Gue akhirnya merebahkan badan di sofa rumah Romeo, sembari menunggu dia mandi. Mata gue memutar dimana figura foto-foto keluarga terpajang. Foto kusam itu terpampang di sana. Serta satu foto perempuan dewasa yang gue yakin adalah nyokapnya. Gue menatap foto itu, perempuan dengan baju warna merah itu tersenyum sembari memangku seorang anak kecil usia 5 tahun dan disampingnya gadis kecil usia 9 tahun. Gue yakin itu Romeo. Lucu juga ya mukanya. Tapi gue juga baru tahu kalau Romeo itu punya kakak, kok enggak pernah cerita ya. Bentar, memangnya gue sangat akrab sama Romeo hingga dia bisa cerita keluarganya.
Romeo masih sibuk mandi. Gue menatap pintu rumah depannya, sama sekali tidak ada tanda-tanda pintu itu akan di buka.
Kok orangtua Romeo belum pulang. Kerja apa mereka ya?
Kling.
Itu suara hp milik Romeo yang berada di samping gelas s**u. Gue mendadak penasaran siapa yang chat Romeo. Gue melongokkan kepala melihat bar pesan yang terpampang.
Andini.
Andini si anak paskib? Mereka ternyata chattingan. Mendadak gue kepikiran soal adanya Romeo tadi sore. Kenapa tiba-tiba dia jadi penolong gue. Kan anak paskib banyak, kenapa dia yang meminta untuk nganterin gue pulang. Duh, apa Romeo naksir sama gue ya? Enggak mungkin sih, orang gue jutek banget sama dia, tapi kan akhir-akhir ini gue agak baik ke dia. Pasti Romeo datang karena mau ketemu sama Andini nih, pasti. Tapi kenapa gue malah sebel kalo memang Romeo datengin Andini. Lo kenapa deh And.
Ceklek! Terdengar pintu kamar mandi terbuka. Sialan! Ada Romeo.
Mendadak gue langsung dengan posisi tidur dan memejamkan mata agar tidak berbicara dengan Romeo. Soalnya gue udah malu banget dan canggung sama Romeo, apalagi di rumah ini Cuma gue berdua doang lagi sama dia. Kapan sih orangtua Romeo pulang.
Gue mendengar langkah kaki Romeo yang mulai mendekat ke sofa, sialan. Harusnya dia dateng ke sini. Romeo mengambil gelas susunya, dan meneguk perlahan, bahkan tegukannya dapat gue dengar jelas. Yo, bisa agak munduran dikit enggak, jangan deket-deket sama gue dong.
Duh kaki gue nyilu lagi, sialan kenapa harus sakit sekarang sih. Gue kan lagi pura-pura tidur. Tapi sebentar kemudian ponsel Romeo berdering dengan keras. Siapa tuh.
“Halo, And?” ucapnya. And? Otak gue berpikir keras memikirkan nama And selain gue. Lalu gue de javu. Sialan, And yang Romeo maksud itu Andini. Jadi mereka berdua juga teleponan, salah sangka dong gue kalau Romeo naksir gue. Emangnya kalau Romeo naksir gue, gue bakal nerima dia gitu? Ya enggaklah, apa kata dunia gue sama Romeo pacaran.
“Kehujanan, basah. Ini aja baru selesai mandi.” Gue bisa menebak apa yang mereka obrolkan, seakrab itu.
“Alah, laki kok. Takut sakit.”
“Harusnya lo yang enggak ujan-ujanan, kan mau lomba. Lagian, juga cewek. Pasti lemah. Hahaha.” Romeo mana perhatian juga lagi. Udah deh, Andara mulai sekarang jangan baper ya kalau Romeo perhatian sama lo, Romeo itu emang orangnya suka perhatian ke semua cewek.
“Berarti kuat dong, gendong...”
Suara Romeo terpotong karena suara dering telepon. Itu nada dering telepon gue, sialan siapa sih yang nelpon gue di keadaan kayak gini. Gue bangun enggak ya? Ah jangan deh, biar Romeo yang angkat. Tapi kalau dia yang ngangkat bakal terjadi fitnah besar dong. Gue harus bangun.
“Halo,” sialan, telepon itu diangkat sama Romeo. Siapa sih yang nelpon gue.
“Halo tante,” itu Mama gue. Ah ini udah jam lima. Pasti Mama nyariin gue nih.
“Ini saya Romeo tante. Yang dulu nganter Andara.”
“Enggak tante, saya bukan pacarnya.” Mama kenapa sih, suka banget jodoh-jodohin gue sama Romeo. Kan gue jadi malu buat bangun kalo begini keadaannya. Rasa ingin menyahuti telepon semakin tinggi, tapi enggak mungkin
“Gini tante, sebelumnya tante jangan kaget dulu ya. Kenapa Andara bisa bareng saya...” Romeo memotong ucapannya. Kuping gue semakin aktif mendengar percakapan mereka. Jangan sampe Romeo ngomong aneh-aneh.
“Bukan itu tant,”
“Bukan itu juga tante.” Mama ngomong apaan sih, dari tadi bukan-bukan mulu. Berasa main Indonesia Pintar deh.
“I—itu kakinya Andara, kesleo. Gara-gara latihan tadi.” Romeo mengucapkan dengan lembut dan pelan. Duh, suaranya keren banget sih, kek membuat emak gue enggak khawatir gitu.
“Andara baik sama saya, tadi juga sudah saya bawa ke klinik. Ini dia lagi ketiduran di rumah saya. Karena tadi hujan, jadi mampir dulu. Maaf ya tante.” Sialan, pake maaf segala. Ngomong sama emak gue aja pelan, kapan coba dia gitu sama gue. Bawaannya ngajak berantem mulu dia.
●●●
“Romeo, bangun... Bangun Yo!” suara itu terdengar sayup-sayup. Gue yang merasa berat di kepala sulit rasanya membuka mata. Itu suara perempuan, gue mengingat-ingat siapa?
Gue terbangun dan melihat seorang perempuan berusia 20 tahunan membangunkan Romeo, mungkin itu kakaknya. “Romeo, lo bangun enggak?! Bangun Yo!!”
Melihat gue bangun, kakaknya Romeo melempar senyum, “Eh, bangunin kamu ya.”
“Enggak papa kok kak.” Gue tersenyum juga. Gue mendapati selimut menutupi badan gue. Apa Romeo nyelimutin gue ya, duh gue tahu dia perhatian, tapi kalau gini kan kakaknya Romeo jadi salah paham. Dikata gue melakukan tindakan asusila ntar. Amit-amit dah, gue masih SMA nih.
“Romeo bangun! Kebo banget sih.” Kakaknya Romeo menendang kaki adiknya. Wah cukup bar-bar ya kakaknya ini, gue jadi ngeri sendiri.
Romeo mulai menunjukkan kesadarannya, namun dia bergumam, “apaan sih, baru juga tidur.”
Kakaknya memelotot, “bangun! Ngapain lo sama anak orang di sini.” Gue kaget. Ucapan kakaknya bikin gue ngeri.
Ternyata yang kaget bukan Cuma gue, tapi Romeo juga. Romeo langsung terduduk dan mengucek matanya, kemudian dia melihat gue yang terduduk di sofa seberang tempatnya tertidur.
Gue melihat jam di atas tempat tv.
Pukul 18.20 WIB.
Sumpah? Udah jam segini? Lama amat tidurnya. Menyesal gue pura-pura tidur.
“Bangun, terus sholat!” kakaknya Romeo ini kayaknya galak banget. Serius sih, gue kalau punya adik cowok bakal segalak itu enggak ya. Soalnya memang gemes kalo punya adik yang modelan kayak Romeo.
“Bentar kak...” balasnya dengan suara khas orang bangun tidur.
Gue membuka selimut dan mencoba untuk turun, gue pengen ke kamar mandi. Tapi lagi-lagi gue enggak bisa bergerak.
“Aw.” Rintih gue. Mendadak Romeo langsung bangkit ingin membantu gue, namun kakaknya langsung berteriak.
“Lo mending sholat deh. Biar pacar lo gue yang bantu.” Mendengar ucapan kakaknya gue langsung kaget.
“Aku enggak pacarnya Romeo, kak.” Sanggah gue. Enak aja gue pacaran sama Romeo.
Meski begitu, kakaknya Romeo tetap membantu gue, “mau kemana?”
“Ke kamar mandi,” jawab gue pelan. Kini kakaknya menitih gue, meski galak kakaknya Romeo baik juga. Setelah selesai dari kamar mandi, ternyata kakaknya Romeo tetap membantu gue untuk duduk kembali di sofa. Jujur gue canggung banget, gue enggak kenal tapi gue dititah kayak gini.
“Kamu enggak sholat?” ucap kakaknya Romeo, mendadak langsung akrab banget sama gue. Gue jadi agak berkurang rasa canggungnya.
“Lagi halangan kak,” jawab gue halus. Gue memang lagi datang bulan, namun sudah mau selesai, jadi enggak ngerasain nyeri haid. Kalau iya, kacau dah tubuh gue, kaki sakit pinggung sakit. Enggak tahu lagi rasanya kayak apa.
Ternyata tidak butuh lama, Romeo sudah selesai sholat, ia datang dari kamar membawa dua jaket. Rambutnya basah sisa wudhu membuat wajahnya terlihat lebih segar. “Nih pake.”
Romeo menyerahkan begitu aja ke gue.
“Mau pulang enggak? Dicariin emak lo ntar.” Sialan, kenapa sih omongannya jadi nyebelin lagi. Perasaan kalau di sekolah dia lebih caper deh ke gue, kenapa sekarang sok keren gini.
Gue memakai jaket, dengan diam seribu Bahasa, serius kalau enggak ada kakaknya Romeo gue udah pengen nabok dia pakai bantal sofa.
“Kak, mau nganterin Andara dulu. Kalau mau makan, masak sendiri ya. Muaaah,” ucapnya sembari mencium jauh kakaknya.
“Najis!” langsung ditanggapi dengan cerdas.
“Udahlah, mau mandi gue.” Tambah kakaknya Romeo. Melihat tingkah mereka gue hampir aja tersenyum, namun gue menahannya karena sungkan dan canggung.
“Udah selesai ketawanya, yok pulang.” Ucap Romeo yang ternyata menyadari rona wajah gue, keliatan banget ya gue nahan tawa. Romeo mengulurkan tangannya, gue dengan mudah menerima ulurannya. Jadi kini gue sudah ada di rangkulan Romeo.
Gue inget banget dulu pas masih awal jadi wakil ketua kelas, Romeo merangkul gue dan gue membuang tangannya, bahkan menyumpahinya. Sekarang, gue malah enggak bisa ngapa-ngapain kalau enggak dirangkul dia. Sepertinya memang dua terbalik nih.
Romeo membantu gue berjalan sampai naik motor, bahkan sekarang gue sudah ada di atas motor. Gue diam-diam menatap Romeo yang mengambil helm kami berdua, tanpa sadar gue mengucapkan terima kasih banyak padanya. Sejak sore tadi dia membantu banyak, tidak hanya tadi sore tapi di hari-hari sebelumnya. Gue salah membencinya tanpa alasan, sedangkan dia selalu membantu gue dengan tanpa alasan juga.
Suasana malam ini benar-benar dingin. Sehabis hujan, membuat semakin dingin. Tapi hati gue hangat, kejadian sore ini benar-benar menghangatkan hari gue.
Jalanan, masih sedikit lengang karena habis hujan. Romeo tidak ngebut dalam membawa kendaraan, yang ada rasanya semakin dingin.
Andai gue bisa bonceng hadap depan, pasti dagu gue sudah mendarat di pundak Romeo. Menikmati jalanan sepi yang basah, sisa hujan masih tercium, dingin namun menenangkan.
“Gimana kaki lo?” tanyanya basa-sasi. Memecah keheningan.
“Masih sakit sih, tapi enggakpapa kok. Paling juga bentar lagi sembuh.” Balas gue, dengan lembut yang pasti. Gue lagi enggak pengen nyari gara-gara di suasana yang seperti ini. Bahkan tangan gue juga enggak pengen menjawil pinggangnya.
"Syukur deh."
“Yo,” ucap gue lirih, gue menunduk.
“Hm—”
“Makasih atas hari ini, sorry udah ngrepotin.” Ucap gue dengan tulus. Dingin yang menerpa malam ini, hilang. Kata-kata itu murni dari hati gue.
“Dih, santai aja kali. Kan sejak dulu lo emang ngrepotin. Hehe,”
“Ih nyebelin banget sih.” Gue yang mencoba kalem akhirnya terpancing, gue menjawil pinggangnya. Bukannya teriak kesakitan, Romeo tertawa keras
“Aduh, jiwa mak macannya keluar nih.” Godanya lagi. Kini giliran pinggang kiri jadi sasaran. Gue mencebik.
Dia tertawa lagi. Gue menjawil pinggang kanannya lagi. Double kill. Makan tuh, bisa-bisanya nyebelin di moment akur yang kayak gini.
“Lo ketawa lagi. Gue bunuh!” gue mencoba mengancam. Sepertinya Romeo enggak takut, malah tertawa semakin lebar.
“Galak banget sih.” Romeo tak henti-hentinya menggoda. Mempermainkan mood gue.
“Lo yang nyebelin. Bukan gue yang galak.” Balas gue tajam.
“Masak gue nyebelin sih, setahu gue itu. Gue itu, ganteng dan gemesin.”
“Najis!” jawab gue cepat. Di balas tawa yang menggelegar. Otaknya nih manusia sudah geser nih, bisa enggak sih responnya jangan ketawa. Pengendara yang tak sengaja di samping kami melihat tawa Romeo yang keras.
“Padahal ya, Yo. Dengan kejadian ini, gue hampir aja berpikir lo itu enggak senyebelin yang gue kira. Ternyata benar.”
“Akhirnya, lo sadar juga kalau gue baik hati kayak ibu peri.” Sialan, bisa enggak sih dia jangan nyebelin,
“Pede amat lo.” Sela gue, mengoreksi kalimatnya yang salah
“Terus...”
“Lo ternyata, lebih! Lebih! Nyebelin.” Gue menekankan tiap ucapannya. Berharap Romeo benar-benar paham bahwa dia emang nyebelin banget.
Romeo semakin tertawa. Gue yang dilihatin banyak pengendara langsung menyembunyikan wajah gue dipunggung Romeo, sembari memukul helmnya. Diem aja Yo, ketawa lo malu-maluin.
●●●
Setelah tragedi tawa tadi, gue sama sekali enggak ngobrol sama Romeo, ya takutnya nanti dia ketawa sampe rumah. Kami sampai di depan rumah. Pintu yang awalnya tertutup, kini terbuka disambut keluarga gue. Mama, Papa dan Mas Rizal menyambut gue. Gue turun dibantu langsung oleh mereka. Romeo hanya membantu melepaskan helm gue.
“Maaf, ya Om, Tante, saya baru bisa nganterin Andara.” Ucap Romeo membarengi jalan mereka.
“Kamu ngapain minta maaf. Kan ini bukan salah kamu.” Balas Mama sembari merangkul Romeo layaknya anak.
“Iya Romeo, ini kan juga salahnya si Dara enggak hati-hati.” Papa Adara ikut berkomentar, sejak kapan nih mereka akrab, perasaan Papa juga jarang di rumah.
“Kamu mampir ya, duduk dulu di dalam. Tante masak sup lho,” Tante Ine menggamit Romeo ke dalam rumah. Kenapa mama gue lebih care sama Romeo dari pada sama gue. Kaki gue kekilir nih, masak enggak diperhatiin.
Gue ditatih oleh Mas Rizal dan Papa, “Pa, sampe ruang tamu aja ya, Dara laper mau ikut makan.”
Gara-gara Romeo menjanjikan gue mau dimasakin gue jadi lapar banget. Ya emang salah gue juga sih, bisa-bisanya ketiduran di sofa. Gue duduk di sofa, lalu Romeo menyusul duduk di seberang gue. Pinter banget sih jaga jaraknya.
“Makasih ya Yo.” Mas Rizal kini duduk di sofa dekat gue.
“Nih, tante masakin sop. Enak banget lho anget.” Mama datang dari dapur, membawakan semangkuk sop yang mengepul. Gila mendadak gue jadi lapar banget. Bodo amat deh yang ditawarin Romeo doang, pokoknya gue harus ikut makan.
“Makan dulu ya, Yo. Tante tadi sempet masak sup ayam. Khusus untuk pacarnya Dara yang sudah mau mengantar Andara.”
Gue membelalak mendengarkan kata itu lagi. Pacar? Bisa-bisanya emak gue ngebet banget pengen punya menantu Romeo. Gila, perasaan mereka juga baru ketemu dua kali kenapa emak gue jadi ngehalu,
Gue bukan pacarnya Romeo, sodara-sodara!
“Jadi, kamu beneran pacarnya Dara?” kini giliran Mas Rizal menatap Romeo dengan tatapan tanya.
“Kok Dara enggak pernah cerita ya kalau dia punya pacar.” Kini giliran Papa menyahut. Astaga, ada apa sih sama keluarga gue. Gue emang jomblo ya, tapi bukan berarti serandom ini kelakuannya. Papa juga ngadi-ngadi.
“Dimakan dulu ya Yo.” Tante Ine tersenyum manis ke arah Romeo. Mempersilahkan barang yang dia bawa dari dapur. “Ini, tante buatkan teh hangat. Pasti di jalan tadi dingin.
“Makasih, tante.”
Gue yang sejak tadi didiamkan seperti patung akhirnya bersuara, “Ma, Dara juga pengen tau. Kan yang sakit Dara, kenapa yang diajak ngobrol dari tadi Romeo.”
“Eh, lupa anak mama. Laper ya,” Mama akhirnya peka, kini menyendokkan nasi di piring.
Gue cemberut, di seberang gue Romeo tersenyum simpul mengejek. Enak ya jadi pusat perhatian keluarga gue.
“Makan yang banyak. Menangani Dara tuh butuh tenaga ekstra,” Mas Rizal menepuk-nepuk bahu Romeo.
“MAAAAS!” potong gue enggak terima.
“Iya, Mas. Ganas.” Romeo bisa-bisanya membalas bercanda. Andai kaki gue enggak sakit, pasti gue udah pake drama kabur ke kamar nih saking malunya jadi pembahasan mereka.
“Jadi sejak kapan Yo, kamu pacaran sama Dara?” Papa kini menatap lurus Romeo. Gue yang sedang menyeruput teh hangat mendadak tersedak.
“Ma—maaf, om. Saya enggak pacarnya Andara,” koreksi Romeo akhirnya. Membuat Papa menautkan alisnya kaget.
“Masa sih,” kerutnya. Maunya Papa apaan sih. Heran gue sama bokap sendiri.
“Tapi kalau kamu pacaran sama Andara ya enggak apa sih,” lanjut Papa kemudian.
“PAPAAAAAAA!” sahut gue yang enggak tahan sama obrolan mereka. Masak anaknya diobral gini sih. Malu kan gue sama Romeo.
●●●