Sore itu kampus seperti kehilangan warna. Langit menggantung rendah, abu abu kusam, seolah menahan sesuatu yang seharusnya runtuh tapi belum diizinkan jatuh. Udara dingin merayap di sepanjang koridor fakultas yang terasa lebih panjang dari biasanya. Sunyi. Terlalu sunyi. Setiap langkah Dinara terdengar tergesa dan tidak beraturan, seperti seseorang yang sedang dikejar oleh sesuatu yang tidak terlihat tapi sangat nyata.
Kalimat itu kembali muncul di kepalanya.
Bukan teriakan.
Bukan pertengkaran.
Justru itu yang membuatnya terasa mematikan.
“Kamu bisa nggak kasih aku ruang sebentar? Aku capek berdebat karena hal hal kecil.”
Samudra mengucapkannya dengan suara lelah. Datar. Hampir tanpa emosi. Seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan napas dan akhirnya memilih berhenti berbicara.
Dan bagi Dinara, itulah awal dari kehancuran.
Dalam kepalanya, ruang berarti jarak.
Jarak berarti ditinggalkan.
Dan ditinggalkan adalah bentuk penolakan paling kejam yang pernah ia kenal.
Dinara berhenti di ujung lorong. Tangannya menekan d**a sendiri seolah ingin menahan sesuatu agar tidak runtuh. Napasnya pendek. Kepalanya berputar. Jantungnya berdebar terlalu cepat. Seluruh tubuhnya bereaksi seolah ia baru saja didorong ke tepi jurang tanpa pegangan.
Kenangan masa kecil datang tanpa permisi.
Ayah yang pulang larut dengan aroma asing dan wajah dingin.
Ibu yang selalu rapi, selalu tersenyum di depan orang lain, tapi kosong di rumah.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada kehangatan.
Yang ada hanya pesan tidak tertulis bahwa ia harus sempurna agar layak dicintai.
Dinara belajar satu hal sejak kecil.
Cinta tidak pernah benar benar aman.
Cinta harus dijaga.
Diikat.
Dikendalikan.
Karena jika lengah sedikit saja, cinta akan pergi.
Maka ketika Samudra meminta ruang, Dinara tidak mendengarnya sebagai permintaan. Ia mendengarnya sebagai ancaman. Sebagai tanda bahwa ia tidak lagi cukup. Tidak lagi diinginkan. Tidak lagi penting.
Hari itu Arga muncul.
Bukan sebagai penyelamat.
Bukan pula sebagai pahlawan.
Ia hanya hadir.
Dan bagi Dinara yang sedang runtuh, kehadiran sering kali terasa lebih penting daripada niat.
Arga bukan lelaki yang mencolok. Wajahnya biasa. Cara berpakaiannya sederhana. Tapi ada sesuatu dalam caranya berdiri, dalam caranya menatap, dalam caranya mendengarkan tanpa memotong, yang membuat orang merasa tidak sedang dihakimi.
Mereka bertemu di tangga belakang gedung fakultas. Hujan belum turun, tapi udara sudah lembap oleh firasat. Langit semakin gelap.
“Keliatan capek,” ucap Arga pelan.
Dinara ingin menyangkal. Ingin mengatakan ia baik baik saja. Tapi kebohongan itu terlalu melelahkan.
“Aku cuma ngerasa sendirian,” jawabnya lirih.
Mereka duduk berdampingan. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Angin sore membawa aroma tanah basah. Daun daun jatuh satu per satu, seolah waktu melambat hanya untuk menyaksikan mereka.
“Lo nggak harus kuat terus,” kata Arga tanpa menatapnya. “Kadang orang yang paling kelihatan baik baik aja itu justru yang paling hancur di dalam.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi bagi Dinara, kalimat itu seperti celah di dinding yang selama ini ia bangun rapat.
Dengan Samudra, ia selalu merasa harus utuh. Harus stabil. Harus dewasa. Tidak boleh rapuh. Tidak boleh berantakan. Tidak boleh terlalu menuntut. Ia mencintai sambil menahan diri, takut jika terlalu jujur, ia akan ditinggalkan.
Tapi dengan Arga, ia tidak perlu apa apa. Ia boleh diam. Ia boleh lelah.
Ia boleh menjadi seseorang yang tidak mengendalikan segalanya.
Sejak hari itu, ada sesuatu yang bergeser pelan di dalam dirinya.
Samudra tidak berubah drastis.
Justru itu yang menjadi masalah.
Ia tetap sibuk. Tetap lelah. Tetap mencintai dengan caranya sendiri yang tenang dan rasional. Ia masih ada. Masih peduli. Masih berusaha.
Tapi bagi Dinara, cinta yang tidak berisik terasa seperti cinta yang sedang menjauh.
Pesan pesan Samudra terasa singkat. Responsnya tidak secepat dulu. Perhatiannya tidak lagi berlebihan.
Dan Dinara membenci perubahan.
Malam itu kamar kosnya temaram. Lampu kuning redup membuat bayangan di dinding tampak retak. Ponselnya bergetar berkali kali. Nama Samudra muncul. Ia tidak membukanya.
Ia lelah dengan penjelasan. Ia lelah dengan permintaan maaf. Ia lelah karena Samudra tidak bisa mengisi jurang yang tidak pernah ia gali sendiri.
Lalu pesan dari Arga masuk.
“Kamu baik baik aja? Aku lewat depan kos kamu. Lampunya mati.”
Dinara menatap layar itu lama. Ada rasa bersalah yang muncul sebentar. Tapi rasa takut jauh lebih kuat.
“Aku pengen sendiri,” balasnya. Tak lama kemudian. “Kalo butuh temen buat dengerin, aku ada.” Kalimat itu seperti pintu darurat. Tidak menyelesaikan apa apa.
Tapi memberi napas.
Hari hari berikutnya menjadi kabur bagi Samudra. Dinara masih ada, tapi hanya raganya. Kata katanya pendek. Nada bicaranya mudah tersinggung. Matanya selalu seperti menyimpan sesuatu yang tidak ia izinkan keluar.
Samudra mulai merasa bersalah tanpa tahu di mana letak kesalahannya. Tidurnya tidak nyenyak. Kepalanya sering berat. Dadanya sering sesak. Ia mulai menimbang setiap kata, takut memicu tangis, marah, atau diam panjang yang menyiksa.
“Apa aku kurang?” “Apa aku salah?” “Apa aku terlalu egois?”
Pertanyaan pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Tapi ia tidak pernah berani mengucapkannya. Karena setiap kali ia mencoba bicara jujur, Dinara berubah. Menangis. Menyalahkan. Membalikkan keadaan. Dan Samudra selalu berakhir meminta maaf, meski ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia lakukan.
Hujan turun deras suatu sore. Dinara dan Arga berteduh di warung kopi kecil dekat kampus. Bau kopi hangus bercampur suara air yang menghantam atap seng.
Dinara tampak rapuh. Matanya sembab. Tangannya gemetar memegang gelas. “Din,” ujar Arga pelan, “lo nggak sendirian.” Ia mendekat.
Terlalu dekat. Ketika Arga memeluknya, Dinara tidak menolak.
Ia tenggelam. Pelukan itu hangat.
Pelukan itu salah. Pelukan itu memulai sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.
Dinara mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia tidak bersalah. Bahwa semua ini terjadi karena Samudra membuatnya merasa kosong. Bahwa ia hanya mencari pengertian. Bahwa ia korban dari keadaan. Ia lupa satu hal.
Cinta tidak pernah dimaksudkan untuk menambal luka yang tidak mau disembuhkan. Sampai malam itu.
Samudra hanya ingin mengambil jas labnya. Tidak lebih.
Tapi dari kejauhan, di bawah pohon flamboyan, ia melihat mereka. Dinara dan Arga berdiri terlalu dekat.
Tangan Arga di pundaknya.
Dinara tidak menjauh.
Dunia Samudra berhenti. Ia berjalan mendekat. Langkahnya tenang. Terlalu tenang.
“Ini nggak seperti yang kamu pikir,” ujar Dinara panik. Samudra tidak menjawab.
Bogem mentah mendarat di wajah Arga.
“Kalau kamu mau jadi pahlawan,” kata Samudra datar, “ambil saja dia.”
“Tidak Sam. Aku cinta kamu,” teriak Dinara. Arga terpaku. Harga dirinya runtuh. Ia tidak membalas. Ia pergi. Membawa luka yang tidak pernah ia minta.
Malam itu Samudra duduk lama di tepi ranjang. Napasnya berat. Kepalanya berdenyut. Semua kalimat Dinara terngiang. “Aku capek.” “Aku takut kamu pergi.”
Dan pada akhirnya, Dinara yang pergi lebih dulu. Di kosnya, Dinara menangis. Bukan karena menyesal. Tapi karena ketahuan. Naluri bertahannya bekerja cepat, menyusun kata kata agar Samudra kembali merasa bersalah. Namun untuk pertama kalinya, ia sadar.
Rasa takutnya telah berubah menjadi penghancur.
Langit mulai cerah. Tapi badai di dalam diri Dinara baru saja meledak. Dan badai itu akan merenggut segalanya.