Ekstra hari ini berjalan seperti Senin pada sebelumnya. Teori--praktik--kemudian pulang. Pukul 5 sore saat ini, ekstra dibubarkan, bersama dengan bubarnya ekstra Paskibra yang juga dilakukan hari yang sama. Gue masih berada di tempat parkir sekolah, belum ingin pulang, memang serandom itu gue. Tukang ngelamun di manapun berada. Enggak tahu kenapa pengen di sini aja sih. Kalaupun di rumah jam-jam ini, belum ada orang, kakak gue Sinta pasti juga belum pulang. Jadi makin sepi dong rumah gue. Toh, enggak ada barang berharga di rumah. Soalnya harta yang paling berharga adalah keluarga. Di rumah kan enggak ada orang? Jadi apa yang berharga?!
“Pokoknya kita harus giat belajar ok! Giat latihan juga.” Dari arah koridor kelas, muncullah dua gadis kelas 10 yang gue rasa sedang berjalan beriringan menuju parkiran sekolah. Mereka berjalan menuju gue. Gue masih diam di atas sepeda motor layaknya tukang ojek, mengabaikan mereka.
Temannya yang satunya sudah mengambil motornya yang berada di tengah lahan parkir ya, bukan lahan sengketa. “Eh lo tadi lihat kak Bagas enggak? Ganteng banget serius,” celetuk seseorang cewek satu ke cewek dua. Gue buat perumpamaan aja deh biar enggak ribet.
“Haha, iya ganteng banget sih,” guyon cewek dua. Gue merasa tertarik dengan pembicaraan mereka. Jadi setampan apa Bagas sampe disukai banyak orang. Gue rasa dia biasa aja deh, gue rasa tampan gue malah.
“Iya, mana pas baris berbaris tuh keren gitu loh. Agak sebel enggak sih, bukan Kak Bagas yang jadi komandan peleton.”
“Iya mau gimana lagi, mungkin Kak Ela sama Kak Reno naksirnya sama Kak Andara, kita yang sebagai orang baru bisa apa.” jawab si cewek dua.
Eh? Andara jadi komandan peleton, keren banget dah. Sampe ngalahin Bagas yang dipuja-puja. Ohya, Andara kan kayaknya naksir Bagas, kok Andara enggak ngalah ya? Apa Bagas enggak ada apa-apanya sama ambisinya ya. Hmm, teori yang memusingkan.
“Woy! Mikir apaan lo? Sampai kayak gitu.” Kaget. Tiba-tiba seseorang membuat gue kembali ke daratan parkiran sekolah. Gue menatap seseorang yang mengatakan itu, terdapat Anda sudah berdiri tegak di samping gue. Mengenakan kaos lapangannya tersenyum bahagia. Setelah menatap Anda, pandangan gue beralih menuju tempat dua cewek tadi yang nyatanya sudah beranjak.
Gue kembali sadar, apa yang gue lakukan selama hampir lima menit tadi? Melamun memikirkan yang tidak penting. Kembalikan 5 menitku yang terbuang sia-sia.
“Lo kesambet apaan sih Yo? Sore-sore nongkrong di tempat parkir? Enggak jelas gitu.”
Gue bukannya menjawab dengan jawaban pasti, malah menyahut, “iya yah. Gue ngapain ya di sini?”
“Ya mana gue tahu. Kan gue baru dateng. Lo kata gue cenayang yang bisa tahu dengan menerawang.”
“Eh, kalau lo cenayang boleh tuh, tolong dong ramal masa depan gue. Hehe,” goda gue. Dengan cepat Andara menyahut.
“Masa depan lo suram.” Cercanya dengan cepat.
“Berarti masa depan lo juga suram dong?”
“Kok bisa?”
“Kan nanti kita hidup bersama.” Kemudian gue tertawa renyah. Mendengar celetuk gue, Andara tidak terima.
“Apaan! Najis! Enggak sudi! Gue enggak rela jika suatu saat gue jadi istri lo.” Andara menggetok kepalanya berkali-kali sembari berbisik amit-amit.
“Emang siapa bilang yang mau jadiin lo istri gue?”
“Terus?”
“Ya, lo jadi pembatu gue lah. Jadi istri gue enggak kecapekan dan ketika gue ajak olahraga malam dia enggak nolak.” Gue terkekeh, dibalas polesan kebencian dari Andara.
“Otak lo korslet ya!!” Andara menimpuk gue dengan tangan kosongnya. Tak peduli gue mengaduh-aduh minta ampun. Dasar psikopat nih cewek. Ngeri! Nyesel gue bercandain dia gitu. Tapi enggak apa lah. Lucu juga lihat mukanya yang marah-marah malu gitu.
“Udah ah, gue mau balik dulu.” Andara capek juga meladeni gue, dia langsung menuju motor bututnya yang sering rusak itu. Hehe.
“Hati-hati kalau bawa motor. Jangan akrobat di jalan, bisa ditangkap polisi lhoo.” Gue masih enggak berhenti tertawa. Sepertinya Andara benar-benar capek jika menanggapi gue yang sejak tadi nyebelin. Nyatanya, dia sama sekali enggak ketawa.
Kemudian gue teringat sesuatu, “Semangat bu ketua peleton!”
Andara menoleh, dengan tatapan bingung namun juga senang. Mungkin dia pikir kenapa gue sampai punya telinga selebar sekolah.
●●●
“Heh! Lu jangan jadi kacung dong dipojokan diem terus. Lawan! Lawan!” Rohman mengomel sejak tadi. Fokus menatap ponsel dan memaki-maki tak jelas.
“Ash! Kenapa gue terus yang ditembak woy, mana enggak pake baju lagi…” ratap Haikal. Kini kita sedang memainkan game PUBG, wajar aja kalau heboh banget. Gue juga enggak kalah heboh.
“k*****t ni lawan! Hoi! Jangan sakiti aku mulu. Beri waktu buat menjelaskan semua ini!” heboh gue melihat lawan gue yang menggunakan skin yang level lebih tinggi. Gue enggak sempet bernapas hanya untuk melawannya. Anarkis nih.
Sebenarnya, malam ini, gue enggak tahu kalau manusia k*****t ini bakal datang dan merusak niat belajar gue, yaitu; Fauzan, Haikal, dan Rohman. Tapi Cuma Fauzan yang tidak ikut mabar (read: main bareng), karena dia mengerjakan tugas Biologi tentang sekumpulan hewan-hewan. Di sini dia memang yang paling beda, paling rajin dan paling kalem. Sekalemnya dia, sampai dia tidak meng-instal game di hape-nya. Padahal, game itu sudah seperti kebutuhan primer bagi anak laki-laki. Ketika main itu loh, sensasi memakinya benar-benar plong.
Niat mereka belajar, tapi tergeser karena game ini.
“Kalian bisa tenang dikit enggak sih, berisik banget.” Kak Sinta datang dari arah dapur, membawa makanan ringan. Itu kakak gue, umurnya 22 tahun, mahasiswa tingkat akhir yang pengen nikah tapi masih jomblo. Kayak adiknya kagak jomblo aja.
“Iya nih kak, gak fokus belajar aku,” jawab Fauzan, manusia yang merasa tersisihkan sejak tadi.
Mendengar ucapan dari Fauzan, Kak Sinta meroyok hp gue. Alhasil gue kaget.
“KAAAAAAAAAKKK! BENTAR LAGI SELESAI NIIIH.” Heboh gue.
“Ya udah diselesain sekarang aja.”
Fauzan yang diuntungkan dengan hal ini semakin lebar senyumnnya. Sialan memang.
“Capek gue ngerjain tugas-tugas lo semua.” Fauzan tak kalah juga bersuara.
Gue sebel.
Tapi disisi lain gue juga kasian, udah ngerjain tugas sendiri. Ya mau gimana lagi,dia diajak mabar enggak bisa.
Setelah Kak Sinta berlalu akhirnya kita mulai agak rileks. Kenapa sih gue harus punya kakak perempuan. Enggak support banget sama gue yang laki gini.
“Jangan gue deh yang ngerjain. Ntar malah jelek lagi nilai kalian.” Alibi Rohman. Kan cari jawabannya juga di internet, kenapa bisa mikir nilainya jelek. Kan udah enggak jaman cari jawaban bolak-balikin buku sampai pening. Tapi Fauzan manut-manut aja sama elakkan Rohman.
“Gue biologi juga enggak paham sih, Zan. Paham gue sih di biologi Cuma bagian reproduksi manusia aja. Nah tuh gue hafal sampai enggak usah buka buku dan internet tuh.” Haikal menyahut dengan otak nakalnya. Fauzan pun melempar Haikal dengan pulpennya. “Dasar!!”
“Ah, bilang aja kalian malas bantu.” Fauzan hampir putus asa. Dia menatap nanar pada buku yang berserakan di meja.
Gue kasihan juga sih melihat Fauzan yang dianakbawangkan di sini. Gue menaruh hape gue, me-log-out permainan gue. Melihat itu, Rohman dan Fauzan pun uring-uringan karena personil berkurang.
“Ah, auk ah! Jelas kalah kalau gini” Haikal membanting hapenya.
Rohman yang tinggal sendiri, akhirnya juga ikut keluar. Karena ia sadar, yang namanya berjuang sendiri itu tidak enak. Sakit. Game online malam ini rampung, hanya ada dengusan nafas dari manusia k*****t di atas sofa.
Gue beralih membantu Fauzan yang kerepotan mengerjakan PR. "Kalian itu ya, ini tuh tugasnya susah banget. Mana gue enggak ngerti lagi." Fauzan menggaruk kepalanya habis-habisan. Saking frustrasinya.
Dia akhirnya bisa bernafas lega. Rohman dan Haikal juga meraih buku masing-masing. Membaca tugasnya. Sejenak kemudian Rohman menyahut. "Kalau ini mah gampang, kemarin Bu Febri juga jelasin di papan tulis." Kalimat itu pun disusul oleh Haikal, “Iya Zan, kok bisa-bisanya lo enggak bisa ngerjain. Ih, cemen.”
Fauzan membelalakkan mata kepada dua manusia ini. “Kenapa enggak bilang dari tadi Ha?!!!”
“Ya gue mana tahu. Lagian, kemarin siapa suruh lo ijin pas jam pelajarannya Bu Febri.” Haikal malah menyalahkan Fauzan yang berhalangan hadir hari lalu.
“Iya, siapa suruh sakit.”
Tatapan Fauzan seperti ingin memakan mereka hidup-hidup. Namun akhirnya ia hanya bisa diam dan mengunyah makanan yang dibawakan oleh Kak Sinta.
Gue menatap mereka bertiga. Kasihan banget sih lo Zan. Terdzolimi terus hahaha.
●●●
Pagi ini, kami berempat malas bangun. Entah kenapa tidur saling tindih menindih ini terasa makin nikmat. Kasur seperti lengket. Pukul lima lebih tiga puluh. Haikal malah menarik selimut tebal gue untuk menutupi tubuhnya secara penuh. Maklum musim kemarau itu hawanya dingin. Entah dosa apalagi semalam yang kami perbuat di atas kasur. Jadi kami berempat seranjang berebut selimut seperti pengantin baru yang baru tidur seranjang.
“‘Woi bangun, kaki lo bau Man." Terdengar sayup suara Fauzan di bawah gue. Pagi ini, tidur kami tidak teratur. Fauzan yang kepalanya ada diujung ranjang kini langsung bersinggungan dengan kaki Rohman yang katanya bau. Gue sendiri tidur menepi karena berkali-kali Haikal menyenggol. Meski saling mengganggu, bangun bukanlah sebuah pilihan. Kasur seakan magnet yang menarik kami.
Akhirnya, setelah bergumul selama beberapa menit, gue sudah rela bangun meski nyawa belum terkumpul secara penuh. Membuat tiga manusia itu semakin merapat. Gue meraih handuk yang tersampir di kamar mandi. Segera mandi dan segera menuju dapur. Kurang beruntung apa coba mereka, sudah tidur dengan nyaman, masih ada yang masakin layaknya ratu. Sebenarnya gue mau masakin mereka namun sudah ada Kak Sinta yang sudah berdiri di sana. Sejak kapan dia bisa bangun pagi?
“Tumben amat nih ratu begadang bangun jam segini.” goda gue.
“Gue pagi ini ada bimbingan, ya kali gue bangun siang. Kapan selesainya nih skripsi kalau modelnya gini.”
Gue mengangguk lalu duduk di kursi dapur, “Semangat ya, jangan lupa nyari jodoh.”
Kak Sinta menatap gue sinis.
"Aduh, pagi-pagi aroma nasi gorengnya membuat gue pengen segera nikah." Haikal adalah orang yang pertama datang di dapur. Berpenampilan acak-acakan habis bangun tidur, dia bergumam aneh-aneh.
“Nih, Haikal udah siap jadi suami,” celetuk gue ke Kak Sinta.
Haikal kaget dan langsung terdiam. Meminta maaf pada Kak Sinta. Siapa sih yang berani melawan galaknya Kakak gue.
"Ini siapa dulu yang mandi? Gue duluan ya." Fauzan datang menyusul, sebelum menuju kamar mandi, dia mampir di dapur.
"Eee, enggak bisa. Gue dulu!" Haikal langsung menyerobot.
"Tapi gue kebelett, aaaaakhh!!" Fauzan sudah menangkupkan tangannya di bendanya. Menahan agar ia bisa menahan urusan dunianya.
"Rohman mana?" Tanya gue ketika melihat anak itu belum muncul. Biasanya dia yang paling ribut.
"Dia lagi di kamar, beresin kasur. Gila aja semalen Haikal tidurnya kayak buldoser, mengorak-arik!" Fauzan mengomel, kini ia semakin ribut lari-lari kecil di dapur. Menahan pipisnya agar bisa bersabar sedikit.
"Bagus deh." Gue tersenyum. Di sini juga dibiasakan bagi yang bangun terakhir, kerapian ranjang kamar menjadi tanggung jawabnya. Itu berlaku buat siapapun dan di rumah siapapun juga.
"Fauzaaan!!!!" Teriak Haikal ketika Fauzan sudah kalang kabut menuju toilet. Entah apa yang akan terjadi dengan mereka. Gue enggak peduli.
Sedangkan Kak Sinta yang diam sejak tadi, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat empat perjaka kalang kabut di dapur. Pagi hari yang tentram.
●●●
Kelas siang ini ramai banget. Siswa mulai seenaknya seperti jam kosong biasanya. Gue bersama team laki-laki bergerombol di belakang. Ada yang sibuk main hape, ada yang mengisengi temannya, ada yang tidur di pojokan dan hal aneh-aneh lainnya yang dilakukan. Gue yang penat dengan game online, menaruh saku hape gue. Jam kosong memang adalah jam favorit seluruh siswa mana pun. Mau di sini, di Zimbabwe atau negara manapun, kebebasan seperti ini adalah surga. Apalagi, tidak ada tanggungan seperti tugas, makin merdekalah kami.
"Boring nih, kantin yuk." Ajak Haikal yang duduk bersandar di dinding. Gue pun setuju dengan ajakannya. Mungkin dengan segelas es akan menghilangkan bosan. Kami berempat resmi ke kantin. Empat es teh sudah berjajar rapi di depan kami. Kami mengeluarkan hape lagi, login game online dan menikmati jam kosong di kantin.
"Bro, gimana ya cara menangani cewek ngambek." Rohman, yang juga sibuk memegang hapenya, dia menyeletuk di luar bahasan. Gue dan team memang sudah tahu kalau Rohman dekat dengan cewek kelas satu yang imut-imut. Pinter juga nyari cewek. Bikin bertiga iri aja.
"Lah, emangnya lo udah jadian sama Ika?" Haikal menyahut.
"Udah."
"Kapan? Kok enggak cerita?!" Fauzan ikut mendekat. Dia tidak main game online, hapenya masih suci bersih tidak bernoda. Kini dia malah sibuk makan jajan. Gue respect sama kesabaran Fauzan yang enggak pernah ngerasa dikacungin kita bertiga.
"Udah ada satu minggu sih. Gue mau cerita males dimintain traktiran. Lo tau kan kalau gue miskin uang saku." Mendengar ucapan Rohman, kami bertiga langsung menempeleng kepalanya berjamaah.
"Udah tahu miskin uang saku, masih aja pacaran. Mau dikasih makan apa tuh Ika? Kencannya mau lo ajak bawa bekal dari rumah?" Haikal masih berkomentar.
Fauzan tertawa. Gue hanya tersenyum sedikit, kemudian fokus pada game. Jangan beri kendor pokoknya, serang terus.
"Udah-udah jangan bahas cewek. Kita tuh cowok!" Rohman yang tidak ingin dirinya dibahas pun ingin mengusaikan percakapan. Fokus kepada game. Fokus-fokus!!
Akhirnya tidak ada bicara diantar kita. Kami bertiga sibuk bermain game, Fauzan sibuk dengan semangkuk mi ayamnya. Jam kosong masih lama, bisa jadi sampai istirahat kedua. Jadi santai saja. Nikmati masa mudamu.
"Heh Romeo? Lo ngapain di sini? Ini kan jam pelajaran?" datang seseorang menghampiri meja kami. "dan? Lo? Ngapain disini?!" kini seseorang itu menunjuk tiga orang teman gue. Mendadak kami menurunkan hape dan menatap orang tersebut. Orang itu adalah Andara, dia datang dengan kaos olahraga sekolah yang sudah basah karena keringat. Wajahnya merah karena diterpa sinar matahari.
"Lha, lo sendiri ngapain di sini?" Haikal melemparkan pertanyaan balik.
"Gue ada kegiatan latihan Paskib. Lo semua bolos ya?" Andara menatap sengit. "Ampun deh Yo! Kelas kayak apa lo tinggal? Pasti rame banget. Atau bisa jadi kelas sedang ditegur sama kepala sekolah yang lagi keliling sekolah. Aduh, mampus deh." Andara marah-marah tidak jelas.
"Perasaan, dengan adanya Romeo atau tidaknya, kelas tetep rame deh." Rohman menyahuti karena tidak suka dengan sikap paranoid Andara.
"Ya, kalaupun tetap ditegur, se-enggaknya ada yang bertanggung jawab di sana. Sedangkan sekarang? Siapa? Kita aja ada di luar kelas. Mampus tau nggak?!"
"Kalem deh. Kepala sekolah lagi keluar naik mobil rapat tuh. Enggak percaya? Coba cek di parkiran guru? Enggak ada kok. Ribet hidup lo And." Sahut Haikal.
"Gimana kalau guru mapel yang keliling?" Andara masih bertahan dengan persepsinya.
"Rajin amat sih jam segini masih muter sekolah. Palingan juga mereka sibuk ngantuk di ruang guru." Haikal kembali fokus pada hpnya kembali. Haikal memang tipikal yang malas ditegur, dikomen apalagi disuruh-suruh.
"Eh! Ngapain kalian di sini?" ada suara lain menegur kami. Saat menoleh, Pak Hardi guru olahraga yang juga menjadi pembimbing latihan paskib. Tatapannya menjurus ke kami berempat yang memakai seragam, sedangkan yang sedang berada di kantin hanyalah anak-anak paskib yang menggunakan kaos olahraga.
"Segera kembali ke kelas!" dengan tangan mengacung ke arah koridor kelas 11 IPA, Pak Hardi menatap sengit kami. Membuat kami berempat bangun dari bangku dan meninggalkan kantin tanpa bicara apapun.
Ketika kami berempat menuju kelas, di jalan gue ijin ke kamar mandi karena kebelet pipis. Saat ini gue berada di kamar mandi belakang dekat kantin untuk menuntaskannya. Ketika gue hendak masuk ke kamar mandi, terdapat cewek yang menabrak gue.
"Kakak duluan aja." Ucapnya mempersilahkan.
"Enggak, lo aja dulu." Gue sebagai laki-laki sejati harus menghargai perempuan. Jadi gue harus mengalah demi kejantanan gue.
"Enggak apa, kakak dulu."
"Lo duluan, lo cewek."
"Baiklah."
Dia masuk, lalu gue menyusul masuk. Setelah menuntaskan hajat gue keluar, tanpa sadar cewek itu juga keluar.
Dia muncul, dengan semburat manis. Dia pakai baju olahraga, apa dia juga ikut latihan satu team dengan mak macan?
"Makasih kak, silahkan kak masuk."
Gue membalas senyumnya. "Makasih juga."
Ketika gue hendak pergi, dia tetap diam di tempat.
"Masih mau ada urusan dengan toilet?" tanya gue.
Dia tertawa, kemudian menggeleng. Lalu? Kenapa dia di sini?
"Kenalin, aku Andini Mega kelas 10." Dia memperkenalkan dirinya.
"Romeo, anak kelas 11."
"Iya tahu, temannya Kak Andara kan?"
"Kok tahu? Kan gue enggak bilang."
"Sering lihat bareng aja."
"Ha? Tapi enggak sampai diisukan pacaran kan?" gue kaget. Segitu telitinya manusia yang melihat kebersamaan gue. Kalau sampai dianggap pacaran, bisa mampus gue di tangan Anda.
"Emangnya kalian pacaran beneran?"
"Eh enggak lah!" sanggah gue.
"Ya udah ya, gue mau balik ke kelas dulu. Takut di kelas ada gurunya." Gue ingin segera ke kelas sebelum Bu Indah benar-benar masuk dan memarahi gue sebagai ketua tersayangnya. Tapi baru melangkah beberapa meter, bel istirahat kedua berdentang. Gue menoleh ke arah Andini yang juga tersenyum ke arah gue.
"Kayaknya, enggak jadi ke kelas deh." Dia tertawa melihat gue yang kembali ke arahnya.
"Kantin yuk." Ajak gue.
"Lagi?"
"Ya bolehlah." Kami berdua tertawa berjalan menuju kantin.
●●●