"Mau kemana?" Tanya Raga kaget melihat Embun yang baru keluar dari kamar nya mendorong koper nya.
Saat ini mereka sedang berada di Bali. Hadiah bulan madu dari Maya mama Embun. Selama di Bali mereka tidur di kamar yang terpisah atas permintaan Embun yang ternyata sudah menyewa kamar lain sebelum mereka datang tanpa sepengetahuan Raga.
"Pulang lah!" Jawab Embun sinis menaikan satu alis matanya menatap Raga.
"Buang buang waktu disini! Pekerjaan di toko sudah menumpuk. Kamu kalau masih betah silahkan habis kan waktu libur mu."
"Tidak bisa seperti ini Embun."Raga mencekal pergelangan tangan Embun saat ia mau pergi dari hadapan Raga."Kalau kamu pulang sendiri apa yang akan dikatakan mama dan papa?"
Embun mengedik kan bahu tidak peduli"Itu urusan mu!"
Dengan cuek nya Embun menarik koper menjauh dari Raga.
"Embun" panggil Raga menahan kepergian Embun lagi.
"Kita akan pulang bersama!" tegas Raga "Lagipula kamu akan pulang kemana? Semua barang mu sudah berada di rumah kita."
Tatapan sinis menghujami Raga."Rumah kita yang mana? Yang kamu maksud?"
"Lebih tepatnya ke rumah ku,"jawab Raga terbata.
Embun tersenyum sinis "Siapa yang memberi izin?" Embun melipat kedua tangan di d**a kesal.
"Kamu sudah menjadi istri ku dan kita akan tinggal bersama!!!"
"Tidak bisa! Jarak rumah mu dan toko ku jauh. Aku tidak ingin pindah. Itu terlalu banyak membuang waktu. Lebih baik aku mencari rumah kontrakan yang lain." tegasnya.
"Tidak bisa Embun, usaha ku ada disana,lagipula aku yang akan membiayai semua keperluan mu. Jadi kamu tidak usah bekerja.Bagaimana mungkin kita tinggal di rumah yang berbeda. Itu bisa membuat papa dan mama marah. Sebagai suami mu aku wajib memberi mu nafkah. Tidak masalah jika kamu tidak bekerja. Aku sanggup membiayai keperluan kamu dan keperluan kita bersama."
"Aku tidak butuh belas kasih mu. Aku masih mampu membiayai hidupku sendiri. Urus saja hidup mu. Dan ingat, pernikahan ini bukan kemauan ku. Dan jangan coba coba mengatur hidup ku!!!" Suara Embun sedikit tinggi.
Raga mengehela nafas mengumpulkan kesabaran nya.
"Embun" kata Raga lembut menyentuh kedua bahu Embun.
"Jangan menyentuhku" teriak Embun marah menghempas tangan Raga dari pundaknya.
Melihat kemarahan Embun, Raga sedikit terkejut dan berhati hati dalam bertindak lagi.
"Kau!!!" Embun mengacungkan telunjuknya dihadapan Raga
"Jangan berani menyentuh ku!!" lirih Embun keras namun menangis.
**********
Raga melamun di halaman belakang rumah nya. Kadang pandangan Raga tertuju ke atas kamar yang terletak di lantai 2 yaitu kamar Embun. Akhir nya Raga bisa membujuk Embun untuk tinggal di rumah nya. Seperti pengalaman sebelumnya. Embun tidak bisa dikasari atau keras menghadapinya. Jika berbicara sedikit lembut terkadang cukup mudah membujuk Embun.
Kamar itu selalu gelap, Embun sama sekali tidak pernah menyalakan lampu di kamar nya. Selama tinggal bersama sangat sulit bagi Raga untuk bertemu Embun bahkan di rumah mereka sendiri.
Embun selalu punya cara agar tidak ber pas pas an dengan nya. Selama pernikahan tidak sekalipun Embun melayani Raga sebagaimana tugas seorang istri. Untuk sarapan dan makan malam telah disediakan oleh asisten rumah tangga mereka. Kata asisten rumah yang bekerja dengan Raga, Embun jarang sekali makan di rumah.
Embun pergi selalu pagi sekali karena jarak toko dan rumah 2 jam perjalanan dengan mobil. Dia takut terjebak macet. Embun akan pulang jam 6 sore, masuk ke kamar nya dan tidak akan keluar sama sekali. Tidak ada sambutan dari Embun ketika dia pulang bekerja dan yang pasti tak akan ada pula yang mengantarnya sampai pintu rumah saat dia hendak pergi bekerja. Beberapa saat menikah dengan Embun memang Raga tidak ingin menuntut apapun karena Raga paham dengan posisinya. Dia hanya suami bagi Embun sampai kekasihnya datang menjemput dia.
Raga pergi menuju kamar Embun dan mengetok pintu kamar nya pelan.
" Embun" panggil Raga di balik pintu.
Beruntung,tidak perlu menunggu lama.
Embun membuka pelan pintu kamar nya dan berdiam diri menatap Raga.
"Mari makan malam bersama" tawar Raga lembut.
Kening Embun berkerut karena mendengar suara dari beberapa orang di lantai bawah. Raga menyadari kebingungan yang terlihat dari wajahnya.
"Mereka teman teman ku, mereka ingin berkenalan dengan mu. Karena tidak mengundang mereka saat itu. Mereka hanya ingin melihat dan mengenal mu."
Tanpa bicara Embun menutup pintu kamar nya. Raga berusaha menahan agar pintu tidak tertutup.
"Embun, mereka sahabat sahabat ku hanya ingin berniat baik untuk bertemu dengan mu" bisik Raga tenang.
"Aku tidak mengenal mereka" kata Embun membanting pintu tepat wajah Raga.
Raga menghela nafas dan memejamkan mata nya.
" Bagaimana lagi caranya untuk melembutkan hati mu, Mbun" batin Raga.
****
Raga turun ke ruang makan seorang diri. Ke empat sahabatnya, Nino, Ferdian, Willy dan Julian menatap Raga dan mengerti dengan situasi yang dialami oleh teman nya.
Willy menepuk pundak Raga menenangkan Raga. Walaupun mereka tidak datang ke acara pernikahan Raga,namun Raga sudah menceritakan apa yang terjadi kepada ke empat sahabatnya.
"Tidak apa apa,Ga. Kami mengerti, semoga nantinya loe bisa diterima oleh Embun. Ini yang dinamakan sakit tapi tidak berdarah" ledek Nino mengundang tawa diantara teman Raga yang lain agar mencairkan suasana tegang sedih dan kecewa Raga.
Raga memasukkan kedua tangan nya kedalam saku celana dan mengedik kan bahu nya.
Raga menghela nafas " gua butuh kesabaran extra untuk menembus hatinya" balas Raga.
"Jadi kalian pisah kamar" tebak Ferdian.
Raga mengangguk membenarkan perkataan Ferdian.
Willy meneguk minuman cola nya " lagian loe juga sih,orang nggak mau nikah loe paksa nikah. Dan juga Embun punya cowok oiii. Dari awal lo kan tahu ya sudah terima nasib aja sekarang"
Julian melipat kedua tangan nya di d**a " loe nikahin Embun bukan untuk membuat Nadya cemburu kan?" Tanya Julian sekenanya.
Sontak Raga menatap Julian dan sesekali melihat ke arah kamar Embun.
"Loh, kenapa Nadya di bawa bawa dalam urusan ini. Pernikahan gua dan Embun tidak ada sangkut pautnya dengan Nadya. Gimana loe bisa berfikir sampai kesitu?"
"Cinta loe kepada Nadya tidak pudar semudah itu,dude. Sampai saat ini susah untuk gua menyakinkan hati gua sendiri mendengar pernikahan lo. Sumpah Raga, gua masih berasa mimpi. Tidak percaya saja loe akhirnya menjadi seorang suami tapi bukan dengan Nadya. Kagak nyampe otak gue suerrr." tambah Julian.
"Gua setuju dengan Julian. kalian berdua itu saling mencintai. Dulu aja kalian berdua itu bak perangko. Dimanapun keberadaan Nadya pasti lo ada di dekatnya, lo kan bucin parah. Lagipula Nadya bukan maksud meninggalkan loe, dia hanya butuh waktu untuk melanjutkan sekolah nya. Loe aja yang nggak bisa LDR an" tambah Nino."Hal itu saja kita bisa memahami jika lo memang tidak bisa jauh dari Nadya."tambah Ferdian.
Raga termenung mencerna kata setiap kata yang keluar dari mulut Ferdian. Dia berfikir apakah iya dia separah yang dibilang temannya. Dia merasa tidak selebay apa yang mereka fikir.
"Hidup loe ribet amat,Ga. Saat Nadya kembali dan mengetahui loe udah nikah. Loe bakalan jelasin nya gimana?" Ferdian
"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Gua tidak punya hubungan apapun dengan Nadya. Embun adalah prioritas pertama yang akan gua pikirkan"
Ke empat sahabat Raga menaik kan alis mata serentak.
"Bagi Nadya,loe adalah cinta pertama nya,sebalik nya juga seperti itu. Kalian itu pacaran bukan 1 atau 2 tahun. Kalian itu bersama dari SMP" lanjut Willy.
"loe cinta nggak sih dengan Embun?" Tanya Nino
"Gua sudah belajar mencintai Embun di awal papa dan mama meminta gua untuk menjadi suami untuk anak wanita semata wayang mereka yang mereka cintai. Ketika gua menerima pinangan dari kedua orangtua angkat gua, saat itu tidak ada kata bercanda. Bagi gua pernikahan ini hal yang serius yang harus gua jalani. Mungkin cinta Embun belum ada untuk gua,tapi akan gua perjuangkan sampai Embun mencintai gua dengan hati nya bukan terpaksa." Jawab Raga mantap.
"Embun mencintai seseorang,Ga. Jika dilihat dari kesetian Embun menunggu pria itu,gua ragu Embun bisa luluh dengan loe" ingat Willy
" jika Embun pada akhirnya tidak juga membuka hatinya buat loe. Saat pria itu datang menjemput Embun. Loe mau bagaimana" sambung Nino
Raga menatap ke empat sahabat nya. Hatinya terasa sedikit sakit memikirkan hal tersebut. Selama ini memang sempat terpikirkan olehnya. Tapi secepatnya pula dia mengalihkan pikiran tersebut. Dia tidak ingin berandai andai sekarang.
"Semoga Embun bisa jatuh cinta sebelum Pria itu datang menjemput nya, tapi......" ucapan Raga menggantung.
"Tapi....jika hati itu tidak kunjung didapat. Gua akan melepaskan Embun jika itu memang keinginan dia" kata Raga pelan.
Ada rasa sesak dihati Raga mengucapkan kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Semoga Embun tidak pernah mengatakan kalimat yang gua sendiri tidak ingin mendengarnya" lanjut Raga lirih.
Tanpa mereka sadari Embun mendengar pembicaraan mereka.
Embun menghapus air mata yang jatuh dari pipi nya. Melangkahkan kaki pelan masuk ke dalam kamar agar tidak ketahuan setelah menguping.
"Tidak keberatan bukan kita makan berlima saja?"
"Biasa aja,Ga" Ferdian menimpali cepat." Nanti ada masanya kita semua bisa kenal dan berbicara dengan istri lo."
Hati Raga menghangat saat Ferdian mengucapkan kata istri. Dia senang dengan status Embun saat ini. Dia yakin nantinya dia akan bisa mendapatkan cinta dari Embun.
****