Pasangan Yang Sempurna

1360 Kata
Edmund dan Nao saling menyenggol satu sama lain melihat hal itu, di ujung sana Elenora Primrose menjerit kecil pada Damien. Calvin dan Sarah sangat romantis membuat mereka merasa iri dan gemas pada pasangan baru itu. "Kenapa mereka lucu sekali, seperti pengantin baru!" Elenora berseru pelan sambil memukul manja Damien yang kurang peka itu. Sasaran Calvin adalah Saga. Pria dengan mata jade itu terlihat menggeram kesal dan langsung memalingkan wajahnya. Monica yang ada di dekatnya, sejak kemarin terlihat jarang berinteraksi dengan Saga. Gadis itu hanya menatap Sarah dan Calvin dengan cemburu, karena Saga jadi selalu memberikan atensinya pada pasangan itu. "Calvin.." Sarah berseru pelan. "Kau membuat kita tambah jadi pusat perhatian." "Aku tidak peduli, harusnya mereka tidak memperhatikan kita, harusnya mereka fokus pada pasangan masing-masing." Calvin malah menenggelamkan wajahnya pada perut rata Sarah. Sarah menggeliat berusaha menolaknya namun Calvin makin erat memeluknya, wajah Sarah bahkan sudah semerah tomat dan kini beberapa pasangan mulai mengabaikan mereka dan mencoba hal yang sama dengan pasangannya. Setelah di rasa cukup membuat Sarah merasa kesal dan malu, Calvin melepaskan pelukannya dan benar saja, di balik wajah bersemu itu, Sarah sedang menatapnya dengan galak. Gadis itu segera berbaring di kursi santainya dan memperhatikan sekelilingnya, ia melihat banyak orang yang menceburkan diri ke oase yang segar dan berenang di sana. Calvin hanya memperhatikan Sarah, kemudian ia sadar kalau cuaca semakin siang maka akan semakin terik. Calvin segera beranjak menuju stand minuman terdekat, sepertinya air kelapa atau jus lemon segar cocok untuk menemaninya dan Sarah. Sarah baru menyadari kalau Calvin sedang pergi ke stand minuman, gadis itu kemudian menghela nafasnya lega. Calvin tau diri, setelah membuatnya kesal kini pria itu ingin membuat moodnya kembali. Sarah melihat Saga berendam di dekatnya sendirian, pria itu cukup tebar pesona padanya, Sarah malah jadi malas melihatnya. Ia hanya ingin bersikap biasa saja sejak pertama kemari lagi, toh, mereka putus secara baik-baik, tapi Sarah ternyata salah menebak. Ia tidak benar-benar tau sikap asli mantan kekasihnya. "Lemon atau kelapa?" Calvin menyodorkan dua gelas minuman segar itu. Sarah menoleh. "Kau." Ia bicara dengan wajah yang datar namun sukses membuat Calvin ingin batuk padahal tidak tersedak. "Sarah, pilihannya lemon atau kelapa, kalau aku bukan pilihan tapi hadiah yang sudah kau dapat!" Kini Sarah yang merasa tersedak, niat hati ingin menggoda Calvin tapi malah terkena senjata makan tuan, Calvin menggodanya balik dan Sarah segera memilih gelas lemon. "T-terima kasih." Ucapnya gugup. Calvin langsung mengacak puncak kepala Sarah pelan dan tertawa kecil, Sarah sangat lucu di matanya. Dan lagi-lagi, gerak gerik dua insan itu di perhatikan oleh sepasang mata tajam, Saga. "Terbiasalah karena aku akan lebih sering menggodamu mulai sekarang daripada sebelumnya." Calvin duduk di kursinya sendiri setelahnya. Sarah mendengus pelan. "Aku tak ragu untuk membalasnya kalau begitu." Sarah beranjak dan melepas summer hatnya, ia menuju changing room dan segera mengganti pakaiannya dengan swimswit yang tidak terlalu terbuka dan ketat. Swimswit berwarna biru dongker tanpa lengan dan panjang celananya di atas lutut. Sarah sangat body goals, seluruhnya pas dan terlihat cocok pada tubuh ramping gadis itu. Calvin juga berganti pakaian, ia memakai brief yang warnanya senada dengan swimswit Sarah tapi gadis itu berharap Calvin tidak akan mengenakan atasan apapun, tapi harapannya sirna. Calvin mengenakan masker yang langsung menyatu dengan pakaian renang tanpa lengan. Sarah mendengus kesal, apa pria itu bisa bernafas dengan benar di dalam air jika berenang masih mengenakan masker seperti itu? Yang benar saja Calvin! Pria itu gila. Sarah berharap dapat melihat otot kekar dan tubuh atletis Calvin dengan puas, nyatanya pria itu tidak topless. "Kau yakin tidak akan mati?" Sarah bertanya dengan nada yang sedikit kesal, karena gadis itu kecewa tidak dapat melihat roti sobek Calvin. "Aku tidak akan berenang, hanya berendam dan melihatmu berenang saja." Calvin menjawab sekenanya. Sarah memutar mata. "Terserah." Kemudian gadis itu segera menceburkan diri ke oase yang cukup dalam tersebut dan berenang ke tengah, kemudian kembali ke samping. Ini menyegarkan, dan Sarah tau kalau Calvin sedang memperhatikannya dengan detail. "Kau aneh, tidak bisakah kau topless? Sia-sia kau memakai brief kalau hanya diam." Sarah mengeluh lagi, ia kini sudah berada di dekat Calvin. "Kau mau berbagi tubuh dan wajahku dengan orang lain sekarang?" Calvin bertanya. "Mereka tidak menyentuhmu maka aku tidak berbagi apapun Calvin." Sarah menyangkal. Calvin menghela nafasnya dengan malas. "Tetap saja, artinya mereka melihat seluruh tubuhku, kau tidak mengerti kalau aku hanya ingin di lihat oleh kekasihku saja?" Sarah merona lagi mendengarnya. Calvin tetap dalam posisinya dan tidak peduli dengan Sarah yang keukeuh ingin dia membuka baju renangnya dan hanya menyisakan brief saja. "Hanya kau yang boleh melihatnya." Calvin berbisik dan Sarah mengangguk malu-malu. "Baiklah.." ••• Calvin sudah membersihkan diri lebih dulu dan kini ia bergabung bersama para pria dan berbincang. Calvin bisa melihat Sarah menuju kamar mandi wanita bersama Nao, Elenora Primrose, dan Clara Sanchez wanita rambut sangat pendek yang merupakan Wali Kota Empyrean— kota terbesar di Negara Eudikia. Sepertinya akan ada geng wanita baru diantara para Wali Kota wanita dan pasangan Wali Kota. Calvin tersenyum di balik maskernya, ia mengenakan masker biasa berwarna putih. Sarah begitu di kagumi banyak orang, gadis itu berteman dengan siapa saja bahkan dengan para Wali Kota sekalipun. "Calvin, sudah lama kau bersama Sarah? Jadi alasanmu selalu bersama gadis itu ke setiap pertemuan penting karena kau berkencan dengannya?" Damien bertanya. "Aku sempat berpikir kalau Calvin itu tidak normal. Ku kira dia punya hubungan dengan Gerald rival mu itu." Edmund bercerita pada Damien lalu tertawa lepas. Calvin juga ikut tertawa. "Kami baru resmi menjalin hubungan kemarin, cukup sulit mendapatkan nya. Aku mengajaknya kesana-kemari selama ini, merupakan sebuah metode pendekatan." "Wah, usahamu tidak sia-sia." Edmund menepuk pundak Calvin. "Kau harus menjaganya ya? Awas saja jika kau menyakitinya. Aku tak segan melakukan hal buruk." "Rasanya semua orang sangat menyukai Sarah." Ucap Damien. Calvin tersenyum penuh kemenangan. "Primadona dari Leafield itu milikku." Di sisi lain, Sarah dan para wanita itu sudah selesai mandi dan mereka memutuskan untuk sedikit berdandan. "Kau itu sudah cantik alami, hanya sedikit lipstik maka kau akan benar-benar cantik." Clara sudah berbulan-bulan tidak bertemu dengan Sarah dan ia dengan cekatan memberikan sentuhan dandanan natural untuk Sarah. Elenora dan Nao memperhatikan dengan seksama dan kagum setelah melihat Sarah sangat cantik. "Wah kalau begitu aku juga mau!" Elenora berseru. Nao hanya mengangguk setuju. Clara adalah wanita tipe santai dan cuek namun dia selalu mengatakan apa saja yang ada di pikirannya tanpa pikir panjang. Sejak tadi ia memperhatikan Monica yang menyendiri dan berdandan tak jauh dari mereka berempat. Ia juga memergoki Monica memperhatikan Sarah dengan wajah menyebalkan. "Kau memiliki masalah dengan matamu?" Clara langsung menodong Monica dengan tegas. Elenora, Nao dan Sarah terkejut dan langsung menoleh ketika sedang bercermin. "Kurasa tidak ada yang aneh dengan Sarah tapi kau menatapnya penuh kebencian. Itu menggangguku, sama saja seperti kau membenci adikku." Lanjut Clara. Sarah menatap wanita yang lebih tua darinya itu tidak percaya, Clara Wali Kota ter-badass yang pernah ia temui. "Kak Clara, sudah.." "Sarah, diam." Clara mengangkat jari telunjuknya, mengarahkan itu pada Sarah. Monica mendelik pada wanita berambut pendek itu, jika saja Clara bukan seorang Wali Kota mungkin Monica akan membalas ucapan wanita itu, tapi ada dua Wali Kota wanita di sana dan ia tidak mau menambah masalah. Monica segera pergi tanpa berbicara dan Mata Clara mengekorinya, hingga gadis itu menghilang di balik pintu keluar. Sarah hanya menghela nafasnya dan bahunya merosot. Sejak semalam Monica memang aneh, selalu memperhatikan Sarah dengan intens dan penuh kebencian. Mungkin saja ini semua karena sikap Saga yang tidak terlalu memperdulikan Monica, setidaknya itulah yang Sarah pikirkan sekarang. Sedikit, Sarah justru merasa kasihan pada Monica. Gadis itu seperti menyimpan luka dalam dirinya namun berusaha menutupinya dengan menjadi seseorang yang menyebalkan. Begitu selesai berganti pakaian dan bersiap, mereka semua kembali pada pasangannya masing-masing. Sarah menghentikan langkahnya beberapa meter dari tempat Calvin berada, ia bisa melihat Calvin sedang menunggunya di sana dengan guratan senyum yang terpatri di balik maskernya, Sarah hanya menebaknya dari bentuk mata pria itu yang menyipit, dan sudah sepenuhnya pria itu menoleh padanya. Sarah merasakan dirinya senang dengan melihat Calvin seperti ini, kemudian ia berpikir, kalau hatinya sudah sepenuhnya berlabuh pada pria itu. Dengan langkah kecil yang sedikit terburu-buru, Sarah mendekati Calvin lalu merangkul lengan pria itu. “Manis sekali," ucap Calvin seraya membelai dagu Sarah dengan gemas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN