Di sebuah rumah yang terletak di California, terlihat seorang laki-laki muda sedang ditemani oleh seorang wanita cantik dan seksi sebari duduk di sebuah kursi bar. Kedua manusia itu tengah mengobrol dan meneguk segelas minuman bersama.
"Jadi dia akan menikah besok?" Tanya wanita itu dengan nada tidak suka.
Laki-laki yang berada di dekat wanita itu tidak langsung menjawabnya, melainkan meminum seteguk lagi minumannya lagi yang ada di gelasnya.
"Kau pikir aku terlihat sedang berbohong," jawab laki-laki itu dengan sinis.
Wanita itu berdecih. "Aku harus segera ke Indonesia, tidak akan aku biarkan dia menikah dengan orang lain!!"
"Berhentilah berharap pada laki-laki tidak berguna itu!! Kenapa kau selalu berharap padanya!!" Hardik Xander.
Ya laki-laki yang ada di sana saat ini adalah Xander dan seorang wanita yang menemaninya adalah adiknya yang tak lain bernama Tara.
Tara menatap Xander tidak suka. "Terserah apa katamu, aku tidak peduli!! Sekarang juga akan aku habisi wanita yang akan dinikahi oleh Andrew!!"
Xander melempar gelasnya hingga pecah sia-sia di lantai. "Kau!!" Geramnya seraya mencengkram kasar tangan Tara yang hendak pergi.
Melihat dirinya dihalangi, Tara melihat Xander kesal.
"Berhentilah bersikap bodoh!! Biarkan saja Andrew menikah. Kau lupa apa tujuan kita, hah?!!" Bentak Xander murka kepada adiknya yang selalu berharap dan mencintai orang yang paling ia benci.
"Lepas kak!! Aku tidak mau dia menikahi wanita manapun selain diriku!!" Tara memberontak untuk lepas dari cengkraman Xander, tapi semua itu tetap sia-sia karena Xander malah semakin erat mencengkram tangannya.
"Menurutlah padaku atau saat ini juga aku akan membunuh laki-laki itu untukmu," ancam Xander tajam.
Tara terkejut mendengar itu. "Berani kau sakiti Andrew, akan aku balas kau dengan yang setimpal!!" Murka Tara.
Xander semakin naik pitan melihat adiknya yang begitu mencintai Andrew yang dahulunya adalah saudara tirinya. Dengan segala emosi Xander menjepit dagu Tara, hingga Tara meringis. "Lihat aku Tara!! Untuk apa kau mencintai dia? Ingat bagaimana ketidakadilan yang telah menimpa kita!!" Desis Xander tajam. "Ayah tiri kita sudah berbuat seenaknya, hanya si Andrew itu yang mewarisi segala harta ayah kita yang sudah mati, sedangkan kita dilantarkan!!"
Tara kembali meringis ketika Xander membentaknya dan semakin menjepit dagunya.
"Seharusnya kau membantuku untuk merebut semua yang dia punya, bukan malah mencintainya!!" Bentak Xander lagi yang kini melepas jepitannya pada dagu Tara dengan kasar, hingga Tara terjatuh ke lantai dan Tara meringis sebari menatap penuh kekesalan kepada kakak kandungnya yang tengah berdiri dengan nafas memburu akibat emosi.
"Berani kau pergi menghentikan pernikahannya, maka kau juga akan menjadi salah satu targetku untukku bunuh!!" Ancam Xander.
"Aku tidak peduli!!" Tara menimpali tanpa takut.
Xander semakin emosi melihat adiknya yang sangat keras kepala. "Jangan bodoh Tara!! Kau ini kenapa, hah!!" Xander menyugar rambutnya frustasi. "Biarkan dia menikah, karena dengan ini kita bisa tahu dimana letak kelemahannya. Kelemahannya ada pada wanitanya."
"Beri aku jaminan," ucap Tara seraya beranjak dari duduknya di lantai akibat terjatuh tadi.
Xander menatap Tara bingung.
Jaminan?
"Apa maksudmu?"
Tara tersenyum miring. "Aku akan membiarkan sayangku menikah besok dengan wanita lain, tapi.." Tara sengaja menggantung ucapannya menunggu reaksi Xander.
"Tapi apa?"
Tara semakin tersenyum miring. "Biarkan aku merebutnya di saat kau sudah mendapat apa yang kau inginkan. Dan jangan sekali-kali kau mencoba untuk membunuhnya." Jawab Tara dengan menaikkan dagunya angkuh.
Mendengar itu Xander mengepalkan kuat kedua telapak tangannya, hingga terlihat jelas cetakan urat-uratnya keluar. "Untuk apa Tara?! Kenapa kau selalu saja mempersulitku?!"
Tara tersenyum sinis. "Aku butuh dia, aku ingin memilikinya,"
"Kau hanya terobsesi padanya!!" Xander frustasi melihat adiknya begitu keras kepala.
"Ya, aku terobsesi padanya. Kenapa?" Tanya Tara angkuh.
"Arrrghhh!!" Xander mengacak rambutnya frustasi menghadapi Tara. "Terserah kau!! Aku tidak peduli!!"
Akhirnya Xander meninggalkan Tara di bar rumahnya dengan segala luapan emosi yang tidak bisa terlampiaskan. Tidak mungkin juga jika ia membunuh adiknya sendiri bukan? Meskipun adiknya itu sangat keras kepala.
Tara tersenyum penuh kemenangan melihat Xander pergi meninggalkannya.
"Lihat saja Andrew sayang, cepat atau lambat kau akan tetap menjadi milikku."
..........
"Saya terima nikahnya Raisa Zharifa Naina dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah,"
"Alhamdulillaah."
Seketika air mata Raisa semakin deras membasahi kedua pipinya setelah mendengar ijab qobul menggema di ruang utama apartement Andrew. Tepat setelah kedatangan paman dan bibinya, akad nikahnya dan Andrew pun dilakukan pagi ini. Dengan segala tindakan pemaksaan dan arogannya, Andrew menyuruh anak buahnya membawa paman dan bibi Raisa untuk menghadiri acara pernikahannya sebagai saksi dan walinya. Awalnya paman Raisa menolak karena baginya ini terlalu memaksa dan berlangsung tidak sesuai harapan. Bagaimanapun juga pamannya Raisa ini sangat menyayanginya, ia ingin Raisa menikah dengan pria baik-baik. Bukan dengan laki-laki arogan seperti Andrew. Tapi semua itu hanyalah harapan, karena akhirnya paman Raisa menurut ketika mendapat ancaman pembunuhan untuk keluarganya dari Andrew.
Sungguh, Raisa sangat ingin menangis sekeras mungkin saat ini juga karena pernikahannya ini tidak sesuai impiannya. Walaupun ia menikah dengan seseorang yang ia cintai dari masa lalunya, tapi kini semuanya telah berubah. Raisa sangat membenci Andrew yang sekarang. Ia ingin menikah dengan laki-laki yang sholih, baik agama, manhaj, dan aqidahnya. Tapi ini, semua harapan Raisa pun pupus seketika. Ia tidak mau menyalahkan takdir, mungkin ini memang yang terbaik dari Allaah. Meskipun Raisa belum bisa ikhlas dan belum bisa mempercayai semua ini.
"Kuatkan aku ya Allaah," lirih Raisa pedih sebari menekan dadanya yang terasa sesak.
Sedangkan di tempat lain tepatnya di ruang tamu apartementnya, Andrew pun merasakan hal yang sama. Dadanya begitu terasa sesak dengan semua yang terjadi saat ini. Walaupun ia menikahi gadis yang masih sangat ia cintai, tapi tetap saja Andrew merasa kecewa pada dirinya sendiri. Kenapa ia harus menikahi wanita sebaik Raisa dengan cara seperti ini? Tidak ada resepsi dan hanya ada akad saja, itupun berlangsung secara tertutup dan penuh dengan pemaksaan. Andrew merasa telah gagal dalam memuliakan seorang wanita, apalagi wanita yang ia cintai.
"Panggillah mempelai wanitanya untuk segera ke sini," kata penghulu kepada keluarga pengantin.
Andrew terdiam.
Mengerti kondisi Andrew, Zack pun angkat bicara.
"Melisa, bawalah Raisa ke sini." Perintah Zack halus kepada Melisa yang masih berdiri ditempatnya usai menyaksikan akad nikah Andrew dan Raisa tadi.
Andrew, Zack, dan anak buahnya saat ini tidak akan menunjukkan perbuatan kasar apapun. Mereka berusaha untuk menutupi semua kenyataannya di hadapan penghulu dan orang lain yang berkepentingan untuk menyaksikan akad nikah tersebut.
"Baik." Dengan patuh Melisa pun langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Raisa. Di sana Raisa hanya seorang diri dengan penampilan yang sudah dirias bak pengantin yang berbahagia.
Ceklekk..
Raisa segera menghapus air matanya di balik cadar yang ia pakai setelah mendengar suara pintu terbuka.
"Nona, mari kita keluar. Tuan muda dan yang lainnya sudah menunggu," ujar Melisa lembut setelah berdiri di samping Raisa yang masih duduk di sisi ranjang.
Raisa menghela nafasnya berat sebelum beranjak dari duduknya dan menuruti semua perkataan Melisa.
..........
"Baik, karena pengantin wanita sudah di sini. Ayo cium telapak tangan suaminya dan suami beri do'a pada istrinya lalu cium keningnya."
Ucapan penghulu ini tanpa diketahui oleh siapapun sukses membuat jantung Andrew dan Raisa berdetak kencang, walaupun ini bukan pernikahan bahagia, tapi tetap keduanya merasa gugup. Dengan perasaannya yang sangat gugup dan malu, Raisa melangkahkan kakinya mendekati Andrew yang sudah berdiri di hadapannya dengan raut wajah sedingin es. Raisa juga sempat melirik sejenak ke arah paman dan bibinya yang menyaksikan pernikahannya ini dengan raut wajah sendu.
Kuatkan hamba ya Allaah. Batin Raisa sesak.
Pandangan mata Andrew dan Raisa pun bertemu ketika Raisa sudah berada di hadapan Andrew dengan jarak yang cukup dekat. Andrew sendiri bisa melihat di sana, ada sebuah kesedihan yang mendalam dari mata Raisa saat mata itu menatap dirinya. Dengan ragu-ragu Raisa meraih telapak tangan Andrew, lalu ia cium tepi atas telapak tangan laki-laki itu yang kini sudah sah menjadi suaminya. Imam dalam hidupnya.
Deg.
Seketika jantung Andrew terasa akan berhenti berdetak saat merasakan kecupan bibir Raisa yang terhalang kain—karena sedang memakai cadar—pada telapak tangannya. Sungguh, ada sebuah rasa yang sulit untuk Andrew ungkapan saat ia melihat Raisa melakukan itu. Dengan penuh kelembutan ketika Raisa sudah kembali pada posisinya, Andrew pun mencium kening Raisa setelah mendo'akan sebuah do'a untuk wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya sebari memegang ubun-ubun wanita itu. Andrew sendiri tidak pernah melupakan do'a itu walaupun ia telah lama jauh dari agama setelah berpindah ke negara asalnya.
"Allahumma inni as-aluka khaira-ha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi wa a-‘udzu bika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha ‘alaihi."
Keterangan di atas berdasarkan hadis dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila kalian menikahi seorang wanita, maka peganglah ubun-ubunnya, sebutlah nama Allah, dan doakanlah memohon keberkahan, serta ucapkan: Allahumma inni as-aluka…. dst.” (HR. Bukhari dalam Af’al al-Ibad Hal. 77, Abu Daud 1:336, Ibn Majah 1:592, Hakim 1:185, dan dihasankan Al-Albani).
..........
Malam ini Raisa terus saja berdiam diri di dalam kamarnya, bahkan makan dan minum yang diantar oleh Melisa tidak pernah Raisa tolak sama sekali. Kali ini Raisa terlihat lebih penurut dan lebih banyak diam sejak akad nikah tadi pagi. Sejak akad tadi juga Raisa belum melihat kedatangan sosok laki-laki yang kini sudah sah menjadi suaminya untuk masuk ke dalam kamar yang ia tempati. Entah kemana Andrew, Raisa tidak tahu dan tidak akan terlalu peduli.
Ceklekk..
Atensi Raisa pun seketika beralih pada pintu kamar yang tiba-tiba terbuka. Sungguh betapa gugupnya ia saat melihat ternyata sosok yang sejak tadi membuat dirinya ketar-ketir kini memasuki kamar dengan kondisi yang acak-acakkan, terlihat jelas ada sebuah guratan lelah dan sedih dari ekspresi wajah Andrew saat ini. Andrew sempat menoleh Raisa sejenak yang dilihat sedang menatap ke arah lain, seolah wanita itu enggan untuk melihatnya saat ini. Padahal tanpa Andrew tahu, pada kenyataannya Raisa hanya sedang mengalihkan rasa gugupnya ketika laki-laki itu menoleh ke arahnya.
"Huhh.." Andrew membuang nafasnya lelah seraya melempar jas yang telah ia pakai ke atas sofa yang berada di dalam kamarnya. Tanpa menoleh Raisa lagi, Andrew segera mengambil handuk yang bertengker di punggung kursi rias, lalu ia pun melegang pergi ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.
Raisa menggigit bibir bawahnya setelah Andrew masuk ke dalam kamar mandi. Apa yang akan ia lakukan sekarang? Sejak akad tadi ia masih memakai baju yang tertutup, bahkan sampai saat ini ia juga masih memakai cadar. Sejak ia datang ke apartement Andrew, ia tidak pernah tidur satu kamar dengan siapapun. Tapi sekarang ada Andrew yang notabennya sudah sah menjadi suaminya, apakah ia juga akan tetap tidur seorang diri di kamar ini? Jika ia tidur satu kamar bersama Andrew sekalipun, lalu bagaimana dengan penampilannya? Apakah harus ia membuka jilbab dan cadarnya ketika tidur dan membiarkan Andrew melihat dirinya yang terbuka seperti itu?
Raisa terus bergelut dengan pikirannya hingga ia tidak menyadari bahwa Andrew sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk dari pinggang sampai lutut, laki-laki itu membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos begitu saja di hadapan wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya.
Dug.
Suara kursi itu membuat lamunan dan pikiran Raisa seketika pecah, hingga ia menyadari kehadiran Andrew yang sudah keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang nyaris membuatnya berjerit jika saja tidak langsung ia tutup mulut dan wajahnya dengan batal.
"Aduuhh.." Andrew meringis karena tidak sengaja menyenggol kursi ketika hendak mencari sesuatu di meja rias hingga membuat kakinya itu sedikit sakit. Andrew kembali menegakkan tubuhnya setelah membungkuk melihat keadaan kakinya. Lalu matanya seketika terhenti pada cermin rias ketika melihat dari pantulan cermin itu bahwa seorang wanita yang telah resmi menjadi istrinya—sejak akad tadi pagi—sedang menutup seluruh wajahnya dengan bantal.
Kening Andrew mengercit heran.
Ada apa dengan Raisa?
Menyadari sesuatu, Andrew pun langsung melihat tubuhnya sendiri dari atas ke bawah, hingga tak lama kemudian ia pun tersenyum.
Apa gadis itu malu melihat dirinya seperti ini?
"Ada apa denganmu Raisa? Kenapa kau menutup wajahmu seperti itu?" Tanya Andrew geli dengan tingkah Raisa.
Masih menutup wajahnya dengan bantal, bibir Raisa mengerucut mendengar pertanyaan Andrew.
"Pergilah!! Apa kau tidak malu??" Tanya Raisa sedikit menjerit walau tertahan oleh bantal.
Tanpa Raisa tahu, Andrew terkekeh pelan mendengar itu. "Kenapa aku harus malu? Ini kamarku," jawab Andrew santai.
"Kamarmu apaan, di sini tidak ada bajumu, kau tahu tidak?!"
"Kata siapa? Bajuku sudah dipindahkan ke sini," jawab Andrew tak mau kalah. Sungguh, entah kenapa saat ini ia sangat ingin menggoda Raisa.
Masih enggan membuka wajahnya yang ditutupi oleh bantal, Raisa pun kembali menjawab perkataan Andrew dengan kesal. "Terserah!! Pokoknya cepat kau pergi dari hadapanku. Aku tidak suka melihatmu!!!"
Andrew terkekeh mendengar itu dan itu sampai hingga ke telinga Raisa. "Kenapa kau malah tertawa? Tidak lucu Dre!!"
"Ya ya tidak lucu." Andrew menghentikan kekehannya walau masih mengulum senyum. Lalu ia segera berjalan ke walk in closet untuk mengambil dan memakai bajunya di sana. Pakaian dan perlengkapan Andrew lainnya memang telah ARTnya pindahkan ke dalam kamar ini ketika Raisa sedang mandi tadi sore, jadi wajar jika gadis itu tidak tahu soal itu.
Tidak mendengar suara apapun lagi di dekatnya, dengan ragu-ragu Raisa menurunkan bantal yang menutupi wajahnya. "Huhhh.." Raisa bernafas lega ketika tidak melihat lagi keberadaan Andrew di dekatnya.
"Dasar laki-laki aneh!! Awas saja jika dia bertingkah seperti itu lagi," gerutu Raisa.
..........
Dengan ekspresi wajah masam, Raisa memotong ayam yang berada di piringnya dengan sebal. Bagaimana tidak, setelah berganti pakaian tadi Andrew memaksanya kembali untuk makan malam bersama di meja makan apartement. Sungguh, ingin rasanya Raisa menonjok laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu karena selalu saja memaksanya. Bukan apa-apa, hanya saja Raisa selalu merasa tidak nyaman jika ia harus makan di luar kamarnya. Jangan lupakan tentang Zack dan anak buah laki-laki Andrew yang berada di apartement itu. Raisa tidak nyaman dengan dirinya yang memakai cadar lalu harus makan di hadapan laki-laki selain Andrew. Ya, Raisa akui, sekarang ia sudah menganggap Andrew sebagai suaminya. Laki-laki yang sudah halal dan lebih berhak jika melihat dirinya terbuka, walaupun ia enggan membuka diri untuk Andrew.
Makan malam itu hanya ada Andrew, Zack, dan Raisa saja. Keheningan begitu menyeruak di antara ketiganya ketika sedang makan malam bersama. Hanya suara denting alat-alat makan saja yang terdengar saat itu.
"Ehm." Zack berdehem. Laki-laki itu memutuskan untuk memecah keheningan dengan memulai obrolan ringan. "Apa kau suka dengan makan malamnya, Raisa?"
Andrew melirik Zack dingin ketika laki-laki itu bertanya dan menatap Raisa yang duduk berhadapan dengan saudaranya itu. Sedangkan Raisa yang mendapat pertanyaan yang tidak pernah ia duga sebelumnya, gadis itu terlihat canggung.
"Uhm.. ya.. aku suka,"
Zack tersenyum tipis ketika menyadari nada sungkan dari Raisa saat menjawab pertanyaannya.
"Syukurlah jika kau menyukainya,"
Raisa bisa melihat ada aura berbeda dari laki-laki yang sedang berbicara dengannya saat ini. Laki-laki itu terlihat lebih ramah dan kelihatan baik daripada Andrew yang dingin seperti es.
"Namaku Zack Kendrick. Aku adalah saudara Andrew. Ayahku dan dia adalah adik-kakak." Zack mulai membuka dirinya kepada Raisa. Entahlah, ia hanya ingin membuat Raisa nyaman dengan situasi yang canggung seperti ini.
Sementara Andrew tak mempedulikan obrolan yang berada di dekatnya, ia malah lebih tertarik untuk segera menghabiskan makanannya saat ini.
Raisa tersenyum kaku di balik cadar yang ia kenakan. "Mm.. aku.. aku Raisa," lirihnya sedikit bingung untuk mengenalkan dirinya kepada Zack.
Zack kembali tersenyum. "Semoga pernikahanmu dan Andrew diberkahi oleh tuhan," ucap Zack yang langsung membuat atensi Andrew beralih padanya.
Zack melirik Andrew sekilas yang sedang menatapnya. Tidak lama dari itu, Andrew pun beralih melirik Raisa yang hanya duduk terdiam di sebelahnya setelah mendengar ucapan Zack tadi.
Apakah kau masih mencintaiku Raisa?
..........
Setelah acara makan malam tadi, kini Raisa sudah kembali berada di dalam kamarnya. Sebari duduk bersandar di kepala ranjang dan menyelimuti sebagian tubuhnya dengan selimut, Raisa terus memikirkan sebuah kalimat yang tadi Zack katakan.
Semoga pernikahanmu dan Andrew diberkahi oleh tuhan.
Entah mengapa Raisa benar-benar merasa aneh dengan perkataan Zack saat tadi sedang makan malam bersama.
Andrew?
"Kenapa Zack mengatakan bahwa Andre adalah Andrew?"
Raisa bermonolog dengan raut wajah yang semakin bingung. Pasalnya yang ia ketahui sampai saat ini, laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu bernama Andre Alhaq Zaydan, bukan Andrew. Raisa memang belum tahu bahwa ternyata saat ini Andrew sudah kembali memakai nama aslinya.
Andrew Lingdon Kendrick.
"Kenapa kau belum tidur?"
Raisa terkejut saat tiba-tiba mendengar suara Andrew di dekatnya. Raisa juga terkejut karena ternyata saat ini Andrew sedang duduk di sisi ranjang dengan menghadap padanya. Ya Allaah, kapan suaminya itu masuk ke dalam kamar?
"Apa kau tidak lelah terus bergelung dengan pikiranmu?" Tanya Andrew lagi yang tahu bahwa sejak tadi Raisa sedang melamun. Dirinya masuk ke dalam kamar saja, gadis itu tidak menyadarinya.
Raisa mulai kembali memasang wajah ketidaksukaannya pada Andrew. "Apa pedulimu?"
Andrew menatap Raisa dengan alis terangkat satu. "Aku bertanya, dan kenapa kau malah balik bertanya?"
Raisa membenarkan posisi duduknya menjadi sedikit menjauhi Andrew yang cukup dekat dengannya. "Sudahlah Dre, aku malas berdebat denganmu. Pergilah!!" Usir Raisa yang kini mulai membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan menyelimuti tubuhnya hingga d**a menggunakan selimut.
Andrew pun terdiam melihat Raisa yang sudah menutup kedua matanya.
Karena tidak ada respon dari Andrew, Raisa perlahan membuka kembali kedua matanya dan betapa gugupnya ia saat melihat bahwa ternyata saat ini Andrew sedang menatapnya dalam diam. Spontan ia pun langsung bertanya dengan ketus kepada lelaki itu.
"Kenapa kau melihatku seperti itu, hah?"
Andrew menghela nafasnya mendengar itu, kemudian laki-laki itu beralih untuk menatap jendela kamar yang menampakkan langit dimalam hari.
"Pergi dari sisi ranjang di sebelahku, aku mau tidur!!" Ucap Raisa lagi yang masih bertahan dengan nada ketusnya.
Dalam hati Raisa juga banyak memohon ampun kepada Allaah karena telah berbuat tidak baik terhadap laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya. Walau bagaimanapun Raisa tetap sadar, bahwa tidak sepantasnya ia berbuat demikian kepada suaminya.
"Aku akan tidur di kamar ini malam ini," ucapan Andrew yang satu ini langsung membuat Raisa mengurungkan niatnya untuk kembali menutup kedua matanya.
"Apa?" Tanya Raisa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Andrew kembali menoleh ke arah Raisa. "Aku akan tidur di sini, di kamar ini, dan di ranjang ini," jawab Andrew penuh penekanan.
Raisa membulatkan matanya mendengar itu. Segera ia juga bangkit dari berbaringannya menjadi duduk berhadapan dengan Andrew yang masih duduk di sisi ranjang. "Tidak!! Kau boleh tidur di kamar ini, tapi tidak dengan satu ranjang. Aku tidak mau!!" Tolak Raisa.
Andrew mulai menatap Raisa tajam. "Ternyata kau masih saja membantahku walaupun kau tau bahwa aku sudah sah menjadi suamimu,"
Raisa seketika membeku mendengar perkataan Andrew. Apakah saat ini ia sedang kena marah oleh suaminya karena telah membantahnya? Oh tidak, Raisa bukan bermaksud untuk membantah laki-laki yang mengaku sudah menjadi suaminya. Hanya saja, ia masih merasa cukup malu untuk berdekatan dengan suaminya itu, terlebih katanya harus tidur satu ranjang.
Tidak!
Raisa malu.
"Pernikahan ini atas dasar pemaksaan, dan aku tidak mengakui pernikahan ini walaupun ini nyata terjadi!" Timpa Raisa ketus yang membuat Andrew mulai kembali naik darah.
Sungguh setelah kalimat itu terucap dari bibirnya, Raisa terus saja memohon ampun kepada Allaah. Ia mengatakan itu hanya karena tidak mau terlihat lemah di hadapan Andrew, karena pada kenyataannya ia sangat mengakui pernikahannya walaupun atas dasar pemaksaan sekalipun. Sementara tanpa Raisa tahu, saat ini Andrew tengah menekan emosinya setelah mendengar perkataan istrinya itu.
Setega itukah kau sampai tidak mau mengakui pernikahan ini?
"Terserah apa katamu.."
Brak!!
Ucapan Andrew seketika terhenti saat melihat pintu kamarnya di dobrak dengan kasar oleh Zack. Melihat itu, Raisa terkejut bukan main, hingga tanpa sadar ia mencekal lengan Andrew. Sementara Andrew yang melihat sikap kasar Zack, ia pun menatap saudaranya itu dengan tatapan menghunus.
"Apa-apaan kau Zack?" Tanya Andrew sedikit membentak.
Seraya mengendalikan nafasnya yang sedikit tidak beraturan, Zack sempat melirik ke arah Raisa yang masih memakai pakaian tertutup, bahkan cadarnya pun belum tersingkap.
"Maaf Drew, ini gawat. Ada masalah."
Tubuh Andrew pun menegang ketika menyadari ada sesuatu yang terjadi. Ia segera beranjak dari duduknya di sisi ranjang, hingga cekalan Raisa tadi pun terlepas begitu saja.
"Ada apa?" Tanya Andrew serius.
Zack kembali melirik Raisa sejenak yang dilihat tengah menatap dirinya dan Andrew dengan tatapan bingung juga cemas.
"Rumah di California diserang,"
Mata Andrew pun membulat mendengar jawaban Zack. Bahkan tangannya mulai mengepal kuat. "Kurang ajar!!" Umpat Andrew tanpa sadar.
Raisa terkejut mendengar jawaban Zack juga umpatan kasar dari Andrew.
Ada apa ini?
"Kita harus segera kembali ke sana, keadaan di sana terancam. Aku takut Mike tidak bisa mengatasinya," kata Zack.
Andrew menghela nafasnya berat. "Tunggulah di luar," kata Andrew pada Zack.
Paham maksud Andrew, Zack pun melegang pergi dari kamar saudaranya itu dengan langkah terburu-buru. Sungguh, ia dan Andrew harus segera kembali ke California jika tidak ingin Xander menghabisi semua anak buahnya di sana. Zack tadi ditelpon oleh salah satu anak buahnya yang berada di California bahwa rumah di sana diserang oleh anak buah Xander. Entah apa maksud penyerangan Xander kali ini? Apa laki-laki jahat itu sudah tahu tentang kabar pernikahan Andrew dan Raisa?
Hah..
Tentu saja Xander pasti sudah mengetahuinya, Xander bukanlah orang sembarangan. Ia memiliki banyak koneksi untuk memudahkannya mencari suatu informasi, termasuk informasi tertutup tentang pernikahan Andrew dan Raisa sekalipun.
Setelah kepergian Zack, Andrew langsung mendekati Raisa yang masih duduk di atas ranjang dengan kebingungannya.
"Bereskan semua barang-barang yang kau perlukan, kita harus segera pergi dari sini," kata Andrew.
Raisa menoleh Andrew yang kini sedang berdiri di sisi ranjang.
"Pergi? Kema.."
"Jangan banyak bertanya dan membantah Raisa!!" Tegas Andrew tajam.
Raisa pun terdiam.
"Cepat bereskan, aku harus keluar dulu!!" Kata Andrew sebelum pergi meninggalkan Raisa seorang diri di dalam kamar.
Raisa menatap kepergian Andrew dengan ekspresi wajah yang sulit terbaca.
"Sebenarnya ada apa ini? Apa yang terjadi di California? Dan kenapa.."
Raisa bermonolog dengan perasaan yang semakin bingung. Belum terjawab tentang nama Andre yang berubah dipanggil menjadi Andrew, kini sudah ada kebingungan yang baru.
Diserang? California?