Hujan turun tanpa aba aba, seperti amarah yang akhirnya menemukan jalannya sendiri. Malam itu kampus dan kos kosan di sekitarnya tenggelam dalam suara air yang menghantam aspal, atap seng, dan jendela jendela tua yang tak pernah benar benar rapat. Udara dingin menempel di kulit, menusuk sampai ke tulang, seolah ikut ingin masuk ke d**a orang orang yang sedang menahan sesuatu agar tidak pecah.
Samudra berdiri di depan kos Dinara dengan jaket basah menempel di tubuhnya. Air hujan menetes dari ujung rambutnya, menyusuri leher, lalu hilang di balik kerah baju. Ia tidak bergerak. Sejak beberapa menit lalu, ia hanya berdiri di sana, seperti patung yang lupa bagaimana caranya pergi.
Napasnya berat. Tidak teratur.
Tangan kirinya menggenggam ponsel yang layarnya masih menyala. Foto itu. Foto yang tidak bisa ia tutup sejak sore tadi, meski sudah ia lihat puluhan kali.
Dinara.
Tersenyum terlalu lebar.
Berdiri terlalu dekat dengan Arga.
Tidak ada sentuhan di foto itu. Tidak ada pelukan. Tidak ada ciuman. Tapi justru itu yang menyakitkan. Karena kedekatan itu terlihat wajar. Terlalu wajar. Seperti sesuatu yang sudah sering terjadi.
Tawa mereka terlihat ringan. Bebas. Seolah dunia sedang baik baik saja. Seolah tidak ada seseorang di tempat lain yang sedang mencoba bernapas sambil menahan rasa hancur.
Samudra menelan ludah. Dadanya seperti diremas perlahan. Bukan oleh cemburu semata, tapi oleh rasa dikhianati yang datang tanpa suara, tanpa peringatan, dan tanpa jalan keluar.
Pintu kos akhirnya terbuka.
Dinara berdiri di ambang pintu. Rambutnya berantakan, sebagian menempel di pipinya. Matanya sembab. Wajahnya pucat, seperti seseorang yang baru saja kalah dalam perang yang tidak ia menangkan, tapi juga tidak mau ia akui.
“Sam…” suaranya pelan. Terlalu pelan. Ada basah di sana, basah yang sulit dibedakan antara jujur atau kebiasaan.
Samudra menatapnya lama. Terlalu lama. Ada retakan dalam di matanya. Retakan yang hanya muncul ketika seseorang sudah terlalu sering memaafkan, sampai lupa bagaimana rasanya marah.
“Jadi ini?” katanya akhirnya.
Suaranya rendah. Tidak berteriak. Tidak meninggi. Justru itu yang membuatnya terasa mematikan.
“Ini yang kamu sebut cuma teman?”
Dinara membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Sejenak, seperti sedang memilih versi mana dari dirinya yang akan ia keluarkan malam ini. Ia melangkah mundur setengah langkah, memberi jalan tanpa benar benar mempersilakan. Samudra masuk.
Ruangan itu masih sama. Kasur kecil di sudut. Meja belajar dengan tumpukan buku. Cermin kecil di atasnya. Bau bunga kering yang dulu ia suka kini terasa pengap. Manis yang berlebihan. Seperti sesuatu yang sudah lama seharusnya dibuang, tapi tetap dipertahankan karena kenangan.
“Aku nggak mau alasan,” kata Samudra. “Aku cuma mau jujur.”
Dinara menarik napas panjang. Terlalu panjang. Seperti seseorang yang sedang menyiapkan diri untuk peran yang sudah ia hafal luar kepala.
“Aku takut kehilangan kamu, Sam,” katanya akhirnya. Suaranya gemetar. “Aku takut kamu bosan. Aku takut kamu ninggalin aku kayak semua orang di hidupku.”
Kalimat itu jatuh seperti jerat. Lembut. Pelan. Tapi langsung melilit.
Samudra memejamkan mata sesaat. Ada rasa perih yang naik ke tenggorokan, rasa yang sudah sering ia telan sendiri.
“Dan karena kamu takut kehilangan,” ujarnya pelan, “kamu malah mendekat ke orang lain?”
Dinara menggeleng cepat. Terlalu cepat. “Kamu salah paham.”
“Salah paham?” Samudra membuka mata. Tatapannya tajam, lelah, dan hancur bersamaan. “Aku lihat sendiri, Din.”
Dinara mengusap air matanya. Gerakannya cepat. Terlatih. “Aku lagi rapuh. Aku lagi di titik paling rendah. Arga cuma ada di situ waktu aku butuh. Kamu nggak pernah lihat aku sejatuh itu.”
Dan seperti biasa, arah pembicaraan bergeser. Dari apa yang ia lakukan, menjadi apa yang ia rasakan.
Samudra merasa dadanya kosong sesaat. Bukan karena ia percaya. Tapi karena ia mengenal pola itu terlalu baik. Dinara selalu menjadikan dirinya korban dari luka yang ia ciptakan sendiri.
“Dinara,” suaranya lebih tegas sekarang, “kamu bukan korban di sini. Kamu yang milih datang ke dia. Kamu yang biarin dia sedekat itu.”
Tatapan Dinara berubah. Tajam. Dingin. Seperti kaca yang retak tapi masih ingin melukai.
“Jadi sekarang kamu nyalahin aku?” katanya. “Padahal kamu yang jarang ada. Kamu sibuk kerja. Sibuk kuliah. Sibuk hidup kamu sendiri. Kamu pikir aku nggak kesepian?”
Dan rasa bersalah itu datang lagi. Rasa bersalah yang tidak seharusnya ia tanggung, tapi sudah terlalu sering ia pikul.
“Aku kerja buat masa depan kita,” jawab Samudra. “Aku kuliah buat kita.”
“Tapi kamu nggak ada buat aku!” teriak Dinara tiba tiba. Suaranya pecah. Emosinya meledak seperti petir di tengah hujan. “Aku butuh kamu, Sam!”
Samudra tertawa kecil. Pahit. “Setiap hari aku telepon, kamu marah. Aku datang, kamu curiga. Aku diam, kamu bilang aku nggak peduli. Aku ngomong jujur, kamu bilang aku nyerang kamu. Apa pun yang aku lakuin selalu salah.”
Dinara memeluk dirinya sendiri. Bahunya gemetar. “Aku rusak,” katanya lirih. “Aku tau aku rusak. Makanya aku butuh kamu buat benerin aku.”
Kalimat itu terdengar lembut. Tapi Samudra merasakan jeratnya mengencang.
“Aku bukan alat penyembuh kamu,” katanya. “Dan kamu nggak bisa tarik aku sampai aku kehabisan napas.”
“Jadi aku beban?” Dinara menatapnya tajam.
“Tidak,” jawab Samudra cepat. “Tapi kamu bikin aku takut jadi diri sendiri.”
Tangis Dinara membesar. “Semua ini karena aku sayang kamu terlalu dalam!”
Samudra menggeleng. “Sayang nggak bikin orang main hati.”
Kalimat itu menghancurkan sisa pertahanan.
Dinara melempar bantal. Buku. Apa saja yang bisa ia jangkau. Suara benda jatuh memenuhi ruangan. “Aku nggak selingkuh!” teriaknya. “Aku cuma butuh orang yang ngerti aku!”
Samudra berdiri diam. Wajahnya pucat. “Dan kamu bohong malam itu.”
Dinara berhenti. Tubuhnya melemah. Ia jatuh duduk di lantai.
“Aku takut kamu pergi,” bisiknya.
Dan saat itu Samudra melihat dengan jelas. Dinara bukan hanya terluka. Ia juga melukai. Ia bukan hanya takut kehilangan. Ia memenjarakan.
“Din,” suara Samudra bergetar, “aku hancur. Kamu bikin aku ngerasa kecil. Kamu bikin aku takut hidup.”
Dinara menatapnya panik. “Jadi kamu mau pergi?”
“Aku harus,” jawab Samudra. “Kalau nggak, aku nggak bakal selamat.”
Ia berjalan ke pintu. Setiap langkah terasa seperti meninggalkan potongan dirinya sendiri.
“Aku cinta kamu,” katanya sebelum keluar. “Tapi cinta yang sakit harus dijauhkan.”
Pintu tertutup.
Dinara berlutut di lantai. Tangisnya pecah tanpa suara. Di cermin kecil, wajahnya terlihat asing. Retak. Penuh ketakutan.
Dan malam itu, di bawah hujan, Samudra berjalan pergi membawa satu keputusan yang akan mengubah segalanya.
Karena pertengkaran ini bukan akhir.
Ini adalah awal dari kehancuran yang jauh lebih besar.