Rezal menutup laptopnya begitu pekerjaannya telah selesai. Dia melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan waktu istirahat. Dia berdiri dan bersandar pada meja kerjanya, berusaha memberikan ketenangan pada pantatnya yang panas karena terlalu lama duduk. Memang umur tidak bisa berbohong. Rezal menatap ponselnya dengan kerutan di dahi. Tidak ada satu pun notifikasi yang masuk dari Naya. Bahkan gadis itu juga tidak mengabarinya sejak pagi. Rezal tidak suka jika diabaikan seperti ini. Tanpa menunggu waktu, dia bergegas menghubungi Naya. "Halo?" sapa suara yang ingin Rezal dengar sejak tadi pagi. "Di mana?" tanya Rezal. "Di kampus, Mas. Kenapa?" "Kok nggak ngabarin seharian?" Naya berdecak di seberang sana, "Kan semalem udah aku bikang kalo besok di kampus banyak kegiatan. Sampe malem." R

