4

2653 Kata
Justin baru sampai di rumahnya saat jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Sebenarnya dia sudah menyelesaikan rapat sejak jam 10 malam, tapi beberapa berkas yang harus dirapatkan keesokan harinya membuat Justin harus lembur kalau ingin punya waktu lebih banyak sebelum berangkat ke pesta Frederick Anderson. Dengan tubuh yang sangat letih, Justin memilih untuk berendam dulu dengan air hangat sebelum menggunakan shower. Dan tepat saat Justin keluar dari kamar mandi, pria itu menyadari kalau telpon di kamarnya masih tergantung seperti saat ia tinggalkan. Dan saat itu juga Justin baru ingat kalau kemungkinan besar Diana sudah sampai di New York. Dengan gerakan cepat Justin menekan tombol nomor ponsel Diana. Hampir lebih dari lima belas menit Justin mengula menelpon Diana, tapi tetap saja tidak ada jawaban dari seberang. Dengan putus asa akhirnya Justin menelpon James. “Malam, Sir.”sahut James sama sekali tidak terdengar mengantuk. “Kau dimana??”tanya Justin cepat. “Saya di rumah, Sir. Kalau anda ingin tahu apa Nyonya Diana sudah sampai, saya akan menjawab ya. Saya sudah mengantarkannya ke hotel sejak jam 8 malam.”jelas James tanpa Justin bertanya. Justin mengacak rambutnya dengan gusar,”Aku lupa menelponnya. Dan saat kutelpon tadi, dia sama sekali tidak menjawab telponku.”ujar Justin. “Saya rasa dia sudah istirahat, Sir. Bagaimana kalau anda mencoba besok pagi??”ujar James menawarkan. “Aku juga berpikir seperti itu.”ucap Justin menyetujui,”Baiklah kalau begitu. Terima kasih karena sudah menjalankan tugasmu dengan baik, dan maaf karena sudah mengganggu malammu.”ujar Justin sesaat sebelum mengembalikan telpon dengan benar ke tempatnya. *** Sharleen benar-benar tidak percaya kalau Justin menelpon ke rumahnya untuk menanyakan keadaannya dan Angelica. Entah kenapa, Sharleen merasa kalau Justin berbeda dengan laki-laki yang selama ini dia kenal. Justin bukan orang terkenal dan bukan dari keluarga yang menjunjung tinggi kekayaan dan darah biru. Mungkin itu semua yang membuat Sharleen merasa tenang bersama Justin. Kalau mengingat pekerjaannya yang mantan atlet dan mewarisi perusahaan keluarga, Sharleen yakin kalau dia dan Justin sederajat. Dan itu lebih membuat Sharleen percaya diri dalam menunggu kedatangan Justin, karena itu setelah mendengar kalau Justin akan tinggal sehari lebih lama di New York, hari ini Sharleen mempersiapkan beberapa hal, termasuk makan malam buatannya. “Sharleen… Hari sudah jam tiga pagi. Sampai kapan kamu mau menunggu Justin?? Dia mungin tidak bisa kembali hari ini.”tanya Angelica saat melihat anaknya masih duduk di meja makan sambil menunggu kedatangan Justin. Sharleen melihat jam tangannya dan mengangguk pelan. “Sepertinya dia memang tidak akan datang. Aku yang bodoh karena sudah mengharapkan sesuatu yang lebih darinya. Lagipula dia bilang ‘mungkin akan tinggal sehari lebih lama’ bukan gak mungkin kalau dia akan selamanya disana dan tidak akan pernah kembali, bukan??”tanya Sharleen lelah. “Kau tidurlah. Aku akan membereskan ini sebelum ke kamar.”ujar Sharleen pelan lalu membereskan piring-piring di meja. Sudah lebih seminggu sejak kepergian Justin dan sama sekali tidak ada kabar dari pria itu. Dan selama itu juga Sharleen selalu memimpikan kehadiran pria itu serta ciuman pertama mereka yang sangat Sharleen sukai. Justin memang pria yang paling menawan yang pernah ditemui Sharleen. Apapun yang ada pada diri pria itu semuanya bisa mempesona wanita manapun. “Kamu yakin akan pergi ke pesta itu sendirian??”tanya Angelica cemas saat Sharleen memutuskan untuk pergi ke pesta pernikahan Theo yang diadakan di kediaman pria itu sendirian. Sharleen tersenyum kecil,”Tentu saja aku akan datang. Aku tidak mau kalau Jack Madison mengira aku takut padanya.”ujar Sharleen cepat sambil memasang anting mutiara pada telinganya. Sharleen tersenyum geli memandang dirinya di cermin. Yang ada di cermin saat ini bukan Sharleen sang arsitek yang dingin dan konvensional, tapi yang ada di dalam cermin saat ini adalah Sharleen dengan jiwa penggoda. Gaun hitamnya yang ketat dan menunjukkan semua lekukan tubuhnya bagai kulit kedua itu hanya menutupi sampai 10 cm di atas lutut serta dengan bahu terbuka yang memamerkan leher jenjang serta kulit mulusnya. Untuk membuat gaunnya tidak terlalu terbuka, Sharleen mengenakan syal bulu yang dulu dibelinya di Paris. Entah setan mana yang membuat Sharleen sanggup membuat keputusan itu. “Aku pergi dulu.”pamit Sharleen yang sengaja minta jemput oleh supir Theo karena dia memang tidak mungkin bisa naik mobil dengan pakaian seperti itu. Semua mata memandang Sharleen saat wanita itu memasuki halaman belakang kediaman Theo yang sudah diubah menjadi tempat pesta. Memang tidak sedikit wanita cantik yang datang malam itu, tapi hanya satu wanita mempesona yang datang sendirian. Dan itu adalah Sharleen. Theo_pria manis berkulit gelap dengan tubuh tinggi_menghampiri Sharleen dan meninggalkan istrinya begitu saja. “Aku senang sekali kau bisa datang. Kau selalu menolak untuk menghadiri pertemuan dengan mengirimkan sekretarismu.”ujar Theo sebelum mencium kedua pipi Sharleen dengan mesra, walaupun target ciuman Theo sebenarnya adalah bibir Sharleen. Sharleen tersenyum,”Aku tidak ingin membuatmu susah. Hari ini saja aku pasti sudah membuatmu jadi bahan pembicaraan warga kota dengan memintamu mengirimkan jemputan untukku.”ujar Sharleen pelan sambil diam-diam mengamati sekelilingnya dan dari jauh Sharleen dapat melihat kalau Jack Madison sedang berdiri di samping istri Theo yang tidak lain adalah anak perempuannya. “Aku tidak peduli. Sudah berapa kali aku katakan kalau kau butuh pertolongan apapun itu, segera hubungi aku. Aku tidak peduli apa kata orang asal aku bisa membantumu.”tukas Theo keras kepala. “Jadi, ayo berkeliling.”lanjut Theo sambil menggandeng tangan Sharleen. Aku kasihan denganmu, Carina. Tapi apa yang sudah ayahmu lakukan selamanya tidak bisa aku maafkan. Bukan hanya aku yang merasa terhina dengan perbuatannya tapi juga keluargaku.pikir Sharleen saat matanya tanpa sengaja bertatapan dengan Carina Faubel. Theo tidak sejenakpun membiarkan Sharleen sendirian. Theo tahu kalau sejak dulu Sharleen sudah menjadi incaran pemuda Bellingham, karena itu tiga tahun yang lalu Theo nekad bertunangan dengan Sharleen walaupun seluruh keluarga menentangnya. Bahkan pria itu lebih sering bersama Sharleen dibandingkan bersama istrinya. Theo tidak ingin memberi laki-laki manapun kesempatan untuk bersama Sharleen malam ini, karena Sharleen adalah tamu istimewanya. Akhirnya Carina memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan tetap disana selama Theo masih bersama Sharleen. Dilihat dari kecantikan, jelas Carina lebih cantik. Jika dilihat dari bentuk tubuh, jelas Carina menang. Hanya saja, ada sesuatu pada diri Sharleen yang membuat laki-laki akan lebih memilihnya daripada Carina. Sharleen sempat merasakan tatapan tajam dari seseorang, tapi tanpa Sharleen lihat, dia sudah tahu kalau tatapan itu milik Jack Madison. Karena sebenci apapun Carina pada orang lain, wanita itu tidak bisa menyakiti orang lain selain dirinya sendiri, jauh berbeda dengan ayahnya yang sanggup menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, termasuk mengkhianati keponakannya sendiri. Sharleen akhirnya bisa melepaskan diri dari Theo saat akan ke toilet. Dia sengaja berlama-lama di dalam toilet dengan harapan saat dia keluar, Theo sudah bosan menunggu di depan toilet dan memilih bergabung bersama teman-temannya yang lain sehingga Sharleen bisa berkeliling sendirian atau bahkan langsung pulang. Tapi ternyata semua tidak seperti yang Sharleen harapkan. Dewi Fortuna sama sekali tidak berpihak padanya. “Kenapa lama sekali di toilet??”tanya sebuah suara yang membuat Sharleen langsung mencair di tempat. Suara yang sangat Sharleen rindukan selama seminggu ini hingga dia putus asa dan mulai mencoba melupakan si pemilik suara itu. Justin berdiri sambil menyandar di dinding di sebelah pintu toilet hingga mengundang perhatian hampir seluruh tamu wanita. Ada lebih dari lima wanita disekeliling Justin. Pria itu tambah terlihat mempesona dari terakhir kali Sharleen melihatnya. Justin yang malam itu mengenakan stelan hitam mewah, terlihat nyaris seperti setan yang sedang mencari manusia untuk dibawanya ke dalam neraka penuh pesona dan kenikmatan. Dan kemungkinan besar, Sharleen adalah incaran sang setan. “Sharleen?? Kau sakit??”tanya Justin cemas saat menyadari kalau Sharleen sama sekali tidak bersuara atau bergerak sedikitpun. Seperti tersiram air dingin, Sharleen langsung menggeleng kuat, membuat Justin takut kalau-kalau kepala Sharleen lepas dari lehernya. “Bagaimana kau bisa sampai disini??”tanya Sharleen setelah sepenuhnya sadar dengan kehadiran Justin. Justin tersenyum, senyum yang selalu digunakannya untuk meluluhkan hati para wanita. “Aku sudah bilang akan kembali, bukan?? Aku tidak pernah melanggar apa yang sudah kuucapkan.”ujar Justin. Karena selama ini apapun yang aku katakan sudah nyaris seperti kontrak tertulis dalam kesepakatan bisnis.pikir Justin sendiri. “Dan saat aku kembali, ternyata kau tidak ada di rumah.”jelas Justin singkat,”Kenapa kau tidak bilang kalau kau akan pergi ke pesta?? Setidaknya aku bisa datang lebih cepat dan kita pergi bersama.”tanya Justin sambil menarik tangan Sharleen dan mengaitkannya di lengannya tanpa memperdulikan tatapan protes dari para wanita yang sejak kedatangan Justin selalu mengikuti dan mengelilingi Justin, mencoba segala cara untuk menarik perhatian pria itu. “Oh ya?? Sekarang giliran aku yang bertanya padamu, apa kau pernah mengatakan kapan kau akan kembali kesini??”tanya Sharleen yang entah mendapat kekuatan darimana berani mendebat Justin. Justin hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Sharleen. “Baiklah, aku memang tidak pernah mengatakan apa-apa tentang kepulanganku, karena aku memang tidak pernah yakin kapan aku bisa datang kesini. Ada banyak masalah yang harus ku tangani disana.”jelas Justin tenang, “Lalu, apa yang akan kita lakukan lagi disini??”tanya Justin sambil mengamati keadaan di sekitarnya. Sharleen mengikuti Justin mengamati sekitarnya dan tiba-tiba matanya menangkap sosok Theo yang sedang berjalan ke arahnya. “Kali ini aku yang membutuhkan pertolonganmu. Selamatkan aku dari pria itu.”gumam Sharleen sambil mendekatkan tubuhnya ke tubuh Justin. “Siapa dia??”tanya Justin pelan, penasaran karena pria yang sedang berjalan ke arah mereka bukan pria yang sama dengan yang mengintimidasi Sharleen saat di pesta dulu. “Akan kujelaskan nanti, yang penting sekarang kau bantu aku.”jawab Sharleen pelan. Theo kini sudah beberapa langkah dari tempat Sharleen,”Sudah selesai??”tanya Theo cepat,”Dan siapa pria ini??”tanya Theo lagi. “Maafkan aku karena tidak mengatakan padamu sebelumnya tentang ini. Dia Justin Alexandre.”ujar Sharleen memperkenalkan tanpa melepaskan lengan Justin yang masih dipeluknya. Justin mengamati laki-laki di hadapannya, dengan jujur Justin mengakui kalau Theo memang tampan dan manis. Tapi tetap saja, kalau ada Justin di sebelah Theo, semua wanita pasti akan memilih Justin. “Hallo.”ujar Justin ramah sambil mengulurkan tangannya. Theo sama sekali tidak memperdulikan uluran tangan Justin. Laki-laki itu malah semakin maju dan mendekati Sharleen. “Apa kau bisa menemaniku lagi?? Ada beberapa orang yang ingin kukenalkan padamu..”tanya Theo cepat. “Maaf, tapi dia adalah pasanganku malam ini. Kau bisa berkeliling dengan orang lain, bukan??”tanya Justin lalu tersenyum singkat. “Justin benar. Aku tidak bisa menemanimu lagi. Kau bisa mengajak Carina karena dia Nyonya rumah malam ini, bukan aku.”ujar Sharleen mendukung. Theo menatap Justin dengan pandangan tidak suka. Dan beberapa detik kemudian pria itu pergi meninggalkan Justin dan Sharleen berdua. “Sekarang, bisakah kau katakan siapa dia??”tanya Justin lagi. “Matheo Faubel, yang mengadakan acara ini, sekaligus keponakan dari pria yang dulu pernah bertemu denganmu di acara social itu.”jelas Sharleen enggan. “Maksudmu laki-laki tua yang mengobrol denganmu waktu itu??”tanya Justin memastikan,”Paman dan keponakan sama saja.”gumam Justin kemudian. “Oh, ya. Aku baru ingat. Siapa walikota disini??” “Kau sudah lupa?? Aku sudah pernah mengatakannya padamu kalau Jack Madison, paman Theo adalah walikota Bellingham, Justin.” Justin tersenyum. Dia memang selalu melupakan apa saja yang dianggapnya tidak penting, walaupun sebenarnya Justin bisa mengingat apapun hanya sekali lihat dan sekali dengar. “Maaf, aku lupa.” “Untuk apa kau mencarinya??”tanya Sharleen penasaran sambil berjalan menuju tempat minum bersama Justin. “Aku sudah bilang bukan kalau aku ingin memulai bisnis peternakan?? Aku butuh informasi dan persetujuan walikota untuk membeli tanah disini. Dan aku mungkin akan berurusan lebih banyak dengannya.”jelas Justin pelan. “Kau serius?? Berarti kau tidak hanya harus berurusan dengan Jack Madison, tetapi juga Theo. Mereka pemilik ranch terbesar disini. Dan mereka juga yang memiliki kekuasan besar di daerah ini. Sebagai walikota, Jack sudah memasukkan Theo sebagai Dewan kota termuda tahun ini.” “Berarti aku harus menghadapi mereka?? Berkenalan saja mereka tidak mau.”gumam Justin bingung. “Ya sudahlah, aku akan mengurusnya nanti. Apa kamarku masih ada??”tanya Justin dengan sedikit membungkukkan tubuhnya ke arah Sharleen. “Tentu saja, walaupun aku nyaris menyewakannya pada orang lain.”jawab Sharleen berusaha menahan antusiasnya. Tiba-tiba Justin melingkarkan tangannya ke pinggang Sharleen,”Apa urusanmu sudah selesai??”tanya Justin cepat. “Sudah, aku hanya tidak ingin ada orang mengatakan kalau aku tidak punya sopan santun sudah diundang tapi tidak datang.” “Kalau begitu ayo kita pulang.”ucap Justin yang langsung membawa Sharleen melewati kerumunan tamu dan keluar dari kediaman Theo. “Kita pulang pakai apa??”tanya Sharleen karena dia sama sekali tidak melihat mobil tuanya terparkir disana. Justin langsung meletakkan ibu jarinya di dagu Sharleen dan mendongakkan wajah wanita itu,”Kau tidak berharap pulang jalan kaki, bukan?? Karena kalau kau pulang dengan berjalan kaki dengan mengenakan pakaian ini, aku berani bersumpah ada banyak sekali laki-laki di luar sana yang bersedia memberikan tumpangan padamu.”tanya Justin lembut. “Kita pulang naik mobil.”ujar Justin kemudian sambil menunjuk sebuah Aston Martin DB9 warna biru metalik. “Mobilmu??”tanya Sharleen tidak percaya. Justin menggeleng pelan,”Bukan, itu mobil Marvin. Aku meminjamnya.”jawab Justin tenang,”Ayo kita pulang.”ujar pria itu santai sambil menarik lengan Sharleen. Justin mengemudikan mobilnya dengan santai menuju rumah Sharleen. “Ada yang ingin kutanyakan padamu.”ujar Sharleen tiba-tiba memecah keheningan. Justin menoleh sebentar, dan kemudian kembali konsentrasi ke jalanan,”Tanyakan saja.” “Kenapa kau bisa kembali lagi kesini??” Justin tersenyum, dan Sharleen dapat melihat senyum pria itu dari samping,”Aku menyukai suasana disini. Dan aku sudah janji padamu akan kembali. Lagipula, apa kau tidak merindukanku??”tanya Justin tenang. “Tentu saja aku merindukanmu.”jawab Sharleen cepat,”Aku hanya merasa kalau ada yang kau sembunyikan dariku.” “Contohnya??” “Siapa kau sebenarnya?? Darimana kau datang?? Dan bagaimana duniamu sebenarnya??” Aku sebenarnya adalah ‘hanya’ seorang Justin Alexandre Kenneth-Murphy, penerus perusahaan KM Coorporation, dan aku datang dari New York, tentu saja. Duniaku sebenarnya berbeda dengan dunia yang kujalani disini. Duniaku sangat penuh tipu daya, dan kalaupun ada sesuatu yang alami dalam duniaku itu hanya keluargaku, terutama adik-adikku.ujar Justin dalam hati, dan entah kenapa perasaan Justin mengatakan kalau dia tidak bisa mengatakan itu semua pada Sharleen. “Aku hanya seorang Justin Alexandre yang meneruskan perusahaan keluarga kami di New York. Aku lahir di Dallas, dan menetap di New York. Aku punya seorang adik perempuan. Duniaku sebenarnya hanya penuh dengan kerja dan mengurus keluarga.”ujar Justin,”Ada lagi??”tanya Justin kemudian. Sharleen menggeleng pelan,”Entahlah. Ada saatnya dimana aku merasa nyaman bersamamu, tapi kadang-kadang aku juga merasa terancam. Aku tidak tahu. Semuanya terasa seperti deja vu.”gumam Sharleen pelan. “Deja vu??” “Ya. Matheo Faubel yang tadi kukenalkan padamu adalah mantan tunanganku. Kami bertunangan hampir tiga tahun yang lalu. Tapi pamannya, Jack Madison sama sekali tidak menyetujui pertunangan kami. Mereka keluarga kaya, tidak sebanding dengan keluargaku yang hancur.” “Aku tidak melihat kalau keluargamu hancur.”tukas Justin. Sharleen menggeleng lemah,”Semua tidak seperti yang kau lihat sekarang, Justin.” “Lalu, kenapa kau bisa berpisah dengan Faubel?? Aku pikir kau bukan orang yang mudah menyerah.” “Aku tidak bisa menceritakannya.” Justin menggenggam tangan Sharleen lembut,”Baiklah. Aku tidak akan bertanya. Kalau kau mau cerita, kau bisa mencariku. Aku menunggu saat itu.” “Terima kasih.”ucap Sharleen tulus,”Ngomong-ngomong berapa lama kau akan tinggal disini??”tanya Sharleen kemudian. “Aku tidak tahu. Rencananya aku akan tinggal disini sampai aku mendapatkan lahan untuk peternakan dan rumah untuk kutinggali. Tapi bisa saja aku kembali ke New York kalau kantor bermasalah lagi.”jelas Justin jujur. Sharleen tersenyum,”Aku akan membantumu mencari lahan peternakan. Tapi aku tidak jamin kalau ada yang menjual murah. Terlalu banyak orang asing yang ingin masuk kesini.” “Aku akan berusaha bersaing.”jawab Justin yakin
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN