Kenapa Begini Lorong rumah sakit yang tampak tenang -meski beberapa perawat lalu lalang, tak juga membuat Arsita Kumala merasakan ketenangan itu. Gadis itu duduk di depan ruang rawat Jefry, di deretan kursi besi, yang dinginnya terasa sampai menusuk tulangnya. Tidak ada air mata yang berhasil lolos dari sudut matanya, meski iris matanya sudah berkabut sendu. Dia berulang kali memejamkan mata, menghela napas, berharap ketika kelopak matanya membuka, dia akan terbangun di kamarnya sendiri. Namun, berapa kali pun dia mencoba, dia tetap berada di lorong rumah sakit, yang asing dan tak pernah dia sukai. "Sudah sedikit lebih baik, mau minum lagi?" Suara lirih seorang perempuan di sisinya, membuat Sita menoleh dan menggeleng pelan. Menemukan Alice kembali menyodorkan botol air mineral yang i

