CBL-1

1359 Kata
"Apa sudah ada kabar mengenai ibumu?" Dorr!! Dorrr!! Dengan masih menatap tajam ke arah bidikan sembari memegang revolver, Andrew menjawab pertanyaan sepupunya itu dengan nada dingin. "Belum." Dorr!! Dorrr!!! Andrew kembali menembakkan peluru dari revolver yang ia pegang dan ia tembakan tepat pada sasaran. Sedangkan Zack yang baru saja tiba, ia mulai mendudukan bokongnya di sebuah bangku yang berada di samping Andrew yang masih setia berdiri dengan tatapan tajam yang akan kembali membidik. "Aku harap semoga ibumu segera ditemukan, Drew." Kata Zack. Andrew tak menghirukan perkataan Zack. Dorrr!! Dorrrr!!! Setelah tembakan terakhir itu, dengan kasar Andrew melempar revolver-nya ke bangku kosong yang berada di samping Zack. Zack pun tersenyum miring melihat ekspresi wajah Andrew yang menampakan ketajaman dari pandangan matanya ketika masih menatap bidikan yang telah berhasil ia tembak tepat pada sasaran. "Permisi, Tuan." Ucap Mike—anak buah Andrew yang baru saja tiba-tiba datang. Andrew pun menoleh ke arah Mike yang berdiri di belakangnya. "Ada apa?" Tanya Andrew. "Maaf, Tuan, saya hanya ingin memberitahukan tentang kabar Nyonya Roseline." Jawab Mike. Tubuh Andrew seketika membeku setelah mendengar nama Ibunya disebut oleh Mike. Di sisi lain, sama terkejutnya seperti Andrew, seraya beranjak dari duduknya Zack menatap Mike dengan serius. "Apa kabar yang kau bawa?" Tanya Zack, serius. "Sepertinya Nyonya Roseline telah mengganti identitasnya, Tuan, karena dari hasil yang kami cari, Nyonya Roseline masih berada di negara ini." "Apa ini sebabnya kenapa Ibumu menjadi sulit untuk ditemukan, Drew?" Tanya Zack, beralih kepada Andrew yang terdiam. "Terus cari informasi mengenai keberadaan pasti tentang Ibuku, jangan sampai lengah!" Perintah Andrew tajam kepada Mike, tanpa memedulikan pertanyaan Zack padanya. "Baik, Tuan." Mike mengangguk patuh. "Pergilah!!" Perintah Andrew, lagi. Mike pun melegang pergi dengan kepala menunduk setelah mendengar perintah dari Andrew. "Apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Drew?" Tanya Zack, setelah kepergian Mike. Andrew melirik Zack sekilas, kemudian ia kembali mengambil revolver yang sempat ia lempar tadi ke atas bangku. "Aku akan terus mengamati Xander." Jawab Andrew tajam, kembali bersiap untuk membidik menggunakan revolver. "Dia akan terus berusaha untuk menghancurkan reputasi dan jabatanmu, Drew." Seloroh Zack. "Aku tahu." Andrew menanggapi santai dan tenang. Mendengar itu, Zack menghela nafasnya berat. "Ibumu harus segera ditemukan. Aku tidak mau Xander menemukan Ibumu lebih dahulu dan menyakitinya." .......... Di malam yang gelap, Andrew nampak tengah duduk di sisi ranjangnya sembari terus menatap layar ponselnya dengan serius. Bohong jika Andrew tidak merindukan kehidupannya yang normal, karena pada kenyataannya Andrew sangat merindukan hal itu. Terutama kehidupannya saat berada di Jakarta dahulu. Sejak ia kembali ke negara asalnya, Andrew selalu dihantui oleh berbagai masalah. Entah itu pembunuhan, penyelundupan, pengkhianatan, bahkan tindakan illegal yang melanggar hukum. Andrew menghela nafasnya berat seraya menatap sebuah kontak nama seseorang yang ada di layar ponselnya itu. "Bagaimana kabarmu?" Gumam Andrew. Akhirnya setelah lama terdiam, Andrew pun menekan kontak nama seseorang yang sejak tadi ia tatap. "Halo, assalamu'alaikum." Tanpa permisi, seketika hati Andrew berdenyut sakit setelah mendengar suara seseorang dari sambungan telponnya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak pernah mendapat salam seperti ini lagi sejak ia kembali ke California. "Wa'alaikumussalam." Jawab Andrew, dingin. "Maaf, dengan siapa ini saya bicara?" "Bisa saya bicara dengan suamimu?" Tanya Andrew, tanpa memedulikan pertanyaan Alysa. Ya, orang yang sedang Andrew telpon saat ini adalah Ikfan—sahabat lamanya. Namun bukan Ikfan yang menjawab telpon, melainkan istrinya, Alysa. Entah mengapa saat ini Andrew amat merindukan sabahat kuliahnya itu. "Umm.. tapi ini siapa, ya?" Terdengar suara Alysa begitu lirih, mungkin sedikit khawatir. "Berikan saja telponnya kepada suamimu sekarang." Jawab Andrew, bernada bossy. Akhirnya karena tidak mau lama berbelit, Andrew pun merubah nada bicaranya menjadi sedikit tajam dan terkesan bossy kepada Alysa. Mungkin ini karena efek kembali menjadi seorang mafia, Andrew menjadi orang yang mudah terpancing emosi, bahkan bisa bertindak dan berkata tidak baik, terlebih kepada wanita. "Ba-baiklah." Setelah itu, Andrew bisa mendengar dari sebrang sana bahwa terdapat suara seseorang seperti sedang berjalan terburu-buru. Apakah Alysa berjalan cepat untuk menemui Ikfan dan menyerahkan ponselnya pada laki-laki itu? Setelah lama hening, akhirnya suara salam seseorang dari sambungan telponnya membuat lamunan Andrew buyar. "Assalamu'alaikum, dengan siapa ini?" Seketika sebuah senyuman terbit di bibir Andrew tatkala mendengar suara Ikfan di sebrang sana. "Wa'alakumussalam, apakah setelah mendengar suara ini kau masih akan bertanya ini siapa?" Tanpa Andrew tahu, kini kening Ikfan sedang mengercit memikirkan ucapan orang yang saat ini sedang menelponnya. "Kau.." Dengan sedikit gemas, Andrew tetap menanti jawaban Ikfan. "Kau.. Andre?" Tanpa dapat dicegah lagi, Andrew semakin tersenyum ketika mendengar suara Ikfan di sebrang sana yang terdengar terkejut. Senyum yang sangat jarang Andrew tunjukan kepada orang-orang yang berada di California. "Good job, dude!!" "Jadi benar kau Andre? Sahabat lamaku?" Pekik senang Ikfan di sebrang sana, dengan nada seolah tak percaya. Masih dengan senyuman, Andrew menjawab. "Ya, ini gue, Fan." Ada rasa haru yang menyeruak di relung hati Andrew saat ia menyebut dirinya dengan sebutan "gue". Sungguh Andrew sangat merindukan kehidupan damainya. "Masyallaah, Dre. Kemana aja, lo? Tega, ya, lo, sejak lo nyerahin kedai milik lo ke gue, lo hilang kabar gitu aja." Wajar jika Ikfan berkata demikian, karena memang sejak Andrew memberikan kedainya kepada Ikfan, secara sembunyi-sembunyi Andrew pergi ke negara asalnya. Yang Ikfan tahu Andrew pasti kembali ke California walaupun Andrew tidak memberitahunya. Bagaimanapun juga Ikfan tetap tahu Andrew ini berasal dari mana. Hanya saja dua hal yang tidak Ikfan ketahui soal sahabatnya itu, bahwa nama aslinya Andre adalah Andrew dan Ikfan juga tidak tahu bahwa saat ini Andrew adalah seorang mafia kejam dan berhati dingin. "Gue balik ke negara asal gue, gue harus nerusin perusahanan Ayah gue." Jawab Andrew, tenang. "Masyaallaah, gue salut sama lo, Dre. Ngomong-ngomong lo apa kabar? Gimana? Lo udah nikah belom?" Di sebrang sana Andrew dapat mendengar bahwa Ikfan sedikit terkekeh saat menanyakan tentang pernikahan pada dirinya. "Gue baik, lo gimana? Gimana kabar istri dan anak-anak lo?" Ikfan berdecak di sebrang sana. "Ck! Giliran pertanyaan soal nikah aja diabaikan." "Sorry Fan, gue masih sama, kok. Gue masih sendiri." "What? Lo serius? Eh, lo itu kenapa nggak nikah? Umur lo udah mateng, Dre." Tanpa Ikfan tahu, Andrew memutar kedua bola matanya jengah mendengar itu. "Kalau udah waktunya juga pasti gue nikah." "Ck! Lo tuh, ya, kagak berubah." Gue berubah Fan! Ingin rasanya Andrew berteriak kepada Ikfan saat ini juga, dia sangat ingin mencurahkan segala isi hatinya tentang bagaimana keadaan dirinya saat ini kepada sahabat lamanya itu. Tapi itu terdengar mustahil bukan? "Lo belum jawab pertanyaan gue, gimana kabar istri sama anak-anak lo?" Tanya Andrew, kembali pada pertanyaannya. "Alhamdulillaah, semuanya baik, Dre. Kapan lo main ke Indonesia? Rasanya gue udah lama nggak ketemu sama lo, lo gak kangen sama gue?" Tanpa Andrew sadari, ia terkekeh geli mendengar ucapan Ikfan. "Ya, ya, gue akui. Gue juga rindu sama lo, apalagi anak-anak lo. Gue kangen Rayhan sama Haura. Mereka pasti udah besar." "Ya, Rayhan sekarang udah berusia 10 tahun, sedangkan Haura 9 tahun." "Hasha?" "Hasha baru 5 tahun." Kembali, hati Andrew seketika berdenyut sakit ketika mendengar kabar itu. Sungguh ia pun ingin sekali memiliki hidup yang normal seperti Ikfan. Memiliki istri, anak, dan kehidupan yang indah. Tapi hal itu mustahil bisa terjadi. Mengingat dirinya saat ini adalah seorang mafia dan banyak musuh, ia menjadi ragu. Andrew juga tidak mau jika ia menikah nanti, nyawa istri dan anak-anaknya akan terancam. "Dre? Lo masih di sana, 'kan?" Tanya Ikfan karena tidak mendengar suara Andrew lagi. Dengan sekuat hati Andrew berusaha menekan perasaannya. "Ya, gue masih di sini. Kayaknya gue besok bakalan ke Indonesia." "Apa? Serius lo?" Pekik Ikfan, terkejut. Setelah berpikir matang sebelum menelpon Ikfan tadi, tidak ada salahnya bukan jika Andrew mengunjungi Indonesia untuk bertemu sahabat lamanya itu? "Iya, gue serius." "Masyaallaah, oke, Dre. Gue tunggu." "Oke, kita ketemuan di kedai lo aja gimana?" "Duhh.. kok, gue ngerasa nggak enak gini, ya, pas lo bilang kedai gue." Kata Ikfan, berkelakar. Andrew pun tersenyum tipis mendengar itu. "Udahlah! Gak usah lebay lo!" "Hahahaha." Terdengar Ikfan malah tertawa di sebrang sana. Tak ayal mendengar sahabatnya tertawa, Andrew ikut tersenyum. "Pokoknya lo tungguin aja, ya." "Oke-oke, gue pasti tunggu. Fii amanillah." Beberapa detik terdiam, Andrew pun menjawab. "Ya, aamiin." Andrew merasa sedikit kurang percaya diri jika mendengar kalimat do'a yang ditujukan untuknya. Apakah Allaah masih mau melindungi dirinya di saat kini ia malah kembali menjadi seorang mafia kejam dan berhati dingin?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN