Biasanya Windi adalah pribadi yang senang sekali berpikiran positif kepada orang lain, tapi kali ini tiba-tiba saja dia melabeli langsung teman putrinya sendiri. Bagas memeluknya, mungkin pengaruh kehamilan sehingga begini istrinya. “Tenang, Sayang. Winda lebih dekat dengan kita daripada dia. Kita bisa tanyai Khadijah tentang temannya yang lain juga.” Windi beranjak sabar setelah diselubungi kehangatan suaminya. “Lebih baik Winda tak punya teman daripada berteman dengan orang yang salah, Tuan.” “Ya.” Bagas ambil aman saja. Sejujurnya ia punya penilaian berbeda. Menilik kilas balik hidup istrinya sendiri, Windi dulu selalu berharap perubahan baik dari Venita, ibu tirinya meskipun selalu berakhir kecewa sampai menutup mata perempuan jahat itu. Tapi, Bagas pikir Windi ada benarnya juga. W

