Perjanjian Di Balik Topeng
Hujan turun perlahan, membasahi kaca jendela vila tua bergaya Prancis yang terletak di pinggiran Paris. Di dalam kamar yang beraroma lavender dan kayu tua itu, seorang wanita tua berambut perak terbaring di ranjang besar. Selimut wol yang hangat membalut tubuhnya. Nafasnya terengah, namun matanya tetap tajam, meski usia dan sakit telah menggerogoti tubuhnya.
Dialah Simone Dubois—wanita yang dikenal sebagai bangsawan tua penuh wibawa, serta satu-satunya orang yang mampu menjinakkan Milena Petrović. Di saat kedua orang tua dan kakak laki-lakinya gagal menjadikan gadis itu anggun, lembut, dan menawan seperti gadis pada umumnya, Simonelah yang mampu mendekatinya.
Tak ada yang tahu bahwa Milena sesungguhnya seorang mafia, kecuali neneknya itu sendiri. Simone menyimpan rahasia itu rapat-rapat, bahkan dari lingkaran kalangan bangsawan dan jaringan bisnis yang ia lindungi. Ia tahu siapa cucunya yang sebenarnya, dan tetap mencintainya tanpa syarat apa pun.
Milena yang baru saja tiba segera duduk di tepi ranjang. Ia mengenakan pakaian serba hitam yang kontras dengan kulitnya yang pucat. Tangan keriput sang nenek digenggamnya erat.
"Sayang... Dengarkan Nenek baik-baik..."
"Nenek harus istirahat. Bicaranya nanti saja," bisik Milena berusaha tetap tenang, meski di matanya tersembunyi rasa takut yang jarang ia rasakan.
"Tidak... Ini penting. Jauh lebih penting daripada nyawa Nenek sendiri." Simone menatap cucunya dengan pandangan penuh kasih namun tegas. "Nenek ingin kau menikah, sayang. Bukan sekadar karena tradisi, melainkan karena kau butuh seseorang di sisimu. Dunia ini terlalu kejam untuk dilawan sendirian."
Milena tertawa singkat, penuh rasa getir. "Aku bukan gadis lemah yang harus diselamatkan lewat pernikahan."
"Tapi Nenek ingin engkau mendapat perlindungan... yang bukan berasal dari senjata atau darah. Dan Nenek ingin engkau menikah dengan Lucien Beaumont."
Milena tersentak kaget. "Si 'Kutub Es' itu?"
"Dia anak yang baik. Memang dingin sikapnya, benar. Namun ia orang yang bisa engkau andalkan. Saat ini pun, ia dikelilingi banyak musuh—sama sepertimu. Kalian berdua jauh lebih mirip daripada yang kalian kira."
"Nenek menjodohkan kami semata-mata demi keuntungan bisnis?"
"Bukan. Nenek menyatukan kalian demi kebaikan. Suatu hari nanti engkau akan mengerti. Berjanjilah pada Nenek untuk melakukannya... Lakukan ini demi Nenek."
Suasana hening sejenak, cukup lama. Hanya suara mesin oksigen dan rintik hujan di luar yang terdengar memecah keheningan.
Akhirnya, Milena mengecup tangan Simone dan berbisik lirih:
"Baiklah. Aku akan menikah dengannya. Bukan karena aku percaya padanya, melainkan karena aku percaya pada Nenek."
--
Beberapa hari kemudian, Milena dan Lucien duduk di ruang pertemuan vila Petrović, meninjau surat perjanjian yang telah disiapkan oleh notaris keluarga.
Lucien tampak ragu, alisnya berkerut dalam kebingungan. "Aku sungguh tak mengerti mengapa Nona Simone mempersyaratkan hal seperti ini."
"Aku juga sama," jawab Milena tenang dan santai, sambil menyilangkan kakinya dengan anggun. "Namun aku takkan membantah permintaan yang kemungkinan besar... menjadi yang terakhir baginya."
"Ini terasa konyol. Kita bahkan belum saling mengenal satu sama lain."
"Bukankah itu justru baik? Kita tak saling kenal, takkan jatuh cinta, dan takkan saling menyakiti hati. Pernikahan ini murni sebuah formalitas belaka. Kau tetap bisa fokus sepenuhnya pada urusan bisnismu, begitu pun denganku."
"Lantas setelah berakhir masa perjanjian ini?"
"Satu tahun kemudian, kita berpisah secara baik-baik dan sah. Menyenangkan, bukan?"
Lucien menatapnya tajam, penuh kewaspadaan. "Aku belum bisa menaruh kepercayaan padamu."
"Sangat bagus. Kalau begitu, jangan pernah percaya padaku sama sekali!"
--
Malam itu, Milena kembali ke markas bawah tanah Klan Mawar Merah—berubah menjadi Marie Laurent, sosok yang ditakuti di segenap dunia bawah tanah. Ia hadir mengenakan topeng hitam yang menutupi mata hingga separuh hidungnya, memancarkan aura misterius dan mematikan.
Lorong-lorong batu dan beton itu berbau logam tajam, diselimuti keheningan yang menegangkan tiap sarafnya. Dindingnya dipenuhi deretan layar komputer raksasa yang memuat data intelijen serta pantauan pengawasan dari seluruh penjuru Eropa. Para anak buahnya—operator hingga eksekutor andalan—segera menunduk hormat saat Marie melintas dengan langkah tenang.
Di ruang kendali utama, Marie duduk di kursi kulit berwarna gelap yang gagah. Di hadapannya terbuka berkas-berkas tebal; layar canggih menyala menampilkan grafik pergerakan dana dan persenjataan yang rumit.
“Ancaman terhadap Vanguard Dynamics meningkat empat kali lipat dalam dua bulan terakhir. Peretas dari Rusia, penyusup dari pesaing Asia, bahkan diduga ada pengkhianat dari lingkaran dalam sendiri,” lapor Elena Vance, tangan kanannya yang paling tangguh—wanita dengan tato indah yang menjalar dari paha hingga ke seluruh kaki kanannya.
Marie menatapnya tajam dari balik topeng. “Semua gangguan itu harus lenyap sepenuhnya. Bersihkan sampai tak bersisa. Namun jangan biarkan nama Marie terlibat atau terendus jejaknya. Tak boleh ada satu pun yang tahu campur tanganku di sini.”
Elena mengangguk mantap. “Termasuk terhadap pria itu?”
Marie terdiam sesaat. Matanya menyipit tajam, suaranya merendah namun bergetar kekuasaan. “Terutama pria itu.”
Tiba-tiba pintu rahasia terbuka perlahan. Seorang wanita melangkah masuk: tubuhnya tinggi, ramping dan anggun, namun setiap gerakannya berbicara tentang ketangkasan seorang pembunuh terlatih. Wajahnya tertutup topeng perak tipis berukiran abstrak yang elegan. Di dunia mafia, ia dikenal sebagai Elara Vuković—wakil Marie yang setia dan kejam tanpa ampun.
“Marie, kita menghadapi persoalan baru,” ucap Elara langsung pada intinya tanpa basa-basi. Suaranya tenang namun membawa getaran ancaman yang nyata. “Muncul sebuah geng motor baru. Mereka menyebut diri Bayuang Ganas. Perlahan namun pasti mulai menguasai wilayah-wilayah pinggiran, dan malam ini mereka berani menantang sang Ratu Jalanan secara terang-terangan.”
Elena mendengus sinis mendengarnya. “Anjing liar merasa berani mengajak main serigala penguasa rimba.”
Marie terdiam sejenak seraya merenung. Lalu perlahan, sebuah senyuman miring yang dingin merekah di bibirnya yang merah gelap. Ia bangkit berdiri, melepas mantel kulitnya yang berat, lalu menatap tajam ke arah layar yang menampilkan deretan motor garang dan lambang kelompok Bayuang Ganas.
“Ayo kita bermain,” ucapnya singkat dan dingin. Saat itu juga, seisi ruang paham: neraka akan dilepaskan ke jalanan malam ini.
--
Sementara itu, Lucien duduk di ruang kerjanya, menatap layar laptop yang menampilkan grafik penurunan nilai saham serta laporan sabotase pada sistem internal perusahaannya. Ia belum mengetahui siapa musuh sebenarnya yang bersembunyi di balik semua ini. Namun belakangan ini, serangan-serangan yang datang terasa terlalu terencana, terlalu rapi, dan mengarah tepat pada sasaran.
Tanpa sebab yang jelas, pikirannya pun melayang kepada wanita yang kini menjadi pasangan hidupnya kelak. Terbayang kembali tatapan matanya, senyum sinis yang sering terlukis, serta aura misterius yang senantiasa menguar dari seluruh pribadinya.
Hati Lucien dipenuhi rasa ganjil. Sebuah firasat kuat berbisik seolah-olah wanita itu sedang menyembunyikan sebuah rahasia yang sangat besar.
--
Hari pernikahan tiba. Kilauan kristal menggantung anggun dari langit‑langit balai besar. Cahaya yang memantul dari ribuan potongan kaca itu menciptakan pantulan bagai bintang‑bintang jatuh yang bertebaran di segenap ruangan.
Lantai marmer yang mengkilap di bawah kaki mencerminkan cahaya gaun putih yang menjuntai panjang, menyapu permukaan lantai laksana ombak tenang di tepi samudra malam.
Milena berdiri dalam balutan gaun putih gading yang menawan, dihiasi pita besar yang indah di punggungnya; siluetnya memancarkan kemegahan bangsawan dan kesempurnaan yang tak terjangkau pandang. Bahunya yang halus terlihat terbuka, sementara rambut panjangnya dibiarkan terurai bergelombang dengan rapi—tanpa hiasan lain, kecuali sebuah mahkota kecil berwarna perak di puncak kepalanya.
Terdengar denting langkah kecil yang tergesa dari arah lorong, lalu makin terdengar lebih cepat dan mendesak.
Seorang gadis berlari kecil mendekat, ujung gaun panjangnya terseret dan hampir membuatnya terjatuh, namun ia tetap berusaha menjaga keanggunan. Namanya Sonia—atau dikenal sebagai Liora dalam kehidupan lain.
Gaunnya serupa milik Milena: panjang berwarna putih dengan potongan lembut dan lengan yang jatuh santai di bahu. Perbedaannya, rambut panjangnya diikat dengan pita putih yang menjuntai, bergerak mengikuti gerakannya yang tak bisa diam. Napasnya belum teratur saat ia tiba di sisi Milena, lalu langsung menggenggam tangan itu tanpa ragu sedikit pun.
"Kau yakin hendak melakukan hal yang paling kau benci?" bisik Liora nyaris bergetar, suaranya terdengar mencoba menembus riuh rendah melodi yang mengiringi suasana.
Milena tak serta‑merta menjawab. Ia hanya menatap jauh ke luar, melalui jendela kaca raksasa yang menampakkan pemandangan kota di malam hari. Angin sejuk menyelinap masuk perlahan, membawa aroma bunga mawar serta tekanan batin yang tak terlihat namun terasa berat. Lalu dengan nada datar dan tenang, ia menyahut:
"Aku sebenarnya tidak sedang menikah. Aku hanya sedang memenuhi keinginan terakhir nenekku."
--
Malam harinya, mereka berada di penthouse milik Lucien yang menjulang di jantung kota London.
Milena berdiri di tengah ruang tamu yang dingin namun megah, melepas kerudung putih dari kepalanya dan meletakkannya perlahan di atas kursi.
"Aku menikah semata-mata hanya untuk membahagiakan Nenek," ucapnya dengan nada suara yang dingin, sambil memunggungi Lucien. "Jangan pernah coba menyentuhku."
Lucien, yang sedang melepas jasnya dan bersiap menuju kamar pribadinya, menjawab tanpa menoleh sedikit pun:
"Aku pun tak berniat menyentuhmu. Segera setelah wanita yang kucari kembali, pernikahan ini akan berakhir dan selesai."
Milena tak merespons sepatah kata pun. Ia berjalan tenang menuju balkon, membiarkan hembusan angin malam menyapu wajahnya yang pucat.
Beberapa saat ia berdiri diam di sana, hingga tiba-tiba ponselnya bergetar tajam.
Kode Merah. Sasaran tepat mengarah ke penthouse ini. Peluru siap dilepaskan dari gedung yang berseberangan.
Ia menghela napas panjang, lalu bergerak secepat kilat. Tak lama kemudian, orang yang hendak menembak dari gedung itu ditemukan sudah tewas. Empat luka tusukan yang rapi. Bersih dan tanpa jejak sedikit pun.
Siapa pelakunya? Tak lain adalah wanita yang kini kembali berdiri tenang di balkon itu, menyembunyikan bukti noda darah di balik jubah pengantinnya yang anggun.
Di ruang sebelah, Lucien termenung menatap sebuah foto kecil di dalam dompetnya. Sebuah bayangan gadis bertopeng dengan sepasang mata yang tak pernah sanggup ia hapus dari ingatannya. Sosok yang pernah menyelamatkan nyawanya di malam paling kelam dan berbahaya dalam hidupnya. Hingga kini ia belum tahu siapa gadis itu sesungguhnya, namun ia telah bersumpah bulat untuk mencarinya dan menemukannya suatu hari nanti.
Ia sama sekali belum menyadari bahwa gadis itu tak lain adalah istrinya sendiri yang kini tinggal bersamanya.