Ceklekk..
Suara handle pintu kamar yang saat ini sedang Raisa tempati berbunyi dan pintunya mulai terbuka. Dengan pandangan waspada menatap ke arah pintu, Raisa juga langsung menarik selimutnya hingga ke d**a hampir menutupi seluruh tubuhnya.
"Kau belum tidur?" Tanya Andrew, memasuki kamar dan kembali menutup pintunya.
Melihat kedatangan Andrew ke dalam kamar yang ia tempati, Raisa semakin panik bukan main. Bayangkan saja, saat ini ia sedang satu kamar dengan laki-laki nonmahrom. Ingat satu kamar. Bahkan saat ini hari sudah malam. Ya Rabb, Raisa semakin merasa takut.
"Mau apa kau ke sini?" Bentak Raisa, cemas yang melihat Andrew berjalan mendekat ke arahnya.
Seolah menghiraukan pertanyaan Raisa yang membentaknya, Andrew malah terus berjalan mendekati Raisa. Setelah dekat dan berdiri di samping ranjang, Andrew sempat menatap Raisa heran karena gadis itu memejamkan kedua matanya sembari duduk bersembunyi di balik selimut. Bahkan Andrew bisa melihat tubuh gadis itu bergetar.
Apakah aku semenyeramkan itu? Batin Andrew.
Tak mau ambil pusing, akhirnya Andrew pun menjatuhkan bokongnya di sisi kanan ranjang yang dekat dengan posisi Raisa yang masih duduk.
"Berhentilah bersikap konyol, Raisa!"
Ucapan Andrew yang kelewat dingin itu kontan membuat Raisa membuka kedua matanya dan beralih menatap terkejut saat melihat Andrew sudah duduk di jarak yang tidak jauh dengannya.
Dengan perasaan semakin cemas, Raisa segera menggeserkan bokongnya agar sedikit menjauh dari Andrew.
"Ada yang mau aku bicarakan denganmu." Kata Andrew, tanpa menatap Raisa. Melainkan menatap lurus ke kaca besar yang menampakan pemandangan kota di malam hari.
Raisa terdiam mendengar itu.
"Aku harap kau bisa mengerti dengan semua ini." Ujar Andrew, saat Raisa tak kunjung meresponnya.
"Apa yang harus aku coba mengerti, Dre? Sebenarnya ada apa ini? Kenapa kau seperti ini? Aku ..."
"Besok kita akan menikah." Sela Andrew dingin, masih tidak menatap lawan bicaranya.
Seketika mata Raisa membulat terkejut setelah mendengar ucapan Andrew yang satu ini.
"Apa? Kau ... Dre?" Lirih Raisa, tak percaya.
Mendengar nada bicara Raisa yang melirih, akhirnya Andrew menolehnya.
"Besok kita akan menikah dan aku tidak menerima penolakkan apapun." Kata Andrew, tegas.
Saat itu juga mata Raisa mulai memanas, bahkan emosinya juga mulai kembali naik hingga ke ubun-ubun.
"Apa-apaan ini, Dre!! Kenapa kau jadi pemaksa seperti ini!!" Teriak Raisa, marah dan kesal.
Andrew terdiam melihat reaksi Raisa sembari masih bertahan dengan eskpresi wajahnya yang dingin.
"Tidak!! Aku tidak mau menikah dengan laki-laki kasar sepertimu!! Aku tidak sudi!!" Bentak Raisa, murka.
Apa-apaan ini, gadis mana yang tidak akan marah jika harus dipaksa menikah secara tiba-tiba seperti ini? Bahkan dengan laki-laki yang perangainya buruk seperti Andrew sekarang.
Andrew mulai tersulut emosinya mendengar ucapan Raisa.
"Aku benci laki-laki sepertimu, Dre. Kau dengan segala perangai burukmu saat ini, aku membencinya!!" Bentak Raisa, lagi.
"Aku tidak peduli, mau tidak mau kau akan tetap menikah denganku besok, Raisa!!" Andrew menimpali, dengan tajam.
Raisa semakin marah dan sedih dalam waktu bersamaan mendengar perkataan sahabat lamanya itu. Sebenarnya apa yang terjadi dengan laki-laki itu? Mengapa ia menjadi seperti ini?
"Aku tidak sudi, b******k!!" Bentak Raisa semakin emosi, bahkan tanpa sadar ia berkata kasar kepada Andrew.
Mendengar itu, Andrew pun semakin murka. Sampai sadar tak sadar karena tersulut emosinya, Andrew langsung mencengkram erat dagu Raisa dengan kasar, agar gadis itu mau menatapnya.
"Dengarkan aku, jangan berani kau membantahku sekalipun Raisa. Karena jika kau berani membantahku sekali saja, maka tidak segan-segan aku akan membunuh Pamanmu beserta keluarganya." Ancam Andrew tajam, kontan membuat Raisa menatapnya dengan terkejut.
Dengan segala kekuatan yang ia punya, Raisa pun menepis kasar cengkraman Andrew dari dagunya.
"Apa-apaan ini, Dre!! Kenapa kau jadi bertindak kriminal seperti ini??" Jerit Raisa kelewat marah dan sedih dalam satu waktu.
Andrew menatap Raisa, tajam. "Jangan kau pikir aku tidak tahu tentang kehidupanmu selama ini, Raisa. Aku tahu bahwa sekarang kau hidup hanya sebatang kara. Pilihan ada di tanganmu. Menikah denganku atau kau akan melihat jasad Pamanmu beserta keluarganya nanti?"
Raisa semakin menatap Andrew tidak percaya. Mengapa rasanya ini seperti mimpi? Mengapa laki-laki yang selama ini ia cintai berubah menjadi kejam dan jahat seperti ini?
"Sebenarnya apa maumu Dre? Apa maumu?" Tanya Raisa yang kini terisak hebat.
Sungguh, Raisa merasa terguncang dengan kondisi yang seperti ini.
Walaupun dalam hati ia juga merasakan hal yang sama seperti yang Raisa rasakan, Andrew tetaplah Andrew. Ia tidak akan goyah. Ia akan tetap bersikap keras seperti ini kepada Raisa. Hingga akhirnya ia menjawab pertanyaan Raisa dengan jawaban dusta yang akan semakin membuat gadis itu merasa terluka.
"Mauku hanya satu, yaitu membalas dendamku atas perbuatanmu dahulu kepadaku saat kita masih kuliah." Jawab Andrew dingin.
Mendengar itu, seketika Raisa menatap Andrew bingung. "Balas dendam?"
"Ya, membalaskan dendam karena dahulu kau telah mempermainkan perasaanku dan menyuruhku untuk pergi dari hidupmu." Jawab Andrew, menekan nyeri di hatinya.
Raisa pun semakin terisak mendengar jawaban Andrew. Mengapa seperti ini?
"Apa maksudmu, Dre? Bukankah dahulu kau yang mempermainkanku dengan taruhanmu itu!!"
"Kau pikir aku tidak sakit hati kau tolak dan usir seperti itu, hah?!" Andrew menimpali tajam, tanpa memerdulikan perkataan Raisa.
Raisa pun tidak berniat untuk kembali menjawab, ia hanya bisa terus terisak saat ini.
"Kau bahkan mempermalukanku di hadapan Ikfan dan Alysa .. kau tau .. kau sudah menjatuhkan harga diriku sebagai seorang laki-laki." Kata Andrew, semakin tajam dan menusuk.
Maafkan kebohonganku Raisa. Lanjut Andrew dalam hati dengan sendu.
Akhirnya, Raisa semakin terisak hebat mendengar itu. Bahkan ia sampai menutup wajahnya yang bercadar dengan kedua telapak tangannya.
Setelah acara mandi dengan diseret kasar oleh Andrew tadi, kini Raisa sudah berganti pakaian. Entah bagaimana Andrew bisa membeli perlengkapan Raisa, karena ketika ia membuka lemari yang berada di kamar yang ia tempati, Raisa sudah mendapati lengkap perlengkapannya di dalam lemari tersebut. Baik itu gamis, jilbab syar'iy, ataupun beberapa kain cadar dan yang lainnya.
"Berhentilah menangis dan ikuti semua perintahku atau kau akan menyesal!!" Kata Andrew tegas, sebelum melegang pergi keluar kamar meninggalkan Raisa yang semakin terisak hebat.
"Ibu.. Ayah.. kenapa hidup Raisa menjadi seperti ini?"