10

4276 Kata
Sharleen benar-benar kembali keesokan harinya. Justin yang sedang menunggu Queen berenang mendapat kejutan yang sangat hebat saat Sharleen langsung menghambur ke pelukannya begitu tiba, seakan mereka tidak pernah bertengkar hebat sebelumnya. ''Ada apa??''tanya Justin bingung setelah Sharleen melepaskan pelukannya. Sharleen duduk di sebelah Justin di kursi berjemur. ''Kalau selama ini kau mengira Angelica bahagia, pasti kau gak akan percaya kalau melihat Angelica sekarang. Dia benar-benar bercahaya. Terlihat begitu bahagia.''seru Sharleen senang hingga melupakan semua rasa enggannya pada Justin. ''Benarkah??''tanya Justin ikut antusias. Bagi Justin sendiri entah kenapa dia memang memberi perhatian yang lebih pada Sharleen dan Angelica. ''Aku awalnya mengira dia membutuhkan perhatian lebih karena akan bercerai dengan Brian. Tapi ternyata sudah ada seseorang yang menemaninya selama ini. Aku bersyukur Rubben ada disana. Dia terlihat begitu baik sampai-sampai aku mengira kalau dia menyukai Angelica.''jelas Sharleen pelan. Justin duduk dengan sedikit tegang. ''Apa pria itu baik pada Angelica??''tanya Justin cemas karena Rubben jarang bersikap baik dengan orang yang bukan keluarganya. Karena itu sampai sekarang pria itu belum menikah padahal ada banyak wanita yang menyukainya. Gen keluarga Alasdair memang digariskan untuk mempesona orang. Tapi hanya Rubben Alasdair satu-satunya keturunan Alasdair yang bisa bersikap manusiawi. ''Sangat baik. Dia memasak, membantu Angelica mengurus masalah perceraian. Kalau saja aku tidak melihatnya sendiri, aku juga tidak akan percaya.''jawab Sharleen yang tanpa disadarinya semakin menambah kecemasan Justin. ''Jadi sebenarnya apa sidang cerainya sudah selesai??''tanya Justin memastikan. Sharleen menggeleng. ''Kalau begitu, kenapa kau sudah kembali??''tanya Justin lagi. ''Aku hanya... Aku hanya...'' ''Hanya apa??''tanya Justin lembut. Sharleen berusaha untuk tidak melihat wajah Justin, tapi itu sulit karena Justin sudah berpindah tempat. Pria itu sekarang sedang duduk di depan Sharleen dengan wajah yang sangat dekat dekat dengan muka Sharleen. ''Jangan memaksaku mengatakannya!''ucap Sharleen yang langsung memalingkan wajahnya. ''Apa aku boleh menganggapnya sebagai pernyataan kalau kau merindukanku??''tanya Justin serak yang sedetik kemudian langsung mencium bibir Sharleen. Ciuman itu berlangsung cukup lama, sampai Justin sudah akan membaringkan Sharleen di kursi jemur dan bercinta dengan wanita itu kalau tidak ada gangguan dari dunia nyata. ''Maaf, bukan maksudku untuk mengganggu kesenangan kalian. Tapi bukankah lebih baik melakukannya nanti malam di kamar??''tegur Queen geli melihat adegan itu. Justin memang bukan pria sempurna, ada banyak sekali kekurangan pria itu, apalagi kalau dilihat dari sifat. Tapi, Queen sangat tahu kalau kakaknya itu sangat perfeksionis kalau urusan bercinta. Justin tidak akan melakukan hal se'nakal' itu di luar kamar apalagi saat ada orang lain bersama mereka. Queen tahu hal itu karena Queen juga seperti itu. Sudah seminggu Justin menghabiskan waktunya di Eleanor House untuk menemani Queen menenangkan diri. Selama seminggu itu, Justin selalu menghindarkan pekerjaannya dari pandangan Queen dan Sharleen. Sebisa mungkin saat kedua wanita itu masih terjaga, Justin tidak akan memperdulikan pekerjaannya. Tapi tetap saja itu tidak mungkin. Karena itu, setelah memastikan Queen selalu tidur lebih cepat dan membiarkan Sharleen tidur setiap mereka selesai bercinta, Justin akan melarikan diri ke ruang Lotus untuk bekerja. Ada banyak sekali yang harus dikerjakannya, ada beberapa proyek baru yang menuntut perhatiannya lebih banyak. Dan hari ini, Justin harus mengantar adiknya itu kembali ke rumah. ''Aku akan mengantar Queen ke rumah. Dan setelah itu aku akan kembali lagi kesini sebelum ke bandara. Aku harus kembali ke New York walaupun sebenarnya aku ingin menghabiskan waktuku lebih lama disini.''pamit Justin saat dia sedang mengenakan pakaiannya sementara Sharleen masih berbaring di tempat tidur pagi itu. Sharleen meraih jubah tidur Justin yang berada di dekatnya kemudian mengenakannya, ''Pergilah langsung ke bandara. Jangan dikira aku tidak tahu kalau setiap malam kau meninggalkan aku dan bekerja di ruang Lotus. Queen juga tahu kalau kau tetap bekerja setiap malam. Kau ternyata tidak sepintar yang terlihat.''ujar Sharleen lembut. Justin tersenyum dan kemudian mengecup Sharleen cepat. ''Aku menyukaimu. Tapi aku berjanji aku akan kembali secepat yang aku bisa. Kali ini, jangan meninggalkanku, Nona.''tegur Justin. Suka, Sharleen. Bukan mencintaimu. Jangan berharap kalau dewa akan menyukai manusia sementara masih banyak dewi yang bersedia hidup bersamanya. ''Aku akan menunggumu disini. Tapi jangan tidak setia. Kau tahu, kau sangat berbakat mempesona siapa saja. Ada banyak wanita diluar sana yang menginginkanmu sebesar aku menginginkanmu. Jadi, jang...'' Belum selesai Sharleen bicara, Justin sudah menciumnya. ''Sudah cukup, Nona. Aku tidak ingin terlambat mengantar Queen dan kemudian dia datang ke kamar saat aku sedang bercinta denganmu.''tegur Justin yang terlihat tersiksa karena harus menjadi orang pertama yang bertindak dengan rasio. ''Telpon ke sini kalau kau begitu merindukanku. Aku akan lebih banyak menghabiskan waktu di kantor.''sambung Justin sambil memberikan kartu namanya. Dan ini nomor ponselku. Kau tidak akan menerima nomor antrian kalau menelpon kesini. Hanya keluargaku yang tahu nomor ini.'' Sudah tiga hari Justin kembali ke New York, dan Sharleen sama sekali belum ada menghubungi Justin sekalipun. Sharleen sebenarnya sangat ingin mendengar suara Justin walau tidak dapat bertemu dengan si pemilik suara. Tapi Sharleen berusaha untuk tidak terlalu memanjakan diri dengan apapun yang bisa di dapatkannya dari Justin, karena Sharleen sendiri tidak yakin apakah Justin serius dengannya atau tidak. Pekerjaan merenovasi Eleanor House juga bukan masalah kecil karena hampir seluruh ornamen di rumah itu sudah cukup tua dan berharga nilai jual yang sangat tinggi. Setelah memastikan daftar bagian rumah yang membutuhkan perbaikan, Sharleen memutuskan untuk menelpon Justin malamnya untuk membicarakan apakah bagian-bagian yang sudah Sharleen data itu boleh diganti dengan ornamen baru atau hanya dipugar sedikit saja. Hampir dua jam Sharleen mencari kartu nama yang diberikan Justin, tapi benda kecil itu tidak ditemukan dimanapun. Sharleen pasrah dan memutuskan untuk mencari nomor telpon Justin yang bisa dihubungi di buku telpon. Hanya ada nomor telpon kantor pusat KMC. ''Maria Hoffman.''ujar suara di seberang begitu telpon diangkat. ''Apa Justin ada??''tanya Sharleen cepat. ''Dari siapa??''tanya Maria balik. ''Sharleen Reynard.'' Maria menghela napas panjang, setelah dua hari Justin meninggalkan kantor, baru kali ini ada wanita yang menanyakannya di telpon kantor. ''Maaf, Ms. Reynard. Mr. Murphy tidak ada di kantornya. Apa ada pesan??''tanya Maria sopan. ''Apakah anda bisa memberikan nomor telpon tempat tinggalnya??''tanya Sharleen lagi. Lima menit kemudian Sharleen sudah mendapatkan dua nomor telpon tempat tinggal Justin. Yang pertama adalah nomor telpon rumahnya, dan yang satu lagi adalah nomor telpon apartemennya. Setelah menimbang beberapa kali akhirnya Sharleen memilih untuk menelpon ke apartemen Justin. Telpon Sharleen langsung diangkat pada dering kedua. Suara seorang perempuan yang cukup merdu terdengar dari seberang. ''Juddy Blaire.'' Sharleen terdiam. Juddy Blaire adalah artis yang menjadi pasangan Justin saat acara malam penghargaan. Jadi kenapa wanita itu ada di apartemen Justin?? ''Saya Sharleen Reynard, arsitek yang menangani Eleanor House, apa Justin Murphy ada??''tanya Sharleen cukup sopan mengingat dia sedang dalam keadaan yang buruk saat mengetahui ada wanita lain di apartement Justin. ''Justin sedang keluar. Ada pesan??''tanya Juddy terdengar serius. Tanpa sadar Sharleen meneteskan air mata. ''Tidak perlu. Aku akan menghubungi lagi nanti. Terima kasih.''ujar Sharleen yang langsung menutup telpon begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Juddy. Kau melakukannya lagi Justin. Dan kali ini wanita itu ada di rumahmu. Apa aku memang tidak berarti apapun bagimu?? Apa arti keberadaanku hanya sebatas teman kencanmu yang tidak pantas kau pikirkan perasaannya??pikir Sharleen pahit. Sharleen langsung membereskan semua barang-barang beserta pakaiannya. Sharleen harus keluar dari Eleanor House kalau memang tidak ingin bertemu dengan Justin lagi. Dia pasti akan jatuh dalam pelukan Justin lagi kalau dia masih tinggal di Eleanor House. Semua pekerjaan renovasi itu masih bisa Sharleen lakukan walaupun tidak tinggal di Eleanor House. Setelah memastikan tidak satupun barangnya yang tertinggal, Sharleen langsung memacu mobilnya menuju hotel terdekat. ''Andy... Ini aku, Sharleen. Aku memutuskan untuk tinggal di hotel. Karena itu, kalau kau membutuhkanku, kau bisa menelpon ke hotel saja.''ujar Sharleen begitu sampai di kamarnya langsung menelpon atasannya. ''Ini bukan gayamu. Ada apa??''tanya suara di seberang. ''Tidak ada apa-apa. Hanya saja aku ingin tinggal di hotel saja. Rumah itu terlalu indah. Aku takut, semakin lama aku tinggal disana, semakin tidak ingin aku meninggalkan rumah itu.''jawab Sharleen yang lebih mengarah pada si pemilik rumah. ''Baiklah, kalau itu memang keputusanmu. Bekerjalah dengan baik, ini kesempatan kita untuk berkembang.''ucap Andy mengingatkan. Sayangnya aku tahu itu. Karena kalau tidak, aku dari awal tidak akan mau menerima proyek ini.pikir Sharleen enggan yang langsung menutup telpon setelah mengucapkan selamat malam. Sementara itu di London, Justin sedang makan malam bersama kedua orangtuanya dan Willy. Justin sengaja meluangkan waktunya karena dia merindukan kedua orangtuanya, hanya saja saat mendapati Willy juga ada disana, Justin merasa ini adalah hadiah kejutan. Justin masih menikmati makan malamnya saat Patrick memanggilnya dengan serius. ''Ada apa, Dad?? Kau terlihat begitu serius.''tanya Justin. ''Kemarin Abraham menelponku. Dia ingin ber...'' ''Jangan sebut nama itu Dad! Aku ingin menikmati makan malamku, please??''sela Justin sebelum Patrick sempat menyelesaikan ucapannya. ''Sampai kapan kau akan menghindar, Sayang??''tanya Ellga lembut. Justin meletakkan garpu dan pisaunya,''Aku tidak pernah menghindar dari apapun. Aku hanya tidak ingin membahasnya ataupun wanita sialan itu.''jawab Justin pelan. Ellga menyentuh lengan anaknya dengan lembut,''Jaga ucapanmu, sayang. Dan walau bagaimanapun, sebenci apapun kau pada mereka, mereka tetap orangtuamu.'' ''Orangtua macam apa yang meninggalkan anaknya terkurung di dalam kamar sementara mereka selingkuh dengan pasangan masing-masing?? Orangtua macam apa yang meninggalkan anaknya di panti asuhan sementara mereka hanya pergi berpesiar??''tanya Justin geram,''Aku tidak akan mempermasalahkannya karena aku mendapatkan yang jauh lebih baik akibat perbuatan mereka. Tapi semua ini membuat Queen menderita, dan aku tidak akan bisa memaafkan itu sampai kapanpun.''tegas Justin yang kemudian langsung meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamarnya. Bekerja akan membuatku lebih tenang.pikir Justin yang langsung duduk di meja kerjanya dan mulai menyalakan komputernya. Justin sedang meneliti laporan sahamnya di perusahaan lain saat matanya menangkap sesuatu. Dengan cepat Justin menelpon Maria. ''Apa yang terjadi dengan Olympus Enterprise??''tanya Justin cepat bahkan tanpa mengucapkan 'halo'. Maria disaat yang sama juga sedang memeriksa laporan untuk Justin cukup terkejut mendapat telpon dari atasannya itu dan menanyakan keadaan perusahaan tempat saham Justin paling kecil. ''OE sedang mengalami krisis. Tapi mereka masih menolak untuk menjual saham mayoritas ke pemilik saham minoritas.''jelas Maria singkat tapi cukup menjawab pertanyaan yang masih di dalam kepala Justin. ''Siapa saja pemilik saham minoritas??''tanya Justin cepat. Maria diam sejenak, dia memeriksa data di komputernya. ''Richard Ritchie, Rubben Alasdair, Lee Jae Jung, Monica Martan, dan anda sendiri.'' ''Begitu?? Baiklah, buat janji temu dengan Lee Jae Jung dan Monica Martan. Besok aku akan kembali ke New York.''ujar Justin yang langsung memutuskan sambungan tanpa menunggu jawaban dari Maria. Apa krisis ini yang membuatmu ingin bertemu denganku?? Setelah kau, apa Deasy juga akan meminta untuk menemuiku?? Kita lihat saja. Sampai kalian berlutut memintaku membantu kalian keluar dari krisis ini, aku tidak akan melakukannya. Masa-masa aku membutuhkan kalian sudah lewat. Dan selama itu kalian tidak pernah ada disampingku.pikir Justin benci lalu mulai memeriksa lagi semua sahamnya di perusahaan lain. *** Justin benar-benar lelah selama seminggu ini. Bagaimana tidak kalau dalam minggu ini, dia melakukan perjalanan dari satu benua ke benua lain. Lee Jae Jung, pemilik perusahaan computer di Korea sama sekali tidak bisa menemui Justin di New York, pria itu sedang sibuk dengan perusahaannya di Korea yang pada akhirnya menuntut Justin untuk terbang ke Asia. Monica Martan, wanita penguasa hampir setengah perekonomian Italy itu memang tidak meminta Justin untuk datang ke Negara Pizza itu, tapi dia meminta Justin untuk datang ke rumah peristirahatannya di Sisilia, yang berarti Justin harus melakukan penerbangan ke Eropa. Justin bersyukur karena Richard Ritchie sudah pindah ke Dallas, yang artinya Justin tidak perlu melakukan perjalanan ke Australia, begitu juga dengan Rubben Alasdair. Semua perjalanan yang melelahkan serta menghabiskan banyak waktu itu tidak berakhir dengan sia-sia. Justin berhasil meyakinkan keempat pemilik saham OE itu untuk menjual sahamnya pada Justin. Dengan ini, bukan pemilik OE yang memiliki saham mayoritas, tetapi Justin. Pemilik OE memang sangat pandai dengan hanya menjual saham perusahaannya pada Lee Jae Jung 5%, Monica Martan 10%, Richard Ritchie 15%, Justin 15%, dan Rubben 20 %. “Maria, apa minggu ini ada pertemuan penting??”tanya Justin pelan lewat intercom. “Tidak ada, Sir. Hanya beberapa pertemuan yang semuanya sudah diwakilkan oleh Mr. Anthony Sparey.” “Baguslah. Aku akan ke Dallas. Kosongkan semua jadwalku minggu ini. Dan kalau, kalau Abraham Alasdair atau Deasy Alasdair datang, tolak saja mereka kecuali mereka ingin membicarakan kesepakatan bisnis. Kalau memang itu tujuan mereka, aku akan meluangkan waktuku. Dan jangan sesekali memberitahukan dimana aku atau nomor telponku pada mereka kalau kau masih ingin bekerja.”tegas Justin cepat,”Kalau kau sudah selesai, kau boleh pulang.”lanjut Justin pelan yang kemudian memutuskan pembicaraan. Aku sudah merindukan Sharleen. Entah apa kabarnya, dia tidak pernah menghubungiku sekalipun, dan telponku ke Eleanor House juga tidak di angkat. Aku tidak tahu nomor ponselnya. Aku benar-benar merindukannya.pikir Justin hangat saat otaknya memikirkan Sharleen. Sharleen baru saja selesai mandi saat bel kamarnya berbunyi. Sharleen cepat-cepat ke kamar dan memakai pakaian yang seadanya dan kemudian berlari membuka pintu. Sharleen hanya memikirkan kemungkinan yang datang adalah Layanan Kamar karena Sharleen memang memesan sarapannya agar diantarkan ke kamar. Tapi siapapun yang datang itu bukanlah bellboy ataupun orang yang Sharleen harapkan. “Apa yang kau lakukan disini??”tanya tamu tak diundang itu “Seharusnya itu kalimat yang aku tanyakan, Matheo Faubel. Apa yang kau lakukan disini??”tanya Sharleen balik. Theo tersenyum lembut,”Aku juga menginap disini. Jangan lupa kalau selain menjadi dewan kota, aku juga seorang bisnisman. Sewaktu sarapan aku melihatmu berenang.”jawab Theo jujur. “Lalu, apa kau menanyakannya pada resepsionis??”tanya Sharleen langsung. “Aku mengatakan kalau kau tunanganku yang melarikan diri. Dan dia langsung memberitahukan kamarmu padaku.” Sharleen menatap Theo dengan tatapan menyelidiki dan kemudian merubah pandangannya,”Aku bukan tunanganmu. Kau sudah memiliki istri, Theo. Carina yang terbaik untukmu, bukan aku. Lupakan aku dan jangan pernah menemuiku lagi. Apa yang terjadi antara kita sudah berakhir.”tegas Sharleen. “Benarkah??”tanya Theo yang kemudian langsung menarik Sharleen ke dalam pelukannya dan mencium Sharleen. Dulu Sharleen selalu menganggap kalau ciuman Theo sangat memanjakan. Tapi setelah bertemu Justin, ciuman ini tidak ada apa-apanya. Ciuman Justin jauh lebih menghanyutkan. Theo melepaskan Sharleen begitu menyadari kalau Sharleen tidak merespon ciumannya. “Apa kau sudah puas?? Apa kau bisa meninggalkan aku dan jangan pernah menemuiku. Bisakah??” ''Kau tahu kalau itu tidak mungkin. Aku akan kembali lagi nanti.''ujar Theo yang kemudian memilih untuk pergi dari kamar Sharleen. Sharleen menutup pintu kamarnya, dan memilih berganti pakaian dengan pakaian yang sedikit lebih rapi menjelang room service datang. Tapi ternyata semua tidak sesuai keinginan Sharleen. Baru saja dia membuka lemari, bel kamarnya kembali berbunyi. Lagi-lagi yang datang bukanlah room service. Angelica berdiri di depan kamar Sharleen dengan wajah pucat. ''Apa yang kau lakukan disini??''tanya Sharleen cemas sambil menarik Angelica masuk. ''Brian... Dia mencuri surat tanah..''ujar Angelica getir. ''Surat tanah yang mana?? Satu-satunya surat tanah...''Sharleen berhenti. Hal yang paling tidak diinginkannya terjadi. ''Apa surat tanah rumah??''tanya Sharleen pelan. Angelica mengangguk pasrah. ''Maafkan aku! Aku tahu rumah itu sangat berarti bagimu. Ini semua salahku karena aku memberi Brian kesempatan.''ucap Angelica mulai histeris. ''Kau dan Brian tidak bercerai??''tanya Sharleen pelan. ''Dia tiba-tiba mengatakan kalau dia ingin berubah dan ingin kembali padaku. Dia bersungguh-sungguh waktu itu, Sharleen. Bahkan saat tahu kalau Rubben tinggal di rumah dia tetap bersikap baik. Dia yang selalu emosi sama sekali tidak marah saat Rubben bersamaku. Dia kembali ke rumah. Tapi dia berbohong. Saat aku pergi ke kota, dia mencuri surat tanah itu.''jelas Angelica mulai terisak. Sharleen memeluk ibu tirinya itu. ''Apa yang Rubben lakukan??''tanya Sharleen curiga. ''Jangan mencurigainya. Dia yang mengatakan padaku untuk memberi Brian kesempatan. Dia pergi tiga hari setelah Brian kembali ke rumah. Saat itu aku selalu memeriksa surat-surat. Kau tahu kalau aku selalu melakukannya.''jelas Angelica serak. ''Benarkah yang aku dengar?''tanya sebuah suara yang langsung membuat Sharleen dan Angelica spontan mencari si pemilik suara serak yang sangat menggoda itu. Sharleen langsung berdiri. ''Bagaimana kau masuk dan kenapa kau ada disini?? Aku tidak ingin melihatmu lagi!''ucap Sharleen dingin. ''Kau sama sekali tidak menutup pintu. Dan kenapa aku disini bukan hal yang penting sekarang. Apa yang aku dengar tadi benar?? Apa Brian memang mencuri surat tanah rumahmu??''tanya Justin lagi. ''Itu bukan urusanmu!”tegas Sharleen ketus. Justin mendekati Sharleen dan duduk di hadapan Angelica. “Itu jelas urusanku. Aku tidak mau bertetangga dengan orang yang tidak dapat dipercaya. Jadi tolong ceritakan apa yang terjadi padaku.”ucap Justin lembut. Sharleen menarik napas dalam,”Pergilah, Justin. Aku tidak sanggup bertemu denganmu lagi. Ini masalah kami, dan kau tidak ada sangkut pautnya dengan ini.” “Aku rasa ada kesalahpahaman lagi.”tebak Justin tepat,”Aku akan menceritakan apa hubunganku dengan masalah ini kalau kalian bersedia menceritakannya padaku. Kalau Brian Brooke memang mencuri surat itu, hanya aku yang bisa membantu kalian.” Angelica mengangkat kepalanya,”Aku rasa tidak. Aku rasa ada seseorang yang bisa membantuku.”ujar Angelica tiba-tiba. “Siapa??”tanya Justin cepat. “Rubben Alasdair.”jawab Angelica tidak kalah cepat. Justin tersenyum dan kemudian meremas tangan Angelica lembut, “Dia tidak akan bisa membantumu. Hanya aku, Angelica. Jadi, bekerja samalah.” “Dia bisa. Dia membeli tanah kami. Dia tahu kalau hanya rumah itu yang terpisah.”ucap Angelica berkeras dengan ucapannya. “Berarti kau tidak teliti saat menandatangani perjanjian jual beli itu. Rubben Alasdair bekerja untukku, dia Manager yang menangani semua proyek-proyekku. Jabatannya setingkat dengan wakilku di perusahaan. Aku yang meminta dia untuk menangani pembelian tanah itu karena kalau aku yang melakukannya, sampai kapanpun kau tidak akan menjual tanah itu padaku.”jelas Justin tenang. Angelica menarik tangannya secepat yang dia bisa,”Kau memang licik! Aku masih ingat bagaimana Brian dipecat begitu saja tanpa alasan dari perusahaanmu padahal dia sudah bekerja sebaik mungkin sebagai manager pemasaran. Kalau saja aku masih mencintai Brian, kau akan kubunuh sekarang juga. Kenapa aku harus menyayangimu, Justin! Kau licik! Kau b******k! Sialan, kau!”maki Angelica mulai histeris lagi. “Jangan ucapkan apa yang akan kau sesali nanti, Angelica.”tegur Justin lembut.”Lama aku berpikir saat Rubben mengucapkan nama Brian Brooke. Aku merasa pernah mendengar nama itu, dan ternyata aku benar. Maria mencarikan datanya untukku, dan aku ingat dengan jelas kenapa aku memberhentikannya.” “Dia harusnya bersyukur karena aku hanya memberhentikannya, bukan memasukkannya ke penjara. Dia sudah menggelapkan dana pengiriman barang selama dua bulan. Bukan hanya itu, dia juga menaikkan harga tanpa persetujuan serta menjual barang-barang di pabrik tanpa izinku. Pemasaran yang dia tangani bukan bahan makanan, Angelica. Dia menangani pemasaran computer dan mobil. Jujur, kerugian yang dia lakukan selama dua bulan terakhir yang kami ketahui memang tidak memberikan efek yang berarti. Tapi berapa banyak konsumen kami yang dia rugikan??”jelas Justin kemudian. “Hanya aku yang memiliki bukti kejahatannya dulu. Kalau kalian mengizinkan aku membantu kalian, surat tanah itu bisa kembali dengan mudah. Aku yakin Gubernur akan membantuku, karena dia-lah yang membereskan masalahku kemarin.” Angelica langsung lemas mendengar penjelasan Justin,”Benarkah?? Apakah semua itu bisa dipercaya??” “Percayalah. Aku memang tidak terlalu terbuka, tapi aku tidak pernah berbohong.”ujar Justin meyakinkan,”Aku bersyukur kedua orang b******k itu memberikan nama yang cukup berarti.”lanjut Justin kemudian yang nyaris hanya bergumam. “Kalau kau memang bisa menyelamatkan rumah itu, tolong aku. Rumah itu sangat berarti bagi Sharleen. Setelah semua tanah yang kami jual, hanya rumah itu satu-satunya peninggalan ayah Sharleen.”ucap Angelica serak menahan tangis. “Cukup! Aku tidak peduli dengan nasib rumah itu. Aku tidak mau berhubungan lagi denganmu.”ucap Sharleen dingin. Justin tidak memperdulikan ucapan Sharleen,”Beri aku waktu untuk bicara dengan Sharleen. Di bawah ada supirku, dia akan membawamu ke Eleanor House. Kau bisa tinggal disana sampai kita berangkat ke Bellingham.”ujar Justin lembut. 15 menit kemudian di dalam kamar hanya ada Justin dan Sharleen. Mereka berdiri sangat berjauhan, Sharleen berdiri di dekat jendela kamar sementara Justin duduk di tempatnya semula. “Katakan padaku apa yang membuatmu kembali bersikap buruk seperti ini.”ujar Justin. “Kau bilang aku bersikap buruk?? Yang benar saja! Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, Justin Alexandre Murphy?! Kau sudah mendapatkan semuanya! Kau berhasil membuatku mencintaimu! Kau berhasil membuatku terpesona padamu hingga tidak seorang pria pun yang bisa menandingi semua kelebihanmu. Kau juga sudah berhasil mempermainkanku!”tanya Sharleen emosi,”Apa semua itu belum cukup sampai-sampai kau menyiapkan wanita cadangan di rumahmu??”tanya Sharleen kemudian. Tiba-tiba Justin tersenyum, dia menyadari apa yang membuat Sharleen marah seperti itu. “Aku tidak pernah mempermainkanmu. Aku bangga kalau kau memang terpesona padaku, dan aku sangat bahagia mendengar kau mencintaiku. Dan apa yang kau berikan padaku sudah melebihi apa yang aku inginkan. Apa kau sudah lupa kalau aku pernah mengatakan kalau aku menyukaimu??”tanya Justin lembut. “Aku wanita keberapa??” “Apa??” “Kau sudah menyatakan kau menyukai wanita pada berapa wanita?? Dan aku wanita yang keberapa??”tanya Sharleen ketus. “Aku hanya mengatakan aku menyukaimu padamu seorang. Aku tidak akan munafik dengan mengatakan hanya kau wanita dalam hidupku. Tidak, ada banyak wanita dalam hidupku dan di tempat tidurku sebelum ataupun sesudah aku mengenalmu. Tapi hanya kau satu-satunya wanita yang kusukai, hanya ada kau dalam hidupku setelah aku menyadari kalau aku menyukaimu.”jelas Justin jujur. “Lalu kenapa Juddy Blaire ada di rumahmu? Aku sangat merindukanmu hingga aku memutuskan untuk menelponmu. Tapi Juddy Blaire yang menerima telponku.” “Kau pasti menelpon ke apartemenku. ‘Rumah’ku bukan apartemenku. Tempat itu hanya ‘harem’ bagiku. Dan aku tidak pernah peduli siapapun yang ada disana. Aku tidak tinggal disana. Karena itu aku memberikan nomor telpon ‘rumah’ku padamu. ‘Rumah’ku hanya boleh dimasuki oleh keluargaku dan orang penting dalam hidupku. Tidak ada satupun dari semua wanita itu yang pernah menginjakkan kakinya ke ‘rumah’ku. Dan asal kau tahu, selama seminggu kemarin aku tidak ada di New York. Aku sibuk berkeliling dunia. Dan aku baru kembali ke New York kemarin pagi.” “Bisakah aku mempercayainya?? Membencimu menyakiti hatiku.”ucap Sharleen serak dan mulai menangis. “Aku mungkin sudah banyak melakukan kesalahan dan kejahatan, tapi aku tidak akan pernah berbohong untuk alasan apapun.” Sharleen langsung menghambur ke dalam pelukan Justin dan menangis terisak di dalam pelukan pria itu. “Tadi Theo datang menemuiku.”ucap Sharleen di d**a Justin. Sharleen dapat merasakan kalau tubuh Justin menegang. “Apa yang dilakukannya??”tanya Justin dingin. “Dia ingin bertemu denganku. Dia selalu begitu. Sejak aku pergi meninggalkannya tiga tahun yang lalu, dia selalu mengunjungiku di Washington.”jelas Sharleen pelan. “Apa kau ingin bertemu dengannya??”tanya Justin lagi. Sharleen menggeleng pelan,”Aku tidak pernah ingin bertemu dengannya. Aku sudah kehilangan perasaanku padanya tidak lama setelah aku pergi meninggalkannya. Aku sadar kalau kami tidak akan bisa bersama selamanya. Itu yang membuat aku membenci orang kaya dan keturunan darah biru.”sahut Sharleen cepat,”Aku bisa melupakan perasaanku pada Theo dengan cepat, tapi aku sama sekali tidak bisa melupakan perasaanku padamu. Saat aku ingin melupakanmu, bayanganmu menjadi semakin nyata bagiku.” Justin menjauhkan Sharleen sejauh lengannya,”Sudahlah. Lupakan masalah Faubel.”sela Justin,”Masalah yang kau dan Angelica hadapi sekarang jauh lebih penting. Dan, karena Angelica sudah berada di Eleanor House, aku sangat ingin kau juga kembali kesana.”lanjut Justin serius. “Benarkah??”tanya Sharleen. “Tentu saja. Kita akan tinggal sementara disana sampai aku memastikan kalau kita bisa berangkat ke Bellingham secepat yang aku bisa.”jawab Justin. Justin membiarkan Sharleen mengemas barang-barangnya sementara dia sendiri menelpon James untuk memastikan kalau pilot pribadinya itu siap terbang dengan izin penerbangan kapan saja. Justin berencana untuk membawa Sharleen dan Angelica ke Bellingham setelah Sharleen mendelegasikan semua tugasnya pada seseorang agar rumah tetap direnovasi walaupun Sharleen tidak ada. ''Sebenarnya bagaimana bisa kau menemukanku disini?? Aku sengaja mencari hotel yang tidak terkenal agar kau tidak bisa menemukanku.''tanya Sharleen saat mereka berdua sudah di dalam mobil jemputan milik Justin. Justin bersandar dan membuka dua kancing teratas kemejanya,''Apakah aku belum bilang kalau hotel tadi adalah salah satu hotel yang akan kubeli?? Hanya menghubungi beberapa kemungkinan hotel yang akan kau datangi dan mereka yang langsung mengabariku apakah ada tamu bernama Sharleen Reynard atau tidak.''jelas Justin pelan. ''Apa kau lelah??''tanya Sharleen kasihan saat melihat Justin yang duduk bersandar disampingnya dengan mata nyaris tertutup. Justin memejamkan matanya dan kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Sharleen, ''Aku tidak lelah kalau kau ada disampingku.''jawab Justin lalu tersenyum lembut. ''Ceritakan tentang perjalanan bisnismu.''pinta Sharleen. ''Tidak ada yang menarik. Hanya saja aku benar-benar minta maaf karena hal ini kau merasa dikhianati. Kalau saham-saham itu tidak segera kubeli, sahamku yang ada akan turun drastis. Olympus Enterprise sedang dalam masa krisis dan mereka menolak untuk menjual saham mayoritas sebesar 35%. Selama Queen disini, kau tahu kalau aku tetap bekerja malam hari. Karena itu aku tahu kalau saham-sahamku terancam. Aku menelpon Maria dan menanyakan apakah pemilik OE mau menjual sahamnya, tapi hasilnya negatif. Kalau aku mau menyelamatkan sahamku dan OE yang sebenarnya masih berpotensi untuk sukses, maka aku harus membeli saham-saham minoritas agar aku bisa menjadi pemilik saham mayoritas. Dan aku melakukannya. Aku pergi ke Korea, Sisilia, dan untungnya dua pemegang saham lainnya adalah Rubben Alasdair, pegawaiku, dan Richard Ritchie, sahabatku sejak kecil. Seharusnya aku juga pergi ke Australia kalau saja Richard bukan sahabatku, aku hanya perlu menelponnya dan dia bersedia menjual sahamnya padaku.''jelas Justin jujur. ''Kau hebat, Justin. Jadi, apa OE sudah selamat??''tanya Sharleen bangga. Justin menggeleng,''Pemilik OE sama sekali belum tahu kalau aku sudah memiliki saham yang lebih besar dari miliknya. Aku akan menunggu sampai dia benar-benar membutuhkan pertolongan dariku.'' “Kau melakukan itu?? Bukankah itu terdengar kejam??''tanya Sharleen tidak percaya. ''Tidak ada yang cukup kejam dalam bisnis, Sharleen.''gumam Justin,''Sudahlah. Hal terakhir yang ingin kubicarakan denganmu saat kita berdua adalah masalah kantor. ''Aku juga merasa seperti itu.”ucap Sharleen setuju. “Bisakah kau berjanji padaku??”tanya Sharleen kemudian. “Apa??” “Jangan bersikap baik pada wanita manapun.”ujar Sharleen tiba-tiba,”Tanpa kau bersikap baik semua wanita akan langsung tunduk dihadapanmu. Aku tidak tahan melihat kau begitu baik dan perhatian pada wanita lain. Aku selalu merasa kalau kau akan pergi dariku.” “Baiklah.”jawab Justin ringan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN