Part 8

1275 Kata
Embun POV Aku merenungkan isi pesan papa selama beberapa hari ini. Aku telah banyak membuat papa dan mama sedih atas sikap ku. Mereka tidak bersalah dengan semua permasalahan ku. Orangtua mana yang tidak ingin anak nya bahagia. Aku tahu, sikap ku selama ini sudah sangat menyebalkan,mungkin juga tidak mudah untuk dimaafkan. Aku tidak bisa keras dalam menjalani semua ini. Aku harus berubah, sampai kapan aku akan seperti ini. Selama pernikahan tidak sekalipun Raga menyakiti ku. Tidak sekali pun Raga mengucapkan sesuatu yang kasar. "Raga terlalu baik." Aku telah banyak membuat dia kecewa dan malu dihadapan teman teman nya. Sikap ku memang sangat keterlaluan. Apakah dengan berubah sedikit saja bisa membuat semuanya memaafkan ku. Akan kucoba memperbaiki semuanya. *** Pagi ini aku bangun diwaktu seperti biasa. Menuju dapur dan berniat menolong bi Sumi disana. Selama ini aku sangat jarang sekali berbicara dengan bi Sumi. Padahal dia pun tidak bersalah, dan mungkin tidak tahu apa-apa. " bi," sapa ku di balik punggung nya. Dia menatap ku tanpa berkedip. Sikapnya membuat suasana menjadi canggung. " i..ya..non" Dengan sedikit senyuman membalas ucapannya."Embun saja,bi." Dia tersenyum simpul. "Masak apa, bi?" "Apakah non Embun lapar?" Tanya nya cepat. " Embun bi...panggil Embun saja" kataku lagi. "Maaf nak Embun, mau makan? Biar bibi masak dulu. Maaf belum ada apapun yang bibi masak. Den Raga pergi ke luar kota, jadi dia tidak makan di rumah. Dan...dan biasanya Nak Embun tidak sarapan. Makanya bibi mengerjakan yang lain. Sebentar bibi siapkan." Aku tersenyum menolak tawarannya. Tadinya hanya basa basi saja, hanya untuk menyapa, karena selama ini aku jarang menegur bi Sumi. "Tidak usah, b. Aku bisa makan roti. Hmmm...Raga pergi kemana?" Selama ini aku tidak pernah peduli apapun yang dia lakukan. Aku juga tidak pernah bertanya kemana pun dia pergi. "Ke Bali, menghadiri pernikahan relasi nya. Raga pergi bersama teman teman nya." Aku mengangguk mengerti. "Tapi sore ini juga den Raga pulang,nak. Awalnya den Raga memang akan disana 3 hari. Tapi karena kamu sakit dia langsung membeli tiket pulang di hari yang sama." Lanjutnya cepat. Aku diam mendengar penjelasan Bi Sumi. Ada perih di hati ku mendengar Raga yang begitu peduli kepada keadaan ku. Balasan yang ku berikan padanya, tidak sebanding dengan kebaikkan nya. "Raga juga berpesan kalau masih sakit jangan ke toko dulu." "Embun pergi ke toko sebentar saja,bi. Embun akan memberikan gaji karyawan yang baru. Dan sekalian pergi menemui teman." kataku menjelaskan. Entahlah, sejak aku berusaha merenungkan apa yang di minta papa. Aku sedikit banyak bicara. Mungkin ini pertama kalinya aku berbicara terlalu lama setelah beberapa tahun kepada orang lain. Dengan pegawai tokopun aku memang irit bicara. "Embun mandi dulu." "Bibi buatkan nasi dulu ya." "Boleh bi," jawabku akhirnya. Saat aku hendak beranjak pergi bi Sumi memanggil ku. "Embun," Aku membalikkan badan menghadap nya. "Bibi senang kamu seperti ini. Jangan berubah" katanya terharu dan nampak kulihat senyum tipis di bibirnya. Aku tidak menyangka perubahan kecil ku berdampak untuk orang di rumah Raga. "Maafkan Embun selama ini,bi" kataku tulus. Bi Sumi menggeleng "Bibi paham apa yang kamu rasakan,nak. Mungkin kalau bibi dihadapi dengan perjodohan itu, bibi juga akan bersikap sama." Bi Sumi menutup mulut nya dengan tangan kanan nya. "Maaf bibi terlalu banyak bicara." "Tidak apa apa,bi. Embun senang bibi memaafkan Embun dan tidak ikut ikutan mendiamkan Embun." "Embun," katanya lagi "Raga pria yang baik, jangan membenci nya. Mungkin dia bukan suami pilihanmu, tapi rasa sayangnya kepadamu itu tulus bukan karena terpaksa." Aku mengangguk menyetujui. "Maka dari itu dia tidak cocok dengan ku" batin ku. *** Saat ini aku sedang menantikan seseorang yang selama ini tempat menyampaikan keluh kesah ku. Karena sudah siang keluar rumah. Jadilah gaji pegawai baru diserahkan kepada asisten kepercayaan. Aku sudah buat janji untuk siang ini bertemu Gina teman ku. Tidak mungkin juga membatalkan nya. Kalaupun tadinya sempat ke toko itu akan membuang banyam waktu. "Maaf telat Embun," sapa Gina langsung duduk tepat di depan. "Aku juga baru sampai, makanan dan minuman saja masih belum datang." "Ada apa Embun? Tiba tiba minta ketemuan disini bukan ditempat biasanya. Jika diperhatikan mungkin yang akan kamu ceritakan disini berbeda dengan topik yang kita bicarakan di tempat biasa." "Hmmm...topik pembicaraan ku tidak akan pernah lepas dari sebelumnya Gin." Setelah pesanan datang dan merasa tidak ada gangguan lagi. Aku baru bisa memulai percakapan ku. "Aku membaca pesan papa dan beberapa hari ini aku berusaha memikirkan nya. Mereka tidak bersalah, kenapa mereka yang harus menanggung semua kemarahan ku" Gina menatap ku serius. Selama ini Gina tidak pernah menganggap sepele apapun yang kuceritakan kepadanya. "Aku berpikir papa benar, dia tidak bersalah. Aku juga tidak bisa keras kepadanya" "Apakah kamu akan menerima pria ini menjadi suamimu seutuhnya? Apakah kamu mencoba membuka hati mu Embun? Wahhh itu bagus Embun. Aku senang mendengarnya" Gina menggenggam tanganku yang berada di atas meja. "Aku bahagia Embun, akhirnya setelah begitu lama. Kamu mencoba menatap kearah depan. Aku sangat senang sekali bertemu dengan mu hari ini. Aku akan mendukung mu Embun. Ya, berubah saja pelan pelan. Tidak usah terlalu dipaksakan. Aku yakin suami mu ini akan sabar menunggu perubahan mu. Dari semua yang kudengar dari mu. Dia pria yang baik dan sabar. Embun aku yakin sekali kamu bisa jatuh cinta dan membuka hati mu untuk orang yang baru." Gina tidak berhenti berbicara, dia akan mengambil nafas sebentar lalu dia kembali berbicara panjang lebar dengan begitu semangat. " Gina aku tidak bisa." "Tidak ada yang tidak bisa Embun. Kamu pasti bisa!!! Ayo Embun tata lagi hidup mu. Kamu tidak perlu memikirkan apapun lagi saat ini. Sudah ada yang seseorang disamping mu yang akan menjaga mu. Kemauan mu untuk berubah itu adalah keputusan yang tepat," sela Gina cepat. Aku meminta pengertian Gina agar dia mendengarkan dulu yang ingin kubicarakan. "Aku melakukan ini bukan untuk bisa menerima pernikahan ini Gin." Gina menatap ku lekat. Kening nya mulai berkerut. "Aku ingin orangtua ku dan dia menganggap aku mencoba menerima pernikahan ini karena perubahan sikap ku. Aku tidak bisa bercerai dengan nya kalau aku masih keras kepala. Maka ini jalan satu satu nya mencapai tujuan ku untuk berpisah dengannya nanti. Aku akan menunjukkan kepada papa kalau berusaha menerima ini awal nya. Setelahnya aku akan mengatakan kepada mereka, tidak ada kecocok kan diantara kami." Gina menghela nafas keras. "Tidak Embun!" katanya sedikit marah dan tidak percaya. "Aku tidak bisa Gin. Aku tidak cocok dengan orang sebaik diri nya. Dia berhak mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari ku. Aku tidak bisa memberikan kebahagian untuk nya Gin. Aku bukan wanita yang baik. Aku berlindung di balik topeng ku. Aku bukan wanita yang baik Gina. Kamu tahu itu" jelas ku pelan. Gina memejamkan matanya." Embun, jangan pernah bilang kamu bukan wanita yang baik. Kamu wanita paling baik yang pernah aku kenal. Embun masa lalu mu..." "Tidak Gin" selaku menggeleng. "Aku tidak akan mengorbankan kebahagian siapapun hanya untuk diriku." Gina memandang ku sedih. "Embun," katanya lembut. "tidak semua orang itu berwatak sama." Aku menggeleng keras."Aku tidak bisa," kataku pelan dan sedih. "Kamu mencintai nya?" Tanya Gina Aku menghela nafas pelan."Aku tidak punya hak untuk itu." "Jangan membohongi dirimu." Aku diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Gina. "Siapa yang tidak akan jatuh cinta dengan dia. Dia pria yang sangat baik dan penyayang. Perkataan nya selalu lembut." "Embun sampai kapan kamu seperti ini?" Aku menggeleng karena memang tidak tahu akan sampai kapan. "jika Ardhan kembali apa yang akan kamu lakukan?" Tiba tiba Gina menanyakan Ardhan. "Akupun juga tidak tahu." Gina menatapku iba."kamu berhak bahagia Embun." "Akupun ingin bahagia " batinku. Karena semua rencana telah aku ceritakan kepada Gina. Gina pamit untuk pulang. "Sampai jumpa lagi Embun jangan sungkan jika ingin berbagi cerita kepada ku. Aku selalu ada waktu mendengarnya." " Terima kasih,Dok"kataku berpamitan. kepada seorang psikolog yang telah rutin aku temui beberapa tahun belakangan ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN