CBL-3

1123 Kata
"Eungghh.." Raisa melenguh sembari mulai menggeliatkan tubuhnya saat dirasa terganggu karena ada sinar matahari yang menyinari matanya. Dengan mata yang perlahan mulai terbuka itu, Raisa dapat melihat bahwa sinar matahari itu berasal dari sebuah gorden yang terbuka dan hanya menyisakan kain putih tipisnya saja yang masih menutupi penuh kaca jendela kamar tersebut. Sambil mengercitkan kening dan memegang kepalanya, Raisa merasa sedikit pusing. Belum lagi aroma maskulin yang begitu pekat tercium oleh indra penciumannya di dalam kamar itu. "Ssshh.." Raisa meringis saat merasa sakit pusing di kepalanya mulai kembali berdenyut. Masih belum sadar ia berada dimana, Raisa masih berusaha mengumpulkan sisa tenaganya untuk merubah posisinya dari berbaring menjadi duduk di atas ranjang. Ceklekk.. Suara handle pintu terbuka dan menampakan seorang wanita muda berpakain hitam-putih berjalan menghampiri Raisa sembari membawa sebuah nampan yang berisi makanan dan air minum. "Nona sudah bangun?" Tanya wanita muda itu kepada Raisa. Raisa menyipitkan matanya menatap seseorang yang mengajaknya bicara, lalu seketika matanya membulat sempurna saat melihat sebuah poster gambar pisau silver beserta darahnya dengan latar hitam tertempel di dinding ruangan kamar. Dengan detak jantung yang berdetak cepat, Raisa mulai cemas seraya melirik sisi demi sisi ruang kamar yang saat ini sedang ia tempati. Tidak! Ini seperti kamar dari seorang laki-laki, belum lagi wangi maskulin yang begitu menyengat di dalam kamar, Raisa sangat yakin bahwa ini memanglah kamar dari seorang laki-laki. Ada dimana aku? Batin Raisa. "Nona?" Panggil wanita muda itu yang melihat Raisa terdiam gelisah. Mendengar itu, kontan atensi Raisa pun kembali pada wanita yang mengajaknya bicara. "Ada dimana aku? Kenapa ini? Apa yang ter.. arrgghh!" Seketika Raisa meringis memegang kepalanya yang kembali berdenyut sakit saat ia tengah bertanya dengan tak sabaran kepada wanita muda tersebut. Wanita muda itu pun mulai panik melihat Raisa kembali meringis sakit, bahkan nampan yang berisi makanan dan air minum langsung ia taruh di atas nakas yang berada di samping ranjang. "Ya Tuhan nona, apa nona baik-baik saja? Apa yang sakit?" Raisa tak menghiraukan perkataan wanita muda itu, ia hanya terdiam meringis memegang kepala sebelah kirinya sembari terus mengingat-ngingat kejadian apa yang telah menimpa dirinya hingga bisa berakhir sampai di tempat asing ini. "Apa perlu saya panggilkan Tuan muda bahwa nona kesakitan?" Pertanyaan wanita muda itu kembali mencuri antensi Raisa. "Tuan muda?" Raisa membeo. "Siapa dia? Dan kenapa aku bisa ada di sini?" Wanita muda itu nampak kebingungan untuk menjawab pertanyaan Raisa, pasalnya di sini ia hanya diperintahkan untuk memberi makan dan minum kepada Raisa, bukan menjawab setiap pertanyaan dari gadis itu. Jika ia menjawab, ia takut salah dan malah akan membawanya ke dalam kubangan kematian. Tidak! Wanita muda itu menggelengkan kepalanya tanpa sadar karena ia tidak mau mati mengenaskan di tangan para mafia. Raisa menatap aneh pada wanita muda itu. "Ada apa ini? Kenapa kamu malah geleng-geleng kepala??" Tanya Raisa, heran. Wanita muda itu mulai gelagapan. "Ma-maaf nona.. tapi sebaiknya nona segera makan dan minum." "Apa-apaan ini, aku itu tadi bertanya dan kamu malah menjawab demikian, kenapa hah!!" Raisa tiba-tiba membentak tanpa sadar karena ia merasa panik, saat ini ia sedang dalam bahaya. Ya, sekarang Raisa sudah ingat bahwa terakhir kali ia berada di kontrakannya kemudian ia kedatangan tamu aneh yang malah langsung membekap mulut dengan alkohol pagi tadi saat setelah ia membuka pintu. "Sudah bangun ternyata." Seketika tubuh wanita muda itu menengang setelah mendengar suara berat dari arah belakangnya, sedangkan Raisa yang mendengar suara baru itu seketika ia menoleh ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya Raisa saat melihat seseorang itu yang saat ini sedang berjalan menghampirinya dengan raut wajar datar. Dia? "Ma-maaf.. Tu-tuan muda.. nona R-Raisa tidak mau mendengarkan saya." Raisa menatap heran pada wanita muda itu, mengapa ia terlihat seperti takut kepada Andre? Ya, saat ini Raisa sadar bahwa ia sedang bersama Andre—teman lamanya. Sungguh, Raisa sangat terkejut bukan main bahwa ternyata ia sedang bersama dengan Andre. Tapi, mengapa bisa? "Pergilah!! Biar dia menjadi urusanku!!" Perintah Andrew sedingin es. Tanpa membantah, wanita muda itu menurut dan langsung melegang pergi dari hadapan Andrew dan Raisa hingga menyisakan keduanya hanya berduaan saja di dalam kamar. Di sisi lain, Raisa masih menatap kepergian wanita muda itu yang saat ini sudah menghilang dari dalam kamar. Sedangkan Andrew dengan detak jantung yang berdetak cepat, ia berusaha untuk tetap terlihat dingin dan datar di hadapan Raisa. "Makanlah!" Perintah Andrew, menyadarkan Raisa dari lamunannya. Raisa menoleh Andrew dengan tatapan penuh tanya. "Apa-apaan ini Dre, kenapa aku ada di sini dan .." Raisa menghentikan ucapannya dan mulai menggigit bibir bawahnya di balik cadar yang ia kenakan saat sadar bahwa Andrew sedang menatapnya intens. Glek! Raisa menelan air liurnya tanpa sadar karena gugup. "Dan apa?" Tanya Andrew, dingin. Setelah mengerjapkan kedua matanya dua kali, Raisa pun melanjutkan kembali ucapannya. "Dan kenapa aku bisa.. bersamamu?" Mendengar itu Andrew terdiam dengan raut wajah datar, bahkan kedua telapak tangannya laki-laki itu disimpan ke dalam saku celananya. Ohh ya Tuhan, Andrew telihat sekali seperti sosok mafia berhati es jika saja Raisa mengetahui hal itu. "Tidak perlu banyak bicara, habiskan saja makan dan minummu, aku tahu kau belum makan apapun hari ini!!" Perintah Andrew, sedikit tajam. Raisa membeku mendengar ucapan Andrew yang terdengar berbeda. Mengapa gaya bicara laki-laki itu sangat terdengar formal dan sarat akan ketajaman? "Kau mendengar atau tidak?" Desis Andrew tajam, melihat Raisa malah terdiam seolah mengabaikan ucapannya tadi. Raisa kembali menatap Andrew dengan eskpresi sendu. Mengapa ini? Mengapa Andre-nya berubah dan terlihat kasar dari cara bicaranya? "Katakan!! Kenapa aku berada di sini? Untuk apa aku ada di sini?" Tanya Raisa sedikit bergetar, menahan tangis dan takut. Bahkan kini ia mengikuti cara Andrew bicara dengan menggunakan bahasa formal. Andrew berdecak. "Turuti saja perintahku jika kau ingin selamat!!" Ancam Andrew yang kini benar-benar tajam. Raisa melengkungkan bibirnya ke bawah mendengar itu. Tidak! Andre pikir dia siapa. Batin Raisa, geram. Dengan gerakan cepat, Raisa turun dari ranjang dan menghiraukan perkataan Andrew tadi. "Mau kemana kau?" Tanya Andrew tajam, melihat Raisa seperti bersiap akan pergi. Seolah menulikan pendengarannya, Raisa terus berjalan melewati Andrew. Namun belum sempat ia berhasil pergi dari hadapan Andrew, segera Andrew mencengkram erat lengan Raisa yang tanpa sadar ia telah melukai lengan gadis itu. "Aakkhhh!!" Raisa meringis saat mendapat cengkraman erat dan kasar dari Andrew. "Aku tanya kau mau kemana, apa kau tuli?" Tanya Andrew dengan nada rendah, menahan kegeramannya karena Raisa abaikan. Raisa menatap Andrew tak percaya. Mengapa laki-laki itu berubah menjadi sekasar ini padanya? "Lepas Dre, aku mau pulang!!" Raisa berusaha melepaskan cengkraman Andrew pada lengannya, tapi nihil, itu tidak terjadi karena Andrew malah semakin mencengkramnya dengan erat. Tanpa sadar Raisa mulai meneteskan air matanya di balik cadar yang ia kenakan. Sungguh ini menyakitkan, belum lagi ia tidak rida jika tangannya dipegang oleh laki-laki nonmahrom walaupun itu dilakukan oleh seseorang yang masih ia cintai. Laki-laki itu adalah Andre ... yang kini belum Raisa ketahui nama aslinya adalah Andrew.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN