CBL-2

3078 Kata
Setelah berdiskusi serius dengan Zack dan anak-anak buahnya yang berada di California, besoknya Andrew pun memutuskan untuk pergi ke Indonesia pada pagi harinya. Alasan klise Andrew memutuskan untuk pergi ke Indonesia karena ia ingin bertemu dengan Ikfan dan merindukan Indonesia yang memang telah memberikan kehidupan damai untuknya walau hanya sebentar. Andrew pergi ke Indonesia dengan ditemani oleh beberapa anak buah dan beberapa ART dari rumahnya. Hal itu Andrew lakukan karena ia tetap harus berjaga-jaga. Jangan lupakan tentang Andrew yang saat ini adalah seorang mafia. Musuh bisa saja mengintai, mengancam, dan menyerang secara tiba-tiba, entah itu di California atau di Indonesia sekalipun. Bukan hanya anak buahnya, Andrew juga membawa banyak senjata saat pergi ke Indonesia. Di jet pribadinya Andrew telah menyiapkan beberapa senjata, termasuk alat ledakan. Andrew tidak menggunakan penerbangan umum karena itu mustahil baginya, Andrew tidak akan bisa membawa senjata jika menggunakan penerbangan umum. Maka jadilah ia selalu menggunakan jet pribadinya ketika akan pergi kemana pun. "Sudah sampai, Tuan." Ucap supir Andrew saat mobilnya telah sampai di depan gedung bertingkat tinggi yang tak lain adalah apartement yang berada di Indonesia. Andrew membuka kaca mobilnya dan mulai memperhatikan lingkungan yang berada di luar dari dalam mobilnya itu. Dengan tatapan tajam di balik kacamata hitam yang dikenakan, saat itu Andrew terlihat begitu tampan dan berwibawa. "Apakah yang lain sudah menyiapkan semuanya dengan baik?" Tanya Andrew dingin kepada supirnya, tanpa beralih dari memperhatikan lingkungan di luar dari dalam mobilnya. "Sudah, Tuan. Apartement Tuan juga sudah siap dan sudah dibersihkan ulang sesuai permintaan, Tuan." Jawab supir Andrew dengan sopan. Mendengar itu Andrew pun menghela nafasnya, kemudian mengangguk paham. Andrew memang tidak berniat untuk membeli apartement baru ketika tinggal di Indonesia selama beberapa hari ini, melainkan hanya kembali menggunakan apartement lamanya yang sudah ia beli ketika dahulu masih kuliah di Indonesia. Tidak banyak yang tahu juga tentang apartement milik Andrew yang berada di Indonesia, hanya Ikfan, Yusuf—Ayahnya, dan anak-anak bawahannya saja yang mengetahui hal itu. Dengan aura terkesan gagah, Andrew pun keluar dari mobil mewahnya. Banyak sekali mata-mata yang memperhatikan Andrew setelah ia keluar dari mobil, termasuk para wanita Indonesia yang memandang Andrew dengan tatapan terpesona. Namun lagi-lagi Andrew tidak peduli. Dengan langkah seolah tidak memedulikan yang lain, Andrew berjalan memasuki gedung apartement dengan ditemani oleh beberapa anak buahnya dan melewati banyak orang yang terus melihat dirinya. .......... "Nah itu Paman Andre." Tunjuk Ikfan kepada Andrew, sembari memangku Hasha di pangkuannya. Andrew menebar senyum manisnya setelah berada tepat di meja Ikfan, Alysa, dan anak-anaknya. Siang ini setelah istirahat sejenak di apartementnya, Andrew dan Ikfan langsung membuat janji untuk bertemu di kedai milik sahabatnya itu. "Hai Hasha." Sapa Andrew, lembut kepada Hasha yang berada di pangkuan Ikfan. Melihat orang menyapanya karena sudah lama tidak bertemu, Hasha pun hanya bisa terdiam lucu. "Wah.. jadi Paman Andre selama ini tinggal di Amerika?" Tanya Rayhan, antusias melihat teman Abinya yang muncul kembali setelah lama hilang tanpa kabar. Dengan senyuman, Andrew mendudukan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Ikfan dan keluarga kecilnya itu. "Ya, Paman selama ini tinggal di sana." Jawab Andrew. "Waahhh.. Haura juga mau dong paman ke luar negeri." Seloroh Haura, senang. "Haura juga ingin ke sana dan melihat betapa indahnya negara itu." Lanjut Haura, antusias. Andrew pun hanya bisa tersenyum tipis mendengar ucapan Hasha. Miris sekali, karena pada kenyataannya negara tempat Andrew tinggal tidak seindah yang Haura bayangkan. "Senang bisa bertemu lagi dengan anda Mr. Andre." Kata Ikfan menengahi, sembari menyeringai jahil. Andrew kembali tersenyum mendengar itu. "Ya, senang juga bisa bertemu lagi dengan anda, Mr. Ikfan." Balas Andrew, berkelakar. Ikfan pun terkekeh mendengar itu. "Gak usah formal gitu, deh. Sama siapa lo ke sini?" Tanya Ikfan, tanpa mau banyak basa-basi lagi. "Gue.. sendiri." Jawab Andrew ragu dan bohong. Tidak mungkin bukan jika Andrew mengatakan bahwa ia datang ke Indonesia dengan ditemani oleh beberapa anak buahnya? Bisa-bisa Ikfan akan banyak bertanya nanti. Ikfan pun hanya beroh-ria mendengar itu. "Mm.. Andre ingin minum apa? Nanti saya pesankan." Ujar Alysa, sedikit kaku. Jangan lupakan tentang nama Andrew, karena yang Ikfan dan Alysa ketahui sampai saat ini nama mafia tampan itu adalah Andre, bukan Andrew. "Tidak usah Alysa, tidak usah repot seperti itu." Kata Andrew, formal dan terdengar cukup ramah. "Loh, kenapa? Ayolah.. ini hanya minum atau lo mau makan juga sekalian?" Tanya Ikfan, menengahi. Andrew menghela nafasnya. "Nggak usah, gue gak mau makan atau minum apapun." Tolak Andrew, halus. Ikfan dan Alysa pun saling pandang sejenak setelah mendengar jawaban Andrew. "Oke-oke, kalau gitu kita bahas yang lain aja." Putus Ikfan. Andrew hanya mengangguk mendengar itu. "Gimana soal usaha lo di California?" Tanya Ikfan, kemudian. Andrew terdiam sejenak mendengar pertanyaan Ikfan, sebelum akhirnya menjawab. "Baik.. semua baik dan berjalan dengan lancar." Jawab Andrew, tenang. "Lo sendiri gimana kerjaan di sini?" Lanjut Andrew, bertanya balik. Ikfan tersenyum. "Alhamdulillaah, kerjaan gue di sini juga berjalan baik dan lancar. Termasuk soal kedai ini." "Bagus kalau gitu." "Dre, apa lo yakin gak mau ngembangin bareng lagi kedai ini sama gue? Rasanya gue sepi tanpa lo di sini." Seloroh Ikfan. Andrew tersenyum tipis mendengar itu. "Lanjutin hidup lo aja, Fan. Jangan pikirin gue. Di California udah terlalu banyak tanggung jawab yang mesti gue pegang." Termasuk menjadi seorang mafia. Lanjut Andrew dalam hati. "Lo kayaknya sukses dan sibuk banget, ya, di sana?" Tanya Ikfan dengan senyuman yang tidak pernah luntur dari bibirnya itu. Andrew kembali tersenyum, tapi kali ini samar. "Ya begitulah." Jawab Andrew seadanya. "Paman, apa Paman bakalan telus seling ke cini?" Tanya Hasha, angkat bicara dengan lucunya pada Andrew setelah lama terdiam. Mendengar itu Andrew pun beralih menatap Hasha dengan tatapan lembut yang masih duduk di pangkuan Ikfan. "Paman pasti akan terus sering main ke sini, sayang. Ketemu kamu, bang Ray, dan kak Haura." Jawab Andrew ramah kepada Hasha. Ikfan dan Alysa hanya bisa tersenyum melihat itu. "Dandi, ya paman?" Tanya Hasha lucu seraya menyerahkan jari kelingkingnya kepada Andrew untuk membuat perjanjian. Andrew pun semakin tersenyum mendengar itu. Entahlah, ada perasaan hangat di hati Andrew saat ada seorang anak yang mengharapkan kehadirannya. Apakah ini rasanya jika nanti ia memiliki seorang anak? "Janji." Jawab Andrew, menyatukan jari kelingkingnya dengan jari kelingking mungil Hasha. Hasha ikut tersenyum, senang. "Makacih Paman." Ucap Hasha polos dan lucu. Lalu, tanpa permisi ia mencium pipi kanan Andrew karena wajah Andrew yang lebih condong dekat padanya. Mendapat ciuman tak terduga itu, tubuh Andrew seketika membeku dan Ikfan tersenyum melihat itu. "Jangan pernah lupain gue sama keluarga gue, Dre. Lo harus ingat, kita bakalan selalu ada buat lo." Ujar Ikfan membuat Andrew semakin di rundung awan mendung. Tak taukah sahabatnya itu bahwa saat ini keadaan Andrew sedang tidak baik? Andrew mengusap lembut tepi atas kepala Hasha yang terbalut jilbab sebelum ia membenarkan kembali posisi duduknya. "Ya, gue gak akan pernah lupain kalian semua." Kata Andrew, sembari berusaha kembali untuk menekan perasaannya. Ikfan dan Alysa pun tersenyum senang mendengar itu. .......... Cepat segera pergi dari tempat sahabatmu, jika kau ingin keluarganya selamat. Aku dengar dari anak buahmu bahwa Xander sedang menuju Indonesia untuk mencarimu. Jangan sampai Xander mengetahui keberadaan sahabat lamamu itu. "Kurang ajar kau Xander!!" Andrew berteriak kencang di dalam mobilnya yang kedap suara seraya memukul stirnya. Tadi setelah ia membaca pesan dari Zack, segera Andrew bergegas pamit dari hadapan Ikfan dan keluarga kecilnya. Ia tidak mau keselamatan Ikfan dan keluarganya terancam hanya karena perbuatan jahat yang dilakukan oleh Xander. Dengan emosi yang masih bergejolak Andrew pun menyalakan mesin mobil dan mulai mengendarai mobilnya itu dengan kecepatan lumayan di atas rata-rata. "Lihat saja kau Xander, aku takkan membiarkanmu menyakiti siapapun yang penting dalam hidupku." Geram Andrew, semakin mencengkram erat stir mobilnya hinggat urat-urat di tangannya itu terlihat. Setelah Andrew sampai di gedung apartement miliknya, dengan langkah terburu-buru Andrew segera melangkah untuk ke apartement tempat tinggalnya itu. Namun betapa terkejutnya Andrew saat memasuki apartementnya, ia malah mendapati Xander beserta beberapa anak buahnya sudah berada di dalam apartementnya itu. Bahkan beberapa anak buah Andrew sudah babak belur dan terikat oleh beberapa anak buah Xander. Xander telah mengacaukan apartement dan anak-anak buahnya. "Sudah sampai rupaya, bagaimana rasanya sudah bertemu dengan sahabat lama?" Tanya Xander, tersenyum miring melihat kedatangan Andrew dengan wajah terkejutnya. Andrew mengepalkan kedua telapak tangannya menahan gejolak emosi yang semakin memuncak mendengar ucapan Xander. "Lepaskan anak buahku!!" Geram Andrew, rendah. Xander terkekeh mendengar ucapan Andrew seraya beranjak dari duduknya dan mulai berjalan untuk berhadapan dengan saudara tirinya itu. "Hmm.. kurasa kau tidak perlu berkata seperti itu pada saudaramu, dude!" Andrew semakin emosi bukan main melihat gelagat Xander yang sedang menguji kesabarannya. Jika saja ini bukan berada di apartement yang berada di Indonesia, sudah pasti Andrew segera menghabisi Xander beserta anak buahnya tanpa mempedulikan apapun. Tapi tidak, Andrew tidak boleh terpancing emosi sampai ia bertindak gegabah menghadapi Xander. Ia tahu bahwa Xander sedang mempermainkan dirinya saat ini dengan otak picik milik saudara tirinya itu. "Katakan apa maumu!!" Bentak Andrew dengan tatapan menghunus ke arah Xander. Xander tersenyum miring. "Mauku? Kau bertanya mauku?" Andrew terdiam sembari terus berusaha untuk mengontrol dirinya setiap mendengar perkataan Xander. Jangan heran jika Andrew dan Xander bisa menggunakan bahasa Indonesia saat ini, pasalnya kedua saudara tiri itu memang akan selalu berbicara menggunakan bahasa Indonesia jika bertemu. Mengingat keduanya sudah lama menetap di Indonesia sejak beberapa tahun yang lalu, maka dari itu tidak aneh jika keduanya masih tetap fasih dalam menggunakan bahasa Indonesia. "Mauku sangat sederhana." Xander mulai membalas tatapan menghunus kepada Andrew. "Aku hanya ingin orang-orangmu hancur beserta dengan dirimu." Desis Xander, sinis. "Kau!! Tutup mulutmu itu, aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi!!" Bentak Andrew, murka. "Ha ha ha ha." Seketika Xander tertawa jahat melihat reaksi Andrew dan hal itu sukses membuat darah Andrew semakin naik memuncak. Bahkan wajahnya sudah terlihat memerah menahan emosi. "Sepertinya menyenangkan jika aku membunuh keluarga sahabat lamamu dengan membantai mereka." Ucap Xander, kontan membuat Andrew tak tahan lagi ingin segera membunuh pria jahat itu. "Jika kau berani membunuh mereka, maka akan aku bunuh adikmu saat itu juga!!" Bentak Andrew. "Tara? Adikku?" Xander terkekeh meremehkan Andrew. "Coba saja jika kau bisa." "Kurang ajar!!" Andrew semakin murka. "Tenang saja, Drew. Aku tidak akan sebodoh itu dengan membunuh orang yang sama sekali tidak menguntungkan untukku." Ucap Xander sinis, membuat Andrew terdiam dan itu sukses membuat Xander semakin tersenyum miring karena melihat reaksi diam Andrew atas ucapannya. "Raisa." "Aku akan membunuhnya untukmu, saudaraku!" Saat itu juga, mata Andrew seketika membulat terkejut setelah mendengar ucapan Xander. Apa-apaan pria jahat ini, bagaimana bisa ia tahu tentang gadis masa lalunya? "Bukankah dia adalah gadis yang begitu kau cintai selama kau tinggal dan kuliah di Indonesia?" Tanya Xander, semakin merasa senang menanti reaksi Andrew. "Jangan coba-coba untuk menyentuhnya!! Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini!!" Bentak Andrew, semakin murka. Tidak! Ia tidak akan membiarkan siapapun—termasuk Xander dan anak buahnya, untuk melukai orang-orang yang penting dalam hidupnya, terlebih jika itu adalah Raisa. Tidak! Tidak akan Andrew biarkan. Xander kembali terkekeh. "Ya, ya, gadis sialan itu memang tidak ada hubungannya dengan semua ini, tapi dia ada hubungannya untukku agar bisa menghancurkan dirimu." Desis Xander, rendah. Mendengar Raisa disebut gadis sialan, Andrew pun mulai mendekati Xander dan langsung menghajar wajah pria itu hingga terjatuh. Bugh! "Jika berani kau menyentuhnya, kau akan menyesal!!" Murka Andrew, tak tertahankan lagi. Xander mengangkat tangannya memberi peringatan kepada anak buahnya yang hendak menyerang Andrew balik. Lalu Xander kembali berdiri seraya mengelap darah yang keluar dari sudut bibirnya akibat pukulan Andrew padanya tadi. "Cepat atau lambat aku akan menemukan gadis itu dan menyerahkannya padamu dalam keadaan tak berdaya!!" Desis Xander sinis, sebelum pergi meninggalkan Andrew dan anak buahnya yang sudah babak belur. Masih berdiri di tempatnya, Andrew semakin mengepal erat kedua telapak tangannya setelah kepergian Xander yang meninggalkan sebuah ancaman untuknya. Namun jauh dari segala emosinya, Andrew juga mulai merasa khawatir dengan Raisa. Bagaimana jika Xander berhasil menemukan Raisa? Tidak! Bahkan sebelum Xander berhasil menemukan Raisa, dirinyalah yang akan lebih dahulu berhasil membawa Raisa ke dalam hidupnya untuk melindungi gadis itu. "Cepat cari tahu tentang keberadaan Raisa sedetail mungkin dan bawa dia ke hadapanku secepatnya!!!" Andrew memerintah dengan membentak kepada anak buahnya yang masih terlihat baik-baik saja. .......... "Ya ampun, tagihan listrik, kok, mahal banget, ya? Pasti aku bayar sewa kontrakan nambah, nih." Saat ini setelah membersihkan kontrakan dan menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri, Raisa mendapat surat tagihan listrik dari pos. Hari ini adalah hari libur Raisa bekerja, maka tak aneh jika pagi seperti ini Raisa masih berada di kontrakannya. Dengan langkah yang gontai Raisa menyimpan surat tagihan listrik itu di atas meja tamu, lalu ia kembali melangkahkan kakinya menuju meja makan untuk sarapan. Tapi belum sempat ia melangkah, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari pintu utama kontrakannya. Kening Raisa pun mengercit bingung sembari terdiam berdiri di tempatnya. "Siapa yang dateng pagi-pagi begini?" Seketika mata Raisa membulat saat menyadari sesuatu. "Apa jangan-jangan itu ibu kontrakan yang mau ngasih tahu kalau uang sewa kontrakan naik karena tagihan listrik itu?" Saat itu juga Raisa mengusap wajahnya dengan kasar dan terlihat frustasi. Lalu dengan langkah yang terburu-buru, ia dengan cepat memakai jilbab syar'iy dan cadarnya. Untung ia sudah memakai gamis rumahan, jadi tidak perlu lagi ia harus mengganti pakaiannya. Jangan lupakan tentang diri Raisa yang sudah lama hijrah sejak berpisah dengan Andrew. Bahkan kini dirinya sama seperti Alysa. Sudah memakai cadar. Tok..tokk..tokkk Tok..tokk...tokkk..tokkkk.. Suara ketukan pintu itu semakin terdengar keras seolah tak sabar untuk terlalu lama menunggu Raisa untuk membukakan pintunya. "Iya, tunggu sebentar!!" Teriak Raisa dari dalam, sembari berjalan terpogoh-pogoh menuju pintu tersebut. Ceklekk.. Setelah berhasil membukakan pintu kontrakannya, betapa terkejutnya Raisa karena saat ia berhasil membuka pintu, seketika mulut dan hidungnya langsung dibekap menggunakan sapu tangan dengan bau yang menyengat. Alkohol? Raisa langsung dibekap oleh seorang laki-laki berperawakan besar dan berbaju hitam, bahkan Raisa masih bisa melihat bahwa laki-laki itu tidak datang seorang diri, melainkan banyak. Raisa pun berontak saat dirinya tahu sedang dalam bahaya. "Mmmpptt.." Suara Raisa tertahan oleh bekapan laki-laki berbaju hitam itu, hingga akhirnya tubuh Raisa melemas dan pingsan karena tidak kuat mencium bau alkohol yang semakin menyengat dari sapu tangan yang digunakan untuk membekapnya. "Cepat bawa gadis itu ke dalam mobil!!" Perintah seorang laki-laki yang tak kalah ketampannannya seperti Andrew. Sedangkan laki-laki yang membekap Raisa menuruti perintah Tuannya dan mulai menggendong tubuh Raisa ala bridal style untuk membawanya ke dalam mobil. .......... "Kenapa kau menyuruhku membawa gadis ini?" Tanya Zack kepada Andrew yang sedang menatap tubuh Raisa. Saat ini Raisa sedang terbaring tak sadarkan diri di atas sofa yang berada di apartement milik Andrew. Setelah berhasil menemukan dan mengetahui seluk-beluk kehidupan Raisa melalui koneksinya, Andrew segera memerintah Zack untuk datang ke Indonesia beserta anak buahnya. Bahkan setelah sampai di Indonesia Andrew kembali memerintah Zack dan anak buahnya itu untuk membawa Raisa dengan cara yang tidak pantas. Bukan Andrew kejam, hanya saja ia sudah dapat menebak jika ia membawa Raisa dengan cara baik-baik untuk ikut dengannya, sudah pasti gadis itu akan menolak. "Dia dalam bahaya." Jawab Andrew, tanpa mengalihkan pandangannya dari Raisa yang terbaring lemah di atas sofa dengan pakaian serba tertutup. "Bahaya?" Zack membeo. "Memang dia siapa?" Andrew pun menoleh Zack yang berdiri di sampingnya. "Dia Raisa, gadis masa laluku." Mata Zack pun seketika membulat mendengar itu. Lalu ia menatap Raisa dengan serius yang saat ini masih belum sadarkan diri. "Kemarin Xander datang padaku dan mengancam bahwa dia akan membunuh Raisa." Kata Andrew, memberitahu. Zack kembali menoleh Andrew dengan tatapan amat terkejut. "Membunuh gadis yang tidak tahu apa-apa ini?" Tanya Zack kepada Andrew, sembari menunjuk Raisa yang masih terbaring lemah di sofa. Andrew terdiam mendapat reaksi terkejut dari Zack. "Apa laki-laki itu sudah gila?" Murka Zack kepada Xander. "Arrghhh!!" Zack pun mengerang frustasi, sembari mengacak rambutnya. Andrew masih terdiam berdiri di tempatnya tanpa menghiraukan reaksi Zack, bahkan ia malah kembali menatap Raisa yang saat ini masih terbaring tak berdaya di atas sofa. Sungguh, dalam benak Andrew saat ini ia merasa sangat sedih. Mengapa ia harus dipertemukan kembali dengan gadis yang dahulu pernah ia cintai dengan keadaan seperti ini? Aku merindukanmu Raisa. "Lalu apa yang akan kau lakukan pada gadis ini?" Tanya Zack, membuyarkan lamunan Andrew. Seraya menekan perasaannya, Andrew pun kembali memasang wajah datarnya menoleh Zack. "Aku akan menikahinya." Jawab Andrew, setenang mungkin. Lagi, Zack menatap Andrew terkejut, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Menikahinya? Kau.. apa kau sudah gila?" Andrew menatap Zack, serius. "Aku tidak gila!" Zack berdecak. "Ck! Apa baiknya jika kau menikahi gadis ini? Bukankah itu malah akan semakin membuatnya ada dalam bahaya?" Andrew kembali menoleh ke arah Raisa. "Justru dengan ini aku bisa melindunginya." Jawab Andrew, tenang. Zack semakin menatap Andrew tidak percaya. "Jangan katakan jika kau masih mencintai gadis ini, jadi kau berniat untuk menikahinya saat ini juga." Geram Zack. Sungguh Zack tidak habis pikir, ada apa dengan otak sepupunya ini? Andrew menatap Zack, tajam. "Itu bukan urusanmu!! Cinta atau tidak, aku akan tetap menikahinya." "Berpikirlah, Drew!! Jangan gegabah!!" Kata Zack, sedikit membentak. "Justru aku sudah memikirkan ini dengan matang sejak Xander datang dan mengancamku, Zack." Murka Andrew akhirnya kepada Zack yang membalas perkataannya dengan sedikit membentak. Oh ayolah! Saat ini Andrew sedang sangat sensitif. Andrew menghela nafasnya untuk kembali menahan gejolak emosi yang tiba-tiba tersulut akibat Zack membentaknya tadi. "Apa kau tidak lihat bagaimana dia dalam berpakaian?" Tanya Andrew dengan nada rendah tanpa menoleh Zack, melainkan kembali menatap Raisa. Mendengar itu, Zack pun menoleh Raisa yang masih terbaring. "Dia berbeda dari para wanita yang ada di luaran sana." Kata Andrew, mulai menjelaskan. Zack kembali menoleh Andrew, begitupun dengan Andrew. Mereka saling menoleh. "Aku harus menikahinya karena tidak mungkin jika aku bisa melindunginya dengan posisiku yang bukan mahrom-nya." Zack menatap Andrew, bingung. Mahrom? "Dalam agamaku dan dia, laki-laki dan wanita yang belum menikah dilarang untuk hidup bersama. Jangankan hidup bersama, saling bersentuhan tangan pun dilarang." Seloroh Andrew, paham dengan kebingungan Zack. Di keluarganya yang berada di California, hanya Andrew dan Ayahnya yang beragama islam. Sedangkan yang lainnya entah beragama apa, karena jika dikatakan mereka menganut agama katolik atau kristen, itu mustahil. Andrew tidak pernah melihat keluarganya pergi ke gereja atau tempat lainnya untuk melakukan ibadah. Atheis. Ya, mungkin itu kata yang cocok untuk keluarga Andrew dan Andrew merasa sangat bersyukur karena ia tidak termasuk ke dalamnya. Andrew memiliki agama. "Aku harus menikahinya agar aku bisa lebih leluasa dan benar dalam melindunginya dari bahaya, terutama bahaya dari Xander dan komplotannya." Kata Andrew yang kini mendudukan bokongnya di single sofa yang berhadapan dengan Raisa yang masih terbaring tak sadarkan diri. Zack ikut duduk di sofa yang berhadapan dengan Andrew. "Baiklah, jika itu keputusan yang terbaik, aku akan tetap mendukungmu." Kata Zack, sembari tersenyum tulus kepada Andrew. Mendengar itu Andrew pun hanya bisa terdiam sembari terus menatap Raisa dengan serius dengan tatapannya yang sendu. Maafkan aku Raisa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN