“Eh!!”
Saci tersentak ketika tubuhnya terhempas ke samping oleh sebuah tangan yang menarik pinggangnya secara tiba-tiba. Bola mata Saci melotot penuh dengan amarah saat melihat siapa pelaku yang sudah berani buat onar di hari besarnya malam ini. Tapi bodohnya, meski otak dan bibirnya sudah bersiap hendak memaki lelaki kurang ajar dan tampan di hadapannya ini, justru tubuhnya berkhianat.
Senyuman manis Rafael membuat jantungnya bak genderang berdentum hebat bahkan sendi lututnya terasa lemas hanya karena pandangan mata mereka saling beradu.
“Kamu!” ujar Sachiko berusaha menetralkan perasaannya tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan Raf.
“First dance kamu sama aku saja dan itu bukan ajakan tapi perintah. Semua yang pertama tentang kamu harus denganku,” ucap Rafael lalu menyunggingkan senyuman mahalnya itu dengan pandangan tajamnya.
Sudah tidak heran lagi bagi Sachiko dengan sikap arogan dan tukang ngatur Rafael, sejak kecil dia sudah kenyang menghadapi keegoisan Rafael. Tapi sungguh keterlaluan ketika lelaki menyebalkan ini datang dan memaksanya untuk berdansa bersama saat pesta ulang tahunnya. Meski tidak rela, namun Sachiko pilih diam memalsukan senyumannya di depan teman-teman sekolah dan keluarga besar mereka.
Selain itu, alasan lainnya adalah karena beberapa teman laki-laki Sachiko memang sudah bersiap hendak mengajaknya berdansa juga. Harusnya senang karena mereka adalah laki-laki tampan dambaan para siswi di sekolahnya. Tapi Saci terpaksa memilih Rafael daripada masuk sekolah nanti musuhnya makin bertambah hanya karena Saci menerima dansa dengan pria tampan di sekolah yang banyak pemujanya.
Tadinya kalaupun terpaksa, Saci pilih Gian saja jadi pasangan dansanya. Namun sayang keburu diserobot oleh Rafael. Gian adalah salah satu kakak kelas Saci di sekolah dua tahun lalu dan sudah kuliah. Lelaki itu memang dengan jelas menaruh perhatian pada Saci sejak dulu dan pernah memintanya jadi pacar namun ditolak Saci dengan alasan masih mau fokus sekolah dulu.
“Aku hanya mau dance sama Papa saja kok tadinya. Kamu yang maksain.”
“Iya aku tahu dan tidak tanya pendapat kamu,” sahut Rafael dengan angkuhnya.
“Ish, kamu masih menyebalkan seperti dulu, malah makin nambah otoriternya melebihi papaku.”
“Dan hanya berlaku sama kamu tuh.”
“Bang…,” rajuk Saci saking kesalnya selalu saja kalah debat, namun justru suara sungutannya itu terlihat manja di mata semua orang yang sedang memandang pasangan ini.
“Kenapa? Kamu nggak kangen sama aku? Sudah lima tahun padahal ngak ketemuan apalagi ngobrol. Jaman sudah canggih, bisa telepon kapan pun di mana pun, kenapa tidak pernah menghubungiku,” cecar Raf soal sikap Saci selama ini menghindarinya.
Wajah merengut Saci makin menjadi, dalam hatinya menggerutu boleh ngak sih mukul mukanya pakai sapu ijuk sekalian buang sial. Mana tahu si otoriter berubah jadi lempeng. Tapi bukan Saci kalau menyerah saja.
“HP kamu pastinya lebih canggih, kenapa tidak kamu duluan? Buktinya kamu juga tidak pernah telepon aku kok,” sahutnya pedas lalu menyembulkan senyuman manisnya seraya menatap Rafael. Dipikir lagi, kelakuan mereka berdua mirip seperti kisah romantis sebuah drama yang terlihat mesra meskipun mulut mereka sedang adu kata-kata pedas.
Namun sahutan Saci dibalas dengan tarikan tangan Raf dipinggang Saci membuat jarak mereka semakin dekat, bahkan senyuman licik Raf menyempurnakan kelakuan romantisnya itu di hadapan semua orang.
“Kenapa? Kangen yah sama aku?” ucap Raf sengaja memajukan kepalanya membuat jarak mereka semakin dekat.
“Cih! Ngarep! Mana mungkin kangen sama cowok nyebelin kayak kamu.” Kali ini Saci merasa kalah dengan kelakuan Rafael. Ia mengalihkan pandangannya asal berharap musik cepat selesai supaya bisa pergi dari panggung yang mulai membuatnya semakin gerah.
Namun pandangan Saci beralih kembali terkesima menatap wajah Rafael yang sedang tertawa kecil bahkan sampai tak sadar kedua matanya terpaku menikmati wajah Rafael menjadi sepuluh kali lipat bertambah ketampanannya. Mulutnya boleh pedas membalas semua ucapan Rafael tapi sayang sikapnya justru berkhianat.
Wajah tampannya semakin terpancar sempurna, Saci melihat sekelilingnya mendapati teman-teman perempuan disini sedang memperhatikan Rafael dan menimbulkan rasa cemburu meski Saci tidak mengakuinya. Meski tidak bisa ditutupi, toh berdansa di tengah dan berdua saja di tengah lampu sorot sudah tentu memancing perhatian semua orang disini. Bodohnya Saci malah terus menikmati tatapan memuja Rafael dan senyum manisnya itu terbuai suasana sampai tidak sadar alunan lagu penghantar dansa sudah hampir selesai dan Saci masih terus menatap Rafael.
Cup
"Eh!"
Belum juga detak jantungnya normal, kelakuan Rafael barusan menyadarkan lamunan memuja Saci saat Rafael mengecup lembut pipinya. Suara riuh sontak terdengar disekeliling mereka karena tidak ada yang mengira Rafael bakal melakukan ciuman itu.
"Happy birthday my future," ucapnya berbisik lembut ditelinga Saci lalu memundurkan wajahnya dengan senyuman serta pancaran sinar di matanya terasa begitu tulus dalam pandangannya.
Tunggu, apa katanya? Future wife? Kemudian ingat dengan ciuman di pipinya menyadarkan Saci dimana dia berada. Spontan Saci menoleh ke arah papa dan mamanya. Terlihat kilat kemarahan di mata Tommy karena ulah Rafael barusan. Muka jutek Saci balik lagi seolah tidak terima pipinya sudah kena colong ciuman Rafael. Pacaran belum pernah malah pipinya sekarang kena sosor.
"Mukamu gatal pingin ditonjok papaku?" ucapnya menekan suaranya sepelan mungkin.
"Aku ikhlas ditonjok kamu ataupun Om Tommy. Mau sekarang juga boleh."
"Bang Raf! Iiihh..."
"Makin kamu manja gini makin aku suka." Ujar Raf menunjukkan seringai jahilnya tanpa gentar sedikitpun ada seseorang yang sedang menatapnya seperti ingin menelannya hidup-hidup.
Saci menyesali rajukannya barusan karena tahu sifat usil Rafi, itu sebabnya dia pilih tidak mempermasalahkan masalah ciuman barusan dengan berat hati. Tapi kan tetap saja malu. Raut wajah Saci berganti mode jutek lagi, meski tidak mau lagi membalas Raf daripada makin panjang.
"Kenapa harus pakai gaun terbuka gini sih, kamu tidak sadar kulit putih halus kamu ini dilihat cowok-cowok lain, nggak malu apa?"
"So what? Badan-badan aku, Mama terutama Papa yang protektif ke aku saja tidak masalah terus kenapa kamu yang protes," sahut Sachiko bermaksud agar Raf tahu diri tentang status mereka yang hanya berteman itupun karena mereka anak dari sahabat orang tua masing-masing. Meski sempat dekat dulunya bukan berarti bakal keterusan sampai dewasa.
"Tentu saja jadi masalah, kamu tidak akan pernah tahu sekotor apa otak teman-teman kamu sekarang melihat gaun seksi siallan ini. Aku juga pernah seumuran mereka kalau kamu tidak lupa."
"Termasuk kamu dong otaknya juga kotor atau lebih kotor dari mereka?" niatnya pilih mengalah menguap sudah malah makin jadi.
"Betul," jawab Raf menampilkan seringai menyebalkan lalu ia mulai mendekatkan kepalanya di samping telinga Saci bertepatan dengan musik yang sudah berakhir.
"Andai kita hanya berdua maka aku akan menyeretmu ke kamarku biar kamu paham kotornya pikiran laki-laki seperti apa."
Baru lima menit lalu pipi Saci kena korban sosor bibir Rafi, sekarang malah keranjingan syosor mengecup pelipis Saci. Belum juga satu jam bersama Rafael tapi lelaki itu sangat mahir mengaduk-aduk emosi Saci antara gugup, kesal, malu ditambah jantung berdebar tak karuan bercampur marah oleh sikap kurang ajarnya.
“Bolehkah aku berdansa dengan kakak kembaranku sekarang?” Seiya yang melihat kepalan tangan papa mereka ditambah wajah kembarannya yang makin jelek akhirnya maju berusaha jadi penengah sebelum kakak kembarannya makin meledak dan papanya mengamuk memukul anak sahabatnya itu.
“Asal janji setelah dansa sama loe, acara dansa selesai atau gua bakal bikin keributan disini.” Ancam Rafael membuat Saci melotot kehabisan kata-kata.
“Iyah Abang Rafael yang ganteng. Sana dipanggil Papa, ditungguin di toilet katanya sekarang juga.”
Wajah Rafael meringis sambil tersenyum. Dia pasti tahu setelah ini bakalan dapat hukuman seperti apa dari seorang Tommy Sumitomo, sahabat papanya itu. Tidak jadi masalah karena dia sudah memperhitungkan akibat dari perbuatannya malam ini.