Bab 4. Sisa-Sisa dari yang Tak Sempat Diselamatkan

1108 Kata
Setelah malam ketika semuanya pecah, dunia Dinara berubah menjadi ruangan kosong yang kehilangan suara. Kos kecil itu masih berdiri di tempat yang sama, dengan dinding yang sama, jendela yang sama, dan lampu yang sama redupnya. Tapi rasanya seperti bangunan yang ditinggalkan penghuninya tanpa pamit. Udara di dalamnya dingin dan berat, seolah menyimpan napas seseorang yang tak pernah kembali. Aroma kopi buatan Samudra sudah tidak ada. Yang tertinggal hanya bau lembap kasur dan wangi bunga kering yang dulu ia sukai. Kemeja tipis milik Samudra masih tergantung di balik pintu, tidak ia sentuh, tidak ia pindahkan. Gelas favorit pria itu masih berada di rak paling atas. Semua benda itu menjadi saksi bisu bahwa seseorang pernah bertahan di sana dengan sabar, bahkan ketika ia sendiri tak tahu lagi bagaimana caranya mencintai tanpa melukai. Namun sunyi itu tidak pernah menjadi cambuk bagi Dinara untuk menyesal. Sunyi justru terasa seperti penghinaan. Ia benci sunyi. Karena di dalam sunyi, tidak ada siapa pun yang bisa ia salahkan. Sejak Samudra pergi, pagi hari tidak lagi terasa seperti awal. Ia bangun dengan tubuh berat, kepala penuh desakan yang tidak bisa ia jelaskan. Tidak ada tangis panjang. Tidak ada ratapan kehilangan. Yang ada hanya kemarahan kecil yang terus mengendap. Ia meraih ponsel setiap bangun tidur, menatap layar kosong, menunggu nama Samudra muncul. Menunggu pesan panjang berisi permintaan maaf. Atau setidaknya satu kalimat pendek yang membuktikan bahwa ia masih dibutuhkan. Tak ada apa pun. Layar yang sunyi itu membuat pikirannya semakin ribut. Beberapa hari setelah perpisahan, Dinara berusaha keras terlihat baik baik saja. Di kantor, ia tertawa. Ia bercanda. Ia membuat semua orang percaya bahwa dirinya kuat dan tidak terguncang. Ia mengunggah foto dengan senyum penuh energi, dengan caption tentang hidup dan kebebasan. Tapi ketika kamera mati, matanya kosong. Ia hanya menatap layar seperti seseorang yang kehilangan arah. Ketika malam datang dan ia kembali ke kos yang sunyi, ia tidak tahan. Ia mencari pelarian. Apa pun yang bisa mengisi kekosongan itu, walau hanya sesaat. Sebuah pesan masuk dari kenalan lama. Satu kalimat sederhana, tapi cukup untuk membuka pintu yang sebenarnya tidak pernah benar benar tertutup. “Lagi di mana? Kangen ngobrol.” Tanpa berpikir, Dinara membalas. Kemudian bertemu. Kemudian tertawa lebih keras dari biasanya. Kemudian mengeluh tentang Samudra seolah pria itu monster yang meninggalkannya tanpa alasan. Lelaki itu menatapnya dengan simpati. Dan simpati itu terasa seperti udara segar. Dinara menghirupnya dalam dalam, tanpa peduli bahwa simpati itu bukan obat, hanya penunda rasa sakit. Malam berikutnya, ada lelaki lain. Lalu yang lain lagi. Wajah mereka berbeda, tapi perannya sama. Mereka datang untuk mengisi ruang kosong. Di hadapan mereka, Dinara menjadi pusat perhatian. Posisi yang selalu ia rindukan. Ia tidak mencari cinta. Ia mencari cermin. Ia ingin melihat dirinya diinginkan, diakui, diperjuangkan. Namun setiap kali pintu tertutup dan langkah kaki menjauh, kekosongan itu kembali datang menagih. Seperti menelan air laut, semakin banyak ia mencari validasi, semakin ia tenggelam oleh dahaga yang tak pernah terpuaskan. Sesekali, ketika malam terlalu sunyi dan tubuhnya terlalu lelah untuk berpura pura, Dinara berdiri di depan cermin. Wajahnya terlihat asing. Lelah. Mata yang dulu penuh percaya diri kini dipenuhi sesuatu yang gelap. “Aku nggak salah apa apa,” bisiknya pelan. “Aku cuma pengen dicintai.” Ia meyakinkan dirinya bahwa semua ini salah Samudra. Bahwa pria itu terlalu lemah. Terlalu egois. Tidak cukup kuat menghadapi badai di kepalanya. Ia memutar ulang cerita yang sudah ia ubah sendiri. Cerita di mana ia adalah korban. Dan semakin sering ia mengulangnya, semakin ia percaya pada kebohongan itu. Sementara itu, jauh dari kekacauan itu, Samudra hidup dalam sunyi yang berbeda. Sunyi yang menenangkan. Tidak ada teriakan. Tidak ada ledakan emosi. Tidak ada tuntutan yang dibungkus air mata. Di kamar kontrakan kecilnya, Samudra mulai menyusun hidupnya kembali. Ia bangun pagi. Berangkat kerja. Mengikuti kelas malam. Membaca buku yang dulu tak pernah sempat ia buka karena selalu sibuk menenangkan seseorang. Ia menulis. Pelan pelan. Tentang luka yang dulu ia pendam. Tentang ketakutan yang ia abaikan demi cinta. Ia akhirnya mengerti bahwa mencintai Dinara tidak menghancurkannya. Yang menghancurkannya adalah bertahan terlalu lama. Setiap hujan turun, bayangan Dinara datang menghampiri seperti debu di kaca. Sulit dihapus, tapi tidak lagi membuatnya sesak. Ada bagian kecil dari dirinya yang dulu selalu ingin kembali. Tapi kini ia tahu, menyelamatkan seseorang tidak selalu berarti tetap tinggal. Sementara Samudra menata hidupnya, Dinara semakin kehilangan kendali. Ia mulai sulit membedakan perhatian tulus dan sekadar singgah. Ia mengganti kasih sayang dengan keterikatan instan. Menukar cinta dengan rasa ingin dimiliki. Dan setiap lelaki yang datang lalu pergi, ia menangis bukan karena kehilangan mereka, tapi karena merasa kembali tidak cukup berarti. Ia mulai tantrum tanpa sebab. Memblokir kontak orang orang lalu membuka lagi. Menulis pesan panjang penuh amarah, lalu menghapusnya. Mengulang siklus yang sama hingga lelah sendiri. Hingga suatu malam, salah satu lelaki yang sering menemaninya tiba tiba menghilang. Tidak ada pesan. Tidak ada penjelasan. Termasuk Arga. Dinara duduk di tepi ranjang, menatap ponsel yang tak berbunyi. Dadanya seperti berlubang. “Lihat kan,” gumamnya lirih. “Semua orang sama aja.” Ia tidak tahu, atau tidak mau tahu, bahwa Arga pergi karena lelah menjadi bayangan. Lelah dijadikan pengganti. Lelah terlibat pertengkaran sengit dengan Samudra yang masih menghantui hubungan mereka. Arga memilih pergi demi menyelamatkan dirinya sendiri. Tapi bagi Dinara, semua kepergian itu adalah pengkhianatan. Ia tidak merasa bersalah sedikit pun. Baginya, semua pria itu egois. Tidak ada yang benar benar memahami dirinya. Dan di balik semua itu, satu nama terus berputar di kepalanya. Samudra. Kenapa pria itu berani hidup tenang tanpa dirinya. Dari sanalah dendam itu mulai tumbuh. Pelan. Dingin. Mengendap di dasar hatinya. Sementara itu, hidup Samudra semakin stabil. Ia mulai bisa tertawa lagi. Pagi tidak lagi terasa berat. Dadanya lebih ringan. Meski sesekali kenangan datang, ia tidak lagi terjebak di sana. Suatu sore, ia melewati kedai kopi lama. Tanpa sengaja, ia melihat Dinara duduk bersama seorang pria. Dinara tertawa keras. Tapi Samudra melihat sesuatu di balik tawa itu. Kepanikan yang disembunyikan. Ia berhenti sejenak. Ada sesak. Tapi juga kelegaan. Ia melangkah pergi tanpa menoleh. Malam itu, Dinara pulang setengah mabuk. Di kamar gelap yang berantakan, ia menatap layar ponsel lama. Ia menulis pesan panjang. Tentang cinta. Tentang benci. Tentang kehilangan. “Aku masih cinta kamu. Tapi aku benci kamu karena kamu bisa hidup tanpa aku.” Tangannya gemetar. Tapi sebelum terkirim, ia menghapus semuanya. Ia menangis tanpa suara, memeluk dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Dinara benar benar sendirian. Bukan karena tidak ada yang mencintainya. Tapi karena ia menghancurkan semua yang datang mendekat. Dan di tempat lain, Samudra menatap hujan dengan tenang. Luka itu belum hilang. Tapi sudah tidak menguasainya. Sedangkan di dalam diri Dinara, sesuatu yang lebih gelap mulai mengambil alih. Dan kali ini, ia tidak berniat membiarkannya pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN