Rudianto meletakkan cangkirnya di atas meja halaman belakang rumahnya setelah meneguk teh hangatnya. “Jadi, siapa yang akan menggantikan Papa mengurus bisnis kita?” Sri menghela nafasnya. Ia sudah cukup lelah menghadapi kelakuan anak – anaknya yang sudah berhasil membuat emosinya meningkat. “Masa kita harus menunggu punya cucu dulu? Belum tentu Papa masih ada umur ketika cucu kita besar.” “Ya habis gimana dong, Pa? Papa kan tau sendiri gimana anak – anak Papa itu. Yoga mau punya law firm milik dia sendiri. Mama gak yakin dia bisa total ngurus bisnis kita kalau dia tetap fokus mengurusi pekerjaannya sebagai pengacara itu. Yuni? Aduh, udah deh, Pa. Mama gak mau lagi berantem sama Yuni.” “Ma, kita punya anak satu lagi, lho.” Kedua mata Sri terbelalak saking terkejutnya. Setelah ia setia

