Kabar Buruk.

1163 Kata
   Kembali ke Pulau Starbuck. Erwan terlihat tampak kelelahan. Ia juga memiliki cedera yang cukup parah karena pertarungannya melawan Adam. Namun, Adam terlihat tergeletak tak bergerak di balik dinding yang ia buat dengan kekuatannya. Ia telah kehilangan kedua kakinya akibat serangan dari Erwan. Setalah itu, sambil memegang dadanya, Erwan pun berjalan perlahan menuju Adam.   “Ku akui kau semakin bertambah kuat, dan mungkin kau sudah setara dengan ku. Kau juga berhasil membuat rusuk ku patah. Kau sudah menghentikan regenerasi ku karena kau menyerang ku saat aku sudah tidak punya tenaga. Kau sudah membuatkan luka permanen di wajahku. Kau juga sudah membuat ku mengeluarkan seluruh kekuatan ku untuk pertama kalinya. Namun ada perbedaan di antara kita. Yaitu... Pengalaman”. Ucap Erwan      Setelah itu Erwan melancarkan serangan dan menghancurkan dinding pertahanan Adam.     Kemudian, Adam pun memejamkan matanya. Ia bersiap untuk melakukan serangan terakhir. Adam menyadari bahwa Ajalnya sudah semakin dekat. Ia sudah kehilangan banyak darah dan tidak bisa meregenerasi tubuhnya kembali.   “Ken, Dita, Aziz. Mungkin... aku tidak... sekuat pendahulu... kalian...”.   “Ini... adalah ser....angan terakhir... Sisanya... ku serahkan... pada kalian... bertiga”. ucap Adam.      Sambil tergeletak, Adam pun memukul tanah dan mengunci kedua kaki Erwan dengan kekuatan tanahnya. Ia juga membuat satu Golem untuk menyerang Erwan. Golem tersebut langsung memukul Erwan bertubi-tubi. Setelah itu, Golem tersebut menarik tangan kanan Erwan hingga terputus. Erwan pun berteriak kesakitan. Namun, Erwan langsung mengeluarkan bola listrik dari tangan kirinya dan menghancurkan Golem itu hingga hancur. Kemudian Erwan langsung membuat sebuah Tombak petir dari tangan kirinya sebagai serangan terakhirnya.   “Rasakan senjataku ini dan kembali lah ke tanah dasar si*lan!”. Ucap Erwan sambil melemparkan tombak petir tersebut.      Serangan Erwan pun mengenai tubuh Adam dan terjadi ledakan yang sangat dahsyat. Adam pun tewas.     Erwan pun langsung tersungkur ke tanah. Setelah pertarungan yang sengit itu, Erwan memilih untuk tinggal di Pulau Starbuck untuk sementara waktu sambil menyembuhkan lukanya dan memulihkan kekuatannya.   “Dasar Adam si*lan. Bisa-bisanya dia jadi sekuat itu dan memutuskan tangan kanan ku”. Ucap Erwan sambil menghancurkan Batu besar yang ada di depannya.     Keesokan harinya, Jane terlihat asyik bermain dengan Ken dan juga Dita. Ken sudah berjanji kepada Jane untuk menemaninya seharian penuh setelah pulang dari Pulau Starbuck. Sedangkan Aziz, ia sedang mengajak Nadya pergi keluar untuk menghabiskan waktu bersama. Di perjalanan, Aziz sebenarnya ingin menyatakan perasaannya kepada Nadya. Namun karena ia sedang memikirkan banyak hal, ia hanya ingin bersama Nadya saja untuk menenangkan dirinya.     Pada sore harinya, Ibu Nisa datang ke rumah Ken. Ia ingin berbicara empat mata dengan Ken untuk membicarakan tentang masa depannya.   “Gimana Ken? Kapan kamu mulai siap untuk meneruskan perusahaan ibumu?”. Tanya Ibu Nisa.   “Ken gak tau, Ken takut merusak perusahaan yang sudah susah payah di besarkan oleh Mama dan juga Tente”. Jawab Ken.   “Tidak perlu takut, kerja nya mudah kok. Nanti kamu akan Tante ajarkan caranya. Dan kalau nanti masih banyak yang belum kamu ketahui, kamu bisa tanyakan langsung ke Tante. Tante pasti akan bantu kamu”. Kata Ibu Nisa.   “Hmm.. Oke deh. Besok Ken akan coba datang ke kantor untuk melihat-lihat”. Ucap Ken.   “Benarkah? Syukurlah.. Baiklah kalau gitu besok Tante jemput ya”. Kata Ibu Nisa.   “Ya..”     Setelah itu, Ibu Nisa berpamitan dan kembali ke rumahnya. Dita dan Jane pun langsung datang menghampiri Ken.   “Wah, Selamat ya Direktur muda”. Kata Dita.   “Apa sih”. Ucap Ken.   “Direktur itu apa Kak Dita?”. Tanya Jane kebingungan   “Direktur itu adalah orang yang memimpin sebuah perusahaan”. Jawab Dita.     Jane pun langsung melompat dan memeluk Ken.   “Duh, kurangin kebiasaan lo yang kayak gini cil”. Ucap Ken sambil memegang Jane.   “Asyiikkkk. Kakak ku seorang Boss besar!!”. Ucap Jane dengan girang.     Setelah itu, Aziz pun muncul dengan kekuatan Anginnya. Tanpa sepatah kata apa pun, ia langsung berjalan ke halaman belakang rumah untuk berlatih memperkuat kekuatannya. Ken pun terkejut melihat betapa besar ambisinya Aziz untuk mengalahkan Erwan. Lalu, Ken pun berjalan menghampiri Aziz.   “Semangat Ziz”. Ucap Ken yang sedang menyemangati Aziz   “Apa lo bilang? Semangat?”. Kata Aziz dengan nada yang marah.     Kemudian Aziz mengeluarkan Tornado kecil yang menyelimuti kedua tangannya. Setelah itu, ia menyerang Ken dengan tinju Angin miliknya. Ia juga bersiap untuk mengeluarkan serangan selanjutnya. Ken pun terkejut dengan serangan dadakan dari Aziz. Melihat Ken yang sedang di serang, Dita pun langsung berlari ke arah Ken dan bersiap untuk menyerang balik Aziz. Namun, Ken menahan Dita.   “Lo kenapa Ziz?”. Tanya Ken.   “Kenapa lo bilang? Cihh..” Jawab Aziz.     Kemudian, Aziz menundukkan kepalanya sambil menjambak rambutnya. Ia terlihat sangat sedih dan begitu frustrasi. Lalu, Ken pun menghampiri Aziz untuk menenangkannya.   “Sorry Ken. Sama seperti Bang Adam. Selama dunia ini masih ada Angin yang berembus, gue bisa melihat, mendengar, dan merasakan semuanya. Disana (Pulau Starbuck), Erwan sudah mengalahkan Bang Adam”. Ucap Aziz.     Ken dan Dita pun sangat terkejut mendengar perkataan dari Aziz. Ken pun bertanya kepada Aziz.   “Terus gimana keadaan bang Adam?”. Tanya Ken.     Aziz pun tiba-tiba menangis. Ia tidak siap untuk mengatakan bahwa Bang Adam sudah tiada. Selama pertarungan Bang Adam melawan Erwan, hanya Aziz saja lah yang mengetahui seluruh kronologinya.   “Bang Adam.. Tewas”.     Dita pun langsung tersungkur lemas setelah mendengar perkataan dari Aziz. Seluruh tubuhnya pun gemetar. Ia tidak terima menerima kenyataan bahwa Adam di kalahkan begitu saja oleh Erwan. Kemudian, Ken menggenggam tangan Dita. Ken juga terlihat sangat marah dan tidak sengaja mengeluarkan Api dari punggungnya.   “Dia (Erwan) tidak akan kembali dengan cepat. Dia harus menyembuhkan luka-lukanya di sana (Pulau Starbuck). Lalu, tangan kanannya juga sudah tidak ada”. Kata Aziz.   “Itu peninggalan dari Bang Adam. Kita tidak boleh sia-siakan. Selama ini Bang Adam sudah tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa mengalahkannya. Makanya ia memutuskan tangannya untuk melemahkannya. Ia menyerahkan sisanya kepada kita”. Ucap Ken.   “Kenapa kita harus menunggu? Kenapa kita tidak berangkat ke sana saja sekarang? Dia kan sedang melemah”. Kata Dita.   “Gak bisa. Kita gak bisa ke sana. Percuma. Dia bisa muncul dan menghilang kapan saja walaupun sedang melemah. Kita akan menunggunya di sini”. Jawab Ken.   “Dia butuh waktu yang lama untuk menyembuhkan lukanya. Kita masih punya waktu untuk memperkuat kekuatan kita”. Kata Aziz.   “Ya. Kita akan membalas kematian Bang Adam”. ucap Ken dengan tegas.     Setelah itu, Ken menyuruh Aziz untuk terus memberitahu keadaan dan keberadaan Erwan. Karena hanya Aziz lah yang bisa melakukannya. Ia juga menyuruh Aziz, Dita, dan juga Jane untuk menyalakan korek Api jika sedang dalam bahaya. Karena dengan menyalanya Api tersebut, Ken bisa langsung datang dengan kekuatannya.   “Kemungkinan, Erwan akan membuat banyak kekacauan di kota ini suatu saat nanti. Jika kalian melihatnya, Nyalakan Api itu. Dan gue akan mengalahkannya”. Kata Ken dengan tegas.     Setelah itu mereka bertiga pun saling berlatih untuk memperkuat kekuatannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN