5

4855 Kata
Hari-hari berikutnya diisi Justin dengan belajar beternak dari Angelica. Wanita itu mengurus sisa peternakan yang ditinggalkan oleh ayah Sharleen sebelum dia meninggal. Dan Justin sangat menyukai pekerjaan barunya itu. Pria itu sekarang lebih banyak terlibat dengan makanan ternak, rumput, serta lumpur dengan mengenakan jeans belel yang sudah pudar serta kaos daripada mengenakan stelan mahal rancangan designer ternama dan terlibat dengan berkas-berkas bernilai ratusan juta dollar. Justin sedang mengangkut rumput untuk makan sapi ke kandang saat Sharleen berlari meneriakkan namanya. “Apa yang membuatmu berlari dari luar sampai kesini dengan meneriakkan namaku?? Semua pekerjamu menggodaku.”gerutu Justin lalu tersenyum geli. “Aku mendapatkan lahan yang akan dijual cepat. Aku ingin kau melihatnya dulu dan menawar harganya. Tempatnya tepat di belakang peternakan ini.”jelas Sharleen dalam satu tarikan napas. Baru kali ini aku bertemu wanita yang begitu bersemangat seperti ini.pikir Justin. “Kapan kita akan kesana??” “Sekarang??” Justin mengangguk setuju,”Baiklah. Aku akan mandi. Aku terlalu kotor setelah seharian ini dibantai oleh Angelica.” “No, no, no.”ujar sebuah suara lembut,”Jangan menjelek-jelekkan namaku, Justin. Kau sendiri yang ingin melakukan semuanya.”lanjut Angelica sambil tersenyum,”Pergilah, dan terima kasih atas bantuanmu. Dan kau memang kotor sekali, tampan.” Justin melangkah maju mendekati Angelica dan mencium pipi wanita itu,”Kau mengajariku banyak hal, cantik.”gumam Justin lembut yang langsung membuat pipi Angelica memerah. Justin hanya tertawa sambil berjalan kembali ke rumah diikuti oleh Sharleen,”Jangan menggodanya, Justin. Kau bisa dibunuh oleh Brian.”tegur Sharleen. “Oh ya?? Apa benar aku akan dibunuh oleh Brian?? Apa semua ini tidak karena kau cemburu??”tanya Justin pelan. Sharleen menggeleng cepat, membuat rambut panjangnya bergoyang. “Untuk apa aku cemburu??”tanya Sharleen mencoba angkuh. Justin tersenyum. Dia tidak pernah ditantang. Dan kalau tantangan itu ada, Justin tidak akan pernah mundur. “Untuk ini mungkin…”bisik Justin lalu mencium bibir Sharleen tepat saat mereka sudah masuk ke dalam rumah. Justin terus menciumi Sharleen sampai wanita itu kehabisan napas, setelah memberi Sharleen waktu untuk bernapas, Justin kembali mencium Sharleen. Tiba-tiba Justin berhenti mencium Sharleen dan membuat Sharleen spontan menarik leher Justin agar pria itu kembali menciumnya. “Aku ingin sekali melanjutkan ini, sayang. Tapi kalau kau tidak berhenti sekarang, kita tidak akan bisa pergi ke tempat si pemilik lahan.”bisik Justin serak. Seakan disiram oleh air dingin, Sharleen langsung mendorong Justin menjauh, tapi wanita itu tetap masih berada dalam pelukan Justin. “Kita akan pergi. Lebih baik sekarang kau pergi mandi.”ujar Sharleen dengan wajah merah. “Kau yakin?? Kau tidak mau melanjutkan apa yang sudah kita mulai??”tanya Justin serak. “Lebih baik kau mandi. Aku akan bersiap-siap.”ulang Sharleen yang kali ini dibiarkan Justin melepaskan diri dari pelukan Justin. Bertahan Justin. Sharleen berbeda dengan wanitamu sebelumnya. Sharleen berderap memasuki rumah menyusul Justin. Dia sama sekali tidak bisa mengerti jalan pikiran pria itu. Lahan yang seharusnya bisa dia beli dengan harga murah, malah dia beli dengan harga yang cukup tinggi. Itupun tidak memeriksa surat-suratnya dengan teliti. “Kenapa kau sama sekali tidak mendengar apa yang aku katakan??”tanya Sharleen kesal begitu dia masuk ke kamar Justin. “Sharleen.. Kita sudah membahas masalah ini dalam perjalanan. Dan aku sama sekali tidak peduli. Aku rasa harga yang diberikannya sesuai dengan lahan yang begitu bagus itu. Jadi apa masalahnya??”tanya Justin tenang. “Oke, lahan itu memang bagus. Tapi kau masih bisa mendapatkannya dengan harga murah, Justin.”tegas Sharleen. Justin maju selangkah dan memegang bahu Sharleen. “Anggap saja aku berbaik hati, oke?? Aku tidak ingin membahas masalah ini lagi. Karena mulai besok aku akan sibuk mengurus surat-surat kepemilikan tanah itu. Dan setelahnya aku akan mulai pekerjaan baruku. Apa kau mau membantuku??”tanya Justin lembut dengan senyum yang selalu digunakannya untuk membujuk wanita. Sharleen tetap belum kebal dengan senyum Justin. Melihat senyum pria itu membuat Sharleen melupakan semua kekesalannya. “Baiklah. Aku akan membantumu, lebih baik sekarang kau istirahat. Aku juga akan tidur.” “Untuk pertama, aku ingin minta tolong padamu. Carikan aku pekerja yang bisa dipercaya untuk mengurus peternakan. Masalah gaji, tolong kau yang tetapkan karena aku sama sekali tidak tahu berapa gaji standar disini.”ujar Justin cepat,”Dan…” Justin maju beberapa langkah sebelum mencium bibir Sharleen singkat,”Selamat malam…”gumam Justin. *** Sharleen sama sekali tidak percaya. Setelah Theo, masih ada pria yang sanggup membuatnya merasa seperti remaja umur belasan tahun. Justin menerobos masuk ke dalam hati Sharleen tanpa izin dan pria itu tetap disana tanpa penjelasan yang pasti. Sharleen tidak ingin ada yang tersakiti lagi, baik dirinya ataupun orang lain. Tapi semua yang dia rasakan pada Justin itu nyata. Sharleen sangat menyukai pria itu, tapi di lain sisi Sharleen belum mengenal Justin. Dia tidak ingin kalau nanti ceritanya akan terulang kembali. Bergaul dan berkencan dengan seseorang dari keluarga bangsawan dan kaya seperti Theo membuat Sharleen trauma. Bukan harga dirinya yang akan dipertaruhkan kali ini, tapi juga Angelica. Kehadiran Justin yang semakin lama di rumah Sharleen membuat wanita itu senang sekaligus takut. Dan dia memilih untuk menghindar. “Kau lihat Sharleen??”tanya Justin begitu dia turun untuk sarapan beberapa hari kemudian. “Pagi-pagi sekali dia pergi ke kota.”jawab Angelica jujur. Justin menarik kursi makan dan duduk dalam diam sambil berpikir. “Aku merasa kalau dia menghindariku akhir-akhir ini. Aku sama sekali tidak tahu apa salahku.”gumam Justin. “Aku tahu aku tidak berhak mencampuri urusan pribadimu. Tapi ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu.”ujar Angelica serius. “Silakan. Tanyakan saja apa yang kau pikirkan.” “Sebenarnya hubungan apa yang kau harap bisa terjalin antara kau dengan Sharleen??”tanya Angelica langsung. “Aku tidak tahu. Aku tidak bisa menganggapnya teman karena aku memang mengharapkan lebih dari itu. Tapi aku juga tidak bisa mengatakan kalau dia kekasihku karena kami memang bukan sepasang kekasih. Semua ini terlalu rumit. Aku sendiri bingung dengan hubungan kami.”jelas Justin jujur. “Pastikan perasaanmu, Justin. Kau sudah kuanggap sebagai bagian dari keluarga ini. Aku tidak tahu, tapi yang pasti aku merasa kalau kau bukan orang jahat. Hanya aku ingin mengingatkan satu hal padamu. Sharleen tidak menyukai orang kaya, dan aku harap kau tidak termasuk dalam golongan itu. Karena kalau kau berani menyakiti putriku, aku akan membencimu, dan itu adalah hal yang tidak kuinginkan.” Oh, aku tidak kaya, Angelica. Aku hanya seorang milyuner. Aku berharap kalau itu tidak masuk dalam golongan orang kaya. Semua yang kumiliki saat ini hanya karena aku meneruskan perusahaan keluarga. Kalau tidak, aku hanya seorang atlet basket yang bekerja sampingan sebagai model dengan penghasilan bersih sebulannya nyaris 2 miliar, tanpa honorku sebagai model. Dan aku sebenarnya sama sekali tidak berharap bisa menjadi seperti sekarang, walaupun aku juga tidak akan munafik dengan mengatakan aku menyukai keadaanku sekarang.pikir Justin. “Sebenarnya apa yang terjadi dengan Sharleen?? Kenapa dia bisa membenci orang kaya seperti itu?? Dan apa masalah yang terjadi antara dia dan Matheo Faubel??”tanya Justin penasaran. “Kau mau tahu??”tanya sebuah suara mengagetkan semuanya. Sharleen sudah berdiri di pintu dapur dengan tangan terlipat di d**a. “Ikut aku.”lanjut Sharleen sambil berjalan ke kamarnya. Justin yang belum sempat menyentuh makanan apapun di atas meja memilih untuk mendengarkan penjelasan Sharleen terlebih dahulu. Pria itu mengikuti Sharleen ke kamarnya. “Kau pasti masih ingat dengan Theo, karena barusan kau menyakannya.”ujar Sharleen begitu Justin masuk ke kamarnya. “Apa hubungannya dia dengan semua ini?? Kenapa sepertinya dia memiliki andil yang sangat besar dengan masalah kau menjauhiku.”tanya Justin bingung. “Dialah sumber semua masalahku.”jawab Sharleen pelan,”Dia mantan tunanganku. Kami berpisah karena aku yang meninggalkannya. Jack memintaku untuk meninggalkan Theo karena anaknya, Carina, mencintai Theo. Dia memberikanku uang 5 juta dollar untuk menebus tanah peternakan yang digadaikan ayahku. Aku membencinya karena aku tahu uang itu pasti bisa menebus tanah yang sangat disayangi ayahku. Tapi, aku tidak menerimanya. Akan banyak masalah yang datang pada keluargaku kalau aku tetap berhubungan dengan Theo, karena itu aku memilih untuk meninggalkannya dan pindah sendiri ke Washington, menetap dan bekerja disana. Sampai akhir, tanah yang digadaikan itu sekarang tetap tidak kembali pada kami. Saat aku pindah, aku mengatakan pada semua keluarga Theo kalau aku sudah memiliki kekasih di Washington, makanya aku membatalkan pertunangan kami. Tidak ada yang curiga, karena aku memang kuliah disana dan lebih banyak menghabiskan waktuku disana. Tapi sampai sekarang Theo tetap tidak melepaskanku. Kau ingat pertama kali kau bertemu Jack?? Saat itu dia bertanya dimana kekasih yang aku ceritakan selama ini. Dan aku beruntung karena saat itu kau muncul menolongku. Terima kasih.”jelas Sharleen tenang. Dan untuk pertama kalinya Sharleen bisa menceritakan sepenggal kehidupannya pada orang lain tanpa emosi yang berlebihan. “Apa aku bisa menjadi kekasih seperti yang kau ceritakan??”tanya Justin tiba-tiba yang langsung membuat Sharleen terkejut dan nyaris mencair. “Ya, walaupun aku tahu kalau aku bukan orang Washington seperti yang kau ceritakan pada mereka.” “Apa yang barusan kau katakan??”tanya Sharleen tidak percaya. “Aku bisa menjadi kekasihmu, dan kau tidak perlu berbohong lagi atau mencari pria lain untuk menjadi kekasih pura-puramu. Aku tahu kalau aku tidak baik dan mungkin jauh dari yang kau impikan. Tapi aku akan mencoba menjadi yang terbaik yang kubisa.” Kau bahkan melebihi impian terliarku selama ini, Justin! Aku bahkan tidak sanggup membayangkan memiliki kekasih yang bisa menarik perhatian wanita di segala usia. Kau terlalu sempurna.teriak Sharleen dalam hati. Sharleen berlari memeluk Justin, membuat pria itu langsung terjatuh ke belakang, tepat di atas ranjang Sharleen. “Aku sama sekali tidak berani berharap bisa memiliki kekasih sepertimu. Kau terlalu sempurna untukku.”bisik Sharleen jujur. “Kau menyukaiku??”tanya Justin takjub. “Apa ada orang yang tidak menyukaimu?? Aku tidak bisa membayangkannya.”jawab Sharleen. Ada orang yang tidak menyukaiku, Sharleen, dan bahkan sanggup membuangku. “Kau memberiku kesan kalau kau tidak menyukaiku. Kau cukup dingin padaku. Apalagi beberapa hari belakangan ini. Kau menghindariku.”ujar Justin pelan sambil mengelus rambut hitam Sharleen yang panjang. “Aku takut padamu. Melihatmu bersama adikmu membuatku sadar kalau kau bukan dari duniaku. Tapi akhirnya kau menjelaskan semuanya, sejak saat itu pertahananku melemah. Kau menerobos masuk begitu saja dalam kehidupanku. Tapi tetap saja aku masih takut padamu. Aku tidak mengenalmu. Aku hanya tahu kalau kau berasal dari New York dan bekerja di perusahaan keluarga yang aku tidak tahu.” Kalau aku katakan siapa aku, apa kau tidak akan menjauh?? b******k! Kenapa aku seperti ini?! Aku tidak pernah peduli apa anggapan orang lain padaku.pikir Justin bingung. “Aku bukan orang yang harus kau takuti. Aku berbeda dengan Theo.”ujar Justin yakin. Karena keluargaku tidak pernah memperdulikan siapa mereka asalkan kami bahagia. “Aku juga berharap seperti itu.”sahut Sharleen lembut sambil membenamkan kepalanya di d**a Justin. “Tapi aku tidak percaya kalau semua ini nyata.” Justin tersenyum mengerti dan dengan satu gerakan dia berhasil mengunci Sharleen dalam pelukannya dan mencium wanita itu. “Aku nyata. Kau bisa merasakanku.”gumam Justin di bibir Sharleen. Tiga jam kemudian Sharleen terbangun dan mendapati Justin berbaring di sebelahnya dengan lengan memeluk Sharleen sepenuhnya. Wajah Sharleen langsung memerah. Dulu dia hanya bermimpi bisa bercinta dengan Justin, Sharleen sama sekali tidak menyangka kalau impian terliarnya akhirnya menjadi kenyataan. Sharleen bergerak keluar dari pelukan Justin dan mulai menciumi wajah Justin pelan. Betapa terkejutnya Sharleen kalau ternyata Justin sama sekali tidak tidur. Pria itu langsung membalik Sharleen dan menguncinya di antara kedua lengan kekar itu. “Mau dilanjutkan??”tanya Justin serak dan gantian menciumi wajah Sharleen. Sharleen tertawa pelan lalu melingkarkan lengannya di leher Justin, “Aku tidak berani berharap.”ujarnya merdu dan keduanya kembali menikmati waktu yang ada sampai pagi. “Aku tidak percaya!”teriak Sharleen histeris saat membaca berita di koran pagi. Tanah yang dibeli oleh Justin ternyata bermasalah. Surat-surat tanahnya tidak sah, dan penjual sebelumnya bukan pemilik asli. Justin mau tidak mau harus terkait dengan masalah ini dan ikut diadili karena pria itu tidak memeriksa validitas kepemilikan surat tanah dengan teliti. “Tenanglah.”bujuk Justin sambil menggenggam tangan Sharleen. “Bagaimana mungkin aku bisa tenang!? Masalah ini akan dibawa ke pengadilan dan walikota pasti akan turun tangan. Setelah tahu kau punya hubungan denganku, Jack pasti akan mempersulitmu.” Justin tersenyum. “Hei. Yang punya masalah disini itu aku. Kenapa yang lain harus ribut?? Aku yakin kalau aku tidak akan dipersulit.”ujar Justin tenang. “Darimana kau bisa mendapatkan ketenangan seperti ini?? Yang akan menjadi lawanmu adalah pengadilan dan walikota. Belum lagi kalau mereka mempermasalahkan kependudukanmu. Kau akan banyak terkena masalah. Kau bukan warga Bellingham!” “Aku pasti bisa menyelesaikannya. Jadi aku mohon, tenanglah.”bujuk Justin lagi. Aku juga pernah masuk penjara karena salah tuduh kasus pembunuhan salah satu kekasih rekan modelku. Jadi, ini bukan masalah besar. Angelica yang dari tadi mondar-mandir di dapur akhirnya bergabung dengan Sharleen dan Justin di ruang tengah. “Justin benar, Sharleen. Setidaknya kalau kita tenang, kita akan lebih mudah untuk memikirkan penyelesaiannya.”ujar Angelica pelan sambil meletakkan kue kering yang baru dibuatnya ke atas meja. “Oke! Aku akan mencoba untuk tenang. Jadi jelaskan padaku apa yang akan kau lakukan untuk mengatasi semua ini??”tanya Sharleen cepat. Justin membungkukkan tubuhnya dan mengecup bibir Sharleen sekilas,”Aku belum tahu. Aku sedikit bingung. Aku masih tidak mengerti kenapa walikota sampai turun tangan dalam masalah ini. Tapi aku akan mencoba mencari bantuan dari luar. Kuharap ada seseorang yang lebih berpengaruh yang bisa menyelamatkanku.”jelas Justin tenang. “Kau masih belum tahu apa yang akan kau lakukan dan kau masih bisa tenang?? Ya Tuhan, Justin! Apa sebenarnya yang kau pikirkan??”geram Sharleen kesal. “Tenanglah, sayang. Aku akan ke kota sebentar, paling lama 2 jam. Ada yang harus aku lakukan. Selama itu jangan berbuat apapun untuk masalah ini. Dan, kau bukan orang pertama yang mempertanyakan apa yang aku pikirkan.”tegas Justin lembut,”Dan Angie, aku titip Sharleen padamu. Jangan sampai dia melakukan hal yang bodoh untuk membantu masalahku ini.”ujar Justin lalu tersenyum lebar. Pria itu berlari menuju mobilnya yang diparkir di halaman rumah Sharleen dan langsung berkendara menuju kota. Sebenarnya Justin hanya ingin menelpon seseorang, tapi dia tidak leluasa menelpon di rumah Sharleen, makanya dia memilih untuk menelpon di kota. Justin akhirnya menghentikan mobilnya di pinggir jalan di depan kafe tempatnya pertama kali melihat Sharleen. Dia memasuki kafe dan mencari tempat duduk paling sudut. Justin menekan beberapa tombol di ponselnya sebelum ponsel itu tersambung ke sebuah pesawat telpon. “Quentin Murphy.”sahut suara di seberang. “Hallo, Queen. Ini aku Justin.” Queen baru saja akan mengeluarkan mobilnya dari garasi sesaat sebelum Justin menelpon, dan sekarang wanita itu memilih untuk mengobrol dengan Justin sebentar. “Ada apa?? Kau pasti punya sesuatu yang penting hingga kau menelponku pagi-pagi begini.”tanya Queen. “Tolong bantu aku. Aku terlibat masalah di Bellingham. Tanah peternakan yang aku beli bermasalah dan sekarang masalahnya sudah sampai di pengadilan. Kau tahu kalau aku tidak boleh sampai di pengadilan. Yang memperberat semua ini adalah walikota Bellingham turut serta mempersulitku.”jelas Justin ringkas. “Kenapa seorang walikota bisa mempersulitmu?? Apa ada hubungannya dengan wanita??”tanya Queen menyelidiki. “Sedikit. Jadi intinya kau bisa menolongku atau tidak??”tanya Justin cepat. “Yang bisa membantumu bukan aku. Gubernur yang menguasai Bellingham dan sekitarnya tidak termasuk dalam komunitas sosialku. Aku tidak pernah berhubungan dengan orang pemerintahan kecuali ada hubungannya dengan kantor. Lebih baik kau telpon Willy karena dia memiliki komunitas antar benua dan antar samudra. Wanita itu lebih terlihat sebagai politikus daripada seorang perancang perhiasan.”ujar Queen cepat. “Willy?? Aku bisa dibunuh Marvin kalau melibatkan Willy dalam masalahku. Kau tahu kalau Marvin akan melenyapkan siapa saja yang membuat Willy susah. Dan mungkin aku sudah berada dalam daftar teratas Marvin.” Queen menghela napas panjang. Dia memang menyayangi pria ini, tapi dia tidak suka dengan sikapnya yang terkadang menganggap remeh suatu masalah dan di lain pihak terlalu membesarkan masalah kecil. “Akan lebih baik kalau yang kau hubungi adalah Marvin. Bagaimana Justin??” “Mungkin kau benar. Aku akan mencoba untuk menghubungi Marvin.”putus Justin pasrah. “Bagus. Kalau begitu aku ke kantor sekarang. Sampai nanti.” “Tunggu!” “Apa lagi??”tanya Queen mulai kesal. “Aku mencintaimu, Quentin. Jaga dirimu.”ujar Justin lembut. Setelah memutuskan pembicaraan dengan Quentin, Justin langsung mencari nomor telpon Willy di ponselnya, tapi dia akhirnya sadar kalau ponselnya yang lama hilang dan yang sekarang belum diisi nomor telpon oleh Maria. Dengan mengandalkan ingatannya yang sangat kuat, Justin menekan tombol-tombol nomor telpon Willy. “Hallo, Justin??”sapa sebuah suara lembut di seberang. “Wil… Aku kehilangan ponsel, dan aku tidak mengingat nomor Marvin. Apa Marvin ada disana??”tanya Justin langsung. Di seberang sana Willy bergeser dari tempat tidurnya dan menatap suaminya di sisi tempat tidur yang lain. “Marvin masih tidur. Apa ini penting??”tanya Willy lagi. “Aku harap ini juga bukan masalah yang penting.”jawab Justin pelan. “Tunggu sebentar.”ujar Willy cepat. “Marvin… Marvin… Marvin bangun!”ucap Willy sambil menggoyang-goyang tubuh suaminya yang sedang bergelung dengan selimut. Marvin sama sekali tidak bergerak. Hari ini dia malas sekali pergi ke kantor, karena itu sampai jam Sembilan Marvin sama sekali belum terbangun. “Marvin, bangun! Kalau kau tidak bangun, aku kembali ke Paris!” Marvin langsung duduk begitu mendengar ancaman istrinya. Willy bukan orang yang biasa mengancam seseorang. Istrinya itu baru akan berbuat seperti itu kalau ada kaitannya dengan saudara laki-lakinya. “Ada apa lagi dengan Justin??”tanya Marvin malas. “Dia ingin bicara denganmu.”ujar Willy sambil menyerahkan ponselnya pada Marvin. “Ada apa lagi denganmu, kakak ipar??”tanya Marvin jelas terdengar kesal karena gangguan di pagi harinya yang seharusnya indah. “Maafkan aku. Tapi aku hanya ingin bertanya, apa kau mengenal seseorang yang lebih berkuasa di Bellingham selain walikotanya??” Marvin bersandar pada kepala tempat tidur,”Apalagi yang kau lakukan?? Apa kau terlibat masalah lagi?? Apa kau tidak bisa hidup tanpa masalah?? Aku heran kenapa kau bisa menjadi saudara dengan Willy. Adikmu bahkan tidak suka mendengar kata ‘masalah’.” “Aku juga tidak ingin dikelilingi masalah. Masalah-lah yang selalu mengikutiku. Tapi kali ini aku berani bersumpah bukan karena wanita. Jadi kau tidak perlu khawatir.”janji Justin. “Aku harap juga begitu.”sahut Marvin cepat lalu bangkit dari tempat tidur,”Ceritakan padaku masalah apa yang sebenarnya terjadi padamu??”tanya Marvin sambil duduk di kursi santai di teras kamarnya. Justin menghela napas pasrah. Ini kedua kalinya dia menceritakan masalahnya dalam jangka waktu kurang dari 15 menit. Justin menceritakan semuanya, dari awal dia datang sampai tadi dia mendapat berita kalau dia akan segera terlibat di persidangan. Walau begitu Justin tetap melewatkan kebenaran tentang Sharleen, ini bukan saatnya membicarakan wanita. “Sebenarnya kau bisa mengatasi masalah ini sendiri. Tapi kalau suatu saat ini menjadi masalah besar, kau akan hancur.”ujar Marvin tenang. “Aku tahu itu.” Marvin menatap Willy dengan tatapan penuh kasih dan tersenyum saat wanita itu balas memandangnya. “Kau pasti melupakan sesuatu. Kau bisa meminta bantuan Frederick Anderson.”ujar Marvin cepat. “Apa hubunganya dengan Fred??”tanya Justin. Dan sebelum Marvin menjawabnya, Justin sudah menemukan jawabannya. “Aku ingat. Pria itu beralih dari dunia bisnis ke dunia politik. Dia gubernur daerah itu!” “Baguslah kalau kau masih bisa mengingat hal lain selain konstruksi bangunan dan ukuran tubuh wanita.”gumam Marvin yang disambut gelak tawa Justin. “Aku ingin minta tolong satu hal lagi padamu.”ujar Justin tiba-tiba kembali serius. Marvin terdiam sebelum menjawab, “Apa??” “Tolong jaga Queen. Aku punya firasat buruk.” “Akan kulakukan. Tapi aku minta jangan membuat Willy dan Queen mencemaskan tingkah lakumu yang suka bermain wanita. Aku tidak akan melarang kau, karena kau tidak punya ikatan dengan siapapun. Aku mengerti itu, karena aku dulu juga begitu. Terserah kau mau melakukan apa dengan semua wanita-mu itu asal tidak melibatkan Willy.”tegas Marvin. “Aku tahu.” “Apa kau ingin bicara dengan Willy??”tanya Marvin yang sama baru menyadari kalau istrinya kini sudah berdiri di belakangnya. “Tidak. Katakan saja padanya aku menyayanginya. Dan maafkan aku sudah menganggangu rutinitas pagi kalian yang hangat.”ujar Justin cepat lalu mematikan sambungan sebelum Marvin sempat memakinya. Justin sama sekali tidak membuang waktu sedikitpun, dia segera menelpon Maria dan meminta nomor telpon Frederick Anderson sebelum menelpon ke kantor pria itu. “Apa yang membuat ‘raja’ KM sampai menelponku langsung tanpa menyuruh sekretarisnya?? Aku terkejut saat sekretarisku mengatakan kalau Justin Murphy meminta bicara langsung denganku.”ujar suara di seberang yang ternyata adalah milik Frederick Anderson. Justin tersenyum, dia tidak begitu dekat dengan pria ini, tapi pria ini cukup dekat dengan Ellga, ibunya. “Aku punya sedikit masalah.”ujar Justin tenang. “Aku rasa ini cukup penting karena kau langsung yang menghubungiku. Ada apa??”tanya Frederick serius. “Aku membeli tanah illegal di Bellingham dan sekarang kasus itu dibawa ke pengadilan.”ujar Justin langsung. Dikantornya Frederick tersenyum,”Kau tahu?? Setahun belakangan ini banyak sekali terjadi kasus yang sama. Aku heran kenapa seorang ‘raja’ KM bisa tertipu hal seperti ini.” “Surat yang diberikan pemilik tanah itu asli. Aku langsung mengirimkannya pada pengacaraku begitu aku selesai bertransaksi. Tapi rupanya surat itu dicuri dari pemilik sebenarnya.”jelas Justin. “Kau dimana, anak muda??”tanya Frederick cepat. “Di Bellingham. Aku tidak mungkin pergi dari sini sebelum masalahku selesai. Aku tidak ingin namaku rusak gara-gara masalah ini. Saham KM bisa turun drastic kalau berita ini sampai pada pers.” “Jadi kau memilih masuk Koran gossip bersama para wanita yang berbeda daripada masuk Koran criminal?? Bagus.”gumam Frederick,”Kalau bisa kau datang ke tempatku untuk membicarakan semuanya. Aku rasa pergi sehari-dua hari dari sana tidak membuatmu jadi buronan.”lanjut Frederick. “Baiklah. Kapan kau ingin aku datang??” “Lebih cepat lebih baik.” Justin tersenyum kecut, dia harus menaikkan gaji James kalau tidak ingin pilot pribadinya itu berhenti. “Aku akan terbang siang ini. Sampai jumpa di rumahmu nanti malam.” “Aku tunggu. Sampai jumpa.” Dan benar saja, begitu selesai bicara dengan Frederick, Justin langsung menghubungi pilot pribadinya itu dan meminta di jemput di bandara Bellingham siang ini juga. James nyaris berteriak karena sehari sebelumnya dia diminta Justin untuk siaga di London kalau-kalau Ellga membutuhkannya. Untung saja James belum berangkat ke London, karena kalau tidak, Justin pasti akan terlambat bertemu dengan Frederick. Setelah memastikan kalau James langsung terbang ke Bellingham, Justin segera kembali ke rumah Sharleen untuk melihat keadaan. Saat Justin baru turun dari mobilnya, Sharleen langsung berlari menghampiri pria itu dan mengepung Justin dengan sederet pertanyaan. “Bagaimana?? Apa yang kau lakukan selama pergi tadi?? Apa ada jalan keluar untuk masalah ini?? Siapa yang bisa membantumu??”tanya Sharleen tanpa memberi Justin kesempatan untuk mengucapkan salam. “Aku rasa aku punya pemecahan untuk masalah ini. Hanya saja aku harus pergi siang ini ke New York. Orang yang akan membantuku ada disana.”jelas Justin singkat. “Kau harus pergi??”tanya Sharleen tidak percaya, setelah semua yang mereka lakukan kemarin malam. Justin mengangguk pelan,”Aku harus pergi kalau ingin masalah ini cepat selesai. Aku akan segera kembali.”janji Justin. “Makin cepat kau pergi akan semakin baik. Carilah orang yang bisa membantumu untuk memenangkan gugatan di pengadilan, Mr. Alexandre.”ujar sebuah suara yang sangat dikenal Sharleen. Entah sejak kapan, Theo sudah berdiri di belakang mobil Justin tanpa disadari oleh siapapun. Theo melangkah mendekati Sharleen, “Maaf kalau aku mengganggumu, Sharleen. Tapi temanmu ternyata mempunyai masalah dengan pihak pengadilan. Jadi, aku harap kau tidak terlibat lebih jauh dalam masalah yang dihadapinya. Aku tidak ingin menggugatmu dengan alasan apapun, kau tahu itu.”ucap Theo pelan. “Kau tidak akan bisa menggugat Sharleen dengan alasan apapun juga. Dan tolong ingat ini Mr. Faubel, aku akan memenangkan perkara apapun yang ditujukan orang lain padaku. Aku tidak pernah kalah. Camkan itu.”ujar Justin yang tanpa sadar memakai cara bicaranya saat sedang rapat dewan komisaris, cara bicara yang selalu bisa menekan lawan bicaranya, siapapun itu. Dan Justin cukup jarang menggunakan nada itu, kecuali saat-saat tertentu. Theo terdiam. Ada ancaman tersembunyi dalam nada bicara Justin, dan Theo menyadari ancaman itu. “Kita lihat saja nanti.”putus Theo,”Sharleen, maaf aku tidak bisa lama-lama. Aku akan datang lagi nanti. Sampai jumpa.”pamit Theo lalu menarik tangan Sharleen ke bibirnya sebelum mencium punggung tangan wanita itu. Justin mengamati kepergian Theo, dan kemudian berbalik menghadap Sharleen, “Aku harus pergi. Aku rasa ini tidak akan lama, mungkin sehari dua hari. Jadi aku minta, jangan berhubungan dengan pria itu. Aku tidak ingin melihatmu terdesak sampai tidak bisa menolak seperti kemarin. Dan satu lagi, jangan mencemaskan apapun yang terjadi padaku. Aku bisa mengatasinya, aku tidak ingin membuat siapapun ikut khawatir dalam setiap masalah yang aku hadapi.”ujar Justin pelan. Dan tidak lama setelah kepergian Theo, Justin pun pergi ke bandara. Dia harus segera terbang ke New York kalau tidak ingin reputasinya tidak pernah terlambat hancur. Dan ternyata Justin berhasil sampai di New York tepat waktu. Jam 7 malam dia sudah berada di kediaman Frederick Anderson untuk membicarakan semua masalahnya. Justin baru saja keluar dari kediaman Frederick saat ponselnya berdering. Justin menatap layar ponselnya dengan bingung, nomor yang tidak dikenal. Seharusnya ini bukan masalah kalau ponselnya yang berdering itu dengan nomor Justin yang umum, tapi yang berdering adalah ponsel dengan nomor yang hanya diketahui oleh adik dan orangtuanya. Siapa di antara mereka yang menggunakan nomor lain untuk menelpon Justin?? Atau sudah terjadi sesuatu dengan mereka?? Justin menghentikan mobilnya di pinggir jalan sebelum menerima panggilan di ponselnya. “Justin Murphy.”ujar Justin tenang. “Mr. Murphy, ini dari rumah sakit pusat Dallas. Apa anda keluarga dari Quentin Murphy??”tanya suara di seberang. “Ya. Saya abangnya. Apa yang terjadi dengan Quentin??”tanya Justin cepat. Dia benar-benar cemas. Justin sama sekali tidak merasakan firasat apapun tentang Queen. “Adik anda mengalami kecelakaan di ruas jalan raya dan sekarang sedang tidak sadarkan diri. Kami sudah memeriksanya dan tidak ditemukan sesuatu yang berbahaya. Kami harap anda bisa segera ke rumah sakit untuk menyetujui tindakan selanjutnya.”ujar pihak rumah sakit begitu tenang. “Saya sedang di New York. Kalaupun saya terbang malam ini, masih tiga jam lagi baru akan tiba di Dallas. Jadi lakukan saja tindakan apapun pada adik saya selagi itu membantu untuk kesehatannya. Saya akan mengirim orang untuk datang kesana. Lakukan semua yang terbaik untuk adik saya.”ujar Justin tegas. “Sebaiknya anda menyuruh seseorang kesini untuk membuat keterangan sebelum kami melakukan tindakan apapun.” “Oke, baiklah. Lakukan saja apa yang kalian bisa lakukan tanpa harus menunggu persetujuanku. Sebentar lagi seseorang akan datang.”janji Justin sebelum memutuskan telpon dan segera menelpon seseorang. “Aku tahu kalau ini sudah sangat malam, tapi aku mohon, tolong aku. Queen sedang di rumah sakit. Mom dan Dad sedang di London. Hanya kalian yang bisa kutelpon saat ini. Marahlah padaku nanti.”ujar Justin cepat bahkan sebelum si pemilik telpon di seberang bersuara. “Aku pasti akan membalas ini, Justin Murphy.”geram suara di seberang yang langsung memutus telpon tanpa menunggu jawaban dari Justin. Justin menatap ponselnya. Masalahnya baru saja selesai, tapi sekarang muncul masalah baru. Ada apa dengan Queen?? Aku memang sudah lama tidak menjenguknya, tapi seharusnya dia tidak akan seceroboh ini sampai bisa kecelakaan.pikir Justin. Justin membatalkan keberangkatannya ke Bellingham, setelah mendapat telpon dari pihak rumah sakit, Justin langsung menghubungi James. Justin beruntung karena jet pribadinya masih ada di bandara New York, jadi pagi-pagi sekali Justin langsung berangkat ke Dallas untuk melihat keadaan Queen. “Tenanglah, Justin. Aku hanya kurang konsentrasi. Tidak ada yang terluka, dan aku sudah boleh pulang dari kemarin kalau kau tidak memaksa pihak rumah sakit untuk melakukan semua pemeriksaan yang tidak berguna itu.”ujar Queen sambil mengemasi bajunya setelah mendapat rentetan pertanyaan dari Justin. Justin meraih tangan adiknya itu dan menggenggamnya,”Jangan pernah buat aku khawatir, oke?? Aku menyayangimu dan Willy, hanya saja saat ini sudah ada yang menjaga Willy menggantikan aku. Tapi tidak denganmu. Kau hanya sendirian disini. Jadi jangan melakukan sesuatu yang berbahaya.”ujar Justin lembut,”Bagaimana kondisi mobilmu??” “Tidak masalah, hanya perlu sedikit perbaikan dan cat, dia sudah kembali seperti semula.”lapor Queen ringan. Justin memikirkan sesuatu dan sesaat kemudian dia menelpon seseorang. “Aku butuh satu unit mobil baru, aku rasa Maserati Grandturismo cukup memenuhi persyaratanku. Kau tahu mobil apa yang kusukai.”ujar Justin cepat dan sesaat kemudian mengucapkan terima kasih. “Dengar aku, mobilmu yang sekarang kirim ke bengkel dan minta bengkel untuk mengirimkannya ke kantorku. Jauh lebih baik kalau mobil itu aku jadikan mobil kantor.” “Tapi mobil itu masih bisa dipakai. Jangan membuang sesuatu yang belum pantas dibuang.”tegur Queen. Justin memeluk Queen,”Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu. Lakukan saja apa yang aku minta.”ujar Justin lembut dan setelah Queen selesai membereskan barang-barangnya, Justin mengantar Queen pulang ke rumahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN