Pada suatu hari, Nisa mengajak Ken untuk pergi jalan-jalan ke sebuah restoran bersama suami dan juga anaknya. Ketika mereka sedang asyik makan, Tiba-tiba terdengar suara ledakan dekat dengan tempat mereka. Ledakan tersebut terjadi karena tabung gas yang mengalami kebocoran sehingga menyebabkan sebuah ledakan dari tempat itu. Mendengar kejadian tersebut, Dr. Ali langsung bergegas keluar dari restoran dan langsung menghubungi rumah sakitnya. Nisa pun hanya bisa melihat kejadian itu dari kaca karena ia ingin melindungi Ken dan juga anaknya dari ledakan susulan. Di sana, Dr. Ali terlihat tampak kesulitan untuk menolong korban karena api yang kian membesar.
Tiba-tiba, terdengar suara Wanita yang berteriak minta tolong dari lantai atas. Mendengar suara tersebut, Warga pun kebingungan untuk menolongnya karena api yang sudah mulai menyebar. Namun, Dr. Ali langsung melepaskan jaketnya dan bersiap untuk memasuki gedung itu. Nisa pun berteriak.
"Hati-hati mas, Apinya semakin membesar. Jangan sampai kamu ikut terbakar di sana". Teriak Nisa yang sangat mencemaskannya.
Dan akhirnya, Dr. Ali langsung menerobos tempat itu dan memasukinya. Namun tiba-tiba, secara mengejutkan Api yang semakin membesar dan menyebar itu seketika menghilang. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu pun terlihat terkejut dan bertanya-tanya. Dr. Ali yang berada di dalam sana pun juga terkejut
"Kenapa semua Api yang membakar tempat ini tiba-tiba lenyap?" ucap Dr. Ali yang kebingungan.
Ya, tidak lain tidak bukan, Ken lah yang melakukannya. Ia bisa mengendalikan Api sesukanya. Ken yang melihat Dr. Ali memaksakan diri untuk menyelamatkan orang yang berada di dalam sana, membuat ia ingin langsung menghentikan semua Api itu dan menghilangkannya. Ia tidak ingin melihat Dr. Ali menjadi korban dalam kebakaran tersebut.
Setelah itu, mobil Ambulans dan Pemadam Kebakaran pun datang. Dan satu persatu orang di sana pun terselamatkan. Setelah semuanya selesai, Dr. Ali langsung kembali ke restoran dan kembali makan-makan bersama keluarganya.
Hari demi hari pun berlalu. Nisa sangat perhatian kepada Ken, Bahkan terkadang Nisa suka membelikan oleh-oleh ketika ia pulang dari pekerjaannya. Ia melakukan itu karena ingin membalas semua kebaikan Eva di masa lalu. Nisa juga tak luput untuk memperhatikan anaknya sendiri, dia bernama Nadya. Akan tetapi ketika Nadya melihat betapa ibunya sangat memanjakan Ken, ia menjadi sangat kesal kepada Ken. Ia kesal karena merasa Ken selalu mendapat perhatian lebih dari Ibunya.
Pada suatu hari ketika Nisa ingin berangkat ke kantornya, Nisa memberikan Ken dan Nadya sebuah hadiah yaitu jam tangan. Ken dan Nadya pun tampak menyukai jam tangan tersebut. Melihat mereka sangat menyukainya, Nisa pun ikut merasa senang. Lalu, Nisa bergegas kembali berangkat menuju kantor dengan perasaan yang senang. Setelah Nisa pergi meninggalkan Ken dan Nadya, Sarah menyuruh Ken untuk bermain bersama Nadya dan teman-teman yang lainnya karena Sarah tidak pernah melihat Ken bermain bersama mereka. Ken pun kebingungan karena ia tidak terlalu minat untuk bermain bersama mereka. Akhirnya, Nadya pun mengajak Ken menuju sebuah taman dekat rumahnya. Di sana, ada teman-temannya Nadya yang sedang asyik bermain. Saat mereka berdua sudah sampai di taman tersebut, Tiba-tiba Nadya langsung berlari menuju teman-temannya meninggalkan Ken.
Ken pun tampak kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya melihat Nadya dari kejauhan yang sedang berbisik-bisik bersama teman-temannya. Tiba-tiba Nadya dan Teman-temannya datang menghampiri Ken. Salah satu temannya secara mengejutkan mendorong Ken hingga Ken terjatuh.
"Aku dengar kamu suka cari perhatian ya sama ibunya Nadya?" ucap salah satu temannya Nadya
Ken terlihat kebingungan dan hanya bisa terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Itu jam dari Ibunya Nadya kan? Sini buat aku".
Ken pun langsung memegangi Jam tersebut dengan erat agar mereka tidak merebutnya dari Ken.
"Gak mau! Jam ini dikasih sama tante Nisa untuk Aku, bukan untuk kalian!". Ucap Ken dengan nada yang keras.
"Dasar anak gak tahu diri!".
Mereka pun merebut paksa dan menendang-nendang Ken ketika Ken terjatuh. Dan akhirnya, mereka berhasil merebut Jam tangan itu dari tangan Ken. Kemudian, mereka pun pergi sambil menyoraki Ken
"Dasar anak caper gak punya orang tua, Dasar anak gak tahu diri, Wleee!". Teriak mereka sambil meninggalkan Ken.
Ken pun berlari menuju rumahnya. Ia bisa saja melawan mereka, Bahkan Ken bisa saja melindungi diri tanpa terluka sedikit pun ketika mereka memukulnya. Namun, Ken ingin merahasiakan kemampuannya karena ia ingin terlihat seperti manusia biasa seperti yang lainnya. Di umur yang masih sangat kecil Ken sudah bisa berpikir seperti itu.
Saat Ken sudah sampai di rumahnya. Ia langsung memasuki rumahnya dan duduk di lantai sambil menatap foto ibunya yang sedang bersama dirinya. Ia terus menatap foto tersebut. Ken sangat merindukan saat-saat ia masih bersama ibunya.
"Mama di mana? Kok gak pulang-pulang? Ken kangen".
Tahun demi tahun pun berlalu. Semakin lama, Ken semakin menyadari bahwa Ibunya tidak akan pernah kembali. Ia pun juga jarang memikirkannya lagi.
Saat ini, Ken baru saja masuk ke sekolah dasar. Pada pagi harinya saat Nisa sedang bersiap-siap menemani Ken menuju sekolahnya, tiba-tiba Nadya berlari menuju ke arah Nisa dan memeluknya dari belakang.
"Kenapa ibu mengantarnya? Kenapa ibu tidak antar aku saja? Dia kan bukan anak Ibu". ucap Nadya sambil memeluk Ibunya
"Gak bisa Nak, Kamu kan beda sekolah sama Ken, dan ini hari pertama Ken masuk sekolah, Ibu harus mengantarnya sebagai Wali-nya Ken".
Tiba-tiba, Ken langsung berdiri dari tempat duduknya dan berkata.
"Gak usah, Aku bisa berangkat sendiri. Tante gak perlu temani aku, urusi saja dia biar gak berisik". Kata Ken dengan dinginnya
Belum sempat berkata apa pun, Ken langsung berlari menuju sekolahnya. Nisa tidak sempat menyusulnya karena Ken berlari begitu kencang. Dan kebetulan, sekolahnya Ken tidak terlalu jauh dari rumahnya. Jadi Ken bisa datang dengan cepat ke sekolahnya. Saat tiba di sekolah, Ken hanya bisa duduk diam di tengah-tengah keributan para murid yang ada di sana. Tiba-tiba, ada seorang murid di sebelah Ken yang bertanya padanya.
"Kemana orang tua mu? Kok gak ada ya?".
"I...i...iya" Jawab Ken yang tampak grogi
"Wah sama dong kayak aku. Aku tinggal di panti asuhan bersama adik-adikku. Orang tua ku sudah lama meninggal. Kalau orang tua mu?".
Ken terkejut mendengar ada seseorang yang nasibnya hampir sama seperti dirinya.
"Sama, Aku juga". Jawab Ken sambil tersenyum
"Berisik banget ya anak-anak disini, padahal mereka sedang bersama orang tuanya". Ucap anak itu
"Iya, Berisik banget". Kata Ken sambil tertawa.
"Sebenarnya aku gak ada waktu buat sekolah, Aku harus menjaga adik-adiku. Aku harus memasak makanan, membersihkan rumah, mencuci pakaian, mengurus adikku. Pokoknya gak ada waktu deh buat sekolah. Hahaha".
Mendengar hal tersebut membuat Ken menjadi sangat takjub pada anak itu. Di usia yang sama seperti dirinya, dia sudah bisa melakukan semuanya sendirian. Ken pun bertekad untuk bisa seperti dirinya.
Saat pulang ke rumah, Ken meminta Sarah untuk mengajarinya memasak, membersihkan rumah, dan lain-lainnya. Sarah pun sangat senang dan langsung bersemangat, ia mengajarkan Ken semuanya yang ia bisa. Ia mengajarkan cara-cara menggunakan semua alat di rumahnya, ia juga mengajarkan Ken memasak, mencuci, menjahit, dan lain-lain. Ken pun cepat tanggap dan cepat menguasai semua yang di ajarkan oleh Sarah.
Hari demi hari pun berlalu. Ketika Nisa pulang dari kantornya, ia terkejut karena tidak ada Ken di sana. Sarah pun menceritakan semuanya kepada Nisa dan Nisa pun sangat terkejut dan langsung memarahi Sarah.
"Gak bisa gitu dong Sar! Dia itu masih kecil! Kalau dia kenapa-napa gimana?! Kenapa kamu bisa ngelepasin dia begitu aja sih?!" Kata Nisa dengan nada yang sangat marah
"Gue udah coba bujuk kak, bahkan gue sudah memarahinya. Tapi dia tetap bertekat untuk tinggal sendirian di rumahnya". Kata Sarah
"Dasar bodoh!".
Nisa pun langsung berlari menuju rumah Eva. Saat Nisa tiba di rumah Eva, terlihat semua ruangan di rumah Eva tampak sangat bersih dan terawat. Nisa juga terkejut karena ada beberapa makanan di dapurnya yang dimasak oleh Ken sendiri. Setelah melihat seluruh isi rumahnya, Nisa pun langsung menuju kamar Ken. Di sana, terlihat Ken yang sedang tertidur pulas karena kelelahan. Sambil menatap Ken, Nisa pun sangat bangga tapi juga ia sangat sedih.
"Lihat Va.. Anak lo ngelakuin semua ini sendirian.. Lo pasti bangga ngeliat ini dari atas sana kan?"
"Gue harus gimana Va? Dia mau tinggal sendirian di sini. Gue sangat mencemaskannya. Tapi kalau itu keinginan dia, Gue gak bisa menolaknya Va. Gue harus gimana?".
Akhirnya, Nisa memutuskan untuk tidur di rumah Eva sambil menjaga Ken. Pada pagi harinya. Nisa terkejut melihat Ken yang sedang memasak. Ia juga melihat Ken sedang membersihkan seluruh ruangan. Pada siang harinya, Nisa menghampiri Ken yang sedang mencuci pakaian.
"Apa yang membuat Ken memutuskan untuk tinggal sendirian di rumah ini?". Tanya Nisa
"Ken gak mau ngerepotin tante lebih banyak lagi". Jawab Ken sambil mencuci pakaiannya.
Nisa pun terkejut dengan perkataannya. Ken mengingatkan Nisa pada sosok Eva di masa lalu. Nisa pun tak kuasa menahan air matanya karena ia sangat merindukan Eva.
"Lo denger gak Va? Dia persis banget kayak lo Va. Lo sudah melahirkan anak yang hebat Va". Ucap Nisa dalam hati.
Tiba-tiba, Nadya datang dan menghampiri ibunya. Ia kesal karena melihat ibunya sangat memperhatikan Ken dan membuat Ibunya tidak pulang ke rumah.
"Lihat deh Nad, Ken sudah besar ya?". Tanya Nisa kepada anaknya.
Mendengar perkataan itu dari ibunya, Nadya pun langsung protes pada ibunya.
"Kenapa sih ibu selalu memperhatikan dia?! Selalu saja memuji dia?! Sampai ibu melupakan anaknya sendiri. Dia itu bukan anak ibu!".
Nisa pun sangat terkejut mendengar perkataan itu dari anaknya. Dan Nadya pun langsung pergi kembali meninggalkan Nisa.
"Maafin Nadya ya Ken. Dia masih kecil, jadi..."
"Tante susul saja dia. Biarin Ken sendirian disini. Ken sudah besar dan bisa mengurusi semuanya disini sendirian." ucap Ken yang memotong perkataan Nisa.
"Tapi Ken.. Kalau ada apa-apa langsung kabari Tante ya?".
"...".
Ken pun tidak menjawab pertanyaan tersebut dan terus mencuci pakaiannya. Akhirnya, Nisa pun kembali ke rumahnya untuk menemui anaknya.
Pada suatu hari. Nisa mengajak Ken untuk jalan-jalan keluar. Nisa memberikan sebuah kartu ATM agar ia tidak perlu repot-repot memberikan uang tunai kepada Ken, Ia mengajari Ken cara mengambil uang, Cek saldo, Dan transfer uang. Nisa juga membelikan sebuah ponsel untuk Ken agar ia bisa menghubunginya jika terjadi sesuatu padanya.
Pada malam harinya saat mereka tiba di rumah Ken, di sana sudah ada Dr. Ali dan yang Iainya yang sudah menunggu kepulangan Nisa dan juga Ken. Ken pun hanya bisa terdiam kebingungan. Nadya yang melihat Ibunya datang bersama Ken pun tidak merasa kesal seperti biasanya, Karena Nisa sudah membelikan semua yang Nadya inginkan.
"Selamat datang. Kita sudah lama loh menunggu kalian berdua, Kita makan-makan yuk. Sarah sudah masak banyak makanan nih". Kata Dr. Ali
"Wah benar juga, Sudah lama ya kita gak makan bareng". Kata Nisa
Mereka semua pun akhirnya makan bersama hingga larut malam. Keesokan harinya. Saat Ken sedang beres-beres rumah, ia menemukan sebuah kotak kecil yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ken langsung mengambil kotak itu dan membukanya. Ia terkejut bahwa isinya adalah sebuah kalung yang biasa di pakai ibunya setiap hari. Ken pun kebingungan dengan kalong tersebut.
"Benda apa ini? Aneh banget. Kok mama suka banget ya pake barang norak kayak gini". ucap Ken.
Ken langsung memotret kalung itu dan mengirimnya ke Nisa untuk menanyakan story dari kalung tersebut. Nisa pun langsung menelepon Ken dan memberitahu bahwa kalung tersebut sudah di pakai ibunya sejak dulu. Kalung itu diberikan oleh seorang Nenek yang sudah menemukan ibunya ketika masih bayi. Ken pun terkejut mendengar cerita tersebut. Dan akhirnya, ia menggunakan kalung itu untuk mengenang Ibunya.