“Winda belum mengantuk?” tanya Windi kepada putrinya yang datang membawakan sepiring sate. “Sudah jam sepuluh malam.” “Anehnya Winda tidak mengantuk, Ummi.” Windi menerima suguhan itu. “Makanlah kemudian tidur,” katanya meski besok libur juga. Winda menatapnya dalam, “Sakitkah? Haid itu.” Windi mengangguk pelan. “Awalnya, tapi tidak selalu. Biasanya haid terasa ngilu, capek, dan malas. Sesekali rasanya sangat tidak nyaman. Orang-orang bisa jadi bersalah tanpa sebab di mata kita.” “Aneh sekali,” komentarnya ngeri. “Hm.” Wandi mengangguk setuju. “Pengaruh hormon. Sel-sel yang Allah letakkan dalam tubuh kita bekerja keras sekali, tidak ada liburnya.” Winda menyodorkan lagi sate yang belum tersentuh ibunya, “Makanlah, Ummi.” Windi akhirnya mengambil sate dan menikmatinya. Baru setelah

