Bab 3. Malam Pertama

1421 Kata
Astrid tersenyum senang, dia akhirnya bisa melihat pernikahan sang putra di usianya yang sudah tak muda lagi. Awalnya Astrid pikir dia tak akan bisa melihat pernikahan sang putra, tetapi pikiran wanita itu salah. Di balik kebahagiaan Astrid, ada Damar dan Thalia yang tak merasakan apa pun. Dua orang yang baru saja resmi menjadi pasangan suami istri itu tak merasakan kebahagiaan apa pun, tak ada emosi di dalamnya, baik itu marah maupun sedih. Pernikahan sederhana sesuai dengan keinginan Thalia meskipun ada perdebatan dengan Astrid, tetapi akhirnya wanita itu setuju setelah Damar ikut membantu Thalia. Damar menatap perempuan yang kini sudah menjadi istrinya, wajah lelah Thalia berhasil menyita perhatian pria itu. "Kalau kamu capek, duduk dulu!" titah Damar. Thalia mengangguk pelan, perempuan itu mendudukkan dirinya di kursi pelaminan. "Kenapa kamu minta ketemuan?" Thalia menelan kasar air liurnya saat mendengar suara berat Damar. Perempuan itu meremas kaos murah yang dia kenakan, menarik napas panjang, Thalia memberanikan diri menatap Damar. "Boleh saya minta pernikahan kita kurang dari satu Minggu ini?" Thalia berucap dengan hati-hati, dia memandang Damar dengan tatapan memohon. "Sepertinya kamu sangat tidak sabar mendapatkan 500 juta dari saya." Jawaban bernada angkuh itu membuat Thalia menahan napas sejenak. Andai bukan karena keadaan, Thalia tidak akan pernah meminta ini pada pria angkuh di hadapannya. Membuang napas panjang, Thalia memaksa senyuman manis. "Anggap saja begitu, Pak. Anggap saja saya lacur yang membutuhkan banyak uang sekarang," sahut Thalia. Ungkapan tegas itu terdapat keraguan di dalamnya. Thalia merasa begitu jauh membanting harga dirinya, perempuan itu bahkan merasa seperti tengah menjatuhkan dirinya sendiri. Thalia membuang napas, dia memilih menundukkan kepala dengan kaki yang memainkan rerumputan yang dia pijak saat ini. Satu alis Damar terangkat, pria itu lantas membuang muka menatap ke arah depan. Damar memandang perpohonan yang ada di hadapannya, saat ini dirinya dan Thalia berada di taman kota. Awalnya, dia menolak pertemuan yang terlalu mendadak ini. Akan tetapi, Thalia terus menerus memaksa membuat Damar mau tak mau setuju dan mengikuti keinginan perempuan itu. "Saya memang tahu orang miskin membutuhkan lebih banyak uang, tetapi saya baru tahu kalau orang miskin juga tidak sabaran jika soal uang," celetuk Damar dengan enteng. Thalia menoleh, dia memandang Damar dengan wajah datar. Bohong jika Thalia tidak tersinggung, harga dirinya direndahkan oleh pria itu secara sadar. Tangan Thalia terkepal kuat, mungkin jika Thalia tak membutuhkan Damar, dia bisa saja memukul kepala Damar dengan balok kayu. Satu sudut bibir Damar yang terangkat benar-benar menyinggung rasanya. Pria itu benar-benar ingin mempermalukan dirinya, rasa-rasanya Thalia harus kuat mental mulai saat ini karena sebentar lagi pria yang terus dia maki di dalam hati akan menjadi suaminya sampai waktu yang belum dia ketahui. "Silakan Bapak beranggapan demikian, saya tidak akan mengelak. Saya hanya ingin pernikahan kita diadakan kurang dari satu Minggu," jelas Thalia dengan suara tegas. Damar memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan yang dia kenakan. Pria itu mengangguk pelan sebagai respons. Dia melirik Thalia yang mendudukkan diri di kursi taman setelah beberapa saat mereka memilih berdiri, pria itu segera menghampiri Thalia dan mendudukkan dirinya di tempat yang sama. "Okay, tidak ada salahnya pernikahan kita dilakukan dengan cepat." Damar tersenyum miring. "Membantu orang miskin yang membutuhkan uang tentu saja membuat saya mendapatkan pahala, bukan?" sambung pria itu. Thalia mendengus kasar, dia melirik sinis Damar. Perempuan itu memilih untuk tidak merespons daripada harus terpancing emosi dan berujung dia balas memaki Damar. Bisa gawat karena Damar sumber uangnya saat ini. "Wah, Pak Bos tiba-tiba nikah. Pak Bos nggak hamilin anak orang, 'kan?" Thalia terkesiap, lamunan perempuan itu buyar. Dia mengerjapkan mata perlahan, perempuan itu berusaha menarik kembali kesadarannya. Thalia memandang pria tampan yang tingginya hampir sepantaran dengan Damar hanya saja Damar jauh sedikit lebih tinggi. Thalia segera berdiri saat pria itu mengulurkan tangannya. "Selamat ya. Semoga kuat berhadapan sama batu kayak Pak Bos," ucapnya sembari menyalami tangan Thalia. Thalia tersenyum canggung lantas mengangguk pelan. "Terima kasih." Melihat dan mendengar itu membuat Damar berdecak keras, dia menarik kerah baju pria itu dan menyeretnya ke hadapannya. Damar memandang pria itu dengan tatapan tajam, sedangkan pria itu hanya menyengir tanpa rasa bersalah. "Jangan ngomong aneh-aneh!" tegas Damar. "Iye-iye, galak bener udah berbini padahal," kesal pria itu. "Dilan ...!" Damar menggeram tertahan membuat pria itu berdecak lantas menganggukkan kepala dengan cepat. "Iya-iya, ngerti." Dia menatap Damar dengan malas. "Mending gue makan," cetusnya lantas turun dari altar. Damar membuang napas lega setelah kepergian Dilan, sedangkan Thalia mengerjap pelan. Dapat perempuan itu simpulkan jika pria bernama Dilan itu adalah sahabat sang suami. "Kamu abaikan dia saja, dia memang gila," celetuk Damar dengan nada suara datar. "Iya." Astrid berjalan mendekati keduanya dengan senyum lebar dan tatapan berbinar. Siapa pun tahu seberapa bahagianya Astrid sekarang, binar bahagia dan aura kebahagiaan wanita paruh baya itu begitu terpancar sejak tadi. "Nak, bawa istrimu ke kamar. Thalia butuh istirahat, dia pasti capek dan gerah." Astrid memerintah Damar dengan lembut. Thalia menggeleng. "Tamunya gimana, Nyo—" "Panggil Mama, Thalia!" potong Astrid dengan cepat. "Tamunya biar jadi urusan Mama," sambung wanita itu. "Baik, Ma," sahut Thalia pasrah. *** Thalia masuk ke dalam kamar pengantin, perempuan itu masih mengenakan gaun pengantin. Dia baru saja berbicara dengan Astrid, Thalia melirik Damar yang duduk di sofa. Menghela napas, Thalia melangkah menuju meja rias dengan yakin, Thalia sangat yakin tidak akan ada malam pertama seperti pernikahan pada umumnya. Damar yang melihat Thalia tersenyum miring, pria itu berdiri. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku celana kain yang dia kenakan, Damar melangkah mendekati perempuan yang kini sah menjadi istrinya. Tatapan Damar berhasil membuat Thalia tak beranjak dari tempatnya, pria itu terlihat menakutkan di matanya. Keyakinan Thalia rasanya memudar melihat tatapan buas Damar. "Cepat buka baju kamu dan layani saya!" Perempuan dengan balutan gaun pengantin itu melotot tak percaya, dia menggelengkan kepalanya cepat. Thalia, perempuan cantik itu mundur satu langkah saat pria di hadapannya berjalan mendekat. Dia mengangkat tinggi-tinggi gaun pengantinnya. "Saya nggak mau!" tolak Thalia mentah-mentah. "Katanya nikah kontrak, kenapa saya jadi harus layanin Bapak?!" "Saya bayar kamu 500 juta dan kamu pikir saya mau rugi?! Tugas seorang istri tetap ngelayanin suaminya!" sahut Damar, nada bicara pria itu naik satu oktaf. Thalia kembali menggelengkan kepala, dia merasa dipermainkan di sini. Pria itu mengatakan hanya menikah dan itu bukan pernikahan asli alias bohongan, lalu kenapa sekarang Damar menagih haknya? Mengacak rambut frustrasi, Thalia kembali mundur selangkah saat Damar mendekatinya, lagi. "Kamu pilih buka baju kamu sendiri atau saya yang bukain?" Nada tenang pria itu seakan mengancam Thalia. Thalia menggeleng cepat. "Saya nggak mau! Saya balikin aja deh uangnya, saya nggak mau ngelakuin itu sama orang yang nggak saya cinta," tutur Thalia dengan napas terengah, gugup sekaligus kesal karena merasa terpojokkan. Damar menyeringai, dia melangkah perlahan ke arah perempuan itu. Sementara Thalia terus melangkah mundur sampai punggungnya menabrak tembok, dia melihat ke kiri dan kanan lantas berdecak pelan. Kembali menatap Damar, Thalia menggeleng panik, wajah perempuan itu berubah pucat saat menyadari jarak antara dirinya dan Damar sedikit. "Pak ...," lirih Thalia dengan tatapan memelas. Damar menarik Thalia dengan kuat, dia memeluk pinggang Thalia. "Saya nggak peduli, 500 juta yang saya kasih setidaknya bisa buat saya nikmatin tubuh kamu," bisik Damar di telinga Thalia lantas membawa tubuh Thalia ke ranjang. Thalia menutupi tubuhnya dengan selimut, wanita itu memandang bengis sosok pria yang baru saja sah menjadi suaminya. Thalia masih ingat dengan jelas bagaimana pergulatan mereka dua jam lalu, tatapan Thalia tak sedikit pun lepas dari Damar yang tengah mengancingkan pakaiannya. Damar menoleh ke belakang, dia lantas melempar sebuah kartu ke ranjang. Melihat itu, Thalia menaikkan sebelah alisnya. Dia seperti wanita yang dibeli Damar walau memang begitu kenyatannya. "Di sana ada 500 juta, Pinnya tanggal pernikahan kita. Setiap bulannya akan ada 500 juta yang masuk ke kartu itu," jelas Damar. Thalia mengambil kartu tersebut dan mengamatinya, apa yang dia dengar dari Damar terasa enteng. Pria itu seolah tak ada beban mengatakan itu, jika itu dirinya sudah dapat dipastikan napas Thalia akan terengah-engah duluan. "Okey, makasih," ucap Thalia. Damar mengangguk. "Jangan sampai Mama tau pernikahan kita hanya kontrak," ucap Damar. Thalia mendengus. "Iya, Bapak Damar yang terhormat." Kesal Thalia. Damar mengangguk saja lantas pergi begitu saja dari kamarnya. Thalia yang melihat itu merenggut kesal sendiri, perempuan itu berdecak kesal sembari membuka selimut dan melihat tubuhnya sendiri, Thalia meringis melihat banyaknya bercak merah. "Ada gitu manusia menyebalkan kayak dia?" tanya Thalia pada diri sendiri. "Sombong sama angkuhnya nyampe seribu aura," lanjutnya seraya mengubah posisi menjadi duduk. Thalia rasanya ingin meremas wajah Damar hingga tak berbentuk. Wajah dingin, datar, angkuh, dan tatapan elang pria itu adalah perpaduan yang paling menyebalkan. "Emang sih nikah sama dia memperbaiki keturunan, tapi sombongnya nggak layak dikasih ke keturunan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN