7

3240 Kata
Sudah lebih dari sebulan Justin tidak bertemu dengan Sharleen. Walaupun begitu, Justin terkadang masih memikirkan wanita itu, dan ini berbeda dari biasanya. Justin tidak pernah memikirkan wanita manapun yang sudah ditinggalkannya, apalagi sudah lebih dari sebulan. Dengan alasan melihat peternakannya yang kini sudah berkembang dengan pesat, Justin sering melakukan perjalanan New York-Bellingham. Justin bahkan membangun rumah di peternakannya yang berada tepat bersebelahan dengan peternakan Sharleen yang kini jauh lebih kecil dari peternakan Justin. Justin sedang berkuda untuk mengawasi ternak-ternaknya saat tanpa sengaja dia melihat Angelica dan seorang pria sedang bertengkar di dekat perbatasan kedua peternakan. ''Apalagi yang kau inginkan?? Surat tanah sudah kau gadaikan, bahkan semua perhiasan dan mobil Sharleen juga sudah kau jual. Tahukah kau kita sudah tidak punya apa-apa lagi?''tanya Angelica terdengar emosi. Brian tersenyum mengejek,''Jangan kira aku tidak tahu kalau anakmu itu selalu mengirimkan uang padamu. Dan sekarang aku minta uang itu. Kau tahu apa yang akan terjadi kalau kau tidak memenuhi permintaanku!'' Angelica terdiam, disatu sisi dia tidak mau ditekan Brian lagi. Tapi di sisi lain dia juga tidak mau bercerai dengan suaminya itu. ''Pergilah. Aku akan memberikan apa yang kau mau, tapi tidak sekarang. Aku harus ke kota untuk membeli keperluan ternak. Dan setelah itu aku akan mengambil uang. Kau bisa datang nanti malam, dan singgahlah untuk makan malam.''putus Angelica kemudian. ''Bagus. Itu gunanya kau menjadi istriku.''ujat Brian sebelum meninggalkan Angelica sendirian di perbatasan. Justin yang mendengar semua pembicaraan itu dari awal langsung memutar kudanya dan berkuda kembali ke rumahnya. sepertinya Angelica belum tahu kalau Justin sudah menjadi tetangga semi permanennya. Justin menghentikan kudanya di dekat istal. ''Cepat sekali Tuan kembali??''tanya seorang pemuda sambil berlari menghampiri justin. ''Hernan, kau lebih lama disini daripada aku. Jadi tolong aku, aku sama sekali tidak mengenal tetangga kita ataupun orang-orang disekitar peternakanku. Bisakah kau mencari tahu tentang mereka. Bisakah??''tanya Justin cepat sambil menggiring kudanya memasuki istal. ''Anda memang majikan yang langka. Baru kali ini saya bekerja sebagai pengurus kuda tapi tidak pernah mengurus kuda. Dan sekarang pertama kali saya disuruh bekerja dan itu hanya mencari tahu tentang tetangga kita. Tanpa menyelidikinyapun saya bisa menceritakannya pada anda.''ujar Hernan santai. Justin sangat tidak percaya dengan apa yang didengarnya setengah jam kemudian. Semuanya terdengar seperti skenario film! ''Terima kasih. Kembalilah bekerja, dan.. Aku ingat, aku akan menambah jumlah kuda supaya kau ada kerja.''ujar Justin tenang lalu berjalan menuju rumahnya. Rumah Justin di Bellingham memang bukan rumah mewah, tapi untuk ukuran rumah bujangan, itu tetap saja terlalu luas. Justin masuk ke ruang kerjanya dan membuka beberapa dokumen tanah. ''Ini dia. Aku merasa kalau tanah ini dijual terlalu murah. Ternyata ini tanah Sharleen. Angelica dan Sharleen pasti tidak akan menjualnya kalau aku yang membelinya.''gumam Justin dan kemudian menelpon seseorang. Cukup lama Justin berbincang dengan lawan bicaranya di telpon sebelum kemudian mengucapkan terima kasih. “Hanya kau yang bisa aku andalkan saat ini. Terima kasih. Sampai jumpa dua hari lagi.”ujar Justin sebelum memutuskan pembicaraan. Siapa pria itu?? Kenapa aku merasa pernah melihat wajahnya sebelum ini?? Dua hari kemudian, Angelica kedatangan tamu. Seorang pria yang sedikit lebih muda dari ayah Sharleen berniat ingin membeli tanahnya. Dan harga yang diajukan pria itu bahkan jauh lebih tinggi dari yang Angelica bayangkan. Sebenarnya Angelica sama sekali tidak ingin menjual tanah peternakan yang tersisa. Tapi semua hutang yang Brian buat dimana-mana harus segera dilunasi kalau Angelica tidak ingin para penagih hutang datang ke rumah. Untungnya tanah itu sudah dipindah namakan atas nama Angelica, Sharleen yang melakukannya. Bagi Sharleen, setelah semua yang wanita itu korbankan selama ayah Sharleen sakit. Negosiasi berjalan lancar. Tanah yang tersisa beserta ternaknya sudah terjual dengan harga tinggi. Bahkan pria itu tidak melakukan penawaran atas harga ternak yang sengaja dijual Angelica dengan harga tinggi. Angelica memandangi kepergian pria itu. Ada sedikit kerinduan terhadap ayah Sharleen saat Angelica menatap pria itu. Pria yang lembut dan sangat baik. Itu pendapat Angelica terhadap Rubben Alasdair. Setengah jam kemudian Rubben sudah minum teh bersama Justin di sebuah café. “Kau benar, Justin. Tanah itu memang memiliki prospek yang bagus. Pantas saja kau bilang kalau beli saja dengan harga berapapun yang mereka tawarkan. Tapi maaf, melihat wanita itu, aku benar-benar kasihan, dia tidak tahu harga yang pantas untuk tanah itu, jadi aku menaikkan sedikit harganya dari yang kau katakan padaku. Aku akan mengganti uang itu.”ujar Rubben tenang. Justin tersenyum, “Tidak perlu. Aku malah berharap kau memang melakukan itu, karena itu aku memilihmu. Aku selalu bisa mempercayai penilaianmu atas apapun.” “Aku masih tidak mengerti bagaimana mungkin wanita selembut itu bisa membencimu. Kau bukan tipe pria yang bisa dibenci wanita. Karena aku tahu kalau para wanita selalu memujamu.” “Jangan mengejekku, Paman. Angelica sangat menyayangi anaknya. Dan aku sudah meninggalkan anaknya tanpa kabar. Dia membenciku. Akan lebih mudah seperti itu daripada dia berbuat seperti Ariana.” Rubben menghabiskan tehnya, “Lalu apa rencanamu?? Kau tidak mungkin berdiam diri dan tidak mengurus tanah dan ternak itu.”ujar Rubben mulai serius. “Itulah alasan aku memintamu kesini langsung, Rubben Alasdair. Aku akan kembali ke New York, sementara itu kau yang mengurus semua disini, termasuk peternakan baru kita. Aku juga sudah menebus surat tanah mereka yang digadaikan di penggadaian. Peternakan kita sudah cukup luas sekarang.” “Kau bilang aku yang mengurus ini?? Apa sebenarnya yang kau pikirkan?? Pekerjaanku di kantor pasti sudah menumpuk.”tolak Rubben. “Aku akan mengerjakannya. Aku akan menyelesaikannya sebelum kau kembali. Lagipula kau hanya perlu disini selama dua minggu, Angelica masih belum boleh tahu kalau aku yang membeli peternakan itu.” Rubben menyandarkan tubuhnya,”Kau memang tidak pernah memikirkan pendapat orang lain. Bahkan kau tidak pernah memikirkan apa orang itu menyukai semua keputusan yang kau buat atau tidak.”gerutu Rubben kesal. Justin tersenyum,”Aku belum pernah salah membuat keputusan, Paman. Dan selamat menikmati liburanmu di sini. Aku harus segera terbang ke New York siang ini, dan seandainya aku belum kembali dua minggu lagi, maaf, kau harus tinggal lebih lama. Aku juga harus ke Bombay.”ujar Justin lalu meletakkan beberapa lembar uang di atas meja sebelum pergi dari café. “Aku tahu apa maksudmu, anak muda. Dan kau benar. Penilaianmu tidak pernah salah. Tapi aku merasa ada yang ganjil. Kita lihat saja nanti.”ujar Rubben pada dirinya sendiri. Setelah memastikan kalau semua pesanan mereka sudah dibayar, akhirnya Rubben memilih untuk menyetir sendiri mobil yang disiapkan Justin kembali ke peternakan. “Bukan masalah.”ujar Sharleen tenang saat Angelica memberitahukan kalau tanah peternakan yang tersisa terpaksa dijual untuk melunasi hutang-hutang yang dibuat oleh Brian. “Tanah, ternak, dan rumah itu semuanya sudah atas namamu. Kau berhak menjual ataupun mempertahankannya. Kalau memang itu yang terbaik menurutmu, kenapa tidak??”tanya Sharleen balik. “Tapi walau bagaimanapun ayahmu mewariskan ini semua untumu, bukan untukku.”elak Angelica. Sharleen tersenyum dan kemudian meletakkan pensil gambarnya sebelum berjalan ke jendela. Pemandangan dari semua kamar di Eleanor House sangat mengagumkan, dan Sharleen menyukai itu. Dia baru sampai di Eleanor House dan memutuskan untuk segera memulai pekerjaannya kalau tidak ingin bertemu dengan Justin. “Menurutmu, kau siapa bagiku??”tanya Sharleen. “Entahlah. Aku hanya bisa mengharapkan kalau kau menganggapku sebagai ibumu.”jawab Angelica enggan, “Tapi apa hubungannya dengan masalah ini??” “Kalau kau memang ibuku, jadi wajar bukan kalau seorang anak mempercayakan segala sesuatunya pada sang ibu?? Sudahlah, jangan dipikirkan. Kalau kau memang membutuhkan sesuatu, telpon aku. Aku akan berusaha mencari pinjaman disini dan membantumu. Mungkin kalau aku sudah selesai mengerjakan proyek dari KM aku akan mendapatkan bayaran yang cukup tinggi.” Angelica langsung menjatuhkan cangkir yang dari tadi di pegangnya,”Kau masih tetap berbisnis dengan Justin?? Apa kau yakin??”tanya Angelica cemas. “Aku ingin sekali membatalkannya atau paling tidak menukar arsiteknya, tapi dalam perjanjian di kontrak tertulis dengan jelas kalau aku berani memilih salah satu dari dua kemungkinan itu, aku harus membayar denda ganti rugi yang jauh lebih besar dari gajiku selama satu tahun.”jelas Sharleen. “Jadi, berapa lama kau akan bekerja dengannya, sayang??”tanya Angelica cemas. “Secepat yang aku bisa. Kau tahu, ini jauh lebih menyiksaku daripada menjauhi Theo.”ujar Sharleen tiba-tiba. “Aku juga sulit mempercayainya. Tapi bertahanlah, anakku. Kalau kau memang tidak mencintainya, kau pasti akan bisa melewati ini semua.” Maafkan aku, Angie. Dari semua kebohonganku padamu, ini yang paling buruk. Aku sepertinya mencintai Justin. Aku bahkan nyaris tidak memperdulikan apapun yang dia lakukan asal dia bisa disisiku. Waktu yang kami habiskan bersama memang tidak banyak, tapi tidak ada sedetikpun waktu yang terlewatkan tanpa pesona dirinya.pikir Sharleen pedih. “Ngomong-ngomong, apa kau tidak pernah melihatnya datang ke sana lagi??”tanya Sharleen penasaran. “Sesekali dia datang, tapi hanya satu atau dua hari sebelum kemudian pergi lagi. Dan dia juga membangun rumah untuk para pekerjanya di peternakan.”jawab Angelica jujur,”Maaf, aku rasa ada tamu. Aku akan menelponmu lagi nanti.”ujar Angelica begitu mendengar bunyi ketukan di pintu. Angelica tidak terlalu tergesa-gesa membuka pintu. Tapi siapapun yang datang itu cukup tidak sabaran. Dengan enggan Angelica membuka pintu dan betapa terkejutnya dia saat mendapati Brian berdiri di depan pintu dengan tangan terlipat di d**a. “Uang yang kau berikan tidak cukup.”ujar Brian langsung tanpa mengucapkan salam atau kalimat pembuka lainnya. “Aku benar-benar tidak ada uang, Brian.”ujar Angelica lemah. Brian tersenyum mengejek,”Jangan bercanda. Aku membaca iklan penjualan tanah di koran. Aku mau semua hasil penjualan itu diberikan padaku.” “Uang itu untuk membayar semua hutang yang kau buat!”tolak Angelica dengan keberanian yang tersisa. “Dan aku tidak akan pernah memberikannya padamu. Ingat itu!” Tangan kanan Brian sudah mendarat di pipi Angelica kalau sebuah tangan lain tidak menahannya. “Bersikap kasar pada wanita bukan cara pria gentleman, teman.”ujar sebuah suara yang baru dua kali di dengar Angelica. Rubben melempar tangan Brian ke samping dan berdiri di antara Angelica dan Brian. “Siapa kau?!”tanya Brian jelas tidak senang dengan kehadiran Rubben di sana. Rubben sama sekali tidak memperdulikan pertanyaan Brian, gen keluarga Alasdair memang selalu tidak memperdulikan orang yang mereka anggap tidak penting. “Aku mendengar dari orang di café kalau kau menyewakan kamar disini. Apa itu benar??”tanya Rubben ramah pada Angelica. Angelica bingung. Dia hanya mengangguk. Sedetik yang lalu dia nyaris ditampar oleh suaminya sendiri, dan sedetik kemudian, orang yang tadinya berbisnis dengannya kini menyelamatkannya dan bertanya tentang kamar yang disewakannya. “Bagus. Aku akan menyewa kamar itu selama dua minggu, atau lebih. Dan selama itu aku tidak ingin diganggu oleh hal-hal yang tidak ada hubungannya denganku. Aku benar-benar ingin suasana yang nyaman. Aku akan membayar berapapun untuk itu.”ujar Rubben lagi. “Aku tidak mengizinkanmu untuk tinggal disini!”ujar Brian kuat sambil menarik Rubben agar berbalik menghadapnya. “Siapa dia??”tanya Rubben pada Angelica. Brian jelas tersinggung dengan sikap Rubben,”Aku yang seharusnya bertanya seperti itu. Apa yang kau lakukan disini dan apa hubunganmu dengan istriku?!”tanya Brian kesal, “Apa kau berselingkuh dengannya selama aku tidak ada dan bekerja??” “Jangan pernah memfitnahku, Brian Brooke! Aku menerima semua perlakuanmu padaku, tapi jangan sesekali berani memfitnahku! Kau ada atau tidak, aku jelas tidak pernah berselingkuh seperti yang kau lakukan! Dan jangan pernah mengatakan kalau kau pergi untuk bekerja karena aku jelas tahu kalau kau tidak pernah pergi bekerja. Kau berselingkuh dengan wanita kota bernama Helena itu. Jangan kira aku tidak tahu apa yang kau lakukan!”teriak Angelica yang kekesalan sudah mencapan batas akhir. “Lalu apa yang akan kau lakukan?? Aku bisa saja meninggalkanmu.”ujar Brian menantang. “Lakukan sesuka hatimu! Aku sudah muak kau jadikan b***k pencari uang yang bisa kau ancam sesuka hatimu! Kalau kau memang ingin menceraikanku, silakan! Aku tidak peduli! Semua orang sudah tahu kalau kau tidak pernah bersikap baik padaku. Jadi tolong pergi sekarang juga dan jangan pernah menginjakkan kakimu disini lagi.”tegas Angelica yang kemudian langsung menuntup pintu rumah dengan sekali banting. Rubben hanya terdiam dikurung di luar. Dia sudah menjadi penonton dari adegan pertengkaran suami istri yang sangat hebat. Bahkan Rubben juga bisa menyaksikan kalau seorang wanita yang terlihat sangat lemah tapi bisa mengeluarkan keberanian untuk berteriak dan membalas ancaman suaminya. Pria bernama Brian Brooke itu menatap Rubben dengan tatapan benci sebelum akhirnya pergi dari rumah Angelica. “Jadi, aku benar-benar diusir sebelum menginjakkan kaki di dalam rumah itu??”tanya Rubben pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin seorang Rubben Alasdair bisa diusir tanpa berkata apa-apa?? Baru saja pikiran itu melintas di kepala Rubben, pintu rumah kembali terbuka dan Angelica keluar dengan kepala tertunduk. “Maafkan saya. Saya terlalu emosi sampai saya melupakan Anda.”ujar Angelica merasa bersalah. “Bukan masalah. Jadi, ini artinya aku boleh menginap disini??”tanya Rubben cepat. “Tentu, hanya saja Anda harus menunggu beberapa menit karena saya belum sempat membereskan kamar yang akan Anda gunakan. Tamu sebelumnya meninggalkan banyak barang-barang.”ujar Angelica sambil membukakan pintu lebih lebar dan membiarkan Rubben masuk. Rubben tersenyum,”Tidak apa-apa. Biarkan saja barang-barang itu. Aku hanya menginap dua minggu dan aku tidak membawa banyak barang. Jadi, tolong tunjukkan di kamar mana aku akan istirahat.”ujar Rubben yang sekilas pandang langsung menyukai rumah Angelica. “Rumah yang indah. Bagaimana bisa kau mengurus rumah seperti ini sendirian??”tanya Rubben penasaran, karena jelas rumah itu banyak memiliki ornament yang cukup bernilai jual tinggi. “Sharleen, anakku adalah seorang arsitek. Dia rutin mengirimkan pekerja untuk mengurus rumah. Dia sangat menyayangi rumah ini. Karena itu walaupun harus menjual seluruh lahan peternakan dan ternaknya, saya tidak akan menjual rumah ini.”jelas Angelica, “Dan ini kamar Anda. Kalau Anda butuh sesuatu saya ada di bawah.”ujar Angelica kemudian. “Apa saya boleh memakai dapur?? Saya suka memasak.” Angelica menatap Rubben tidak percaya. Pria ini, walaupun sudah berumur, tetap mempesona, dan jelas dia terlihat lebih muda dari usianya, mungkin. Bukan hanya itu, dilihat dari selera berpakaian dan mobilnya, dia jelas bukan orang kota sembarangan. Apalagi dia sanggup membayar tanah dengan harga tinggi. Tapi disamping semua itu yang membuat Angelica tidak percaya adalah Rubben menanyakan apakah dia boleh menggunakan dapur karena dia suka memasak?! “Mrs. Brooke??”panggil Rubben saat menyadari kalau Angelica belum menjawab pertanyaannya. “Oh, maaf. Tentu saja Anda boleh menggunakan dapur kapanpun Anda inginkan.”jawab Angelica cepat dan kemudian setelah memastikan Rubben menyukai kamarnya, wanita itu langsung turun ke kamarnya sendiri. Rubben mengamati kamar yang ditempatinya dan memeriksa barang-barang apa yang ditinggalkan oleh penghuni sebelumnya. Di lemari pakaian ada banyak sekali kemeja, celana pantovel, dan beberapa kaos serta jeans lusuh. Rubben yakin, walaupun pakaian-pakaian itu ditemani oleh beberapa kaos dan jeans lusuh, kemeja serta celana pantovel yang ada disana merupakan barang mewah. Karena label di salah satu celana mengingatkan Rubben akan pakaiannya sendiri yang merupakan design langsung dari seorang perancang dunia. Begitu juga dengan beberapa pasang sepatu di dalam lemari. Dan saat membuka laci lemari, Rubben menemukan sesuatu yang dia sangat mengenal siapa pemiliknya. Jam tangan rancangan designer ternama itu hanya ada satu di dunia karena merupakan pesanan pribadi. Dan jelas saja, di dalamnya, diantara angka-angka dan berlian yang mengelilingi lingkaran jam itu, ada inisial si pemilik. J.A. Sambil tersenyum penuh misteri, Rubben mengambil jam itu dan kemudian menelpon seseorang. “Justin Murphy.”sahut suara diseberang. “Ini aku. Aku menemukan sesuatu di tempatku menginap.”ujar Rubben pelan. Justin yang saat itu baru saja keluar dari bandara menghentikan langkahnya. “Apa yang kau temukan, Paman??”tanya Justin cepat. “Sebelum itu, bolehkah aku bertanya??” “Sejak kapan kau meminta izin untuk bertanya padaku??”tanya Justin balik. Rubben tertawa pelan,”Benar. Dimana jam yang aku berikan sebagai hadiah ulang tahunmu tahun kemarin?? Kau selalu memakainya kemanapun kau pergi. Tapi tadi dan beberapa hari sebelumnya kau tidak mengenakannya.” “Aku kehilangan benda itu. Maafkan aku. Aku lupa meletakkannya dimana.”ujar Justin setengah berbohong, karena dia ingat sekali kalau benda itu ada di rumah Sharleen dan tersimpan di laci lemari. Hanya saja mengingat sikap Angelica yang penuh permusuhan itu, Justin merelakan jam kesayangannya dibuang oleh Angelica. “Jadi, katakan padaku apa yang kau temukan??”tanya Justin kemudian. “Jam itu ada padaku. Aku menginap di rumah Angelica Brooke, dan sepertinya bukan hanya aku yang pernah menginap disini. Kau juga, bukan?? Baju-bajumu masih di lemari. Awalnya aku penasaran orang mana yang menginap disini tapi meninggalkan semua pakaiannya di dalam lemari. Bukan masalah kalau hanya kaos atau jeans murahan, tapi disini juga ada stelan mahal yang hanya bisa dipesan beberapa piece. Kenapa kau tidak bilang kalau kau pernah menginap disini, anak muda??”tanya Rubben. “Ini bukan masalah besar. Yang jelas jangan pernah mengatakan kalau kau ada hubungannya denganku kalau kau masih mau hidup. Angelica sangat membenciku.”jawab Justin. “Apa ada hubungannya dengan Sharleen??” Justin terdiam sejenak,”Kita ke mansionku saja,”ujarnya pada supir yang menjemputnya di bandara,”Sedikit. Selama disana aku berhubungan dengan Sharleen dan ternyata mereka tidak menyukai orang kaya dengan status bangsawan. Kau pasti bisa mengerti kalau aku jadi tidak bisa mengatakan siapa aku sebenarnya. Dan saat mereka tahu siapa aku, aku tidak ada disana untuk memberikan penjelasan. Angelica menganggap aku sudah menyakiti Sharleen. Kau bisa bayangkan apa saja reputasiku yang terlihat jelek di mata mereka. Aku miliarder, aku jelas seorang bangsawan, dan aku cukup dipandang jelek dengan kehidupan sosialku di kalangan selebritis. Bagi mereka, akulah orang yang tidak boleh mereka dekati.”jelas Justin yang terkadang lebih jujur pada Rubben daripada kedua orangtuanya. “Apa kau sudah minta maaf pada mereka??”tanya Rubben pelan. Dan sebenarnya tanpa menunggu jawaban dari Justin, Rubben sudah tahu jawaban yang akan diberikan pria itu. “Jangankan minta maaf, mendengarkan sedikit penjelasanku saja Angelica tidak bersedia.”jawab Justin cepat. Rubben nyaris menjatuhkan ponselnya karena terkejut. Justin mau memberikan penjelasan pada orang lain?? Itu sama saja dengan mengatakan kalau Justin bersedia tinggal bersama orang tua kandungnya dimana kemungkinannya hanya baru ada kalau neraka membeku. Justin yang dikenal Rubben memang laki-laki yang suka bermain wanita. Teman kencannya selalu berbeda dari satu acara ke acara lain. Dan apabila dia bosan, dia akan membuang pasangannya dengan cara baik-baik ataupun tidak. Justin juga bukan tipe orang yang akan menjelaskan apa yang terjadi walaupun dia dituduh membunuh presiden Amerika dan tidak ada saksi yang mendukungnya. Laki-laki itu akan menerima semuanya kecuali pada keluarganya. Justin akan memberikan penjelasan apapun pada adik-adiknya tanpa diminta. Dan dia juga bukan orang yang sangat dermawan yang meninggalkan barang-barangnya begitu saja di tempat orang. Bagi Justin, lebih baik membakar semua barang-barangnya daripada harus membiarkan orang lain yang membereskannya, kecuali di rumah. Justin memang mempunyai banyak uang tapi dia akan sangat perhitungan pada orang lain. Dan apa yang sudah dilakukan keponakannya itu?? Meninggalkan barang-barangnya bahkan jam tangan kesayangannya di rumah orang lain. Justin juga bilang kalau dia berusaha memberikan penjelasan tentang statusnya. Ini seperti bukan Justin. Seperti ada kepribadian lain dalam tubuhnya. “Apa yang terjadi padamu?? Kau bukan tipe orang yang bersedia meluruskan pembicaraan kalau tidak ada kaitannya dengan kedua adikmu. Apa yang terjadi, Alexandre??”tanya Rubben mulai serius. “Entahlah… Yang jelas kalau kau bisa membawa jam itu, bawakan untukku. Dan kalau kau penasaran yang mana wanita bernama Sharleen, ada banyak sekali photo-photonya di ruang keluarga. Kau bisa melihatnya.”ujar Justin sebelum menutup ponselnya dan bersandar lelah di kursi belakang. Sejujurnya, aku juga tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku selalu mengingat Sharleen, wanita itu menolak menghilang dari pikiranku. Dan semua yang aku lakukan, tidak seperti aku yang biasanya.pikir Justin sambil berusaha memejamkan matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN