Pergi.

1425 Kata
Satu tahun kemudian. Eva masih sering merasakan sakit di kepalanya yang tak kunjung hilang. Dia sering sharing kepada Dr. Ali tentang apa yang ia rasakan. Namun, Eva tetap enggan untuk memeriksanya lebih lanjut. Dr. Ali pun mencemaskannya dan menyuruh istrinya untuk tinggal di rumah Eva untuk sementara waktu. Nisa pun kebingungan kenapa suaminya menyuruhnya untuk menemani Eva. Saat ditanya kenapa, Dr. Ali mengatakan bahwa ada pekerjaan yang mengharuskan dia untuk sementara waktu menjadi jarang pulang ke rumah. Dr. Ali terpaksa terus berbohong kepada sang Istri untuk menjaga rahasia Eva. Hingga pada suatu hari, Ken yang pada saat itu sudah berumur 4 tahun. Eva masih merasakan sakit dikepalanya yang tak kunjung hilang. Eva yang biasanya bekerja hampir setiap hari, kini ia hanya sanggup bekerja seminggu sekali. Ia yang biasanya menganggap semua baik-baik saja, kini ia merasa bahwa dirinya sedang mengalami masalah yang serius. Nisa yang setiap hari bersama dirinya pun bertanya.    "Va, Lo kecapean ya? Muka lo makin lama makin kelihatan pucat. Gue jadi khawatir sama lo". Kata Nisa.    "Gapapa kok Nis. Kayaknya gue cuma butuh istirahat aja". Jawab Eva      Nisa pun mencurigai Eva yang akhir-akhir ini jadi lebih banyak tidur. Nisa juga sering melihat dirinya batuk-batuk dan mengonsumsi obat-obatan. Ia tidak tahu sama sekali dengan keadaan Eva karena setiap Nisa menanyakan keadaannya, Eva selalu saja menjawab "Tidak apa-apa". Dan pada malam harinya ketika Eva sedang menyiapkan s**u untuk Ken, tiba-tiba Eva terjatuh dan tak sadarkan diri. Melihat sahabatnya itu jatuh pingsan, Nisa pun terkejut dan merasa panik. Setelah itu, Dr. Ali dan Nisa pun langsung segera membawa Eva menuju rumah sakit. Tidak pikir panjang Dr. Ali langsung memeriksa seluruh keadaan Eva. Ia juga membawa Eva ke ruangan operasi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dan hasilnya sangat membuat dirinya syok. Dr. Ali pun langsung mengajak Nisa yang tampak begitu cemas dan kebingungan menuju ruangannya dan mencoba menceritakan semuanya. Setelah bercerita, Nisa yang mendengar semua penjelasan dari suaminya pun terlihat begitu emosional. Ia menangis, marah, cemas, kecewa, panik, semuanya menjadi satu.    "Kenapa mas tega gak pernah cerita sama aku?! Aku ini istrimu! Dan Eva itu sahabatku!". Ucap Nisa yang penuh emosional.    "Aku juga dari dulu pengen banget cerita sama kamu, tapi Eva memohon sama aku agar tidak memberitahukan ke siapa-siapa. Dia gak mau orang-orang mengkhawatirkannya, Terutama kamu dan juga  Ken". Jawab Dr. Ali. Nisa pun terlihat begitu syok dan langsung menanyakan tentang keadaan Eva yang sekarang.    "Terus Eva sakit apa mas? Gimana keadaannya sekarang?". Tanya Nisa.    "..." Dr. Ali pun tidak bisa menjawabnya. Dr. Ali hanya bisa terdiam membisu. Ia terlihat begitu sedih dan bingung harus mulai mengatakannya dari mana. Apalagi ia melihat istrinya yang tampak begitu syok setelah ia menceritakan semuanya dari awal.    "Kenapa mas diam aja? Dia sakit apa mas? Gimana keadaannya? Tolong jawab mas". Tanya Nisa yang tampak begitu gelisah Dr. Ali pun menghelakan nafasnya kemudian berkata.    "Sudah terlambat, stadium 4, kanker di otaknya sudah menyebar ke seluruh tubuhnya. Aku udah ngelakuin semuanya semaksimal mungkin. Aku mohon kamu tetap tabah menerimanya". Setelah mendengar perkataan dari suaminya, Nisa pun menangis sejadi-jadinya. Dr. Ali hanya bisa memeluk Nisa dan berusaha meredakan tangisan istrinya tersebut. Pada keesokan harinya. Eva terbangun dari tidurnya, ia hanya bisa terbaring lemas dan tidak bisa menggerakkan badannya. Kemudian, Nisa pun datang menjenguknya. Ia mengatakan kepada Eva bahwa dia sudah tahu semuanya. Nisa memohon agar tidak ada yang harus dirahasiakan lagi oleh Eva.    "Ken mana Nis? Gue pengen ketemu dia". Tanya Eva    "Dia di rumah sama adik gue. Dia juga pengen banget ketemu lo Va". Jawab Nisa Eva pun tidak kuat menahan rasa sedihnya dan mengeluarkan air mata. Nisa melihat Eva yang hanya bisa menangis pun tidak bisa berbuat apa-apa.    "Nis, besok bisa bawa Ken kesini gak? Gue pengen ngomong sama Ken".    "Bisa kok Va. Besok gue bawa Ken kesini ya". Kata Nisa    "Dia pasti benci banget sama gue Nis, Gue gak bisa sama dia di setiap saat" Mendengar Eva berbicara seperti itu, Nisa pun langsung memarahi Eva.    "APA-APAAN SIH OMONGAN LO ITU! Dia selalu menanyakan keberadaan lo. Dia seneng banget ketika lo pulang! Dia sayang banget sama lo, Jadi STOP untuk berpikiran yang aneh-aneh! Fokus aja sama kesembuhan lo itu! Ketika lo sembuh nanti Ken pasti sangat senang". Ucap Nisa dengan nada memaki    "Lo gak usah bohong sama gue Nis. Gue juga tau, hidup gue gak akan lama lagi" kata Eva sambil tersenyum. Mendengar Eva mengatakan hal seperti itu, Nisa pun tidak kuasa menahan tangisnya. Nisa langsung menggenggam tangan Eva sambil mendoakan agar Eva bisa segera sembuh dari penyakitnya. Ia sangat berharap Eva bisa sembuh. Karena dia adalah satu-satunya sahabat yang Nisa miliki sejak kecil. Nisa pun masih merasa belum bisa membalas semua kebaikan Eva.    "Gue janji.. Gue janji akan tetap disini sampai elo sembuh Va.. Gue janji.. Gue mohon.. Sembuh lah.." ucap Nisa dengan perasaan yang sudah putus asa. Keesokan harinya, Dr. Ali datang membawa Ken menuju ruangan Eva. Ken pun datang dan menghampirinya.    "Nih Va, Ken sudah datang.." Kata Nisa.    "Hallo... Anakku...". Dengan nada yang sudah terbata-bata, Eva meminta Nisa untuk meninggalkan dirinya berdua saja di ruangannya tersebut. Ia ingin berbicara empat mata dengan Ken. Mendengar permintaannya itu, Nisa pun langsung meninggalkan ruangan tersebut dan menunggunya di depan pintu ruangan.    "Ken... Mama... mau pergi... ke... tempat yang jauh"    "Mama mau pergi kemana?". Tanya Ken    "Mama... akan pergi... ke tempat... yang tinggi... dan... jangan tangisi... kepergian... mama... sampai kamu... sudah tumbuh... dewasa" Ken pun tiba-tiba langsung memeluk Mamanya dengan sangat erat, Eva terlihat begitu terkejut dan tidak bisa menghentikan air matanya.    "Mama mau kemana? Ken mau ikut! Ke mana pun mama pergi Ken mau ikut mama" ucap Ken sambil memeluk mamahnya.    "Gak boleh... Nak... Nanti... pasti kita... akan bertemu... lagi..".    "Gak mau! Pokoknya Ken mau ikut!" ucap Ken dengan nada yang marah Eva pun langsung memanggil Nisa yang sedang berdiri di depan pintu ruangan.    "Nis... tolong... bawa keluar... anak nakal ini... mama gak suka... sama anak... yang tidak mau... mendengar...kan perkataan... Orang tuanya". Mendengar Eva memanggilnya, Nisa pun langsung membawa Ken keluar tanpa satu kata pun.    "Mama jangan pergi, Jangan tinggalin Ken, Ken janji akan menjadi anak yang baik". Teriak Ken. Akhirnya, Ken dibawa menuju ruangan Dr. Ali. Di sana Dr. Ali mencoba menenangkan Ken yang tampak sangat mencemaskan Ibunya. Lalu, Nisa pun kembali menuju ruangan Eva.    "Nis... tolong lo terusin... Perusahaan gue... sampai Ken besar nanti... dan... dia bisa... meneruskan perusahaan gue..." ucap Eva    "Gue gak bisa Va, Lo sudah banyak banget ngebantu gue! Gue gak mau menerima sesuatu lagi dari lo Va! Lo pasti bisa sembuh! Percaya sama gue!". Kata Nisa    "Pertama... kalinya... lo mengajak... gue tinggal... di rumah lo... gue... bahagia sekali.." Dan dengan raut wajah yang tersenyum, Eva pun tiba-tiba sudah tak sadarkan diri. Nisa pun menangis histeris dan langsung memanggil suaminya. Para Dokter pun segera berdatangan untuk menyelamatkan Eva. Namun, Nyawanya sudah tidak bisa lagi terselamatkan. Nisa dan Dr. Ali pun tidak kuasa menahan tangisannya. Keesokan harinya saat acara pemakaman Eva. Nisa menyuruh Ken untuk duduk di samping ibunya tersebut. Namun, Ken dengan keras menolaknya.    "Gak mau! Dia bukan mama ku! Mama ku itu lagi pergi, dan dia pasti akan pulang". Mendengar Ken berbicara seperti itu, Nisa hanya bisa terdiam. Ken pun menatap foto ibunya dengan tatapan yang sangat tajam. Ken tidak menangis sama sekali. Nisa dan Dr. Ali pun tidak tahu apa yang terjadi pada Ken di usianya yang masih sangat kecil itu. Hari demi hari pun berlalu. Nisa yang sekarang sedang meneruskan perusahaan Eva. Oleh karena itu, ia tidak bisa lagi merawat Ken seperti biasanya. Ken sekarang di temani oleh adiknya Nisa, Sarah. Rumah Eva walaupun sekarang saat ini tidak berpenghuni, Nisa tidak akan menjualnya. Nisa bahkan menyuruh orang untuk membersihkan rumah Eva 2 Minggu sekali. Karena rumah itu akan jadi tempat tinggal Ken ketika Ken sudah dewasa nanti. Pada suatu hari, Ken berlari menuju rumahnya. Ia melakukan itu setiap hari karena berharap suatu saat nanti ibunya bisa pulang ke rumah. Namun kenyataannya, sang ibu tidak akan pernah kembali. Saat ia memasuki rumahnya, Ken mengambil sebuah komik favoritnya yang biasa di bacakan oleh ibunya. Dia memegang dan menatap komik itu. Berharap ibunya datang dan membacakannya. Namun, secara tiba-tiba buku itu langsung terbakar habis. Ken pun terkejut dan langsung berlari menuju ke kamar mandi di rumahnya. Di sana, dia sedang mengurung dirinya sambil menatap kedua telapak tangannya. Dan secara mengejutkan, dari telapak tangannya itu, dia bisa mengeluarkan sebuah Api. Ken pun terlihat begitu terkejut dan ketakutan.    "Mama.. Tolong.. Ken takut.." Setiap sore hari, Ken tidak pernah bermain bersama teman-temannya. Ken hanya pergi ke rumahnya untuk mengasah kemampuannya itu. Ia bermain dengan Api yang ia keluarkan dari tubuhnya hingga pada akhirnya Ken bisa menguasai kemampuannya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN