Part 6

1621 Kata
"Embun masih belum pulang,bi?" Tanya Raga khawatir. "Belum den, biasanya non Embun sampai di rumah paling telat jam 6 sore. Dia juga tidak pernah pulang sampai semalam ini." Raga melirik jam dinding rumahnya,ini sudah jam 8 malam berarti 2 jam sudah berlalu dari waktu biasanya Embun sampai di rumah. Raga begitu khawatir,karena saat ini hujan begitu lebat dan tidak ada kabar dari Embun. Raga sudah menghubungi Embun tapi tidak diangkat oleh Embun. Sepertinya dia sengaja tidak menjawab telfon dari Raga. Hampir 2 jam juga dia mondar mandir di depan pintu menunggu kepulangan istrinya. Gelap malam semakin pekat, namun Embun tak kunjung pulang dan tidak memberi kabar apapun. Sesekali Raga berhenti di depan pintu rumahnya. Memandang lurus jauh ke depan memikirkan statusnya sebagai suami Embun. Ini bukan kesalahan Embun karena sejak awal dia sudah memperingati bagaimana hubungan ini ke depannya. Tapi, di hati kecilnya selalu berusaha memantas kan diri agar istrinya bisa melihat ketulusan hatinya. Walaupun belum ada cinta untuknya, setidaknya Embun bisa melihat perhatian yang tulus dari hatinya. "Mungkin kebanjiran den, sudah coba menelpon non Embun?" Raga mengangguk cepat "Sudah,bi. Sudah beberapa kali tapi tidak diangkat. Nah...itu dia pulang" Raga akhirnya lega melihat kedatangan Embun. Embun menuju rumah dengan berjalan kaki di bawah guyuran hujan. Secepatnya Raga mengambil handuk untuk mengeringkan tubuh Embun yang basah kuyup karena kehujanan. Saat sampai di depan pintu, sigap Raga membalut tubuh Embun dengan handuk. "Mobil kamu kemana?" Tanya Raga sambil mengeringkan tubuh Embun. Terdengar nada khawatir dalam suaranya. "Bi" panggil Raga " tolong buatkan teh panas untuk Embun." Embun menatap sendu. "Mobil mogok dan aku tinggal di jalanan," sahut Embun pelan sambil mengeringkan rambutnya tanpa melihat ke arah Raga. "Kenapa tidak mengangkat telpon ku Embun. Aku bisa membantu mu" "Terima kasih, tidak perlu. Aku masih bisa menghandlenya sendiri." kata Embun dingin,setelahnya dia pergi menuju kamar. " Embun" panggil Raga. Tanpa mendengar penjelasan lanjutan ia langsung menuju kamarnya. Raga mengikuti Embun sampai ke lantai 2 di dekat pintu kamar Embun. " Embun,,aku bisa membantu mu kalau kamu menghubungi ku. Liat tubuh mu basah kuyup dan ini sudah malam. Aku khawatir Embun" "Tidak usah mencampuri urusan yang bukan menjadi urusan mu!!! Aku tidak butuh pertolongan siapapun, kamu pikir aku wanita lemah yang bermanja manja kepada mu. Aku masih mampu mengurus diriku sendiri. Dan berhentilah berpura pura baik kepada ku Raga!!!!" Bentak Embun. "Aku suami mu" lirih Raga sedih " aku ingin kamu bisa membagi apapun kepada ku. Kita bisa saling menolong Embun, jangan seperti ini. Tolong, satu kali saja aku bisa melakukan sesuatu yang berarti untuk mu. " Terdengar Hembusan nafas kesal dari bibir " dari awal kita bertemu, aku sudah mengatakan kepada mu pernikahan ini tidak akan berjalan lancar. Tapi, kamu memaksakan kehendak mu. Lalu, kenapa sekarang kamu seperti ini. Kalau kamu menyesal kita bisa berpisah!!!" " aku menyayangi mu Embun." Embun menahan nafas nya dan tersenyum pahit " berhentilah berpura pura Raga. Apakah kamu pikir menyukai seseorang itu mudah. Jatuh cinta tidak segampang itu. Aku tahu kamu pun juga tidak bahagia dengan pernikahan ini, kamu terlalu keras kepala untuk mengakuinya." "Bukan pernikahan ini yang tidak bahagia, tapi kamu yang menutup hatimu untuk menerima aku sebagai suamimu. Kamu tidak sedikitpun memberiku celah agar hatimu bisa menerima ku. " "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengakui kalau kamu suamiku. Aku tidak pernah mencintai mu...aku tidak bisa!!!!" Teriak Embun. Raga menatap Embun sedih. "Bukankah aku pernah mengatakan aku mempunyai seseorang yang kucintai. Aku menunggu kedatangan nya,tapi kamu! Kamu menghancurkan semuanya dengan menerima permintaan papa. Harus bagaimana caranya lagi agar kamu mengerti. Pernikahan ini tidak mudah. Aku lelah Raga." "Kemana dia?" Bentak Raga keras " pria yang kau sebut sebut itu tidak pernah sekalipun menjemput mu! kalau dia benar benar mencintaimu dia akan berusaha menyakinkan kedua orangtuamu dulu. Aku tahu siapa papa dan mama. Mereka tidak akan pernah mencaci siapapun, dan mereka tidak pernah memandang status sosial. Apa pria seperti itu yang kamu harapkan! Menunjukkan keseriusannya kepada orangtuamu pun juga tidak. Apakah pria seperti yang menjadi idaman mu Embun." Kali ini Raga juga tidak kalah marahnya. Dia tidak bisa mengontrol ucapan yang keluar dari mulutnya. "Jika dia begitu mencintaimu, setidaknya dia bisa datang walau hanya sebentar agar penantianmu tidak sia sia. Aku ragu benar dia mencintaimu? atau kamu yang berharap lebih kepadanya." "Bukan urusan mu!! jangan kau menyamakan pikiran semua orang. Aku yakin Ardhanku akan menjemput ku. Saat itu datang, aku lepas dari ikatan yang membuat ku sesak. Aku yakinkan kepada mu Raga. Saat waktunya tiba, tidak ada alasan apapun yang bisa kamu gunakan untuk mempertahankan pernikahan ini!" kata Embun membanting pintu kamarnya. Raga memejamkan mata dan menghela nafas mengatur emosi hatinya. Jika tidak, ingin rasanya dia ingin mendobrak pintu kamar Embun. *** Raga yang mendapatkan telfon dari Bi Sumi. Bergegas pulang ke rumah. Bi sumi mengatakan Embun tidak keluar dari kamarnya sejak tadi pagi. Sekarang sudah menunjukkan pukul 3 sore. Dia melewati sarapan dan makan siang. Bi Sumi juga tidak melihat Embun memesan makanan via online. Karena itu membuat Bi Sumi sangat khawatir. Dia juga sudah mencoba mengetuk kamar Embun. Embun juga tidak merespon panggilannya. Raga yang rencana akan berkumpul dengan teman teman lainnya. Mendadak membatalkan pertemuan mereka. Sekali lagi semua sahabat Raga bisa maklum. Mereka bisa melihat wajah Raga yang sangat khawatir setelah Bi Sumi menghubunginya. "Bibi yakin dia di rumah?" Tanya Raga bimbang sesaat dia sudah berada di dalam rumah. Bi Sumi mengangguk "Iya den, non Embun tidak keluar dari kamarnya, bibi khawatir dia sakit. Bibi takut sesuatu yang buruk terjadi. Jadi segera saja bibi menghubungi aden." Raga berlari menuju kamar Embun. Mencoba membuka pintu kamar yang kebetulan tidak di kunci Embun. Walaupun tidak terkunci, Bi Sumi juga tidak berani masuk ke dalam kamar Embun. Jadi lebih baik biar Raga yang masuk karena Raga adalah suaminya. Raga bisa melihat Embun tidur di tempat tidurnya. Dia sedikit merintih dalam tidurnya. Dengan berani Raga menyentuh dahi Embun yang sangat panas. "Badan mu panas sekali." Raga meminta kepada bi Sumi membawa wadah yang cukup besar dan sehelai kain untuk mengompres tubuh Embun. Embun berusaha melepaskan kompresan yang diletakan Raga di dahi nya. "Jangan keras kepala Embun. Tubuh mu panas. Izinkan aku membantu mu. Nanti setelah kamu sembuh kamu boleh marah marah lagi kepadaku. Aku selalu siap mendengar cercaanmu." "Pergi," sahut Embun pelan tubuhnya memang lemah saat ini. "Tidurlah Embun," pinta Raga lembut dan tulus " aku hanya mencoba menolongmu. Izinkan aku sekali ini untuk membantu mu." lirih Raga kembali meletakkan kompres an di kening Embun. Embun yang memang lemah saat ini hanya bisa pasrah. Dia memilih tidur daripada bertengkar dengan Raga. Tidak beberapa lama Dokter datang memeriksa keadaan tubuh Embun. Setelah diperiksa dan memberikan resep obat. Raga masih mengompres dahi Embun selagi menunggu Bi Sumi membeli obat yang telah di catat. Raga memperhatikan wajah Embun yang sudah tenang dalam tidur nya. Raga mengelus lembut rambut Embun. Entah kenapa hati nya merasakan sedih ketika Embun selalu menolak dan melawan nya. Kemarin dia memang sangat marah. Awalnya Raga ingin sekali berusaha tidak terlalu peduli dengan Embun. Tapi melihat Embun begitu lemah. Mudah bagi Raga menghilangkan kemarahannya. "Kenapa kamu begitu keras kepala sekali." "Embun, mungkin orang berpikir kamu adalah pelarianku dari patah hati ku kepada Nadya." Bisik Raga sambil menatap wajah Embun yang terlelap. Raga menggeleng " mereka salah!! " lanjut Raga " ketika papa memberikan foto mu dan menceritakan siapa kamu,bagaimana kamu dan sifat mu. Entah kenapa hatiku langsung memilih mu. 3 tahun aku melihat mu dari kejauhan Embun mengokohkan keyakinan ku untuk menjadikan mu istri ku. Aku tahu dibalik kemandirian dan k*******n mu ada kerapuhan yang kamu simpan dari orang orang disekitar mu. Aku tahu kesedihan mu selama ini karena bersabar dan menunggu pria yang kamu cintai Embun. Marahmu hanya sebagai tameng agar orang tidak tahu seberapa rapuhnya kamu" Raga menghela nafas sedih. "Ketakutan terbesar ku adalah ketika pria itu datang menjemput mu sebelum aku sempat mendapatkan hati mu. Apakah cinta sesakit ini,Embun" Raga menghapus air mata di ujung mata nya. Dia begitu takut waktu itu akan datang dan merenggut Embun dari hidupnya. "Aku hanya ingin kamu membuka hati mu untuk ku sedikit sebelum Ardhan merenggut mu dari hidup ku. Bukalah sedikit Embun, beri aku celah sedikit saja." Raga menatap sedih kearah Embun. "A...aku mencintai mu,Embun. Bukan karena terpaksa atau balas budi ku kepada papa. Murni hatiku mencintai mu dan berharap kamu menjadi istri ku yang sebenarnya. Aku berharap kelak kamu menjadi istriku seutuhnya." "Aku pernah patah hati satu kali Embun. Bisakah kamu menjadi seseorang yang mengobati luka hati ku." Raga tidak sanggup melanjutkan perkataan nya. Dengan tenang dan pelan Raga melepaskan kain yang terletak di kening Embun. Dengan pelan Raga mendaratkan bibirnya di kening Embun. Ciuman sayang yang selama ini ingin Raga lakukan kepada istrinya. Raga mengelus lembut kepala Embun "Aku tahu kamu wanita yang baik dan lembut. Tidak ada sedikitpun rasa benci dihatiku ketika kamu marah dan menghardik ku." "Apapun yang terjadi nantinya, yakinlah Embun aku mencintai mu tulus dari hati ku. Tidurlah yang nyenyak Embun pagiku. Apapun yang terjadi kedepannya, kamu akan selalu menjadi embun pagiku." Karena Embun sudah lelap Raga keluar dari kamar agar Embun bisa beristirahat dengan tenang. Raga menutup pelan pintu agar tidak mengeluarkan bunyi yang mengganggu tidurnya. Embun membuka mata ketika yakin Raga sudah di luar kamar. Embun menatap lirih punggung Raga. "Aku bukanlah wanita baik yang pantas untuk mu Raga. Masih banyak wanita yang jauh lebih baik dari ku untuk menemani hidup mu. Aku juga tidak pantas dicintai oleh seseorang sepertimu. Maaf atas perkataan kasar ku kepadamu. Jika kamu tahu, setiap kemarahan dan ucapan kasar yang ke luar dari mulutku. Ada penyesalan mendalam di dalam hatiku." lirih Embun menahan tangisannya. Embun menangis pelan dalam keremangan kamar nya. Dadanya begitu sesak mendengar pengakuan Raga. Embun meredam tangisan nya di dalam bantal. Dia mengutuk betapa bodohnya dia. " aku tidak bisa mencintai mu" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN