Benar-benar keterlaluan. Romeo memang sudah kelewat batas. Selain dia bolos pelajaran sejak kejadian saat itu Romeo belum menampakkan hidungnya. Padahal ketiga temannya sudah kembali ke kelas. Minta mati muda sih itu bocah?!
Gue menghampiri Rohman yang sedang duduk di tempatnya, tepat di sebelah bangku milik Romeo, bangku itu kosong. “Man, tau Romeo?”
Dia yang sibuk bercanda dengan Haikal dan Fauzan menatap gue. “Enggak tahu. Katanya terakhir tadi dia ijin ke kamar mandi.”
“Kok belum balik sih?”
“Ini kan jam istirahat, paling dia ke kantin, atau bisa jadi dia terpeleset di kamar mandi mati.” Celetuk Haikal. Membuat gue melotot mendengar kalimatnya. Gue enggak habis pikir sama pola pikir Haikal yang begitu menyebalkan.
“Palingan bentar lagi juga ada pengumuman jasadnya ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Hahahaha.” Tawa Haikal menggelegar. Fauzan yang merasa guyonan Haikal terlalu kasar, kini menabok muka cowok berotak m***m tersebut. Sudah m***m, psikopat lagi.
“Ya udah makasih.” Gue kembali ke bangku tempat duduk. Sepuluh menit lagi bel sekolah pasti akan berbunyi, dan setelah ini adalah jam pelajarannya Bu Febri, guru Biologi. Gue menatap ke arah pintu kelas. Mencari keberadaan Romeo yang belum juga kembali. Ini anak apa bener kayak yang diomong Haikal itu ya. Ah enggak mungkin, itu pasti konyol. Sebentar, sebentar? Kenapa lo jadi mikirin Romeo gini? Enggak penting. Mentang-mentang ketua kelas apa dia bisa seenaknya gitu? Tapi gue ngerasa bersalah udah bentak di depan teman-teman paskib gue.
Ketika gue sedang ribut dengan diri sendiri, Elisa datang menuju tempat duduknya. Elisa menatap gue yang gelisah.
“Lo kenapa And?”
Gue menggeleng.
“Ada masalah?”
Gue menggeleng lagi. Akhirnya Elisa gemas sendiri. “Serius jawab gue. Lo kenapa? Lo enggak ada masalah kan?”
“Lo tau Romeo enggak?” tanya gue tiba-tiba. Aduh, kok bisa-bisanya gue tanya Romeo sih? Kan dia enggak penting banget.
“Romeo? Ngapain nyari Romeo. Tumben amat peduli.” Elisa kepo. Tuhkan, ngapain juga nanyain Romeo.
Gue diam, mencari kalimat yang tepat agar Elisa enggak salah tangkap. Yang ada gue dikira kangen dia deh, amit-amit. Gue kan Cuma sebel aja dia enggak nongol di kelas.” Eng—itu. Lo tahu sendiri kan, Romeo sejak jamnya Bu Indah enggak ada di kelas, dan sampai sekarang dia belom balik juga.”
“Masak sih? Gue malah enggak tahu kalo cowok-cowok hilang dari kelas.” Elisa menatap cowok-cowok di bangku bagian belakang. “Lagian, ini masih jam istirahat And, wajar dong kalau pada istirahat.”
Gue menyelesaikannya, “Ok, baiklah.”
Baru juga gue kembali menatap ke depan, Elisa menceletuk lagi.
“Eh, eh And. Ohya, tadi pas gue ke kantin, gue lihat Romeo sama cewek, dia pakai seragam olahraga, anak kelas satu. Mungkin dia lagi ketemuan sama ceweknya.”
Sama cewek? Siapa? Kok gue sampai enggak tahu kalau Romeo punya cewek? Ah, peduli apa sih gue. Lupakan, lupakan. Sejak kapan coba gue peduli sama dia.
●●●
Dua minggu lagi, lomba akan segera di laksanakan. Latihan semakin sering di lakukan. Satu hal yang membuat gue bersemangat adalah gue yang dipilih sebagai komandan peleton. Gila aja, gue sebagai cewek merasa terhormat banget bisa menjadi komandan peleton untuk peleton perlombaan. Benar-benar gila parah.
Siang ini, selesai pelajaran, gue sudah siap dengan seragam olahraga gue. Keluar dari kamar ganti dekat kelas gue. Gue siap menuju lapangan belakang untuk melaksanakan latihan rutin.
“Eh, Anda?” Romeo menemui gue di depan kamar ganti, bukan menemui sih, lebih tepatnya dia lewat di depan gue dan kemudian menyapa gue.
Gue udah capek buat ngelak panggilan Anda, makanya gue enggak protes-protes lagi. Toh itu juga masih masuk dalam nama gue kan, Anda-ra
“Ngapain lo di sini?” tanya gue sebagai respon keberadaannya. “Lo enggak lagi ngintip gue kan?”
“Ha?” Romeo memelototkan matanya karena gue tuding mengintip.
“Iyakan! Ngaku aja ah.” Gue mengulang ucapan sekali lagi.
“Gue? Ngintipin lo?! Ngapaiin! Gue enggak m***m ya!” balas Romeo dengan tatapan tak percaya. Kalau bukan ngintip gue, ngapain dia ada di depan sini. Inikan ruang ganti perempuan. Terus kenapa sekarang dia enggak langsung pulang? Biasanya kan jam segini dia sudah pergi hempas dari sekolah ini.
“Terus ngapain lo di sini?” gue mencoba bertanya.
“Suka-suka gue lah.” Jawab Romeo super duper menyebalkan. Kenapa diciptakan makhluk menyebalkan kayak lo sih! Ngeselin. Dari pada gue stres dan hilang mood gara-gara dia, gue segera pergi.
Kali ini langkah gue menuju lapangan belakang, latihan kali ini akan melakukan gerakan variasi yang sudah dibentuk beberapa hari lalu. Di sana sudah terdapat beberapa anak yang terpilih seleksi. Gue menuju Kak Reno yang akan menjadi pelatih kami.
“Masih semangat kan?” tanya Kak Reno ketika gue sampai di dekatnya. Gue tersenyum mengangguk. Gue selalu semangat terus.
“Ya udah yuk, langsung aja.” Ucapan Kak Reno mengawali kegiatan sore ini. Dengan dipimpin olehnya, barisan dibuat. Gue berada di penjuru kanan. Dengan beberapa gerakan langkah tegap, hadap kanan dan buka tutup barisan, kami melakukannya dengan tegas. Entakkan kaki pun terasa hingga di hati kami, melonjakkan perasaan dan semangat.
Ketika gue memandang ke arah tempat duduk tepi lapangan, gue melihat Romeo. Sebentar-sebentar? Itu beneran Romeo kan? Ngapain dia di sini.
Romeo menatap ke sini? Ke arah gue? Apa yang dia lakukan? Sejenak perasaan gue jadi canggung. Gue merasa ada yang mengganjal di dalamnya, membuat konsentrasi gue buyar.
Apa serius?
Romeo ke sini liat gue latihan?
Apa benar?
Ah! Lo kenapa sih And? Lo baik-baik aja sih. Fokus dan ingat kembali bahwa lo sedang di barisan. Gue harus konsentrasi.
“And? Lo baik-baik aja kan?” Kak Reno menegur gue. Tuhkan, gue salah di gerakan. Ini semua gara-gara manusia kutu kupret itu! Ada apa sih sama dia?!
“Iya kak. Maaf,”
Gue malu sekali selaku komandan peleton yang malah melakukan kesalahan. Meski itu hanya salah pada ritme entak kaki, gue malu. Ini gara-gara Romeo. Pokoknya selesai latihan gue harus marahin dia habis-habisan. Tapi sebentar? Ntar kalau ditanya alesannya bisa-bisa gue sendiri yang kena bumerangnya. Bodoh-bodoh!
Akhirnya latihan selesai, semua menepi di lapangan. Gue melihat Romeo masih duduk di tepi lapangan. Gue memilih duduk di bangku yang mendekati Romeo, kira-kira berjarak lima meter. Bersama Zika gue melakukan obrolan kecil di istirahat. Sekilas gue melirik Romeo yang sudah duduk manis di sana, membawa satu botol minuman dan bersama seorang cewek.
Ha? Bareng cewek.
Mana dibawain minum lagi. Sok romantis.
Tapi kok, gue jadi haus gini ya. Gue pun merogoh botol minum gue yang ada di tas mungil gue. Meneguknya beberapa kali, kemudian mengembalikannya ke tempat semula.
Sesaat gue terngiang ucapan Elisa kemarin-kemarin ketika gue gelisah di kelas. “...mungkin dia lagi ketemuan sama ceweknya.”
Deg! Kenapa gue sampai melupakan hal itu. Jadi Romeo ketemuan sama cewek berbaju olahraga itu maksudnya, Andini?
Setahu gue, namanya Andini. Cewek kelas sepuluh yang lolos seleksi. Cewek itu cukup berbakat di bidangnya, terbukti, dia masuk barisan nomor dua, padahal dulu gue juga ada di barisannya pas kelas sepuluh. Gue pun rasanya ingin duduk di samping Romeo. Mengganggu kemesraan mereka. Masak lainnya pada istirahat mereka malah berdua-duaan. Enggak sopan banget kan.
“Zik, gue ke sana bentar ya.” Gue berdiri dari tempat, kemudian menuju arah ke Romeo. Mungkin bisa dengan alibi tanya soal classmeet untuk Lomba Agustusan yang akan diadakan setelah tanggal 17 nanti.
Ketika gue sampai sana, Romeo dan Andini mendadak memandang gue. Heran dengan kedatangan gue yang menghentikan obrolan akrab mereka. Ya Tuhan, mereka akrab banget ngobrolnya, gue jadi canggung tiba-tiba datang mengganggu. Biarin, kan emang gue pengen ganggu mereka, kok.
“Ada apa And?” tanyanya. Mampus, mau ngomong apaan dah tadi gue? Ayo jangan bikin malu dong And.
“Eh—itu.” Gue malah kagok sendiri. “Bakal ada classmeet setelah HUT RI.”
“Oh, iya. Gue udah di kasih tau sama Bu Indah.” Jawab Romeo. Udah gitu aja. Sialan obrolan gue stuck. Ini apa emang Romeonya males ngobrol sama gue.
“Ya udah.”
Romeo Cuma mengangguk. “Ada lagi yang mau disampein?”
Gue menggeleng. Kemudian Romeo meng”oh”ria dan melanjutkan obrolannya. Gue langsung cabut dari depan mereka. Kok gue awkward moment gini sih. b**o! b**o! Lo kenapa sih And?
Sial!
●●●
Hanya dengan kejadian tadi sore. Gue benar-benar gelisah semalaman. PR Matematika tidak gue kerjakan dengan baik. Itu pun memaksa otak agar konsentrasi lebih keras. Jadinya pagi ini gue rasanya kayak penat dan udah badmood. Hari Jumat sebenarnya menyenangkan, karena besok udah libur. Harusnya. Tapi kenapa pagi ini gue malas ngapa-ngapain. Gue sama sekali enggak semangat semenjak menyibak selimut dan menyapa hari.
“Lo kenapa And?” Elisa sudah berangkat. Gue menggeleng dengan senyum.
“Lo kan lagi enggak tanggal PMS?”
“Emang siapa yang bilang kalau gue PMS?” tanya gue balik. Kepala gue kini gue sembunyikan di balik dekapan tangan. Mata gue pasti sekarang kayak panda.
“Lo udah belum tugasnya Pak Banu?”
“Udah, tapi enggak tau bener atau nggak sih.” Ucapan gue membuat Elisa membuka tas gue tanpa permisi. Itu memang sudah sering dia lakukan, mengambil buku sembarangan. Kemudian nyontek.
“Masa rangking 2 di kelas bisa salah ngerjain soal.” Celetuk Elisa yang membuat gue membuang napas kasar. Suka lo aja deh. Gue lagi males bahas hal sepele kayak gitu.
Ketika Elisa sibuk menyalin jawaban matematika gue, gue malah bisa-bisanya melirik ke arah belakang. Di mana tempat duduk Romeo berada, di sana belum ada tanda-tanda mereka datang. Bangku mereka kosong, belum ada tas mereka berdua, dari Romeo mau pun Rohman.
Kenapa bisa-bisanya gue peduli gitu. Gue kan enggak ada urusan sama Romeo, kenapa gue jadi nunggu dan berharap dia dateng sih. Biasanya juga gue bahagia dia enggak ada di kelas.
“Assalamualaikum!!” seru dari arah pintu. Itu Rohman, berjalan petentengan dengan Haikal. Gue melihat ke arah melihat pintu kelas, berharap ada Romeo yang menyusul di belakang mereka berdua.
Tapi nihil...
Gue tidak menemukannya.
Tumben banget sih Romeo jam segini belum dateng. Biasanya juga ganggu gue kalau udah pagi-pagi gini.
“And, nih nomor empat serius jawabannya ini?” Elisa menyenggol gue. Membuat gue dengan malas menoleh ke arahnya.
“Iya. Kenapa sih.”
“Jawaban lo itu ngaco, sumpah. Harusnya itu jawabannya, akar 89. Kenapa jadi akar 115 gini.” Telunjuk Elisa menunjuk soal nomor empat. Gue meliriknya sekilas.
“Ya udah, lo kan tau. Ganti aja,”
Elisa tidak berbicara lagi. Mungkin dia tahu kalau gue sedang tidak ingin diganggu. Elisa memang yang paling ngerti deh soal perasaan.
Kring!! Kring!! Kring!!
Bel bunyi tiga kali. Itu tandanya pelajaran akan segera di mulai, mungkin sebentar lagi Guru Mapel bakal masuk. Ya, jam pertama diisi Bu Desi dengan segala rumusnya yang memusingkan. Amat memusingkan, apalagi dengan kondisi gue yang kayak gini. Makin enggak konsen belajar dong.
Brak!
Suara itu timbul dari depan kelas.
“Eh Maaf, Vi! Enggak sengaja.” Itu suara gaduh dari Romeo yang menabrak meja Viona yang berada di dekat pintu kelas. Viona dengan mudah memaafkan kelakuan ketua kelas ini. Gue menatap Romeo dengan jengah, tapi suka. Akhirnya dia datang juga gue pikir dia absen karena sakit. Ternyata dia berangkat. Ada senyum tak kasat mata di bibir gue.
Romeo kemudian melangkah menuju bangkunya, melewati bangku gue yang berada di bangku nomor dua dari depan. Gue bisa mendengar napasnya yang terengah-engah. Dia melewati gue begitu saja, tak peduli dengan keberadaan gue yang gelisah nunggu dia berangkat atau enggak.
“Aduh, ketua kelas kok telat.” Kata Haikal yang duduk di atas meja sembari mengetuk-ngetuk jam tangan imajinasinya. Padahal pergelangan tangan kirinya kosong.
“Udah nonton berapa episode Uttaran bro semalem?” goda Rohman. Gue tertawa mendengar ucapannya. Apa-apaan! Romeo suka film asal India itu. Kayak emak-emak dong. Gini-gini nyokap gue juga enggak suka nonton gituan, lho.
“Lima episode. Makanya gue telat, ngantuk banget coy.” Balas Romeo dengan jenaka. Gue senyum-senyum sendiri mendengar guyonan mereka. Baru tahu ternyata mereka konyol juga.
“Selamat pagi anak-anak!” ucapan Bu Desi membuat satu kelas sepi mendadak. Semua duduk rapi di bangkunya masing-masing. Tidak ada yang petakilan, tidak ada yang tidur, dan tidak ada celetukan apa saja. Bu Desi termasuk guru horor soalnya. Udah tua, galak, jadi guru Kimia lagi.
“Andara, Romeo? Bisa ambilkan buku kalian di meja saya. Sama nitip tolong bawakan Paket Kimia warna ijo ya yang di meja saya.” Ucapan Bu Desi membuat gue dan Romeo langsung meninggalkan kelas.
Ini kesempatan bagus untuk gue menanyakan soal hubungan Romeo sama Andini. Kan enggak asik banget gue sama Romeo udah deket banget tapi dia enggak bagi-bagi informasi kalau jadian. Gini-gini gue sama romeo udah akrab lho. Sebentar, kenapa gue jadi tertarik sama kehidupan Romeo ya?
“Kenapa lo tadi telat?” tanya gue mengawali percakapan. Gue sudah cukup jauh dari kelas, sudah masuk lorong dua di mana lorong ini adalah lorong kelas sepuluh.
Romeo menoleh, tersenyum. “Kesiangan. Gara-gara semalem enggak bisa tidur.”
“Gara-gara nonton Uttaran?” gue mulai membahas apa yang Romeo guyonkan di kelas tadi.
“Iyalah. Apalagi.”
“Gue serius Yo, lo kenapa enggak bisa tidur.”
Romeo malah terkekeh mendengar ucapan gue. “Gara-gara minum kopi.”
“Lha terus lo kenapa minum kopi. Udah tau bakal enggak bisa tidur.”
Romeo terkekeh lagi. Gue melihat dia tertawa, giginya yang putih mengintip dari bibirnya yang berwarna merah cerah. Kelihatan banget kalau mulutnya masih suci dari rokok. Manis juga ya. Apaan sih lo And! Ngaco. Otak lo juga enggak beres deh gara-gara begadang.
“Ya mau gimana lagi. Gue diajak Andini di coffe shop. Diajak ngopi. Ya gue enggak enak dong mau nolak.”
Andini? Apa Romeo bilang tadi? Andini. Jadi serius kalau mereka deket. Enggak mungkin kalau Cuma sebatas temen tapi sampai ngajak di kafe, bahkan sampai Romeo merelakan kantuknya hanya menyeruput kopi yang dia pesan itu.
“Ya udah ah yuk. Buruan ambil bukunya, ntar kalau Bu Desi marah lagi kalo kita kelamaan.” Romeo menyadarkan pikiranku yang ke mana-mana.
“Eh iya.” Balas gue singkat. Gue enggak perlu nanya ada apa dengan mereka. Gue tau, mereka pasti ada hubungan.
“Ayo. Malah ngelamun. Gue enggak mau lo kesurupan di sini. Bakal repot.”
“Ngawur.” Balas gue cepat.
●●●
Gue mengecek grup w******p, ada pesan dari Kak Reno di grup.
Untuk sore ini latihan dimulai lebih awal ya. Pukul 14.45
Gue menenggelamkan wajah di meja kelas. Pak Udin masih menjelaskan banyak hal di depan. Rumus-rumus Fisika seakan bertebangan di langit-langit kelas, seperti tidak ditangkap oleh kepala manapun. Hujan di luar juga mulai mereda. Bahkan kini tidak terdengar rintiknya yang menghujani atap kelas.
15 menit berlalu sejak bel pulang berdentang. Pak Udin memang menyebalkan, suka banget menunda-nunda waktu.
“Baik, karena hujan juga sudah reda. Kelas saya akhiri, selamat sore.” Akhirnya penutupan itu tiba. Gue segera berdiri dan mencangklong tas gue. Segera keluar kelas untuk mengganti baju.
Ketika gue berlari keluar ada Romeo yang meneriaki gue, “Andara mau maling ayam di mana! Buru-buru banget.”
Gue mengabaikan ucapannya.
Ketika gue sampai di tempat ganti, mendadak tiap bilik itu penuh. Sepertinya banyak siswa yang berganti pakaian untuk berjaga-jaga karena hujan, gue mendadak sedikit menunggu.
Lingkungan sekolah sore ini basah, karena hujan sudah mengguyur sekolah sejak sholat jumat tadi. Lalu gue segera mengecek jam tangan, sudah pukul 14.40, artinya gue cuma punya waktu 5 menit.
Setelah berganti baju gue berlari menuju lapangan. Tiap kaki gue jatuh di air, cipratan itu muncul. Gue sudah tidak peduli, yang gue pikirkan cuma satu, gue komandan peleton dan enggak boleh telat.
Tak.
Tak.
Langkah gue sudah hampir sampai ke lapangan, namun tanpa sadar gue salah menginjak anak tangga di pelataran lapangan yang menyebabkan gue jatuh terpental dan terguling di genangan air lapangan.
“Akhhh!!” seru gue. Badan gue basah dan kaki gue mendadak seperti ada sebuah tarikan yang menyebabkan sakit luar biasa. Gue seakan tidak berdaya jatuh di depan anak-anak paskib yang sedang mempersiapkan latihan.’
Gue malu tapi rasa sakit di kaki gue juga enggak memungkinkan gue untuk bangun.
●●●