Sudah hampir seminggu Justin liburan di Bellingham dan menginap di rumah Sharleen. Selama itu, Justin berhasil membuat Sharleen dan Angelica menerima Justin seperti keluarga mereka sendiri, dan selama itu juga Justin tidak pernah melihat suami Angelica, dia hanya pernah mendengar kalau pria berstatus suami Angelica itu nyata. Dan baru kali ini juga Justin berhubungan dengan wanita bukan sebagai klien ataupun pasangan kekasih. Bagi Justin, dia cukup menyukai hubungannya dengan Sharleen, dan Sharleen juga terlihat menghindari hubungan yang lebih intim.
Hari sudah hampir malam saat Sharleen belum juga pulang sementara Justin dan Angelica sudah menyiapkan makan malam. “Apa dia tidak bilang kapan dia pulang??”tanya Justin untuk kelima belas kalinya sejak jam 3 sore hingga saat ini jam 7 malam.
Angelica hanya tersenyum,”Sharleen tidak pernah pulang larut. Jadi kita tunggu saja.”ujar Angelica pelan.
Justin semakin merengut. Entah kenapa dia sangat mencemaskan Sharleen. Itu karena aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri.pikir Justin yang langsung mengabaikan gagasan lain.
“Sebenarnya kemana dia pergi??”tanya Justin yang akhirnya memutuskan untuk duduk dan berhenti mondar-mandir di ruang makan.
“Dia hanya menghadiri rapat evaluasi pembangunan museum di kota, biasanya dia selalu lang…”
Angelica berhenti bicara saat ucapannya disela dering telpon. Angelica langsung meraih telpon yang berada tidak jauh darinya. “Angelica Brooke.”
“Apa disini benar kediaman Reynard??”tanya suara di seberang terdengar serius.
“Ya benar. Ada apa??”tanya Angelica sedikit serius, karena siapapun yang menelpon pasti punya urusan penting.
“Apa benar Justin Alexandre tinggal disana??”tanya suara diseberang terdengar semakin serius.
Angelica mengamati pria ajaib di hadapannya ini, dan tanpa sadar Angelica mengangguk, “Ya, anda ingin bicara dengannya??”
“Yes, please…”
“Justin, ada yang mencarimu.”ujar Angelica pelan sambil menyerahkan telpon pada Justin. Dan entah nyata atau tidak, sesaat Angelica melihat Justin begitu terkejut.
Justin bersyukur bahwa telpon di rumah Sharleen jenis wireless, setelah tersenyum seraya berterima kasih pada Angelica, Justin mencari tempat yang sunyi untuk menerima telpon.
“Hallo??”ucap Justin sedikit ragu. Siapa yang tahu kalau dia tinggal di rumah Sharleen?? Ariana yang paling memungkinkan saja tidak. Jawabannya hanya satu.
“Apa kau pernah merasa kasihan pada Maria karena ulah direkturnya yang selalu kabur tanpa kabar setiap bulan dan kemudian selalu berpindah tempat??”tanya suara diseberang yang dikenali Justin sebagai suara Marvin, suami adiknya.
“Aku sudah menebak kalau ini kau. Aku rasa aku tidak perlu menanyakan bagaimana kau mengetahui aku bisa ada disini. Yang ingin aku tanyakan, selain kau siapa lagi yang tahu kalau aku disini??”tanya Justin ringan dan segala kecemasannya menghilang.
“Baru aku dan penyidik yang aku bayar untuk menemukanmu. Ada apa??”
Justin menghela napas lega,”Jangan beritahu siapapun, kecuali Willy dan Queen. Aku tidak ingin ada orang lain yang tahu aku masih di Bellingham, apalagi kalau mereka tahu dimana aku menginap. Jadi ada urusan apa kau menelponku??”tanya Justin.
“Maria mengatakan kalau kau harus kembali ke kantor besok. Dia tidak mengatakan apapun dengan jelas, dia hanya bilang kalau ini ada kaitannya dengan proyek Ashihara.”jelas Marvin.
“Ada apa lagi dengan proyek itu?? Semuanya sudah fix. Tapi baiklah, katakan pada Maria kalau aku akan kembali besok. Okay??”ujar Justin pasrah,”Dan sampaikan salam sayangku pada Willy.”sambung Justin sebelum menekan tombol mati pada telpon.
“Proyek?? Kau sedang mengerjakan proyek tapi berlibur selama ini disini??”tanya sebuah suara yang selama seminggu ini sudah membuat hari-hari Justin berbeda.
Dari balik pohon besar di halaman depan, Sharleen muncul masih dengan pakaian formalnya yang dia kenakan saat pergi tadi siang.
“Kenapa kau baru pulang??”tanya Justin cepat sambil menyambut Sharleen,”Dan masalah proyek itu, itu proyek yang seharusnya sudah selesai kukerjakan, karena itu aku pergi liburan. Tapi sepertinya kantor memintaku pulang lebih awal.”jelas Justin jujur.
“Lalu kapan kau akan pulang??”tanya Sharleen tenang.
Justin memandang langit,”Mungkin besok. Aku tidak tahu. Aku menyukai suasana disini, dan aku masih ingin disini lebih lama lagi. Bersamamu…”ujar Justin pelan yang langsung membuat wajah Sharleen memerah. “Lalu, kenapa kau pulang dengan jalan kaki??”
“Aku tidak pulang jalan kaki. Mobil ada di dekat pintu masuk, dia tiba-tiba mogok dan sama sekali tidak bisa ditolong. Karena sudah dekat, aku meninggalkannya disana dan pulang.”jelas Sharleen lalu melepas vest formalnya.
Tiba-tiba Justin berdiri dan menarik Sharleen bersamanya,”Ayo kita lihat! Aku tidak mungkin meninggalkanmu dengan mobil rusak.”ujar Justin cepat.
Keduanya berlari hingga ke pintu masuk pekarangan rumah Sharleen. Justin langsung mencari senter di dalam mobil sebelum membuka kap depan mobil. Sementara Justin memeriksa mesin mobil, Sharleen duduk di dalam mobil dan menyalakan tape.
“Tinggikan volume suaranya dan ayo keluar!”teriak Justin dari depan mobil.
Sharleen tersenyum, dan kemudian melakukan perintah Justin. Tepat saat Sharleen menghampiri Justin, hujan turun dengan sangat deras. Justin buru-buru menutup kap mobil dan tersenyum. “Untuk sementara masalah pertama sudah beres.”ujar Justin.
“Memangnya ada masalah lain??”tanya Sharleen bingung sambil memperhatikan mobilnya. Bingung.
Justin mengulurkan tangannya pada Sharleen setelah membersihkannya di celana begitu saja,”Ayo dansa…”ajak Justin tenang.
“Disini??”tanya Sharleen tidak percaya.
Justin mengangguk pelan sambil meraih tangan Sharleen. Wanita itu tertawa. Seumur hidupnya baru kali ini dia berdansa di alam bebas apalagi di bawah hujan deras. Musik yang terdengar dari dalam mobil mengiringi gerakan keduanya. Air hujan membasahi tubuh kedua orang itu, membuat kemeja Sharleen yang nyaris tipis malah terlihat transparant. Justin mengetatkan pegangannya di pinggang Sharleen.
“Aku harus kembali ke New York. Sejujurnya aku tidak peduli dengan proyek itu, tapi aku bisa dibunuh oleh orang kantor kalau tidak menanganinya dengan baik, jadi sementara aku kembali, kamarku jangan disewakan pada orang lain. Aku akan kembali.”bisik Justin pelan sambil terus berdansa.
“Kau yakin akan kembali ke kota kecil ini sementara tempat kerjamu di kota sebesar New York??”tanya Sharleen sedikit bercanda.
“Aku akan kembali. Dan aku akan senang sekali kalau kau mau menungguku.”
Sharleen menjauhkan tubuhnya sedikit dan kemudian menatap mata Justin,”Aku akan menunggumu.”ujar Sharleen yakin.
“Yakin??”tanya Justin serius.
Sharleen tersenyum dan mengangguk pelan. “Cepat kembali, karena aku dan Angelica pasti merindukan masakanmu.”jawab Sharleen cepat.
Justin tertawa lepas, membuat jantung Sharleen juga nyaris lepas. “Yakin kau hanya merindukan masakanku??”tanya Justin cepat.
“Tentu saja. Memangnya apa lagi yang akan kurindukan darimu??”tanya Sharleen bingung.
“Aku harap kau merindukan ini…”ujar Justin serak lalu mendekatkan wajahnya hingga bibirnya menyentuh bibir Sharleen sebelum mengecup lembut bibir wanita itu.
Sharleen terkejut dengan apa yang dilakukan Justin, tapi entah kenapa akal Sharleen langsung menghilang. Yang mengontrol tubuh Sharleen sekarang hanya desakan liar dari dalam tubuhnya. Dengan lambat tapi pasti Sharleen membalas ciuman Justin. Karena mendapatkan respon positif dari Sharleen, Justin mempererat pelukannya dan memperdalam ciumannya. Dengan satu gerakan ringan Justin menyandarkan tubuh Sharleen ke kap mobil dan semakin memperdalam ciumannya.
Sharleen baru terbangun saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dan wanita itu baru ingat kalau hari ini Justin kembali ke New York. Sharleen langsung melompat dari tempat tidurnya dan berlari menuju kamar Justin. Tapi kamar itu sudah kosong. Tidak ada orang disana, yang ada hanya beberapa pakaian di dalam lemari yang mungkin sengaja ditinggalkan Justin kalau dia kembali lagi. Sharleen mendengar Angelica bernanyi di dapur, dengan cepat wanita itu berlari menuju dapur.
“Kapan Justin berangkat??”tanya Sharleen sebelum sempat mengatur napasnya.
Angelica berbalik,”Dia sudah berangkat dari tadi pagi. Bahkan sebelum aku sempat memasakkan sarapan untuknya. Apa dia tidak mengatakan apapun padamu??”tanya Angelica bingung.
“Tidak. Mungkin dia tidak mau mengangguku.”ucap Sharleen pelan, membuat asumsi untuk dirinya sendiri, lalu langsung berjalan kembali ke kamarnya.
Brengsek. Dia benar-benar melakukannya. Dia membuatku juga merindukan ciumannya. Kenapa dia melakukan itu?? Apa itu sudah seperti salam perkenalan untuknya??pikir Sharleen kesal karena Justin sama sekali tidak pamit dan tidak meninggalkan nomor telpon yang bisa dihubungi.
Sementara itu di sebuah penthouse mewah di New York, Justin baru saja sampai dengan disambut oleh pengurus rumahnya dan langsung mandi. Dia harus langsung ke kantor dan menanyakan pada Maria apa yang sebenarnya jadi masalah dengan proyek Ashihara yang ditangani olehnya langsung.
Justin baru selesai mengenakan stelan abu-abu kerjanya yang mahal saat telpon di apartementnya berdering. “Hallo??”
“Justin, ini aku, Ariana. Bisa kita bertemu??”tanya suara di seberang.
Aku tahu kau siapa, Ariana. Yang aku tidak tahu adalah kenapa kau selalu mendapatkan waktu yang tepat untuk menelponku?!pikir Justin kesal dan lagi-lagi menggantung telpon sementara dia bersiap untuk pergi ke kantor. Justin bahkan tidak mengembalikan telpon ke tempatnya semua saat dia keluar dari rumahnya.
Setengah jam kemudian setelah melalui kemacetan yang cukup lama, akhirnya Justin sampai di kantornya. Justin memarkirkan mobil kesayangannya_Lamborghini Gallardo Nera 929_ di pelataran parkir khusus di sebuah gedung pencakar langit atas nama KM Coorporation. Sejak Justin melangkahkan kakinya memasuki gedung KM Coorporation, semua pegawai langsung menegurnya, minimal tersenyum padanya. Justin benci sekali dengan hal ini, karena kalau mereka boleh jujur, tidak seorangpun yang mungkin menyukai Justin. Tidak ada yang percaya kalau dengan usia semuda Justin sudah menjadi CEO dari perusahaan besar hanya karena dia anak dari sang pemilik. Tapi apapun pendapat orang lain, Justin membuktikan kalau dirinya memang pantas mendapatkan jabatan itu, bukan karena ibunya.
“Baiklah, Maria. Katakan padaku apa yang terjadi dengan proyek Ashihara??”tanya Justin begitu di membuka pintu ruangannya yang langsung berhadapan dengan sekretaris kepercayaannya.
Wanita jangkung bernama Maria itu langsung berdiri begitu saja saat mendengar suara atasannya. “Maaf, Mr. Murphy. Laporan mengenai proyek itu sudah ada di meja anda. Anda bisa mengevaluasinya.”jelas Maria yang langsung bisa mengatasi keterkejutannya.
“Baiklah.”ujar Justin cepat, Dan aku tidak mau menerima telpon dari siapapun, kecuali adik-adikku. Kalau ada orang selain mereka yang menelpon, katakan kalau aku belum pulang dari liburan. Mereka tahu kalau akhir bulan aku selalu pergi liburan sendirian.”pesan Justin sebelum masuk ke ruangannya.
Maria kembali duduk di tempatnya dan menghela napas lega. Justin memang bukan atasan yang buruk, tapi mengganggu saat Justin sedang liburan sama saja dengan penyataan mengundurkan diri. Pria itu memang masih muda tapi dia cukup tegas dalam segala hal karena dia memang bisa menangani segala sesuatunya sendirian. Dan liburan bagi Justin nyaris sama pentingnya dengan bernapas, apalagi kalau liburan itu dia jalani bersama adik-adiknya. Karena pria itu nyaris bekerja 24 jam saat dia ingin bekerja. Maria bahkan pernah mendapati Justin belum pulang di hari kedua Maria bekerja, dan melihat kantung mata hitam di wajah tampan pria itu. Justin bekerja 24 jam hanya untuk membuktikan pada dewan direksi kalau dia berhak mendapatkan posisinya sekarang karena kemampuannya, bukan karena ibunya.
Belum sampai lima belas menit, telpon di meja Maria berdering, dan di layar terlihat kalau itu panggilan khusus dari ruangan Justin. “Maria Hoffman. Ada yang bisa dibantu, Sir??”tanya Maria tenang.
“Panggil Rubben Alasdair dan minta dia keruanganku sekarang juga.”ujar Justin singkat lalu memutuskan sambungan.
Maria terdiam. Rubben Alasdair adalah manager dari semua proyek yang akan diselesaikan, dan pria itu masih ada hubungan darah dengan Ellga Kenneth-Murphy, dengan kata lain Rubben Alasdair adalah paman Justin Kenneth-Murphy, begitu yang Maria dengar. Akhirnya Maria memutuskan untuk meninggalkan pesan pada sekretaris Rubben Alasdair, karena walapun sudah lama bekerja di KM Coorporation, Maria masih canggung menghadapi salah satu dewan pemegang saham itu.
Dan benar saja. Pria paruh baya itu ada di ruangannya saat Maria meninggalkan pesan, sehingga dalam waktu kurang dari 10 menit, pria itu sudah berdiri di depan pintu ruangan Justin. “Justin ada di ruangannya??”tanya Rubben dengan intonasi yang sangat khas.
Maria langsung berdiri dengan hormat, “Ada, Sir. Saya akan memberitahukan kedatangan anda pada Mr. Murphy.”ujar Maria dengan ketenangan yang dibuat-buat lalu menekan salah satu tombol pada pesawat telponnya yang menyambung ke kantor Justin. “Mr. Alasdair sudah datang, Sir.”lapor Maria cepat.
“Suruh dia masuk.”balas Justin tenang.
“Anda diminta Mr. Murphy untuk langsung masuk ke ruangannya.”ujar Maria memberikan laporan.
Rubben Alasdair membuka pintu ukir besar yang memisahkan ruangan Justin dengan ruang sekrtearisnya itu. Di balik meja kerja mewah di dekat jendela, Justin duduk dengan mata menatap lurus ke Alasdair. “Siapa yang mengubah proyekku ini, Paman??”tanya Justin kesal sambil membanting berkas-berkas laporan mengenai Proyek Ashihara.
“Bukan aku yang melakukan itu, Justin. Kalau kau ingin tahu kenapa itu semua diubah, maka kau harus menanyakannya pada ibumu. Saat kau tidak ada, dia datang dan melihat proyek ini dan langsung merubah apapun yang sudah kau rencanakan. Kau tahu sendiri kalau aku sama sekali tidak bisa melawan apapun yang ibumu katakan. Jadi aku hanya bisa membiarkan dia melakukan apapun yang dia inginkan. Makanya karena aku tidak tahu mau melakukan apa, aku meminta Maria untuk segera menyuruhmu pulang. Dan ternyata Maria juga sama, dia tidak tahu kau berada dimana, yang dia tahu hanya kau mengaku pergi liburan bersama dengan Willy sementara dua hari sejak kau pergi liburan, aku melihat Willy bersama Marvin di restoran.”jelas Rubben tenang sambil duduk di sofa lembut yang ada di ruangan Justin.
“Jadi itu alasannya Marvin menelponku?? Ya Tuhan, kalian tahukan kalau aku paling tidak suka kalau liburanku diganggu??”geram Justin lalu mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
“Mom, ini aku, Justin.”ujar Justin setelah mendengar suara di seberang.
“Hallo sayang… Ada apa??”tanya Ellga gembira saat mendengar suara anak kesayangannya.
Justin duduk bersandar. Dia harus mengumpulkan keberanian untuk menghadapi ibunya ini. “Apa yang Mom lakukan pada proyekku??”tanya Justin langsung.
“Proyek??”tanya Ellga bingung,”Ah, aku ingat. Proyek Ashihara yang banyak kesalahan itu kan??”
“Dimana letak kesalahan yang aku lakukan??”tanya Justin mengoreksi.
“Daerah Toyama itu di pinggir pantai, Justin. Bukan alasan yang tepat kalau kau membangun pemukiman padat penduduk dengan banyak taman bermain di sepanjang pantai. Sangat besar kemungkinan untuk terjadi gelombang besar disana, Justin.”jelas Ellga serius.
“Mom benar. Tapi ada yang Mom lupakan. Daerah Toyama memang di pinggir pantai, tapi dia terletak lebih ke dalam dan berbatasan dengan Laut Jepang, bukan Samudra Pasific. Kemungkinan terjadi bencana memang besar, tapi tidak sebesar di pesisir Shizuoka atau Mito. Aku sudah memperkirakan hal itu, Mom. Terlebih lagi, di daerah Toyama hanya sedikit fasilitas umum yang memiliki taman bermain anak-anak dan TPA. Dengan membangun beberapa kondominium yang lengkap dengan privasi terjaga plus TPA dan tempat bermain anak-anak, turis yang berlibur tidak perlu mencemaskan keselamatan anak mereka yang bermain di pantai sendirian.”jelas Justin tetap dengan rencana awalnya.
Semenit Justin menunggu jawaban ibunya, tapi yang didengar Justin kemudian adalah tawa merdu ibunya. “Aku bangga padamu, anakku.”ujar Ella di sela-sela tawanya,”Kau memang pantas menggantikan aku.”
“Apa yang Mom maksud??”tanya Justin semakin bingung.
“Aku mendengar beberapa laporan kalau ada pegawai kita yang tidak puas dengan cara kerjamu, jadi aku mengujimu dengan proyek itu. Ternyata aku benar, aku bisa mempercayaimu sama seperti dulu. Kau tidak pernah mengecewakan aku.”jelas Ellga lembut,”Laksanakan proyek itu sesuai proposal yang pertama. Aku menyukai rancangan pembangunannya. Lakukan yang terbaik.”lanjut Ellga.
Justin langsung lemas melihat apa yang sudah ibunya lakukan terhadap proyek besar itu,”Apa sih yang ingin Mom buktikan?? Aku tidak butuh pendapat orang lain. Bagiku yang penting adalah pendapat kalian.”ujar Justin pelan.
Lagi-lagi terdengar tawa Ellga,”Sudahlah, kembali bekerja dan aku menyayangimu anakku.”ujar Ellga lembut sebelum menutup telpon dan memutuskan sambungan dengan Justin.
Rubben dari tadi bergerak-gerak gelisah di tempatnya,”Bagaimana??”tanya Rubben khawatir.
“Mom bilang kalau aku disuruh melanjutkan proyek sesuai rencana awal. Dia hanya ingin mengujiku.”jelas Justin malas.
Rubben langsung lega dan sedetik kemudian dia tertawa. “Aku sama sekali tidak bisa menebak apa yang ibumu pikirkan. Dia selalu asyik dengan dunianya sendiri dan rencana-rencana gilanya.”ujar Rubben enteng.
“Aku rasa kau bisa meminta planning yang lama pada Maria. Aku yakin kalau dia masih menyimpannya.”ujar Justin yang langsung melempar berkas proyek rancangan ibunya ke tempat sampah,”Dan, apa kau pernah berpikir kalau kita bisa memperluas jaringan hingga ke peternakan??”tanya Justin kemudian.
“Kau berencana untuk membeli peternakan??”tanya Rubben balik.
“Mungkin. Aku sangat tertarik memiliki peternakan. Dan aku sudah menemukan tempat yang sesuai untuk memulainya. Kau tahu kalau aku tidak pernah liburan dengan sia-sia.”ujar Justin.
Rubben bangkit dari tempat duduknya,”Terserah. Kalau Ellga bisa mempercayaimu dengan segala ide brilianmu yang tidak terkonsep, kenapa aku harus meragukannya??”tanya Rubben lalu berjalan keluar dari kantor Justin. “Berikan aku data rancangan awal tentang Proyek Ashihara.”ujar Rubben pada Maria begitu sampai di depan meja wanita malang itu.
Justin termenung sambil memperhatikan pemandangan kota dari jendela kantornya. Dia teringat akan malam terakhirnya bersama Sharleen. Dengan sangat yakin Justin menelpon ke rumah Sharleen.
“Angelica Brooke.”sahut suara di seberang.
“Hai, Angie… Ini aku, Justin. Bagaimana kabar kalian??”tanya Justin cepat.
“Akhirnya kau menelpon juga. Kau tahu, Sharleen marah karena kau tidak pamit dengannya sebelum berangkat. Dan untuk pertanyaanmu, ya, kami baik-baik saja.”
Yang benar saja. Mana mungkin aku mengatakan kalau aku akan berangkat pada Sharleen sementara jemputan beserta beberapa bodyguard yang dikirim Marvin sudah menunggu di depan hotel lamaku. Belum lagi James yang sudah menunggu di bandara.pikir Justin dalam hati. “Apa Sharleen ada??”tanya Justin dengan sedikit rasa bersalah.
“Kau tidak beruntung, anak muda. Sharleen sedang ke kota.”jelas Angelica.
“Well, kalau begitu katakan pada Sharleen kalau aku mungkin akan sehari lagi disini, setelah itu aku akan menepati janjiku. Jaga diri kalian selama aku tidak ada, Angie. Aku tidak bisa meninggalkan nomor telpon kantorku karena aku tidak yakin kapan bisa kembali ke kantor.”
“Tenang saja. Akan kusampaikan. Kau juga, jaga dirimu baik-baik.”pesan Angelica lembut.
Justin meletakkan gagang telpon kembali ke tempatnya. Dan sedetik kemudian telpon di mejanya berdering. “Ada apa, Maria??”
“Sebenarnya saya ingin membatalkannya tapi Anda sudah ada di kantor. Besok malam Frederick Anderson akan mengadakan pesta penyambutan kepulangan menantunya dari wajib militer. Dia mengundang anda untuk dapat hadir di acaranya jam 9 malam.”
Justin menghela napas panjang, seandainya yang mengundangnya bukan Frederick Anderson, Justin pasti bisa memutuskan untuk tidak menghadiri pesta itu. “Cari tahu siapa saja yang akan datang, dan periksa ulang janji yang kemarin ditunda, hubungi mereka dan katakan kalau aku sudah ada di kantor.”jelas Justin pasrah.
“Baik, Sir. Ada lagi??”tanya Maria cepat.
“Pesankan tempat makan siang untuk dua orang besok siang. Dan hubungi James, katakan kalau aku menyuruhnya terbang ke Dallas secepat yang dia bisa.”
“Ke Dallas, Sir?? Hari ini??”ulang Maria tidak percaya.
“Ya, dia akan menjemput Diana untukku. Setelah Ariana pergi, aku membutuhkan Diana untuk mendampingiku.”
“Yes, Sir.”sahut Maria.
Setelah memastikan semua yang harus Maria kerjakan sudah diberitahukan, Justin memutuskan untuk menelpon Diana sekarang juga. Karena wanita itu pasti akan terkejut kalau James tiba-tiba muncul di depan rumahnya.
“Hallo, Diana..”sapa Justin benar-benar ramah begitu mendengar suara merdu di seberang.
“Justin Murphy! Hebat sekali kau baru menelponku sekarang.”ujar Diana terkejut karena sudah cukup lama Justin tidak menelponnya.
Justin langsung tertawa mendengar pernyataan wanita itu. “Aku merindukanmu tentu saja.”jawab Justin tenang.
“Kau kira aku anak umur 5 tahun yang langsung percaya apa saja yang kau ucapkan??”tanya Diana sengit,”Baiklah tampan, katakan apa yang kau ingin aku lakukan??”tanya Diana pasrah.
“Kau selalu tahu kalau aku membutuhkanmu.”ujar Justin senang,”Aku ingin kau bersiap-siap, karena James sedang dalam penerbangan ke sana untuk menjemputmu.”
“Yang benar saja! Untuk apa kau lakukan itu??”
“Besok aku harus menghadiri pesta dan aku tidak punya kekasih.”jelas Justin,”Dan jangan tertawa, Diana. Aku benar-benar serius kali ini. Ariana tidak mau meninggalkanku, dan aku butuh seseorang untuk menyingkirkannya.”
“Bukankah kau selalu bisa menemukan wanita untuk kau kencani??”
“Sudahlah, jangan ungkit masalah itu. Aku sedang dalam kondisi tidak baik untuk membicarakannya. Aku benar-benar membutuhkanmu.”bujuk Justin lemas.
Di seberang sana Diana tersenyum, “Baiklah, aku akan datang untukmu. Tapi kau harus ingat kalau kau akan berhutang budi padaku.”
“Aku memang sudah berhutang budi seumur hidupku padamu.”ujar Justin pelan.
Diana tertawa lepas. Dia tidak bisa membayangkan apa yang sudah dilakukannya hingga membuat Justin berkata seperti itu. Tapi memang tidak ada yang pernah bisa berpikir dengan cara yang sama dengan Justin, laki-laki itu selalu memiliki dunianya sendiri. “Lalu, apalagi yang ingin kau katakan padaku??”tanya Diana.
“Tidak ada. Aku bingung harus melakukan apa. Menurutmu apa yang sebaiknya sekarang aku lakukan??”
“Justin Murphy! Kau seorang direktur, dan kau bingung harus melakukan apa dengan semua kepadatan jadwalmu?? Yang benar saja?!”bentak Diana kesal.
“Aku baru sampai, Diana. Dan kepulanganku kali ini sama sekali tidak direncanakan. Jadi semua jadwal yang seharusnya kulakukan hari ini dan beberapa hari lagi sudah ditunda.”jelas Justin sabar.
“Ya Tuhan, Justin! Aku memang tidak bisa mengikuti cara berpikirmu.”geram Diana lalu langsung menutup telpon tanpa menunggu respon dari Justin.
Justin hanya menatap gagang telpon di tangannya. “Kenapa dia yang marah??”tanya Justin nyaris bergumam saat pintu ruangannya diketuk seseorang.
Dari ambang pintu, Maria muncul dengan tangan penuh berkas-berkas. “Ada apa, Maria??”tanya Justin bingung.
Maria melangkah cepat dan meletakkan semua berkas yang dibawanya ke atas meja Justin,”Ini semua berkas-berkas yang seharusnya ditunda tapi tenyata mereka bersedia untuk kembali ke jadwal semula, yang berarti semuanya harus anda hadiri hari ini sampai nanti malam.”jelas Maria cepat.
Justin memandang tumpukan berkas di hadapannya dengan tidak percaya. Lebih dari 10 berkas yang harus dibacanya, yang berarti lebih dari 10 rapat harus dihadirinya hari ini sampai besok. “Semua??”tanya Justin tidak percaya.
“Yes, Sir.”jawab Maria tenang