"Jack dan aku, mana yang lebih tampan?" Calvin bertanya pada Sarah, gadis itu sedang menemani pria tampan di depannya makan malam, setelah kejadian padam listrik tadi mereka melanjutkan aktifitas seperti biasa.
Sarah memilih untuk meminum sedikit wine dan tidak memakan apapun lagi, dia sudah kenyang.
"Ayahku." Sahut Sarah yang hampir membuat Calvin tersedak.
"Ah.. sudahlah. Kau sepertinya sudah agak mabuk, lebih baik kau segera tidur." Ucap Calvin dengan suara khasnya.
Sarah terkekeh. "Aku tidak mabuk, jawabannya memang ayahku. Dia bisa memilih mana yang paling tampan untuk putrinya, jika dia dan ibuku masih ada di sini pasti mereka akan memilih pria yang paling baik."
Calvin perlahan menghentikan kegiatannya, perlahan ia menyelesaikan kunyahan terakhirnya, kemudian menatap Sarah dengan sendu.
Sarah belum lama kehilangan kedua orang tuanya maka hatinya pasti masih rapuh. Sementara Calvin sudah lebih dari dua puluh tahun di tinggal sang ayah, ia sudah terbiasa dengan kesendirian.
"Sulit ya jika kau masih sering merindukan mereka?"
Mendengar hal itu membuat Sarah tersenyum kecut. "Benar sekali, kau dan Nathan pasti tau rasanya lebih dari siapapun. Begitu juga dengan Sean, Tuan Yamada, Jack juga.. kalian semua lebih tegar dariku."
Tinggal di negara yang penuh dengan konflik peperangan memang harus membuat siapa saja bersiap kehilangan kapanpun.
"Hm.. bisa di bilang begitu bisa juga tidak." Calvin menanggapinya, Sarah menaikkan sebelah alisnya, pertanda gadis itu menanti kalimat selanjutnya dengan rasa penasaran.
Calvin menghela napasnya sejenak.
"Terkadang, para pria menangis lebih pilu dari yang kau bayangkan. Apalagi kami di tinggalkan sejak kecil." Lanjut Calvin. "Saga pun sama, dia pasti pernah merasakannya."
"Kau benar, aku setuju untuk itu." Sahut Sarah cepat, ia tidak tertarik dengan topik ini setelah Calvin menyebutkan nama Saga.
Sedikit bercerita tentang keluarga Saga yang memiliki peran penting dalam Kota Sandfield juga pada Kota Leafield. Mereka adalah keluarga yang terkenal dengan kemampuan berperang yang handal, Saga Ethelbert merupakan anak bungsu, Theresa Ethelbert anak pertama sedangkan Kale Ethelbert anak kedua.
Raut wajah Sarah jelas terlihat lebih terluka dari sebelumnya dan Calvin dapat menebaknya dengan mudah. Sejak siang Calvin sudah curiga ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu.
"Saga melakukan sesuatu yang buruk padamu hari ini?" Tanya Calvin, suara nya memelan dan sorot matanya telah berubah, sedikit berhati-hati tidak mau Sarah tersinggung.
Sarah mendongak seketika dengan pupil mata yang melebar, gadis itu terkejut.
"Terlihat jelas Sarah meskipun kau menyembunyikannya dariku, Edmund juga bertingkah seperti ia tau sesuatu. Apa yang terjadi padamu hari ini?" Calvin bertanya lagi, seperti mengulangnya, keheningan menyelimuti mereka karena Sarah belum siap bicara.
"Instingku sangat kuat." Lanjut Calvin setelah memberikan jeda.
Sarah menyimpan gelas wine yang sedari tadi ia mainkan, kemudian gadis itu menarik lututnya hingga ia memeluknya, duduk dengan posisi sepertu itu di atas kursi, sedikit tertahan oleh meja makan.
Ia sama sekali tidak mabuk, hanya saja sedikit gejala stres baru saja meletup di kepalanya dan harus ia lepaskan.
Calvin telah memberinya jalan untuk tidak menyimpan kepedihan itu dalam hati, pria itu nampak sangat peduli.
"Saga menghinaku, kurasa Edmund menyaksikannya namun dia tidak bilang apa-apa untuk menghargaiku. Kami bertabrakan ketika aku menangis karena Saga." Sarah berkata jujur namun ia tidak mampu menatap Calvin.
"Dia menyebutku Cassanova versi wanita karena aku berkencan denganmu. Itu terjadi ketika kau mandi tadi siang."
"Ia pantas mendapatkan itu." Calvin berseru pelan. "Tapi aku akan lebih senang kalau kau memberinya pukulan seperti yang selalu kau berikan untuk Nathan."
Sarah tertawa setelah mendengar hal itu, di masa depan ia harus banyak meminta maaf atas pukulan yang telah di lakukan nya. Mungkin Sarah tidak akan melakukan itu lagi nanti, kasihan juga Nathan.
“Aku sudah menamparnya dengan keras, cukup untuk membuat pipinya memar mungkin.”
Calvin sangat menghargai kejujuran Sarah, ia kemudian mendekati Sarah dan memberikan gadis itu belaian pada puncak kepala, Sarah menurunkan kakinya, ia memeluk tubuh Calvin yang menjulang di hadapannya, wajahnya tenggelam dalam perut rata Calvin.
Sarah tidak menangis, hanya saja memeluk Calvin terasa sangat berharga malam ini. Terutama ketika pria itu mendekapnya erat, mengusapnya penuh kasih sayang, Sarah merasa risaunya hilang dalam sekejap.
"Terima kasih, Calvin.."
"Sarah.."
"Hm?"
"Sekali saja, panggil aku sayang?"
"No." Sarah bergeming. "Tapi aku bisa memanggilmu honey."
"Bukankah itu sama saja." Calvin tertawa pelan. "Honey."
"Jangan menggoda!"
"Kau yang memulainya Sarah."
"Cukup Calvin."
"Tidak cukup, Honeeeey."
°°°°°°
Matahari Sandfield tidak terasa menyengat pagi ini, semua tamu Saga sudah berkumpul di luar penginapan untuk menjalani wisata tambahan yang di berikan selama beberapa hari.
Sarah mengenakan atasan sabrina berwarna putih dan hotpan berwarna soft pink, tak lupa dengan topi jerami khas musim panas warna cokelat muda.
Gadis itu benar-benar mencuri perhatian khalayak dengan badannya yang proporsional, bersanding dengan Calvin yang memakai celana jeans sontog dengan kemeja putih, serta cardigan biru langit yang hanya untuk menambah modis penampilannya dengan di gantungkan pada bahunya saja.
Kacamata hitam ia letakan di perpotongan d**a kemejanya, Calvin akan super tampan jika saja masker itu ia buka.
"Kalian menyilaukan, seperti bintang di tengah gurun sahara!" Elenora Primrose berseru, wanita berambut cokelat panjang dengan tubuh sexy merupakan mantan Wali Kota Mistfield sebelum Edmund, ia datang bersama Damien, mantan asistennya, pria berkulit Tan dengan wajah yang manis dan tampan yang kini sudah menjadi suaminya.
Saga mengundang seluruh para Wali Kota dan mantan Wali Kota dalam acara ini. Anggaplah seperti tambahan reuni dadakan, Sarah menghela napasnya, bukankah ini seperti akal-akalan Calvin?
Jika Elenora saja bisa datang, mengapa Diana tidak? Pasti ada alasan di balik itu, Diana juga mantan Wali Kota.
"Nyonya Elenora, jangan seperti itu, kau lebih cantik!" Sarah kemudian memeluk manja Elenora Primrose yang langsung di balas pelukan erat oleh wanita itu.
"Ugh, gadis ku ini sudah dewasa masih saja bikin gemas!" Elenora memeluk gemas Sarah.
Calvin bersalaman dengan Damien, mereka berempat memang baru sempat berbincang karena kemarin malam Calvin dan Sarah satu meja dengan Edmund, Wali Kota ke-empat.
"Aku baru tau kalau mereka sangat dekat." Ucap Calvin membuat Damien tertawa.
"Kau tidak tau ya? Diana sampai pernah bertengkar dengan Elenora karena Sarah. Mungkin sekitar beberapa bulan lalu, saat Diana sedang mengajak Sarah pergi mencari tanaman obat untuk racikan kecantikan, mereka bertemu." Jelas Damien.
"Aku menjadi saksi mereka hampir baku hantam, karena Elen ingin Sarah ikut dengannya beberapa hari."
Kemudian Damien tiba-tiba merubah ekspresinya jadi terkejut, seolah menyadari sesuatu. Dasar, dia memang kurang peka dan sedikit lamban kalau untuk urusan seperti ini.
"Ka-kau dengan Sarah? Kalian bersama?" Damien menatap Calvin tak percaya.
Calvin hanya memutar bola matanya malas. "Menurutmu? Sarah untuk apa datang kemari jika dia sendirian, Damien."
"Tapi kenapa Diana tidak datang?" Damien bertanya lagi.
Yah, sebenarnya memang Diana harusnya datang, dia adalah Wali Kota ke-lima, tapi dia tidak peduli dengan acara seperti ini apalagi harus membawa pasangan, dan karena itu juga maka yang wajib menjadi perwakilan Leafield dalam acara ini adalah Calvin.
Diana tentu saja dengan senang hati mengorbankan Calvin. Walaupun ia merasa kesal karena Sarah lah yang Calvin bawa.
Saga juga memaklumi alasan yang di miliki Diana sebenarnya. Tapi Calvin sedikit memanfaatkan kesempatan ini untuk menarik Sarah.
"Diana sedang berlibur, tapi di sela liburannya ia harus tetap berjaga di rumah sakit karena Sarah ada di sini. Sebagai gantinya hanya aku yang datang kemari." Calvin menjawab.
Mereka sudah mulai berjalan menuju sebuah wisata air yang cukup besar di tengah gurun seperti ini. Calvin siap siaga di samping Sarah dan menggenggam tangan gadisnya erat.
"Mereka berkembang sangat pesat, oase yang dulunya kecil kini bisa menjadi tempat wisata air seperti ini." Sarah memandang takjub tempat yang mereka masuki.
"Ini adalah wisata air di tengah Gurun Sandfield yang baru, kalian semua bisa menikmatinya sampai waktu makan siang setelah itu kita akan berpindah ke tempat yang lain." Kale berbicara melalui pengeras suara dan semua orang bersorak.
Siapa sih yang tidak suka berenang? Sarah menarik Calvin untuk segera mengambil tempat di kursi santai terdekat.
"Aku tidak mau berenang tapi kurasa kita bisa bersantai dan berbincang di sini." Ucap Sarah senang. "Dan juga ngemil, hihi!"
Calvin memutar matanya. "Sayang, kita kemari untuk menikmati wisata air."
Saga dan Edmund yang berada di dekat mereka langsung sama-sama mengalihkan pandangan pada Calvin. Panggilan sayang Calvin pada Sarah terdengar jelas membuat Saga merasa urat-urat di dahinya muncul dan berkedut-kedut.
Pipi Sarah memerah dan ia menarik Calvin untuk segera duduk di kursi yang ada di hadapannya.
"Waktu kita masih banyak, santailah dulu!" Ucap Sarah dengan nada setengah kesal, ia lebih mendekati Calvin lagi.
"Aku tidak menyangka kau akan memanggilku begitu di depan banyak orang." Sarah berbisik.
Posisi Sarah yang kini berdiri di hadapan Calvin membuat pria itu lebih mudah untuk melakukan hal-hal yang manja. Entah romantis atau berlebihan, Calvin rasa hal itu patut untuk di coba.
Kira-kira bagaimana wajah Saga ya jika Calvin yang kini sedang mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Sarah, melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Sarah?