Tampak semua pasukan Alfred dan Bashan yang menjaga lantai 14 menatap atasannya itu dengan bingung, karena pakaiannya sama seperti mereka. Namun, daripada mencari masalah, pasukannya lebih memilih untuk diam.
Duarrr!
Suara ledakan di lantai atas membuat mereka yang ada di lantai 14 langsung bersiaga mengangkat senjata mereka, begitu pun Alfred dan Bashan yang telah siaga di sana bergabung dengan pasukannya.
***
"Paman, di lantai berapa?" tanya Alexander lewat mikrofon kecilnya.
"Kami sudah masuk lantai 11," jawab Carlos di bawah sana.
Saat Alexander tengah berbincang dengan Carlos melalui mikrofon, Rey mempercepat langkahnya bersama Alinka, dan Demian menuju sebuah pintu kaca gelap yang mengarah ke lantai 15.
Alinka memberikan kode pada Rey agar segera membuka pintu itu secara perlahan, karena penjagaan di sana sudah pasti ketat. Rey mengendap membuka pintu kaca tersebut, lalu melemparkan tiga buah bom berukuran kecil ke lantai berikut. Suara ledakan menggema, raungan di dalam sana terdengar dengan sangat jelas. Alexander yang semula sibuk berbincang ikut kaget, karena mendengar ledakan itu. Bryan pun sama, dia yang berada di dekat balkon mengawasi pergerakan dari atas ikut kaget dibuatnya.
"Sialan, kalian tidak memberitahuku terlebih dahulu!" gerutu Alexander, membuat ketiga orang dan pasukan yang ada di sana terkekeh.
"Kita perlu menunggu beberapa menit untuk masuk ke lantai bawah, menunggu bau zat kimia dari bom itu hilang," ucap Rey membuat mereka mengangguk.
Derap langkah dari lantai atas terdengar sangat jelas oleh mereka. Lima belas orang masuk ke dalam ruangan tersebut membawa senapan api lengkap, mereka berjalan dengan siaga.
Mereka yang ada di sana berbalik melihat siapa yang datang, lambang Harimau tercetak jelas pada jaket anti peluru yang dikenakan oleh para sniper tersebut.
"Apakah mereka bagian kalian?" tanya Rey pada Alinka dan Alexander.
"Ya," jawab Alinka singkat, Rey mengangguk akan hal itu.
"Biarkan kami terlebih dahulu yang masuk ke dalam sana. Kalian perlu beristirahat sejenak setelah lamanya pertempuran dari sejak tadi," ucap Melvin.
"Are you sure?" tanya Alinka.
"Sure," jawab Melvin, dan pasukan yang dibawanya pun mengangguk.
Alinka memberi isyarat tanda setuju, lima belas orang sniper segera melangkahkan kakinya menuju lantai 15. Hal yang pertama mereka lihat adalah sisa-sisa asap, dan puluhan mayat yang sudah terkapar. Ada juga yang masih bisa bertahan di dalam sana, menyisakkan sedikit napasnya.
Melvin dan pasukannya mengobrak-abrik setiap ruangan yang berada di lantai 15, tetapi Alfred dan Bashan sama sekali tidak terlihat batang hidungnya di sana.
"Sepertinya mereka telah melarikan diri." Melvin melapor pada Alinka melalui mikrofonnya.
"Bagaimana bisa?" geram Alinka.
"Sebentar, sepertinya mereka telah berada di lantai bawah," ucap Melvin melapor.
Alinka, Alexander, Rey, Demian, Bryan, dan pasukan gabungan merangsek masuk ke lantai 15, di sana sama seperti yang Melvin lihat. Demian dan Bryan meminta setengah pasukan gabungan untuk ikut bersama mereka menuju lantai berikutnya, bisa saja dua k*****t itu benar berada di sana.
***
Setelah beberapa jam pertarungan, akhirnya seluruh pasukan kini mengepung lantai 12. Bashan dan Alfred semakin kalut dibuatnya, mereka tidak mau menyerahkan diri begitu saja. Otak liciknya berperang dengan diri mereka sendiri, tetapi tak kunjung mendapatkan solusi sedikit pun.
Pasukan yang melindunginya hanya tersisa sekitar seratus orang saja, sementara pasukan dari pihak musuhnya beberapa kali lipat, apalagi mereka gabungan.
"Bagaimana ini Alfred?" bisik Bashan frustasi.
"Diamlah, aku juga tidak tahu caranya!" tekan Alfred.
"Menyerahlah kalian pria tua bangka k*****t!" tegas Rey yang sudah berada tak jauh dari hadapan mereka.
"Kalian tidak akan bisa lari sedikit pun!" sahut Alinka tak kalah tegas dan menyeramkan.
"Tidak usah ketakutan seperti itu, Pak Tua yang licik. Kami tidak akan mengeroyok kalian, ha ha ha," sindir Alexander seraya tertawa.
"Kami tidak akan menyerahkan diri terhadap kalian, bocah-bocah ingusan!" tegas Alfred, menatap mereka tajam.
"Jangan harap kalian bisa menangkap kami!" teriak Bashan.
Seratus pasukan gabungan langsung menyerang pasukan Alfred dan Bashan, pukulan, tendangan, terjadi di antara mereka. Tak hanya itu, selain saling lontar tembakan, mereka juga saling tikam.
Sementara Alfred kini berkelahi dengan Alinka, dan Rey berkelahi dengan Bashan. Keduanya tampak seimbang, sama-sama kuat. Alinka dan Rey maju dikarenakan merekalah ketua dari kedua kubu tersebut, sehingga para petinggi di bawahnya hanya bisa menyaksikan pertempuran tersebut seraya berjaga-jaga.
Selang beberapa menit kemudian, seluruh pasukan Alfred dan Bashan telah tak bernyawa di tangan pasukan gabungan. Menyisakkan Alfred dan Bashan yang telah dikelilingi pihak musuhnya.
"Menyerahlah!" tekan Alinka pada keduanya.
"Aku tidak akan pernah menyerahkan diri terhadap bocah ingusan seperti kalian!" tegas Alfred, meskipun dalam hatinya dia ketakutan, dia masih bisa melayangkan tatapan tajam.
"Baiklah kalau itu yang kau mau, sialan!" Alinka langsung menembak Alfred bertubi-tubi, pria tua bangka itu tak sempat mengelak. Karena Alinka lebih dulu menembak lengan Alfred yang memegang pistol, sehingga senjata itu terjatuh ke lantai.
Di samping Alinka, Rey juga telah berhasil menusuk Bashan dengan pisau lipatnya. Melihat Bashan yang masih bernyawa, Rey segera melayangkan satu tembakan pada pria tua bangka itu, sehingga Alfred dan Bashan kini sama-sama tak bernyawa.