Menginap Senyuman manis terukir apik di bibir Sita. Gadis itu sedang saksama memperhatikan Jefry yang memotong sayuran. Sedangkan dia duduk manis di kursi bulat dan berpangku tangan di meja bar. "Kak, aku beneran nggak boleh bantu?" Sekali lagi Sita menawarkan diri untuk membantu. Awalnya dia sudah ikut berdiri di sisi Jefry dan siap mencuci beberapa sayuran. Namun, lelaki itu dengan halus memintanya untuk duduk tenang dan menunggu. Katanya tidak ingin jemari Sita terluka, tergores pisau. Sita tersipu ketika Jefry menyuarakan itu namun kemudian sebal karena sadar mungkin saja itu hanya sindiran karena lelaki itu paham kehadiran Sita di dapur bukan untuk membantu tapi malahan untuk merecoki. Secara, kemampuan Sita di dapur minus sekali. "Nggak perlu. Putri cukup duduk manis dan menunggu

