Dimas dan Maya datang berkunjung ke rumah Raga untuk melihat keadaan anak perempuan mereka. Raga memang menghubungi mereka dan mengabarkan keadaan Embun.
"Kamu tidak perlu mengadu apapun yang terjadi kepada ku" kata Embun marah kepada Raga dihadapan kedua orang tua mereka.
"Embun jaga bicara mu,Raga itu suami mu. Kamu harus menghormati nya"
"Dia bukan suami pilihan Embun. Tapi mama dan papa memaksa Embun untuk menikahi nya" kata Embun kesal.
" dan lagi" sambung Embun menatap Raga marah " tidak usah terlalu peduli kepada ku. Aku bisa menjaga diri ku sendiri, tidak usah mengasihani ku...aku tak butuh" Teriak Embun keras.
" Embun!!!!" Teriak Dimas " jangan keterlaluan"
" Tidak apa apa,Pa" kata Raga lemah lembut " lebih baik Raga keluar dulu, mungkin Embun membutuhkan kalian berdua saat ini"
Embun menatap sinis ke arah Raga. " berpura pura baik itu susah loh" sindir Embun.
" jika kamu tidak menjaga ucapan mu, Raga tidak akan tahan dengan kamu,nak. Mama takut Raga meninggalkanmu" sela Maya mama Embun lembut.
"Bukankah dari awal Embun mengatakan ini tidak akan berjalan lancar. Tapi apa? Apa kalian berdua mendengarkan pendapat Embun. Papa dan mama selalu memaksa Embun melakukan apapun keinginan kalian"
"Embun, selama ini papa dan mama membebaskan mu untuk melakukan apapun. Papa tidak pernah membatasi apapun keinginan. Ini yang pertama kali nya kami berdua meminta sesuatu kepadamu dan ini pun untuk kebaikan mu"
"Kebaikan...kebaikan..kebaikan" teriak Embun " itu yang selalu papa katakan. Kebaikan siapa yang papa maksud!" Teriak Embun " kebaikan Embun, dengan mengorbankan orang lain. Mungkin saja Raga juga mencintai seseorang Pa. Papa tahu dia tidak akan bisa menolak keinginan papa. Apakah papa yakin dia menerima Embun dengan hati nya. Dan yang paling penting Embun tidak pernah mencintai nya" teriak Embun marah.
"Setidaknya dia lebih baik daripada pria itu. Setidaknya Raga masih satu satunya pria yang bisa menerima kamu!" balas Dimas berteriak.
Perkataan Dimas membuat Embun menatap papa nya dalam.
" maksud papa?" Tanya Embun bingung.
" ayo ma..kita pulang" Dimas tidak memperdulikan kebingungan Embun.
***
Embun POV
Aku masih duduk diam diatas tempat tidur. Perasaan menyesal hinggap dihati. Aku tahu hampir setiap saat selalu emosi bila berbicara kepada kedua orangtuaku. Apalagi menyangkut pernikahan yang telah berlangsung dan juga Raga.
drtt...drttt..drtt
Sebuah pesan masuk membuyarkan lamunan Embun.
"Embun anakku, papa dan mama sangat menyayangi mu. Kamu putri semata mayang kami. Jika tindakan papa selama ini terlalu menyakiti mu. Papa minta maaf,nak. Kami hanya ingin kebahagian mu. Kami hanya ingin Embun kami yang dulu.
Anak ku,Betul Raga menikahi mu karena permintaan papa,tapi ketahuilah nak. Raga tidak menikahi mu karena balas budi kepada kami. Dia sudah sukses tanpa bantuan apapun dari papa. Nak, dia adalah pria yang baik. Papa dan mama sangat mengenalnya. Kami tidak mungkin menjodohkan mu dengan orang yang salah. Bukalah hati mu sayang. Biarkan masa lalu tertinggal. Sekarang Ardhan adalah masa lalu mu. Raga adalah masa depanmu. Lupakan bayang bayang Ardhan dalam hidupmu. Dia tidak pantas kamu cintai dan kamu tunggu. Jika dia benar mencintaimu mungkin tidak ada alasan kecil apapun untuk datang menemui kami. Jangan pernah membawa memori di masa lalu mu yang bisa menghancurkan masa depan mu. Embun, kami hanya mohon lembutlah dengan Raga. Buka hati mu nak, jika memang tidak bisa kami menerima apapun keputusan mu. Tapi tolong cobalah.
Papa
Tanpa terasa air mata ku jatuh membaca pesan dari papa. Papa bukan lah orang tua yang memaksakan kehendak nya. Selama ini papa selalu mendukung apapun yang kuinginkan. Papa orang pertama yang selalu menjawab iya jika aku menginginkan sesuatu. Aku tahu mereka begitu menyayangi ku. Mereka juga sangat memanjakan ku. Tidak ada kurang apapun dalam hidupku. Sebisa mungkin mereka selalu menjadikan ku pertama daripada kesibukan mereka. Memang semasa aku masih sekolah mama dan papa sama sama bekerja untuk mencapai kesuksesan sekarang. Mereka memang sangat sibuk dulunya. Itu semua untuk kebaikan ku.
Tapi, setelah kepergian ku saat itu mama berhenti membantu papa di kantor. Mama memfokuskan hari harinya menjadi istri dan orangtua yang mengurusi semua keperluan rumah. Mama merasa kepergian ku kala itu karena kurangnya perhatian dari mereka. Padahal mereka telah memberikan ku cinta dan kasih sayang lebih dari cukup. Mungkin melebihi dari orangtua teman temanku di sekolah.
Setiap pagi sebelum aku ke sekolah dan mama ke kantor. Sarapan dan keperluan sekolahku sudah disediakan mama. Mungkin mama lah yang selalu memperhatikan buku pelajaran apa yang harus aku bawa di setiap harinya. Mama sudah menjadi yang terbaik untuk seorang ibu. Aku sering kali mengatakan dia lah ibu terbaik di dunia ini di saat mama merasa bersalah saat mengungkit kepergian ku 7 tahun yang lalu. Bahkan sampai sekarang mama dihantui rasa bersalah karena hampir kehilangan ku.
Kejadian 7 tahun yang lalu itu murni semua karena kesalahan ku. Tidak ada campur tangan masalah keluarga apalagi kurang perhatian dari mereka. Aku kabur dari rumah dikala itu karena jiwa muda ku bergejolak. Aku ingin mencoba sesuatu yang baru yang belum pernah aku rasakan sama sekali. Karena jiwa kekanak kanakan ku. Aku merajuk dan kabur dari rumah. Sebelum akhirnya 1 tahun setelahnya aku kembali ke rumah.
"Andai papa tahu apa yang aku alami" batinku menghapus air mata.
Kutunduk kan kepala, menakup kedua telapak tangan di wajah ku. Ini terasa begitu rumit. Entah sampai kapan akan seperti ini. Entah sampai kapan ketegangan ku akan berakhir dengan kedua orangtuaku. Akhir akhir ini aku juga merasa semakin jauh dengan mereka. Karena jika kami bertemu kami tidak pernah berhenti beradu argumen. Kami selalu bertengkar jika sering bertemu. Aku tahu papa dan mama merasakan hal itu. Hubungan kami semakin jauh. Tidak seperti dahulu yang begitu saling menyayangi.
" ini"
Aku terkejut mendengar suara Raga yang tiba tiba. Entah dari kapan dia sudah duduk disampingku. Dia mengambil duduk di sebelah ku di lantai sambil menyandar ke tempat tidur.
"Makan lah Embun." kata nya lembut.
Aku menatap nya, hati ku yang dari tadi sudah sesak tanpa sadar air mata ku jatuh semakin cepat. Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku juga tidak tahu kenapa setiap aku ingin menangis selalu ada Raga.
"Dari kemarin kamu belum makan. Kalau tidak makan maka semakin lama akan sembuh. Makanlah!"
Raga membawakan semangkok bubur ayam dan sebotol minuman serta obat obatan yang harus aku minum.
Aku bisa mendengar helaan nafas Raga.
"Aku minta maaf atas tindakkan ku. Aku tidak bermaksud membuat mu marah. Aku hanya ingin ada seseorang yang bisa kamu ajak bicara selagi kamu sakit. Aku tahu jika kita berbicara maka ujung ujungnya selalu berakhir dengan pertengkaran. Maka dari itu aku menghubungi mama dan papa. Kamu pasti bisa berbicara dengan mereka tanpa rasa canggung. Karena selama ini kamu tidak pernah megajaku berbicara bahkan kepada Bi Sumi kamu juga tertutup."
Raga menatap lembut kearah ku
"Embun, dengan cara apa aku bisa meluluhkan hati mu?" Bisik Raga.
" Bisakah..." sela ku " bisakah kamu tidak berpura pura baik menghadapi ku. Aku tahu hatimu ingin marah kepada ku. Marah saja jika itu yang ingin kamu lakukan. " kataku pelan.
"Embun, kamu seorang wanita. Bukankah wanita itu perasaan nya lebih peka. Kamu pasti tahu mana yang tulus baik kepada mu dan mana yang tidak." balas nya
Ku palingkan wajah ku menatap kearah jendela.
"Waktu ku tidak banyak Embun."
Perkataan nya membuat ku bingung. Aku menghadap ke arahnya cepat meminta penjelasan.
Dia tersenyum." Sebentar lagi dia akan menjemput mu, bukan? Sebelum dia mengambil mu dari sisi ku." Raga menghela nafas berusaha merangkai kata " Sebelum kamu pergi dari hidup ku. Aku ingin ada kenangan indah antara kamu dan diriku. Jika dia menjemput mu, setidak nya aku pernah merasakan betapa dekat nya kita. Aku tidak akan meminta sesuatu yang tidak kamu sukai. Hanya saja aku ingin kamu sedikit meredakan emosi jika bersamaku."
Kali ini aku yang menatap Raga dalam. Dia menunduk, aku tahu ini sangat tidak mudah untuk Raga. Aku tidak pernah melihat pria memangis dan berwajah sedih karena wanita. Tapi Raga, aku tahu dia begitu sedih saat ini dan kemarin dia juga menangis saat aku pura pura tidur.
"Apapun usaha yang akan kamu lakukan tidak akan mampu membuat ku berpaling dari Ardhan. Hatiku sudah terpaut kepadanya" kataku pelan dan tegas.
Raga tersenyum miring " aku tahu" lagi dia menatap ku " Aku hanya ingin membuat kenangan indah bersama mu. Aku mohon beri sedikit kelonggaran untu ku."
" Raga" sela ku
"Aku tidak akan meminta lebih Embun."sela Raga mengingatkan." Aku hanya tidak ingin merasa sepi di rumah ini."
Raga dengan berani mengelus kepala ku. Entah kenapa aku hanya diam menerima nya.
" Aku berjanji Embun, ketika dia datang aku akan melepas kan mu. Aku bukanlah pria yang mudah mengingkari janjinya."
"Seandainya Tuhan memilih ku yang pertama bertemu dengan mu sebelum Ardhan." lanjutnya.
"Aku ingin istirahat" kata ku tiba tiba. Aku tidak ingin mendengar apapun lagi dari Raga. Aku takut.
Aku berbaring dan membelakangi Raga.
Aku mendengar langkah kaki Raga menjauh. Sepertinya Raga tahu aku tidak nyaman dengan pembahasan itu itu lagi. Dia hanya diam dan keluar dari kamar.
Kupejamkan mata keras, kuredam suara tangisan ku.
" Jika waktu bisa diulang. Jika kamu adalah pria pertama yang Tuhan pertemukan dengan ku. Jika kamu pria yang pertama mengenalkan ku tentang cinta yang tulus. Ji..jika kamu pria pertama yang memperlakukan ku dengan lembut. Jika kenangan indah apapun yang aku pertama alami dan kamu lah pria yang pertamanya Raga."
" Raga...ketakutan mu sama dengan ketakutan yang menghantui ku selama ini"
***