Romeo: Kecelakaan dan Hujan

1710 Kata
    Seperti sore-sore yang lain, gue selalu pulang lebih lama. Entah kenapa gue males untuk pulang ke rumah, ya sepi aja gitu. Abisnya Kak Sinta suka pulang malem, jadinya gue selalu males untuk pulang sebelum matahari terbenam. Gue menuju ke lapangan belakang. Saat ini gue memang menuju lapangan, gue ada janji sama Andini buat ngasih support. Ya nggak apa lah dari pada gue gabut. Bruk!!             “Andara!” itu suara berasal dari lapangan. Gue langsung berlari menuju lapangan melihat Andara sudah jatuh di lapangan. Gue melihat ia dikerumuni. “Lo enggak papa And?” tanya seseorang cowok khawatir. “Anda?! Lo nggak papa kan.” Gue sudah terduduk di samping Andara yang menangis. Gue yang melihat Andara sedang tidak baik-baik saja, langsung melepas sepatu kets warna abu-abu yang saat ini melekat di kakinya. Dengan penuh hati-hati, gue membukanya. Andara menggigit bibir menahan sakit yang gue yakin tak tertahankan. “Lo pulang aja ya.” Putus gue begitu saja. “Kak, Anda biar ijin pulang ya. Gue yakin dia enggak bisa ngelanjutin ini.” Gue meminta ijin ke cowok yang khawatir tadi Cowok itu mengiyakan “Gas, bantuin gue bangunin Anda.” gue memanggil Bagas yang sejak tadi hanya menonton. Bagas yang dimintai tolong langsung ikut membangunkan Andara. Lalu gue mengambil tas Andara yang tak jauh dari Andara jatuh dan mencangklongnya, gue mencangklong  tas itu di bahu kiri gue. Bahu kanan gue, sudah merangkul Andara yang penuh kesakitan. Gue tertatih-tatih menuju parkiran. Dibantu Kak Reno, yang gue tau sejak banyak siswa memanggil namanya tadi. “Kak, bantuin sampai ke klinik dekat sekolah ya, takutnya ada apa-apa sama kakinya Andara,” ucap gue dengan merangkul Andara. Kak Reno mengangguk, sedangkan Andara sejak tadi meringis kesakitan. Jarak klinik dengan sekolah tidak jauh, hanya 50 meter. Ketika sampai di depan klinik Andara langsung ditangani. Ia duduk di atas brankar dengan menahan sakit, gue kadang melihat ia meneteskan air mata karena mungkin terlalu sakit. Namun gue tidak membahas itu padanya, ya gue enggak sejahat itu untuk mengejek di moment kayak gini. “Thanks ya kak, Kak Reno bisa balik ke sekolah lagi. Biar Andara gue yang ngurus.” Gue kini duduk di kursi tunggu depan klinik. “Enggak papa?” Gue mengangguk, lalu Kak Reno bangkik. “Gue cabut dulu ya Yo, nitip Andara.” Ucapnya sebelum meninggalkan klinik. Kak Reno pergi, dan gue masuk untuk melihat keadaan Andara. Namun dokter klinik sudah selesai memeriksa Andara. “Pacarnya Andara?” tanyanya. Gue kaget, baru juga datang sudah ditanyakan pacarnya. “Bukan dok.” Jawab gue cepat. Kemudian dokter itu tertawa, “Iya, iya maaf. Ini Cuma mau menyampaikan kalau kaki Andara enggak apa-apa, Cuma terkilir aja. Tapi tetap jangan lakukan olahraga atau kegiatan yang menggunakan kaki secara maksimal ya, nanti dipakaikan kruk biar cepat sembuh dan alat bantu jalannya.” “Baik dok, berarti bisa sembuh kan?” “Jelas bisa dong, mungkin dua sampai tiga minggu untuk sembuh yang benar-benar total, tapi untuk 10 hari, kruk bisa dilepaskan kok.” Jelas dokter dengan senyum. Ini dokternya emang ramah atau kayak ngeledek gue Cuma temennya Andara doang nih. Apaan sih lu Romeo, pede banget pengen dianggep Andara pacar. “Terima kasih ya dok.” Jawab gue kemudian. Lalu segera masuk bilik untuk menemui Andara. Dan di sana sudah ada dia yang terduduk dengan senyum mengembang di bibirnya. Sepertinya rasa sakitnya sudah lumayan berkurang, kakinya kini juga di beri perban untuk menjaga agar kakinya untuk meminimalkan gerakan dengan sendi yang kesleo tadi. “Ngapain lo senyum-senyum? Perasaan yang terkilir tuh kaki lo. Kenapa yang sengklek otak.” Goda gue, karena gue enggak tahu mau ngomong apa. Senyum Andara mendadak hilang diganti wajah yang cemberut.  “Lo udah makan?” karena Andara enggak merespon, gue mencari topik baru. “Udah tadi siang.” Jawabnya cuek. Sepertinya dia sudah tidak terlalu kesakitan, nyatanya dia sudah bisa ngambek. “Udah agak mendingan enggak? Kalau iya yuk gue anter pulang.” Andara langsung menatap gue, “Yo, gue laper.” “Makan di rumah aja, kan sekalian pulang. Masak lo mau makan di kafe dengan kaki yang kayak gini?” gue mengambil tas Andara dan tas gue, mencangklongnya kanan kiri. “Tas gue biar gue yang bawa,” Andara ingin meraih tasnya. “Jangan, tas lo berat banget. Ntar kaki lo makin kenapa-napa lagi.” Sialan kenapa gue jadi perhatian gini ya, jadi malu gue. “Yo, ntar makan beneran ya. Gue laper nih.” Sepertinya nih cewek emang enggak punya perasaan nih. Bisa-bisanya dia biasa aja pas gue perhatiin. “Gue mau nemuin dokter lagi, mau nanyain kepala lo kebentur enggak. Kayaknya ada yang gila nih.” “Romeo!!! Nakal banget sih!” teriaknya ketika gue meninggalkannya. Gue berbalik kanan menuju pintu, dan menutupi wajah gue yang memerah, sialan emang. Gue yang ngomong ngapa gue yang baper. Sadar! Sadar! Romeoooo. Gue menemui dokter tadi, dan membayar administrasi. “Terima kasih dok. Tapi saya nitip temen saya dulu ya, saya mau ambil motor saya.”   Gue keluar klinik dan menuju sekolah lagi, mengambil motor Andara yang terparkir di parkiran bagian barat. Gue sengaja pakai motor Andara karena kalua pake motor gue yang ada nanti Andara susah naiknya. Untung gue bawa tas Andara tadi. Sebelum gue pergi meninggalkan parkiran, gue menelpon Fauzan. Telepon tersambung, “Fauzan, bisa minta tolong enggak?” “Apaan?” jawabnya di seberang. “Ambilin motor gue di sekolah ya, bawa ke rumah lo dulu aja enggak papa.” “Lo lagi dimana sekarang?” “Gue nganter Andara pulang, kakinya dia keseleo.” Gue mengatakan jujur karena ini sama Fauzan, kalau sama Haikal atau Rohman beda lagi ceritanya. Bakal jadi bulan-bulanan kalau emang iya. “Serius? Tapi enggak papa kan Andara? Kok bisa sama elo dia?” meski tidak ember, ternyata sama saja keponya si Fauzan. “Ada pokoknya. Kunci motor gue titipin Pak Juki, pokoknya nitip ya.” Lalu gue menutup telepon. Masalah satu teratasi, lalu kita mengantarkan emak macan pulang. Setibanya gue di depan klinik, Andara sudah duduk di ruang tunggu. Dia sepertinya siap untuk pulang. “Motor lo kemana?” itu kata pertamanya. “Gue jual, buat bayar pengobatan lo.” Jawab gue simple. Gue turun dari motor dan meletakkan helm. “Seriusan anjir.” “Mau pulang enggak? Mau ujan nih.” Gue mengalihkan pembicaraan. Andara mengangguk, lalu gue menitih Andara ke atas motor. Dibantu dokternya yang pasti. Dokternya benar-benar baik ya. ●●● “And! Ujan nih. Gimana kalau mampir rumah gue dulu.” Sialan nih hujan, baru juga berjalan dua menit udah turun aja. “Mampir aja deh. Neduh deket-deket sini aja dulu.” Jawab Andara di belakang. Ia kini enggak bisa naruh pundaknya di bahu gue karena naik motor dengan posisi miring. Karena itu satu-satunya posisi agar kaki Andara tidak terbebani. Gue enggak mengindahkan ucapannya dan tetap melaju menuju rumah gue. Masalahnya kalau mau neduh, Andara bakal kerepotan lagi di atas motor atau turun. Sekalian gue masakin dia dari pada mampir cari makan. Gue sampai depan rumah, sebelum turun gue memeriksa jam di pergelangan tangan gue. Sialan masih jam segini, artinya Kak Sinta belum pulang. Enggak apa deh, dari pada gue diledek. “Ayo masuk.” Andara menggeleng. Melihat respon Andara gue langsung menyadari maksudnya. Gue langsung memberikan punggungnya untuknya. “Yo!” gue menggeleng. “Udah naik aja. Keburu lo kedinginan ujan-ujanan lama. Buruan, gue juga dingin nih.” “Tapi....” “Alah kelamaan nih mak macan.” Gue yang gemas dengan Andara yang enggak naik-naik segera membopong. “Romeo lo gilaa!!” heboh Andara sembari memukul tubuh gue. Gue masih kuekeh membopong, untung gue kuat dan seimbang, kalau enggak gue sama dia benar-benar sama jatuh.  “Yo, serius lo dudukin gue di sini. Sofa lo jadi basah nih.” Dia sepertinya ingin bangkit, namun kakinya yang sakit menjadikan ia mengurungkan niatnya “Enggak usah dipikirin. Besok bisa dijemur.” Gue berjalan menuju kamar, mengambil baju ganti. Karena kami berdua sama-sama basah. “Gue serius Yo. Entar nyokap lo ngomel kalo sofanya basah.” Andara setengah berteriak, karena jarak gue sama dia sekarang agak jauh. “Nyokap gue baik. Enggak bakal disemprot.” Balas gue dengan melongok di pintu. Ya iyalah, mana ada emak gue ngomel-ngomel dari surge gara-gara sofa rumah basah. Palingan gue juga dimarahin Kak Sinta, tapi bodo amat sih. Hahahaha. Hanya butuh beberapa menit, gue kembali. Membawa beberapa potong baju, semoga aja bajunya muat di Andara. “Nih pake, biar lo enggak kedinginan. Ya maaf deh kalau adanya Cuma kaos sama celana training.” Gue menaruh baju satu stel itu di meja. Andara tersenyum. Sepertinya hatinya mulai luluh dan  mulai melihat baik hatinya gue deh. “Yo, bantuin gue dong. Sulit jalan nih.” Tangannya mengulur ke arah gue, meminta diantar ke kamar mandi. Dengan senang hati dia menerima tangannya . Jadi sekarang gue berada dalam titahnya, lagi. “Tapi Cuma dianter sampe pintu ya. Gue enggak berani nemenin sampe dalem.” Guyonn gue untuk menghindari degup. Seriusan bro, dari tadi gue degdegan kalo ngerangkul Andara, apalagi sekarang Cuma berdua doing  “YA ITU MAH, MAU LO AJA!” balasnya sambil terkekeh. Gue bersyukur Andara enggak canggung. “Lo mandi aja dulu, di dalam gue ada air hangat. Selagi lo mandi, gue mau buatin lo s**u hangat dulu ya.” Ucap gue ketika selesai mengantarnya sampai pintu. Sembari menungu Andara mandi, gue segera menuju dapur dengan badan basah kuyup, membuatkan s**u hangat. Biar enggak masuk angin aja. Ketika s**u sudah jadi Andara sudah selesai mandi.  “Lo enggak lagi ngintip gue, kan?” Gue geleng-geleng melihatnya, bisa-bisanya selalu suudzon ke gue kalo ngintip dia mandi. “Orang sakit kok masih bisa suudzon gitu sih. Emangnya lo bisa jalan sendiri?”. “Gue bisa jalan kok.” “Enggak mungkin.” Balas gue. Kemudian gue segera menitahnya menuju sofa.  “Lo boleh istirahat aja dulu. Hujan di luar makin deras. Lo enggak mungkin pulang.” Mendengar ucapan gue, Andara memandang jam dinding. Jam setengah lima. “Gue mandi dulu ya.” Pamit gue.  Ketika gue masuk ke dalam kamar mandi, perasaan gue benar-benar campur aduk. Seriusan gue satu rumah sama Andara, di kondisi yang ujan-ujan begini lagi. Sadar Romeo, ayo jangan aneh-aneh. Gue segera mengguyur kepala gue agar degup jantung dan otak gue segera normal. Lama-lama bisa gila kalo gini. ●●●
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN