6

2682 Kata
Lagi-lagi Justin melakukannya. Pria itu bahkan belum kembali setelah pergi selama seminggu. Padahal hari ini persidangannya dimulai. Entah apa yang dilakukan pria itu di New York. Sepertinya selalu ada yang menahannya untuk kembali ke sini sesuai janjinya.. Atau sebenarnya dia tidak ingin kembali kesini??pikir Sharleen kesal sambil mengamati sapi-sapi peliharaannya yang sedang digiring ke kandang. Sharleen masih sibuk dengan pikirannya sendiri saat Angelica berteriak dari rumah memanggilnya. Dengan malas Sharleen menghampiri Angelica di rumah. “Ada apa??”tanya Sharleen malas. “Kau pasti tidak akan percaya!”ujar Angelica kuat sambil menarik tangan Sharleen agar mengikutinya ke ruang duduk. Di televisi, sedang ditayangkan siaran langsung acara penghargaan perfilman. Acara baru saja dimulai. Kameraman sedang mengambil gambar tamu-tamu yang baru datang dan artis-artis yang terlibat di acara itu dalam tayangan red carpet. Dan ada sesosok pria yang sangat dikenal Sharleen sedang diwawancara karena kedatangannya bersama seorang artis yang sangat terkenal. “Justin?? Itu Justin kan??”tanya Sharleen tidak percaya sambil mengamati pria yang sedang bicara di layar televisi itu. Ternyata Sharleen tidak perlu menunggu lama untuk pertanyaan yang baru saja diajukannya. Di sudut bawah layar televisi di tampilkan nama Justin. Hanya saja bukan Justin Alexandre, tapi Justin Murphy, CEO dari KM Coorporation. Betapa terkejutnya Sharleen karena siang tadi dia baru saja mengirimkan surat kontrak kerja pada sekretaris Justin yang berisi tanda tangannya melalui email. Dan ternyata yang akan menjadi klien Sharleen nantinya adalah Justin, CEO dari KM Coorporation. Justin terlihat sangat sesuai dengan dunia glamor yang sekarang sedang dia masuki daripada dunia yang mereka jalani beberapa minggu ini, bermain dengan rumput, lumpur, dan makanan ternak. “Justin seorang CEO perusahaan besar, Sharleen. Pantas saja selama ini dia tidak pernah mengatakan apapun tentang pekerjaannya.”gumam Angelica pelan. “Bukan perusahaan besar, Angie. KM Coorporation perusahaan raksasa di dunia bisnis.”jawab Sharleen datar,”Dia bahkan jauh lebih buruk dari Theo.”lanjut Sharleen dingin. “Jangan seperti itu. Mungkin dia punya alasan sendiri.”bujuk Angelica lembut sambil menyentuh bahu Sharleen. Sharleen menatap televisi dengan tatapan yang sulit diartikan,”Aku juga punya alasan sendiri untuk membenci apa yang dia lakukan.”ujar Sharleen pelan lalu langsung mematikan televisi sebelum naik ke kamarnya. Sementara itu di New York, Justin sedang dalam keadaan yang sangat tidak baik. Dia dipaksa datang ke acara ini oleh Diana. Bintang film di sebelahnya ini adalah junior Diana saat di dunia modeling dulu, dan karena Diana tidak bisa hadir, Justin terpaksa harus menggantikan sahabatnya itu untuk datang ke acara penghargaan dunia perfilman ini. Yang pastinya besok wajah Justin akan muncul lagi di cover depan seluruh majalah dan tabloid, bahkan koran gossip karena sudah menghadiri acara ini. Justin bahkan tidak berpikir kalau kemungkinan Sharleen menonton, membaca atau mengetahui masalah ini lebih besar dari yang pernah Justin bayangkan. Kenapa aku selalu memikirkan Sharleen?? Disampingku sekarang ada seorang wanita yang sangat diimpikan pria lain untuk menjadi pasangan mereka sedangkan aku malah memikirkan wanita lain. Apa yang sudah terjadi padaku??pikir Justin yang sama sekali tidak menyadari kalau pasangannya sejak tadi memanggil namanya. Akhirnya dengan kesal pasangan Justin mencubit lengan Justin dengan cukup keras untuk membuat perhatian pria itu kembali padanya. Juddy memang sangat bahagia saat seniornya mengatakan kalau yang menggantikannya hadir di malam penghargaan itu adalah Justin Murphy. Juddy sama sekali tidak menyangka kalau_setelah sekian lama berada di dunia entertainment dan berusaha sedemikian kerasnya untuk menjadi artis terbaik agar CEO perusahaan besar itu tertarik padanya_akhirnya hanya karena seniornya tidak bisa hadir, seorang Justin Murphy bersedia menjadi pasangannya. Dan yang membuat Juddy semakin merasa istimewa malam itu adalah, Justin menepati janjinya untuk menjadi pasangan Juddy, bukan pasangan Ariana, kekasihnya. “Ap…”Justin nyaris berteriak saat Juddy mencubitnya dengan kuat. Tapi Justin segera mengurungkan niatnya karena dia ingat mereka sedang berada di acara bergengsi dunia. Dengan malas akhirnya Justin tersenyum,”Maaf kalau tadi aku sedikit tidak focus.”gumam Justin lembut, ada nada yang berbeda dalam ucapannya, bakat mempesona yang diperolehnya sejak lahir. Senyum Justin mempunyai efek yang sama pada setiap wanita, Juddy langsung melupakan kalau Justin sudah tidak memperdulikannya. Acara masih belum dimulai, para tamu undangan masih berkeliling bersalaman dan saling mengucapkan semoga menang. Tapi tiba-tiba Justin berhenti, ada seseorang yang sangat tidak ingin ditemuinya hadir di acara itu. Dengan satu gerakan cepat Justin membalik badannya dan langsung berjalan menjauhi tempat orang itu berada. “Ada apa??”tanya Juddy bingung. “Ak…” Belum sempat Justin menjawab pertanyaan Juddy, lengannya ditarik oleh seseorang. “Kenapa kau berbalik, sayang??”tanya Ariana sambil menarik lengan Justin ke dalam pelukannya. “Alex??”panggil sebuah suara yang sangat dibenci Justin. Pria pemilik suara itu berdiri di belakang Ariana. Juddy yang merasa kalau Justin malam ini adalah miliknya menarik lengan Justin yang satu lagi cukup kuat hingga terlepas dari pelukan Ariana. “Dia pasanganku, Ariana. Tolong urus saja pasanganmu dan jangan mengganggu milik orang lain.”ucap Juddy dingin tapi dengan wajah yang cukup tenang. “Sudah lama sekali kita tidak bertemu.”ujar pria yang berdiri di belakang Ariana itu. “Justin, please. Alexandre bukan nama yang kuizinkan keluar dari mulutmu.”ucap Justin datar,”Jud, maafkan aku, tapi kalau kau masih tetap ingin menghadiri acara ini sampai selesai, kau terpaksa harus sendirian karena aku tidak bisa berada dalam satu ruangan dengan orang ini. Tapi kalau kau masih ingin bersamaku, aku akan membawamu ke tempat lain sebagai permintaan maafku.”ujar Justin lembut. “Jangan pergi! Jangan bawa dia kemanapun! Jangan bawa dia ke apartementmu! Jangan lakukan itu!”tukas Ariana tiba-tiba yang menyadari apa maksud ucapan Justin itu, Justin bermaksud membawa Juddy ke apartement-nya dan menghabiskan malam disana, berdua. Justin memandang Ariana dengan tatapan merendahkan,”Aku sudah bosan mengatakan padamu kalau aku tidak ingin memiliki hubungan apapun lagi denganmu. Jadi kau sama sekali tidak berhak untuk melarang atau mencampuri apapun urusanku, Ariana. Apa kau ingin aku membuangmu seperti sampah baru kau akan sadar kalau kau sudah tidak kubutuhkan lagi?? Apalagi malam ini kau datang bersamanya. Itu membuatmu lebih tidak berharga di mataku.”ujar Justin pelan lalu segera pergi dari tempat itu dengan meninggalkan Juddy. Laki-laki itu selalu berada dalam kondisi terburuk kalau berhadapan dengan pasangan Ariana malam ini. Justin memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia benar-benar berada dalam suasana hati yang paling buruk setelah 17 tahun lalu. Justin ingin sekali membelah kepalanya dan membuang ingatan tentang malam ini ke dasar laut terdalam. Tapi dia tahu kalau itu tidak bisa dilakukannya. Dengan malas akhirnya Justin memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Justin belum terbangun saat pintu kamarnya terbuka dan seorang wanita masuk begitu saja dengan wajah kesal. “Kau menyuruh kami datang dan berjanji akan menjemput kami langsung di bandara. Tapi apa yang kau lakukan sekarang!? Kau masih di tempat tidur saat kami sudah lelah menunggumu dan memutuskan untuk mencarimu langsung!”teriak wanita itu benar-benar kesal. Antara sadar dan tidak sadar Justin merasa mendengar suara adiknya, dan dengan malas Justin membuka matanya tepat saat sebuah bantal melayang ke arahnya lalu mendarat tepat di wajahnya. “Apa-apa’an ini?!”teriak Justin kesal karena tidurnya diganggu oleh orang lain. “Kau bertanya apa ini?? Kau beruntung karena aku masih melemparmu dengan bantal dan bukannya dengan meja ini. Cepat bangun! Willy terlalu kelelahan hingga begitu sampai di sini, dia langsung tertidur! Kau memang tidak pernah memperdulikan keadaan adik-adikmu.” Justin tersenyum memandang Queen. Kembarannya itu terkadang sangat tenang, tapi juga bisa sangat menakutkan seperti pagi ini. “Maafkan aku. Jadi, katakan padaku, bagaimana kalian bisa sampai kesini??”tanya Justin lembut sambil bangkit dari tempat tidurnya. Queen yang menyadari kalau Justin tidak mengenakan apapun selain celana pendek langsung membalik badannya. “Kenakan pakaianmu!”tegur Queen cepat yang langsung membuat Justin sadar kalau pakaiannya sangat minim. “Bukankah kita kembar?? Seingatku dulu kita bahkan pernah mandi bersama, bukan?”tanya Justin meledek sambil meraih jubah tidurnya yang diletakkannya di kaki tempat tidur sebelum mengenakan jubah itu. “Kita memang kembar, tapi itu tidak berarti kau bisa pamer tubuhmu di depanku. Kalau kau memang sangat menyukai hal itu, lakukan di depan kekasihmu.”gerutu Queen kesal karena Justin sama sekali tidak menganggap kalau mereka sudah dewasa. “Dimana Willy??”tanya Justin begitu Queen selesai menggerutu. “Dia di kamar tamu. Biarkan dia istirahat. Willy terlalu lelah akibat perjalanan ini. Bersyukurlah karena Marvin sedang keluar negeri sehingga yang terbaik untuk Willy adalah bersamamu. Kalau tidak, aku bisa menjamin kalau Marvin akan menantangmu bertarung karena sudah membuat Willy berada dalam kondisi yang buruk itu. Kau akan menyesal kalau kau tidak berbuat sesuatu yang baik untuk Willy setelah semua yang dialaminya untuk sampai kesini. Kehamilannya memang tidak besar, Justin. Tapi dia jauh lebih lemah.”jelas Queen pelan. “Begitu rupanya. Bagaimana kalau kau juga istirahat, Queen. Kau baru keluar dari rumah sakit, aku tidak ingin kedua adikku yang kuundang kesini untuk liburan malah terbaring sakit. Lagipula hari ini aku ada pekerjaan penting, dan aku harap, sebelum makan siang, kalian berdua sudah dikantorku supaya kita bisa makan siang. Setelah itu kita akan terbang ke Bellingham, untuk melihat peternakan yang aku beli. Aku yakin kau akan menyukai suasana disana. Willy sangat menyukai tempat itu. Bagaimana??”tanya Justin lembut. Queen berjalan mendekati Justin, lalu mengecup pipi kembarannya itu, “Terserah kau saja. Kalau begitu aku akan kembali ke kamarku. Dan ingat sebelum pergi kau harus sarapan, Sarah sudah menyiapkan sarapan untukmu, dia akan menangis kalau kau, orang yang sangat dihormatinya tidak memakan masakannya.”ujar Queen pelan lalu berjalan keluar dari kamar Justin dan meninggalkan Justin sendiri. *** Justin sudah mengantar Willy ke hotel, sedang dia dan Queen akan ke rumah Sharleen untuk mengambil beberapa keperluannya. Tapi Justin sama sekali tidak menduga kalau sambutan yang akan diterimanya berbeda dengan yang selama ini dirasakannya. “Pergilah, Justin Alexandre Murphy. Kau tidak diterima lagi di rumah ini.”ujar Angelica begitu Justin menginjakkan kakinya di teras rumah bersama Queen. Justin menatap Angelica bingung sekaligus terkejut. Angelica bukan hanya menyebut nama tengah Justin, tapi juga nama keluarganya. “Apa yang kau maksud, Angie??”tanya Justin. “Kau ingat apa yang kukatakan?? Jangan pernah menjadi salah satu dari golongan itu setelah semua yang Sharleen rasakan padamu. Kau menyakitinya, dan karena itu aku membencimu, walaupun itu sulit.”jelas Angelica. “Kau sudah membohongi kami semua, Justin. Seorang CEO KM Coorporation tidak seharusnya menghabiskan waktu di peternakan kecil dan kotor seperti ini.” “Aku rasa aku berhak bertanya darimana kalian tahu ini semua??”tanya Justin cepat. “Kami bersyukur tahu semuanya sebelum berjalan lebih jauh. Kau tidak akan bisa menyembunyikan semua ketenaranmu selama-lamanya. Aku bodoh karena tidak mengingatmu. Kami melihatmu saat acara Award itu, Justin. Bagaimana rasanya tampil di depan umum bersama artis terkenal?? Aku rasa kau sudah sering mengalaminya mengingat apa status aslimu.”ujar Angelica dingin. “Ini tid…” “Apa masih lama??”tanya Queen yang akhirnya memilih keluar dari mobil karena bosan. Angelica mengamati Queen, bagi Angelica, Queen benar-benar terlihat seperti ratu. Wanita itu punya keanggunan dan kecantikannya sendiri. Queen tidak bisa dikatakan cantik seperti Juddy, tapi Queen memang diciptakan untuk indah dipandang siapapun. “Bagus sekali Sharleen tidak ada disini untuk melihat apa yang kau lakukan padanya. Kau benar-benar sadar kalau kau bisa mempesona wanita mana saja.”gumam Angelica, “Ambil semua barang-barangmu, aku rasa itu tidak membutuhkan waktu yang lama karena Sharleen sudah mengepak semua barang-barangmu. Dan jangan pernah kembali kesini.”lanjut Angelica dingin. Justin mengerti apa yang dikatakan Angelica. Kenapa aku harus menjelaskan semuanya?? Seharusnya aku bersyukur karena aku tidak perlu memutuskan hubungan ini. Mereka tidak berguna untukku, jadi untuk apa aku berusaha mempertahankan hubungan ini.pikir Justin sejenak. “Tidak. Kita pergi sekarang.”putus Justin,”Dan kau boleh membuang barang-barangku. Aku tidak memerlukannya.”lanjut Justin yang kali ini ditujukan pada Angelica. Sharleen sudah seminggu kembali ke Washington, tapi dia sama sekali tidak bisa melupakan Justin. Pria itu selalu hadir dalam tidur Sharleen, karena itu Sharleen semakin menyibukkan dirinya dan mengurangi jam tidurnya. Bahkan Sharleen tidak mendengarkan teguran dari Andy. Sampai suatu hari, Sharleen yang sedang mengerjakan sketsa rumah mendapat tamu yang cukup tak terduga. “Maaf sudah mengganggu.”ujar seorang wanita begitu sopan. Sharleen tidak pernah bertemu dengan tamunya kali ini sebelumnya. Wanita di hadapan Sharleen ini terlihat jauh lebih tua dari Sharleen, mungkin berumur 40 tahun lebih. Tapi walaupun begitu, wanita itu tetap terlihat berwibawa dan sangat tenang. Sharleen bangkit dari kursinya, “Anda ada perlu dengan saya??”tanya Sharleen tak kalah sopan. Maria tersenyum lembut,”Saya Maria Hoffman. Saya harap anda tidak lupa kalau kita ada janji temu hari ini.”ujar sekretaris Justin. Sharleen terdiam. Sharleen tidak pernah berpikir kalau pertemuan ini akan benar-benar terwujud, karena bagaimanapun, Sharleen sudah menandatangani kontrak kerja. Karena itu Sharleen berpikir kalau dia tidak harus bertemu dengan siapapun yang berhubungan dengan Justin lagi. “Saya tidak lupa. Hanya saja karena kontrak sudah ditandatangani, saya pikir tidak perlu bertemu lagi.”sahut Sharleen jujur. Maria mempersilakan dirinya sendiri untuk duduk,”Saya rasa kita tetap harus bertemu. Saya membawakan data tentang Eleanor. Karena atasan saya ingin mendapatkan yang terbaik yang bisa anda lakukan pada Eleanor.”jelas Maria tenang. “Apa atasan anda tahu dengan siapa dia akan bekerja sama??”tanya Sharleen cepat. Maria menggeleng pelan. “Tidak, untuk beberapa hal, dia mempercayakan semuanya pada saya. Karena itu saya berusaha mencarikan yang terbaik untuknya.” “Aku harap dia tidak tahu bekerja bersama siapa bahkan sampai masalah ini selesai. Aku tidak ingin terlibat dengan orang yang terlalu di sorot seperti atasan anda. Dia terlalu terkenal.”ujar Sharleen berdalih. Sharleen mengamati wanita di hadapannya sekali lagi, dan akhirnya memutuskan kalau pendapat Maria benar. Dia harus tahu segalanya tentang Eleanor kalau ingin melakukan yang terbaik bagi rumah itu. Dan Sharleen benar-benar terkejut saat membuka softcopy yang berisi beberapa photo dari berbagai sudut Eleanor. Rumah itu bukan rumah biasa. Rumah itu sangat megah! Hampir dua jam Sharleen dan Maria berunding, tapi perundingan itu tidak hanya mereka lakukan berdua. Dari pihak Sharleen, dia membawa Andy, sedangkan dari pihak Maria, dia terhubung langsung via telpon dengan Justin. Dan akhirnya keputusan akhir didapatkan. Sharleen akan mulai bekerja mulai bulan depan dan dekorasinya juga sudah ditentukan. Justin menginginkan warna putih dan kuning gading mendominasi rumahnya serta beberapa ornament emas untuk membuat rumah itu semakin terlihat megah. Dan Sharleen pun semakin yakin dengan keputusannya meninggalkan Justin_atau sebaliknya. Sharleen langsung kembali ke apartementnya begitu Maria pulang. Wanita itu langsung kembali ke New York begitu pembicaraan mereka selesai. Sharleen tidak bisa bekerja kalau dia sudah memikirkan Justin. Pengaruh pria itu lebih besar daripada yang pernah Sharleen harapkan. Dia benar-benar jauh dari jangkauanku. Dia bahkan melebihi Theo. Akan banyak halangan kalau aku mempertahankan ‘tempat’ itu. Dan aku tidak yakin kalau halangan itu hanya berasal dari luar. Dia juga memberiku kesulitan tersendiri. Sikapnya yang selalu baik pada wanita dan kebiasaannya yang sudah mendarah daging untuk selalu mempesona siapa saja membuat posisiku semakin sulit. Butuh seseorang yang berjiwa besar untuk dapat berdiri di sisinya dengan tegar, dan itu bukan aku.pikir Sharleen sambil mengamati bintang-bintang dari beranda kamarnya. Ditempat lain Justin bangkit dari tempat tidurnya dan meraih jubah kamarnya. Pria itu keluar dari kamar dan mencari minuman di lemari penyimpanan. Setelah mendapatkan sebotol scotch, Justin bersulang untuk dirinya sendiri sebelum beranjak ke beranda. Ingatannya kembali ke malam penghargaan itu. Dia ada disini. b******k itu ada disini. Dan dia sama sekali tidak merasa bersalah atas semua perbuatannya dulu. Tapi aku harus bersyukur karena dia tidak di Dallas. Queen akan shock bertemu dengannya, semua penderitaan yang kudapat jauh lebih kecil dibandingankan kenangan menyakitkan yang diterima Queen. Jangan harap dia bisa menemui Queen. Apapun caranya aku akan menghalanginya.pikir Justin serius dan sama sekali tidak menyadari seseorang berjalan dengan sangat pelan di belakangnya. “Kenapa kau bangun??”tanya sebuah suara begitu lembut sambil memeluk tubuh Justin dari belakang. Justin membalik tubuhnya dan tersenyum pada wanita cantik yang memeluknya, “Aku tidak ingin membangunkanmu.”sahut Justin pelan sambil membalas pelukan wanita itu, “Ayo, kita masuk. Di luar sangat dingin.”lanjut Justin lalu meletakkan gelas yang dipegangnya di meja sebelum memeluk pinggang Juddy dan membawa wanita itu kembali ke kamar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN