Baru tiga hari Rubben menginap di rumahnya, tapi Angelica sudah merasa mengenal pria itu jauh lebih lama. Mereka sedang menyantap sarapan buatan Rubben saat ada seseorang mengetuk pintu rumah. Rubben menahan Angelica dan dia sendiri yang membukakan pintu. Seorang pesuruh menyerahkan sebuah amplop dengan cap resmi sebuah firma hukum yang dialamatkan pada Angelica. Setelah memastikan member pesuruh itu cukup uang, Rubben membawa amplop itu ke dapur.
“Ada surat untukmu. Aku penasaran dengan apa isinya karena ini jelas dari kantor pengacara.”ujar Rubben sambil menyodorkan amplop itu pada Angelica.
Angie langsung memucat. Dia sama sekali tidak bisa menebak siapa pengirim dan apa isi surat itu. Dengan gemetar Angie membuka amplop dan mendapati sebuat surat yang ternyata surat panggilan untuk menandatangani surat perceraian di sebuah kantor pengacara di kota. Angie sudah mengira kalau hari ini akan datang setelah mengusir Brian beberapa hari lalu, tapi rasanya Angie lebih bisa menerima semuanya daripada yang bisa dia bayangkan.
“Ini surat panggilan dari pengacara Brian. Dia ingin menceraikanku. Aku harus memberitahukan masalah ini pada Sharleen.”ujar Angie pelan.
“Maaf, bukan aku ingin mencampuri urusanmu, tapi bukankah telpon putus karena petir tadi malam??”tanya Rubben begitu melihat Angelica berjalan menuju meja telpon.
“Benar.”ujar Angie setuju dan kembali duduk. Wanita itu terlihat susah dengan keadaannya sekarang.
Rubben mengeluarkan ponselnya,”Pakai ini. Kau harus memberitahukan masalah ini pada anakmu. Aku akan keluar.”ujar Rubben lalu meninggalkan ponselnya di atas meja makan.
Rubben pergi keluar dan memilih untuk melihat peternakan Justin serta memeriksa keuangan selama beberapa hari ini. Justin memang pernah mengatakan kalau dia sangat mempercayai Hernan, tapi Rubben tidak. Dengan mengendarai mobilnya, dia menyetir ke kota untuk membeli beberapa pakaian dan bahan makanan sebelum ke peternakan Justin. Rubben baru kembali ke rumah Angelica saat jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Tapi saat Rubben memasuki rumah, dia mendapati ada orang lain selain Angie di rumah.
“Terima kasih sudah meminjamkan ponsel pada Angie. Aku Sharleen Reynard.”ujar wanita muda yang cukup manis itu.
Rubben mengamati makhluk di hadapannya ini. Sesaat, Rubben mengerti kenapa Justin bisa berhubungan dengannya, tapi di lain pihak, Rubben juga bingung karena Sharleen jauh berbeda dengan semua mantan Justin.
“Rubben Alasdair. Dan masalah ponsel, itu hanya masalah kecil.”ujar Rubben yang kemudian berjalan ke dapur untuk meletakkan semua bahan makanan yang dia beli tadi di kota.
Justin bangun terlambat hari ini. Padahal jam Sembilan dia ada rapat dengan dewan direksi. Dengan kecepatan super Justin segera melangkah ke kamar mandi. Jam sudah menunjukkan pukul 8 saat ponselnya berdering. Bukan masalah kalau ponsel kantor, dengan cepat Justin mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mendapati nama Queen tertera di layar. Semua perasaan cemas langsung menyergap Justin, setelah kecelakaan yang pertama dimana Justin mengganti mobil Mercy hitam Queen dengan Maserati hitam terbaru, beberapa hari yang lalu Queen kembali kecelakaan. Dan kali ini apalagi yang terjadi??
“Justin aku butuh bantuanmu.”
Justin yang saat itu baru akan melangkah keluar dari penthousenya langsung berhenti di tempat. “Ada apa, Queen??”tanya Justin terdengar cemas. Bagi Justin, jarang sekali Queen menghubunginya dengan suara yang begitu mendesak seperti ini.
“Aku hamil. Dan aku butuh seseorang disisiku. Kau bisa kesini dan meninggalkan kantor untuk sementara??”tanya Queen cepat.
“Hamil?? Quentin, sadarkah kau kalau dokter pernah mengatakan sangat berbahaya bagimu untuk hamil lagi?? Ini bukan masalah mudah. Kau mempertaruhkan nyawamu!”tanya Justin sambil mengingatkan apa yang mungkin terjadi kalau Queen hamil lagi.
“Aku tahu, tapi aku menginginkan anak ini. Aku mencintainya. Jangan rebut dia dariku.”ucap Queen lirih.
“Siapa ayahnya?? Apa dia tahu tentang kehamilanmu?? Apa kalian merencanakan semua ini??”
“Jangan pernah menanyakan hal itu, Justin. Dan siapapun ayah anak ini, dia belum tahu tentang kehamilanku. Aku baru mengetahuinya pagi ini.”
Justin berjalan mondar mandir di ruang tamu penthouse-nya. Dia benar-benar tidak percaya dengan tindakan Queen yang masih memaksa untuk dapat hamil setelah kegugurannya yang pertama begitu membahayakan dirinya. “Aku akan segera kesana. Tapi sebelum kesana aku harus ke kantor dulu pagi ini. Ada rapat penting yang tidak mungkin aku tinggalkan. Jangan melakukan apapun yang bisa membuatmu lelah. Aku tahu kalau dokter pasti juga mengatakan hal yang sama. Kau selalu menjadi mudah lelah saat hamil. Jadi, apa kau bisa menungguku sampai aku datang??”
“Tentu saja. Terima kasih kau mau membantuku.”
“Kau adikku. Dan aku akan melakukan apapun yang aku bisa untuk membantu adik-adikku. Dan berjanjilah untuk tidak melakukan hal-hal yang berbahaya bagi dirimu dan anak yang kau kandung.”tegur Justin lalu memutuskan sambungan telpon.
Justin langsung menelpon Maria dalam perjalanan menuju parkiran,”Apa janji hari ini bisa dibatalkan??”tanya Justin mendesak.
“Maaf, Sir. Tapi semua janji hari ini adalah janji-janji yang kemarin tertunda. Sangat tidak mungkin kalau anda kembali menundanya.”jelas Maria tenang.
Justin terlihat berpikir sebelum kemudian memutuskan sesuatu. “Baiklah, aku akan ke kantor. Kalau bisa tolong pindahkan semua janji temu besok ke hari ini. Aku harus menyelesaikan semua masalah hari ini. Aku harus segera terbang ke Dallas, Queen membutuhkanku.”
“Akan saya usahakan, Sir.”ujar Maria sebelum Justin mengakhiri pembicaraan mereka.
Jaga diri, Queen. Jangan melakukan apapun yang bisa membahayakan dirimu. Aku akan mengusahakan yang bisa kulakukan untuk segera kesana.teriak Justin dalam hati. Justin langsung memacu mobilnya selaju yang bisa dilakukan Porsche Carrera GT hitam metalik itu. Dalam perjalanan Justin sempat menelpon James dan meminta pilot pribadinya itu untuk bersiap di bandara karena dia membutuhkan James kapanpun.
Justin baru bisa menyelesaikan pekerjaannya setelah jam menunjukkan pukul 5 sore. Itupun dilakukan Justin tanpa istirahat makan siang atau istirahat sejenak untuk meluruskan tubuh. Dia melanjutkan satu rapat ke rapat lain tanpa istirahat dan mengejar waktu. Setelah memastikan semuanya selesai, Justin langsung memacu mobilnya ke bandara dan sangat berterima kasih atas loyalitas James yang ternyata sudah mendapatkan izin terbang malam. Justin beryukur dia bisa mengistirahatkan tubuhnya sejenak di dalam pesawat walaupun pikirannya masih mencemaskan Queen. Begitu sampai di bandara internasional Dallas, Justin menyewa taksi untuk ke bengkel tempatnya menitipkan Enzo kesayangannya sebelum mengemudi sendiri ke rumah Queen. Mobil Justin baru memasuki pekarangan rumah Queen saat mata Justin menangkan sosok seseorang keluar dari rumah adiknya itu.
Apa yang dilakukan Dylan Sutherland disini??
Justin segera keluar dari mobilnya dan berlari memasuki rumah dan mendapati Queen termenung di dekat ruang keluarga. Justin langsung memegang kedua lengan adiknya dan mengguncang pelan tubuh lemah itu. “Yang tadi itu Dylan Sutherland, bukan??”tanya Justin cepat sambil menunjuk ke arah pintu.
“Ya. Kenapa??”tanya Queen balik.
“Katakan padaku, Quentin. Katakan dengan jujur dan jangan mengelak lagi. Jangan menyembunyikan apapun lagi dariku. Diakah ayah dari anak yang sebelumnya dan sekarang kau kandung??”tanya Justin seolah tidak ingin dibantah lagi.
Justin sempat tidak mempercayai matanya saat melihat Queen mengangguk. “Ya Tuhan, Queen. Kalau memang dia, kenapa kau tidak mengatakannya saja pada Sutherland?? Apa lagi masalahnya?? Kau sudah mengenal Dylan lebih lama daripada aku. Kalian satu kampus.”
“Itulah masalahnya, Justin. Aku mencintainya sedangkan dia mungkin tidak mencintaiku. Aku hanya menginginkan anak ini, sebagian dari dirinya, karena aku tahu aku tidak akan bisa memilikinya. Apa itu saja tidak boleh??”
Justin langsung merengkuh Queen ke dalam pelukannya,”Sayangku! Tentu saja kau boleh memilikinya. Kau ibunya. Lalu apa kau sudah memikirkan apa yang akan kau lakukan setelah ini??”
Justin tidak percaya mendengar apa yang ingin Queen lakukan, adiknya itu ingin tinggal di Eleanor House beberapa hari untuk menenangkan diri. Padahal saat ini sedang dilakukan renovasi di Eleanor House untuk pembaptisan anak Willy. Tapi kalau dengan tinggal di Eleanor House bisa mengurangi beban pikiran Queen, Justin tidak peduli kalau arsitek sewaannya itu akan marah. Justin bersumpah akan memecatnya kalau dia berkeras tidak mengizikan Justin menginap.
Sesampainya di Eleanor House, Justin baru menyadari kalau dia tidak membawa kunci rumah. Mau tidak mau, Justin harus menekan bel berulang kali agar sang arsitek bersedia bangun dengan gangguan tengah malam ini dan membukakan pintu untuk Justin. Justin hanya berharap kalau sang arsitek yang Maria bilang adalah seorang wanita, masih bisa Justin pikat dengan pesonanya agar sang arsitek tidak mengamuk. Cukup lama Justin dan Queen menunggu sebelum pintu rumah terbuka dan seorang wanita muncul dengan gaun tidurnya. Justin kali ini benar-benar berharap kalau matanya mengalami kelainan atau buta sekalipun. Dia sama sekali tidak berani bermimpi akan bertemu dengan wanita yang kini berdiri di hadapannya saat ini. Dan jauh di dalam hatinya Justin tidak berani berharap kalau wanita ini menerima kedatangannya.
“Selamat malam. Aku Justin Murphy, kami ingin menginap disini selama seminggu kalau itu tidak mengganggu jadwal kerjamu.”ujar Justin tanpa emosi dan sebisa mungkin menjelaskan apa maksud kedatangan mereka yang sudah hampir tengah malam itu.
Sharleen berusaha memberikan asumsi kuat dalam kepalanya. Apapun yang dia lihat, dia rasakan, dan dia dengar, tidak mungkin itu Justin. Bagaimana mungkin setelah perjanjian yang Sharleen buat dengan Maria, Justin tetap muncul di Eleanor House. Bertemu Justin di Eleanor House adalah hal terakhir yang diinginkan Sharleen. Dan yang paling membuat Sharleen tidak percaya adalah, selain Justin muncul tengah malam di Eleanor House dengan stelan kerjanya, laki-laki itu juga membawa seorang wanita bersamanya. Wanita ini jelas bukan Ariana ataupun artis baru yang dibawa Justin saat acara malam penghargaan itu. Wanita ini tetap menarik walaupun tanpa make up dan gaun mahal. Sharleen merasa emosinya langsung terbang ke puncak tanpa susah-susah mendaki dulu saat Justin memperkenalkan namanya dengan tenang.
Bagaimana bisa dia tetap tenang sementara d**a ini mau meledak saat melihatnya, walaupun tanpa makhluk yang mempesona di sisinya itu.pikir Sharleen kesal.
“Tentu saja saya tahu siapa anda. Tapi itu tidak membuat saya langsung dengan senang hati menyambut kedatangan anda. Seingat saya, sekretaris anda pernah mengatakan kalau anda tidak akan datang kesini sampai renovasi rumah selesai. Lalu kenapa sekarang saya menemukan anda membawa teman kencan anda hampir tengah malam seperti ini disini??”tanya Sharleen Reynard terdengar kesal.
Sharleen sudah siap melemparkan kemarahan ronde kedua saat wanita menarik itu mengungkapkan sesuatu yang nyaris membuat Sharleen tersambar petir.
Tawa yang sejak awal sudah ditahan Queen kini terlepas. Justin langsung mengalihkan perhatiannya dari sang arsitek pada adiknya. Queen adalah orang yang paling bisa menahan diri. Justin seperti melihat bukan Queen yang berdiri di sisinya saat ini, tapi orang lain. “Kalau kau memperhatikan kami dengan seksama sejak awal dan bukannya terpesona ataupun marah dengan kakakku yang bodoh ini, kau akan segera tahu kalau kami anak kembar.”tukas Queen,”Aku tahu kalian masih ingin berdebat, tapi aku mohon tunda sampai besok karena aku benar-benar membutuhkan istirahat. Aku hamil, Ms. Reynard.”lanjut Queen.
Justin dan wanita itu kembar! Dan parahnya, adik kembar Justin itu sekarang sedang mengandung! Dengan kesopanan terakhir karena sudah menuduh yang tidak beralasan, Sharleen langsung menyingkir dari pintu dan membiarkan Justin beserta Queen masuk.
''Apa ruang Jasmine masih kosong??''tanya Queen cepat.
Sharleen mengangguk pelan, ''Masih. Aku menggunakan ruang Bougenville.''jawab Sharleen pelan.
''Terima kasih.”ujar Queen sangat pelan dan langsung pingsan. Justin yang berdiri tepat di sebelah Queen langsung menopang tubuh kembarannya itu.
“Aku tahu ada banyak sekali yang ingin kau keluarkan dengan kemarahan padaku, tapi saat ini bagiku Queen-lah yang terpenting. Tolong bantu aku membawakan semua barang-barangnya ke ruang Jasmine. Itu kamar yang selalu digunakan Queen kalau menginap disini.”jelas Justin cepat yang langsung menggendong Queen masuk ke dalam rumah menuju ruang Jasmine.
Justin sudah membaringkan Queen di tempat tidur saat Sharleen berjalan mendekati tempat tidur. “Apa dia membawa gaun tidurnya?? Dia pasti tidak akan nyaman tidur dengan pakaian lengkap seperti itu.”ujar Sharleen pelan.
“Aku rasa ada di dalam tas-nya. Aku akan sangat berterima kasih kalau kau mau membantunya mengganti pakaian. Aku ingin mandi, aku langsung kesini begitu selesai kerja.”
Sharleen membongkar tas Queen dan menemukan dua pasang gaun tidur mewah yang terlihat simple, “Kau tidak perlu menjelaskan hal itu padaku. Aku membantunya bukan untukmu, ini kulakukan karena aku kasihan dengannya.”gumam Sharleen pelan lalu segera mengganti pakaian Queen.
Bagaimana mungkin arsitek yang disewa Maria adalah Sharleen??tanya Justin setelah selesai mandi dan segera mengambil ponselnya.
“Maria ini aku, Justin.”
“Saya tahu, Sir. Ada apa??”tanya Maria berusaha terdengar sopan walaupun tidurnya jelas terganggu karena telpon Justin.
“Saat ini aku sedang berada di Eleanor House.”ujar Justin yang langsung mendapatkan respon tepat sesuai perkiraan Justin.
“Anda disana, Sir??”tanya Maria tidak percaya.
“Katakan padaku, apa saja dari proyek ini yang belum kau sampaikan padaku?? Kekuasaan penuh untuk merenovasi Eleanor House bukan berarti kau tidak memberikan laporan kerja padaku.”ujar Justin sambil memandang keluar jendela, mengamati pemandangan menuju kolam ikan di halaman tengah.
“Maafkan saya, Sir. Saya akan menjawab apapun yang anda tanyakan, karena saya tidak tahu harus memulai darimana.”ujar Maria benar-benar mulai cemas.
“Mulai saja dari ‘siapa’ yang kau pekerjakan untuk proyek ini.”
Maria diam sejenak sebelum memulai penjelasannya. “Aku mencari arsitek yang terbaik yang bisa kudapatkan. Dari semua berita dan pengalaman beberapa klien, aku mendapatkan kalau E. R Project memiliki arsitek hebat. Aku menghubungi pimpinannya langsung dan kemudian mendapatkan nomor telpon Ms. Sharleen. Aku langsung membuat janji dengannya. Beberapa minggu setelah itu kami menandatangani kontrak, dan setelahnya aku baru membicarakan beberapa hal tentang Eleanor House.”jelas Maria cepat.
“Apa yang diminta-nya??”tanya Justin yang merasakan kalau ada sesuatu dari semua pertemuan Maria dan Sharleen_yang sebenarnya hanya satu kali.
“Anda tidak datang ke Eleanor House selama proyek berlangsung. Dan dia juga meminta untuk tidak memberitahukan pada Anda siapa dia.”jawab Maria jujur.
Justin menghela napas panjang,”Baiklah, terima kasih. Besok pagi-pagi sekali, kirimkan semua bahan proyek Manson. Aku akan mengerjakannya selama disini. Selamat malam”ujar Justin kemudian memutuskan sambungan.
Justin mengganti jubah mandinya dengan pakaian casual yang selalu ditinggalkannya beberapa pasang di Eleanor House. Dan setelah itu Justin segera menuju ke kamar Queen untuk memastikan kalau adiknya itu baik-baik saja. Dan benar, Sharleen sudah mengganti pakaian Queen dengan gaun tidur kuning gading milik adiknya itu. Queen terlihat begitu tenang.
“Anak bodoh. Kau pasti mencintai Dylan Murphy hingga sanggup membahayakan nyawamu sendiri untuk mengandung anak pria itu.”gumam Justin sebelum mencium dahi Queen lembut, “Tidurlah, jangan pikirkan apapun.”lanjut Justin sebelum mematikan semua lampu kecuali lampu di dekat meja kecil di sebelah tempat tidur Queen.
Justin baru akan kembali ke kamarnya saat melihat Sharleen duduk di dapur. Dia memutuskan untuk bicara dengan wanita itu. “Apa aku mengganggumu??”tanya Justin pelan sambil mengambil sebuah kursi dan duduk di seberang Sharleen. Justin sangat ingin duduk di tempat terdekat dengan Sharleen, tapi wanita itu pasti langsung pergi sebelum mengucapkan sepatah katapun kalau Justin berani melakukan hal itu.
“Sekarang atau tadi??”tanya Sharleen datar.
“Maafkan aku karena tidak bisa datang sesuai janjiku. Ada banyak hal yang harus kuselesaikan sebelum kembali ke Bellingham.”ujar Justin memulai pembicaraan.
Sharleen meletakkan cangkir kopinya tapi tidak melepaskan pegangannya pada cangkir. “Aku tahu. Kau terlalu sibuk menghadiri acara malam penghargaan itu sampai kau tidak bisa datang ke sidang. Dan hebatnya, sidang bahkan dibatalkan dengan alasan tuntutan ditarik.”ujar Sharleen pelan,”Aku sudah pernah bertanya padamu, siapa kau sebenarnya… Kau tahu kalau aku membenci semua orang yang mirip dengan Theo. Tapi apa yang kau lakukan?? Aku bersyukur aku hanya memujamu. Kalau aku sampai mencintaimu, aku pasti akan hancur.”lanjut Sharleen jelas berbohong tentang perasaannya.
Semakin lama dia semakin mencintai Justin seiring bertambahnya kebencian Sharleen pada pria itu. Awalnya Sharleen hanya terpesona pada makhluk di hadapannya ini, tapi lama kelamaan, semua sifat Justin_entah asli atau tidak_membuat Sharleen jatuh cinta. Terlalu mudah memang, tapi memang itu yang Sharleen rasakan. Dan saat mendapati Justin berbohong tentang segalanya bahkan menggandeng wanita lain saat mereka menjalin hubungan terasa lebih menyakitkan daripada semua yang dia lakukan untuk berpisah dengan Theo.
Justin berdiri. “Aku rasa apapun yang aku katakan tidak akan merubah apapun pandangan yang terlanjur kau buat padaku. Hanya saja aku sama sekali belum pernah dikatakan sebagai pembohong, oleh siapapun.”ujar Justin tenang.
“Tentu saja. Karena semua wanita pasti terpesona olehmu. Kau memiliki bakat alami untuk mempesona semua wanita, bukan??”tanya Sharleen terdengar dingin dan sangat menusuk.
“Bukan salahku dilahirkan dengan fisik seperti ini.”jawab Justin cepat. “Aku tidak pernah berbohong tentang apapun padamu, Sharleen. Kalau kau ingat, saat kau bertanya siapa aku. Aku menjawabnya dengan jujur. Aku hanya seorang Justin Alexandre yang meneruskan perusahaan keluarga kami di New York. Aku lahir di Dallas, dan menetap di New York. Aku punya seorang adik perempuan. Duniaku sebenarnya hanya penuh dengan kerja dan mengurus keluarga.”lanjut Justin mengulangi pernyataannya dulu.
“Tapi kau sama sekali tidak mengatakan kalau kau adalah CEO dari KM Coorporation, perusahaan multisektor terbesar yang membuatmu menjadi orang yang sangat kaya!”bentak Sharleen nyaris murka.
“Apa pentingnya dari itu semua?? Aku hanya ingin orang lain mengetahui siapa aku dari yang aku lakukan. Bukan dari hal yang tidak aku lakukan, tapi semua itu dianggap dosa terbesar di dunia. Aku sama sekali tidak bisa memilih nasib apa yang akan diberikan padaku, sayang. Aku juga tidak bisa memilih keluargaku. Aku hanya menjalani apa yang sudah ada.”ucap Justin tenang,”Aku harap apapun yang kau rasakan padaku, termasuk semua kemarahan yang pasti ingin kau lampiaskan, tolong jangan dikeluarkan saat ada Queen. Dia sangat peka, belum lagi dengan kehamilannya ini. Kalau dia tahu kau benci padaku, itu akan menjadi beban pikirannya. Hal terakhir yang aku inginkan adalah membuat Queen memikirkan masalahku.”lanjut Justin yang kemudian meninggalkan Sharleen sendirian di dapur.