9

1993 Kata
Sharleen hanya bisa tertidur selama dua jam. Setelah itu matanya menolak untuk dipejamkan kembali. Setelah berminggu-minggu kau menghantui siang dan malamku, sekarang kau malah membuatku tidak bisa tertidur.pikir Sharleen kesal dan memutuskan untuk mandi dan kemudian membuat biskuit. Sharleen beruntung karena dia bisa membuat biskuit seperti yang Angelica ajarkan padanya. Setelah semua biskuit selesai dipanggang, Sharleen meletakkan beberapa biskuit di piring dan kemudian membawanya ke kamar Queen. Adik Justin itu masih tertidur pulas. Sharleen meletakkan biskuit di meja sebelum mulai mengamati kamar yang diberi nama Jasmine itu. Semua ruangan dan kamar di Eleanor House mempunyai nama dan ciri khas tersendiri. Seperti kamar yang Sharleen tempati, namanya adalah Bougenville. Di tengah-tengah lantai ruangan terdapat ukiran bunga Bougenville yang sangat indah. Begitu juga dengan ruangan yang sekarang ditempati Queen. Hanya satu ruangan di rumah itu yang tidak bernama. dan pada hari pertama Sharleen sempat memasuki ruangan itu. Di dalamnya sangat indah. Tidak ada bunga raksasa di lantainya, tapi semua dekorasinya akan membawa orang yang berada di dalamnya seperti kembali ke zaman para dewa. Sharleen takjub karena rumah seperti ini ada di Amerika yang tidak mengenal raja ataupun dewa. Tiba-tiba mata Sharleen menangkap sesuatu. Dari kamar Queen, Sharleen dapat melihat dengan jelas gazebo pentagonal yang terdapat di halaman belakang. Dan ada yang menarik perhatian Sharleen pada gazebo itu. Dengan cepat Sharleen keluar dari kamar Queen. Justin baru saja akan membuat kopi saat Sharleen melintas di depannya dan hanya menganggukkan kepala sedikit untuk menyapa Justin. Apa sesulit itu memaafkan aku?? Tanya Justin dalam hati. Dengan perasaan yang cukup tidak baik karena melihat Sharleen yang begitu mengacuhkannya, Justin akhirnya selesai juga membuat kopi dan berjalan menuju kamar Queen. Dia sama sekali tidak bisa tertidur tadi malam. Dan kopi ini adalah gelas kesepuluhnya sejak jam 2 pagi. Queen sudah duduk di kursi di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke halaman belakang saat Justin datang. Setelah berbincang sebentar, tiba-tiba Queen menunjuk ke arah gazebo. Mau tidak mau, Justin mengikuti arah yang ditunjuk Queen. ''Apa yang dilakukannya disana??''tanya Queen pelan. Dan belum sempat Justin menanggapinya, adiknya itu sudah pergi untuk mengangkat telpon yang dari tadi berdering. Jantung Justin nyaris melompat dari tempat semula saat melihat Sharleen memanjat gazebo. Dia ingin sekali pergi kesana dan memarahi wanita itu karena sudah melakukan sesuatu yang berbahaya. Tapi Justin tidak bisa. Dan dia benar-benar nyaris berhenti bernapas saat melihat Sharleen terpeleset dan jatuh ke dalam kolam. Beberapa detik kemudian wanita itu muncul ke permukaan dan kemudian tertawa. Aku sudah lama tidak melihat tawanya. Dia sangat indah. Aku merindukan tawa itu. Sudah lama sekali dia tidak tertawa seperti itu saat bersamaku.pikir Justin pedih. Dan detik itulah Justin bersumpah akan membuat Sharleen kembali kesisinya. ''Apa yang sebenarnya Justin minta kau kerjakan??''tanya Queen begitu dia berada tepat di depan Sharleen yang sedang memperkirakan perbaikan apa saja yang diperlukan oleh rumah yang nyaris tak ada cacat itu. ''Dia minta untuk merenovasi rumah ini sebelum acara pemberkatan keponakannya yang pertama. Tapi aku rasa itu masih lama mengingat kehamilan anda yang belum terlihat.''jawab Sharleen sopan. Queen tertawa, dan menurut Sharleen wanita itu benar-benar kembaran Justin. Dia sangat mempesona, layaknya Justin dalam versi wanita. ''Anak yang kukandung bukan keponakan pertama Justin.''ujar Queen ramah lalu duduk di depan Sharleen. ''Jadi maksud anda keponakan pertama Justin adalah anak Willy dan Marvin Bergmann??''tanya Sharleen tidak percaya. ''Justin menceritakan itu padamu??''tanya Queen mulai memancing Sharleen. ''Tidak.''jawab Sharleen cepat. Dan jelas pernyataan itu bohong. Queen tersenyum,''Aku pikir juga begitu. Justin tidak akan pernah menceritakan masalah keluarganya pada orang lain. Tapi aku benar-benar kagum karena kau termasuk sedikit orang yang tahu kalau Marvin Bergmann adalah iparku. Hanya sedikit orang yang mengetahui kalau Willy adalah adik Justin. Anak itu lebih banyak menghabiskan waktunya di Eropa daripada disini. Tapi setelah menikah dengan Marvin, dia bahkan hanya sesekali kembali ke Eropa. Justin selalu menghindari perhatian wartawan dengan tidak mengakui kalau Marvin sudah menjadi keluarga kami. Akan terlalu menarik perhatian pers. Dan kalau berita ini sampai tersebar luas, Justin tetap tidak akan memberikan penjelasan apapun. Kakakku itu cenderung menerima apapun tuduhan yang diberikan orang padanya, walaupun dia dituduh membunuh sekalipun. Dia hanya akan memberikan penjelasan kalau lawannya saat itu adalah orang yang dia anggap istimewa.''jelas Queen yang seakan-akan bisa membaca pikiran Sharleen. ''Maaf, karena kau harus mendengarkan sesuatu yang tidak penting. Aku akan menemui Justin dan memintanya menemaniku berenang. Kalau kau mau ikut, silakan. Makin ramai akan semakin asyik.''lanjut Queen santai dan kemudian pergi meninggalkan Sharleen sendiri sibuk dengan pikirannya. Justin berjalan mondar-mandir di kamar Queen. Dia tadi sempat melihat Queen bicara dengan Sharleen. Entah apa yang dibicarakan kedua wanita itu. Dan beberapa saat kemudian, Queen memasuki kamar. ''Darimana saja kau?? Apa yang kau lakukan dengan Sharleen??''tanya Justin cepat. Queen tersenyum,''Sharleen?? Ms. Reynard bukan??''tanya Queen yang kali ini memancing Justin. ''Apapun. Apa yang kalian lakukan??''tanya Justin lagi. ''Hanya mengobrol sedikit tentang pria yang membuatnya patah hati.''jawab Queen cepat. ''Tentang apa??''tanya Justin tidak percaya dengan apa yang adiknya katakan. ''Jangan bersikap seolah tidak tahu apapun, Justin Alexandre Kenneth-Murphy! Aku sudah mendengar semua pertengkaran ataupun perbincangan kalian tadi malam. Apa yang sudah kau lakukan atau yang tidak kau lakukan padanya, Sir??''tanya Queen tegas, menuntut penjelasan. ''Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi yang pasti apapun yang kau lakukan tadi malam memberitahukan sesuatu padaku. Karena itu ada banyak hal yang harus diperjelas disini. Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi.'' ''Tidak ada apa-apa,Queen. Kau hanya terlalu sensitif.''elak Justin. Queen berjalan mendekati Justin dan meletakkan telunjuknya di d**a Justin. ''Jangan berlaku curang, Sir. Kau selalu menuntut penjelasan dari kami kalau ada masalah. Dan sekarang sudah terjadi masalah, dan aku menuntut penjelasan darimu.''tegas Queen. ''Tapi memang tidak terjadi apa-apa. Jadi apa yang harus kujelaskan??'' ''Kau kira apa untungnya kita kembar?? Aku tahu kalau kau ada masalah.''tandas Queen. “Baiklah. Aku akan menceritakannya. Tapi jangan ikut campur masalah ini. Masalah yang kau tanggung sudah cukup banyak. Berjanjilah.” Queen tersenyum manis, “Oke. Jadi, kau mau cerita sambil berdiri disini atau sambil berenang??”tanya Queen menawarkan. “Sambil berenang.”jawab Justin cepat. Sharleen sedang memeriksa langit-langit ruang Lotus saat sebuah suara menegurnya. “Apa yang kau lakukan disana?!” Suara itu milik Justin. Dan pengaruh suara itu setelah semalaman Sharleen berusaha melupakan malam mereka bercinta cukup membuat kaki Sharleen gemetar dan kehilangan keseimbangan. Sharleen jatuh dari tangga, dan untungnya Justin berdiri cukup dekat untuk menolong Sharleen sebelum tubuh mungil itu menyentuh lantai. “Apa kau bercita-cita menjadi Spiderwoman??”tanya Justin dingin setelah memastikan Sharleen aman di pelukannya. “Aku tidak akan jatuh kalau kau tidak muncul dan mengagetkanku.”jawab Sharleen cepat, “Tapi, terima kasih. Jadi, tolong turunkan aku.” Justin sama sekali tidak berniat menurunkan Sharleen dari pelukannya, tapi kalau itu dia lakukan, Sharleen pasti akan menusukkan pena yang sedang digenggamnya itu ke mata Justin. Dengan enggan Justin menurunkan Sharleen perlahan. “Apa kau sama sekali tidak punya pekerja yang bisa melakukan pekerjaan seperti ini??”tanya Justin cepat. “Aku punya. Hanya saja aku selalu bekerja berdasarkan penilaianku sendiri, memastikan semunya dengan mata kepalaku sendiri sebelum membuat keputusan.”jawab Sharleen sambil membereskan tangga yang dinaikinya tadi. Justin meraih tangga dan menyingkirkan tangan Sharleen, “Benarkah?? Kenapa itu tidak berlaku untukku?? Kenapa kau membuat keputusan sebelum menerima penjelasanku??”tanya Justin malas. “Itu tidak benar!”balas Sharleen kuat sebelum berjalan keluar dari ruang Lotus. ''Ada yang ingin kubicarakan.''ujar Justin cepat sebelum Sharleen kembali menghilang. Sharleen berhenti, tapi dia sama sekali tidak memandang Justin. ''Tidak ada yang perlu kita bicarakan.''sahut Sharleen bergetar, berusaha menahan emosi dalam dadanya. Justin benar-benar sudah tidak bisa menahan emosinya sendiri. Dengan satu gerakan, dia menarik lengan Sharleen hingga wanita itu terperangkap di dalam pelukan Justin. ''Untukmu mungkin. Tapi ada banyak hal yang ingin kujelaskan padamu. Dengarkan aku, setelah itu, terserah apa pendapatmu.''bujuk Justin pantang menyerah. ''Akan kudengarkan, tapi lepaskan aku.''putus Sharleen cepat sebelum hasratnya mengambil alih kendali diri Sharleen. Justin mencium bibir Sharleen cepat sebelum melepaskan wanita itu. ''Aku tidak pernah bermaksud untuk menyembunyikan apapun. Semua yang ada pada diriku yang tidak kukatakan padamu itu bukan karena aku ingin menyembunyikan jati diriku tapi karena semua itu bukan milikku. Kau berhak untuk tidak percaya, tapi hanya kau orang yang kukenal yang tidak mengenal siapa diriku. Semua orang yang kukenal sebelum ini hanya tahu kalau aku adalah CEO KM. Itu bukan mauku. Aku selalu ingin berkarier di bidang olahraga. Tapi itu tidak mungkin, karena keluargaku membutuhkan diriku. Bagiku, keluargaku lebih penting dari apapun. Kalau mereka membutuhkanku, aku akan melepas semua keinginanku. Kalau kau mempermasalahkan wanita yang selalu ada di sekelilingku, bukan aku yang menginginkan mereka. Aku juga tidak tahu kenapa aku menjelaskan ini semua padamu. Mungkin juga demi harga diriku sendiri karena selama ini belum pernah ada seorangpun yang mengatakan kalau aku seorang pembohong. Kata-kataku di dunia bisnis sama dengan kontrak.''jelas Justin tenang. ''Aku sudah mengira kalau itu yang akan kau katakan. Tapi menurutku, apapun itu, kau dan aku tetap berbeda. Akan lebih baik kalau kita hanya menjalin kesepakatan bisnis semata. Karena selain berkaitan dengan bisnis, kau sama sekali tidak bisa menepati janjimu. Aku akan mencoba untuk memaafkanmu.''ujar Sharleen yang sebenarnya menahan diri untuk segera memeluk Justin. ''Aku harap Angelica juga bisa memaafkanku.'' Sharleen menggeleng pelan. ''Itu sulit. Selain semua hal yang tidak kau sampaikan pada kami, dia juga punya masalah tersendiri dengan jabatanmu.'' Justin membalik tubuh Sharleen hingga menghadap dirinya,'' Apa maksudnya??''tanya ''Mungkin kau memang tidak pernah mengenal Brian, tapi pria yang sekarang sudah tidak memperhatikan Angelica sama sekali itu adalah mantan pegawai KM. Dia dipecat dari perusahaan tanpa alasan yang jelas.”jelas Sharleen. “Brian?? Di bagian apa dia bekerja??”tanya Justin mulai memikirkan sesuatu. “Wakil manager marketing di kantor pusat, kantormu.”jawab Sharleen. Aku ingat!pikir Justin cepat. “Aku tahu. Brian Brooke dipecat bukan karena alasan yang tidak jelas. Semua keputusan di perusahaanku dibuat berdasarkan bukti nyata. Tapi aku sama sekali tidak bisa mengatakan apa alasannya, yang bisa kukatakan adalah, tanyakan pada Brian Brooke apa yang sudah dia ataupun tidak dia lakukan selama bekerja di KMC. Kalau dia menjawabnya dengan jujur, kau akan tahu apa alasan pemberhentiannya.”jelas Justin tenang. “Aku tidak bisa menanyakan itu. Angelica dan Brian akan menghadiri sidang perceraian hari ini. Brian menuntut untuk bercerai dari Angelica.” “Bukankah Angelica sangat mencintai Brian?? Apa dia baik-baik saja??”tanya Justin yang entah mengapa jadi cemas mengingat betapa Angelica selalu menjauhkan diri dari para pria hanya karena takut suatu waktu Brian pulang. Sharleen menggeleng pelan,”Entahlah. Tapi yang jelas, sejak kedatangan tamu baru itu, Angelica seperti mendapatkan kekuatan baru hingga bisa melihat kalau Brian tidak sesempurna yang terlihat. Brian sudah sering berselingkuh di depan Angelica, dan dia tahu kalau Angelica akan menerima semua itu bahkan tetap memberinya uang untuk hidup. Sejujurnya, aku sudah lama mengharapkan Angelica bercerai dari Brian, jadi dia bisa tinggal bersamaku dan rumah kami di Bellingham bisa di jual.” “Kau boleh pergi kalau memang mengkhawatirkan Angelica. Kau bisa kembali kalau semua masalah Angelica sudah beres.”ucap Justin cepat. “Benarkah??”tanya Sharleen tidak percaya. Justin mengangguk cepat dan kemudian tersenyum. Sekuat apapun Sharleen, selama apapun dia tidak melihat senyuman itu, dan sebenci apapun Sharleen pada pemilik senyuman itu, pengaruhnya tetap sama. Hanya melihatnya saja sudah membuat Sharleen gemetar. Dengan satu gerakan cepat Sharleen mengecup bibir Justin sebagai ucapan terima kasih. “Terima kasih. Aku akan kembali langsung kesini setelah sidang selesai.”ujar wanita itu sebelum menghilang di luar ruang Lotus. “Hasil yang baik??”tanya Queen yang entah sejak kapan berada di depan pintu ruang Lotus. Justin mengedikkan bahunya,”Entahlah. Dan sejak kapan kau berada disana??”tanya Justin sambil menghampiri kembarannya itu. “Sejak awal.”jawab Queen cepat. “Katakan padaku masalah tentang Brian Brooke. Kau tidak pernah memecat orang. Atau bukan kau yang melakukannya??”tanya Queen. “Aku langsung yang memecat Brian Brooke. Paman yang mencarikan semua bukti kesalahan Brooke dan kemudian menyerahkannya padaku. Kau tahu kalau apapun yang Rubben Alasdair ingin dapatkan, dia pasti akan mendapatkannya. Sejauh apapun Brooke menyembunyikan bukti kejahatannya, dia jelas tidak berhasil.”jelas Justin cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN