"Bagaimana ini bisa terjadi?"
Andrew bertanya tajam kepada Zack. Saat ini Andrew, Zack, dan semua anak buahnya sedang berada di ruang utama. Dengan penuh emosi yang tertahan Andrew benar-benar ingin menghabisi Xander saat ini juga karena sudah membuat kacau rumahnya yang berada di California.
"Sepertinya Xander sudah mengetahui kabar pernikahan tuan dengan nona Raisa, maka dari itu Xander ingin menghancurnya rumah tuan." Jawab salah satu anak buah Andrew dengan sopan.
"Benar-benar," geram Andrew dengan telapak tangan yang terkepal kuat.
"Apakah aman jika kita membawa istrimu ke California dalam situasi yang sedang kacau di sana?" Tanya Zack pada Andrew yang kini sedang mengontrol emosinya.
Andrew menatap Zack tajam. "Dan apa kau pikir istriku akan aman di sini jika aku sedang berada jauh darinya?"
Mendengar itu Zack pun terdiam. Baiklah, ia sudah tahu jawabannya tanpa harus bertanya lagi.
"Cepat urus semuanya, malam ini kita semua akan kembali ke California."
Setelah memberi perintah seperti itu, Andrew langsung melegang pergi meninggalkan semuanya yang masih berdiri di ruang utama. Rasanya kepala Andrew hampir meledak karena Xander, si laki-laki jahat.
..........
Andrew terdiam di ambang pintu kamarnya saat tidak melihat keberadaan istrinya ketika ia memasuki kamarnya. Karena penasaran, Andrew pun melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamarnya itu, namun tak lama kemudian muncullah gadis yang tadi sedang ia cari. Saat itu Raisa baru saja keluar dari walk in closet, terlihat wanita itu telah selesai membereskan segala macam pakaian miliknya dan suaminya lalu memasukkan semuanya ke dalam tas besar yang berada di dalam kamar.
Hati Andrew menghangat ketika melihat dengan cekatan gerak-gerik Raisa saat sedang membereskan segala alat kebutuhannya ke dalam tas. Walaupun dengan wajah masam, setidaknya wanita itu kini tetap melakukan tugasnya sebagai seorang istri.
"Apa kau hanya akan diam seperti itu?"
Pertanyaan ketus Raisa itu mau tak mau membuat lamunan Andrew buyar. Dengan langkah terkesan santai, Andrew mendekati istrinya itu yang kini sedang duduk di sisi ranjang sebari sibuk menilapi jilbabnya yang hendak dimasukan ke dalam tas besar.
"Apa yang bisa aku bantu?" Tanya Andrew setelah mendudukkan dirinya di sebelah Raisa.
Masih dengan wajah masam, Raisa menyerahkan tas kecil kepada Andrew.
"Masukkan semua yang ada di meja rias ke dalam tas ini," kata Raisa yang paham gelagat bingung Andrew saat ia menyerahkan tas kecil itu.
Andrew pun menoleh ke arah meja rias sebelum kembali menatap wajah istrinya.
"Itu hanya handbody, dan perlengkapan lainnya yang tidak terlalu penting. Kita bisa membelinya lagi nanti di California, jadi tidak perlu dibawa," ucap Andrew dengan santainya dan mengundang tatapan tajam dari Raisa.
Dugh!
"Arkkh.." tiba-tiba Andrew meringis walaupun tidak sakit karena mendapat pukulan tak terduga dari Raisa menggunakan bantal.
"Jika aku bilang bawa ya bawa, kau ini mentang-mentang banyak uang jadi seenaknya saja berkata begitu," gerutu Raisa seraya beranjak dari duduknya sebelum merebut tas kecil yang Andrew pegang. Dengan kesal, Raisa melakukan sendiri perintah yang tadi sempat ia katakan kepada suaminya itu.
Tanpa Raisa sadari, Andrew pun tersenyum tipis melihat tingkahnya. Bukankah saat ini istrinya itu sedang menunjukkan padanya betapa bawelnya dia? Bahkan Andrew jadi teringat dengan ucapan Ikfan dulu, bahwa salah satu tabiat wanita itu sangat cerewet, terlebih jika berurusan dengan alat-alat kebutuhan hidup. Ayolah, Andrew ini punya banyak uang. Apa salah jika tadi ia berkata demikian kepada istri cantiknya itu?
"Semua pakaianku dan pakaianmu beserta alat kebutuhan lainnya yang berada di sini sudah aku bereskan." Kata Raisa ketus setelah selesai mengemas semuanya dengan rapih.
Raisa menggeram kesal ketika melihat Andrew hanya bisa terdiam menatapnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. "Apa kau tidak punya mulut?" Tanya Raisa kesal pada Andrew yang hanya diam duduk di sisi ranjang sebari terus menatapnya.
"Kau benar-benar." Raisa menghentakkan kakinya kesal seraya hendak pergi dari hadapan Andrew. Namun sebelum ia berhasil pergi, seketika Andrew beranjak dari duduknya dan langsung menahan lengan istrinya itu dengan menariknya hingga tanpa sengaja Raisa pun menubruk d**a bidang Andrew.
Deg.
Baik Andrew maupun Raisa, saat itu juga tiba-tiba detak jantung keduanya berdetak kencang. Terutama Raisa, disaat keadaan sedekat ini dengan Andrew tak ayal membuatnya gugup setengah mati.
"Kau mau kemana?" Tanya Andrew setengah berbisik seraya menundukkan pandangannya untuk melihat Raisa yang lebih pendek darinya. Saat ini wanita itu masih setia berada di dekatnya. Tidak bukan hanya dekat, melainkan tanpa sadar telapak tangan Raisa masih setia menyentuh d**a bidang Andrew karena tadi refleks menyentuhnya saat suaminta itu menarik lengannya tadi.
Raisa menatap wajah Andrew ragu yang saat ini sangat dekat dengannya. Kegugupannya pun semakin kentara ketika ia bisa merasakan hembusan nafas hangat Andrew yang dekat dengannya.
"Aku.. umm.."
Raisa menipiskan bibirnya gugup. Sementara tanpa Raisa ketahui, saat ini Andrew sedang bersorak ria karena dapat merasakan bahwa istrinya itu sedang gugup dan malu terhadapnya. Entahlah, yang jelas Andrew sangat menyukai hal ini dari istri cantiknya walaupun masih selalu tertutup oleh kain cadar.
"Aku apa?"
Dengan menekan perasaannya, Raisa pun segera menjauh dari tubuh Andrew dan Andrew pun membiarkannya. Meski sudah terlepas dari Andrew, Raisa masih saja merasa malu dan gugup saat ini.
Ceklekk.
Pintu kamar Andrew dan Raisa tiba-tiba terbuka dan menampakkan Zack yang ternyata telah membukakan pintu tersebut.
"Kenapa kau selalu bersikap tidak sopan seperti itu, hah?" Tanya Andrew langsung dan sinis kepada Zack yang selalu membuka pintu kamarnya tanpa izin. Bagaimana jika dirinya dan Raisa sedang melakukan sesuatu yang tidak pantas untuk dilihat?
Zack hanya menyengir kuda mendapatkan pertanyaan seperti itu dari saudaranya.
"Maafkan aku, brother! Situasi harus segera ditangani saat ini, jika kau dan istrimu sudah siap, maka ayo kita harus segera pergi dari sini." Kata Zack.
Andrew menghela nafasnya berat mendengar itu, kemudian ia menoleh ke arah Raisa yang berdiri kaku di hadapannya.
"Semua sudah selesai bukan?" Tanya Andrew pada Raisa.
Raisa menoleh Andrew ketika merasa suaminya itu sedang mengajaknya bicara. Lalu seraya melirik sekilas tas-tas yang sudah ia bereskan, Raisa pun menjawab pertanyaan Andrew. "Ya, sudah."
Tanpa menunggu lagi setelah mendengar jawaban dari Raisa, Andrew pun segera menyuruh anak buahnya untuk membawa tas yang sudah dibereskan oleh istrinya itu untuk dimasukkan ke dalam mobil. Setelah semua sudah selesai dan hanya menyisakan Andrew dan Raisa yang kembali berdua di dalam kamar, tanpa ragu Andrew langsung menggenggam telapak tangan Raisa lembut untuk membawanya ikut dengannya. Sementara Raisa yang mendapat perlakukan lebih baik dari sebelumnya oleh suaminya itu, tanpa Andrew ketahui Raisa kembali merasa gugup dan senang dalam waktu bersamaan. Walaupun dari luar Raisa terlihat seperti kesal, benci, dan marah kepada Andrew, tapi percayalah bahwa jauh dari lubuk hati terdalamnya Raisa sangat mencintai suaminya itu.
..........
Saat ini Raisa dan Andrew sedang berada di dalam mobil menuju rumah. Setelah melalui perjalanan yang cukup lama, akhirnya Andrew dan Raisa telah sampai di California, AS. Sampai saat ini Raisa juga masih memasang wajah masam karena saat akan pergi ke California tadi Andrew tidak mengizinkannya untuk bertemu dengan paman dan bibinya, padahal Raisa sangat ingin berpamitan secara langsung kepada keluarga pamannya itu, tapi dengan keras Andrew melarangnya dan malah berpamitan melalui sambungan telpon saja.
Menyebalkan!
Kini sepasang suami-istri itu masih duduk di jok belakang mobil dengan dikendarai oleh salah satu anak buah kepercayaan Andrew, Lucas. Selama di dalam mobil pun baik Andrew maupun Raisa, keduanya tidak ada yang berniat untuk membuka obrolan. Terlebih saat ini Raisa masih dalam mode kesal kepada suaminya itu, jadilah ia hanya diam sebari pandangannya yang terus tertuju pada kaca mobil di sebelahnya. Sedangkan Andrew dalam diamnya, ia sedang berpikir keras untuk melakukan suatu strategi dalam melawan Xander jika sewaktu-waktu laki-laki jahat itu menyerangnya. Andrew sudah bisa menebak, dengan dirinya menikah dan membawa Raisa ke California, Xander pasti akan semakin gencar untuk berusaha menghancurkannya atau bahkan sampai menyakiti istrinya. Namun Andrew sama sekali tidak menyesali karena Raisa telah ikut dalam drama hidupnya. Baginya dengan ini setidaknya nyawa Raisa aman selama ada dirinya di samping wanita itu.
Setelah lama dalam perjalanan menuju rumah yang berada di California, akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan. Namun ada yang aneh saat Andrew dan Raisa sampai di depan rumah tersebut. Suasana di sana nampak mencekam karena banyak anak buah Andrew yang mati mengenaskan dan tergeletak begitu saja di halaman rumahnya. Bahkan Raisa yang baru pertama kali melihat keadaan itu pun panik dan takut bukan main. Ada apa ini? Kenapa semuanya terlihat sangat menyeramkan?
Menyadari situasi saat ini sedang berbahaya, Andrew pun segera menggenggam erat tangan Raisa dan membawanya keluar mobil untuk mencari tempat persembunyian yang aman.
"Cepat cari tahu apa yang terjadi!!" Perintah Andrew tajam kepada Lucas sebelum pergi keluar mobil dengan membawa Raisa dalam genggamannya.
Sungguh, Raisa sangat takut dengan situasi sekarang. Seumur hidup ia selalu hidup dalam kedamaian, dan sekarang setelah menikah dengan Andrew, kenapa hidupnya menjadi seperti ini?
Seraya berjalan mengendap-ngendap bersama Raisa untuk mencari tempat yang aman, tak lupa Andrew juga memasang mata elangnya ke setiap sudut halaman rumahnya yang begitu luas. Ia menduga bahwa sepertinya rumahnya ini sedang kembali diserang. Ketika sedang berjalan bak seorang maling yang takut ketahuan, Raisa hampir berjerit jika saja tidak segera Andrew bungkam mulutnya itu. Bagaimana tidak berjerit, karena saat ini Raisa dan Andrew melihat ada sebuah mayat pelayan wanita di hadapannya yang mati mengenaskan dengan luka kepala yang tertembak. Tak lupa dengan darah yang bercucuran di tanah. Raisa sangat takut melihat itu.
"Ssstt.. tenanglah," lirih Andrew yang membungkam mulut Raisa dan membawa tubuh wanita itu ke sudut tempat untuk bersembunyi karena Andrew mendengar suara seseorang tengah berjalan ke arahnya.
Tubuh Raisa bergetar takut ketika berhimpitan dengan tubuh Andrew di sudut tempat itu. Sedangkan Andrew dengan perasaan was-was yang tinggi, ia terus berusaha menajamkan indra pengelihatan dan pendengarannya untuk mengamati daerah sekitar.
"Biadap!!" Umpat Andrew lirih ketika melihat seseorang yang ia kenal baru saja keluar dari pintu belakang rumahnya bersama dengan para laki-laki berbaju hitam yang Andrew pastikan bahwa itu adalah anak buah dari orang tersebut.
Raisa berusaha untuk melepaskan bungkaman telapak tangan Andrew pada mulutnya, namun semua itu sia-sia karena Andrew malah semakin membungkam mulutnya hingga Raisa pun pasrah dan terdiam dengan perasaan cemas. Setelah lama dalam posisi itu, akhirnya Raisa bisa bernafas lega ketika Andrew telah melepas bungkaman pada mulutnya dan dengan segera Raisa juga menjauhi Andrew beberapa langkah agar tidak terlalu berhimpitan. Sementara itu setelah melepaskan Raisa, mata elang Andrew masih saja mengamati daerah sekitarnya.
Raisa bingung dan panik dengan situasi saat ini. Apa yang harus ia perbuat? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Bahkan Raisa hampir saja menangis ketika mengingat kembali mayat pelayan wanita tadi yang ia lihat mati dengan mengenaskan.
"Tetaplah diam, menurut, dan jangan berusaha untuk menjauh dariku," ucap Andrew penuh penekanan yang kini menatap Raisa.
Raisa menoleh Andrew. "Ada apa ini Dre, kenapa..."
Dorr!!! Dorrr!!!
Ucapan Raisa seketika terhenti karena mendengar suara tembakan yang kembali menggema di jarak yang tidak jauh darinya. Tanpa Raisa sadari, ia pun langsung memeluk tubuh Andrew karena takut dan panik dalam waktu bersamaan setelah mendengar suara tembakan tersebut. Tanpa mempedulikan posisi dirinya dan Raisa saat ini, Andrew kembali memfokuskan pandangannya pada daerah sekitarnya.
Siapa yang menembak?
"Dre bagaimana ini?" Tanya Raisa dengan nada bergetar sebari menatap Andrew yang sedang ia peluk.
Mendengar suara itu, atensi Andrew pun beralih pada Raisa. Sungguh, yang saat ini lebih ia cemaskan adalah Raisa, istrinya. Andrew sekarang tahu siapa yang sedang menyerang rumahnya setelah melihat seseorang tadi. Rumah Andrew saat ini kembali diserang oleh tangan kanan Xander, yaitu Janson. Penyerangan dua kali pada rumahnya ini membuat Andrew murka, namun saat ini ia belum bisa membalas perbuatan para biadap itu karena situasi yang belum mendukungnya.
"Tenanglah, kau aman bersamaku." Ucap Andrew lembut berusaha menenangkan Raisa. Bahkan tanpa sadar ia membalas pelukan Raisa dengan erat seraya mencium tepi atas kepala Raisa yang berbalut jilbab.
..........
"Kita mau kemana Dre?" Tanya Raisa ketika masih berada ditempat persembunyiannya seperti tadi bersama Andrew. Bahkan kini suaminya itu sedang sibuk memakaikannya jas yang sejak tadi laki-laki itu kenakan.
"Kenapa kau memakaikan jas ini padaku?"
"Sstt.. diamlah Raisa, aku tidak ada waktu untuk menjawab semua pertanyaanmu." Jawab Andrew yang kembali dingin.
Mendengar nada bicara Andrew yang kembali tidak enak didengar, tanpa Andrew sadari hati Raisa berdenyut sakit karenanya. Memang apa yang ia harapkan dari suaminya itu? Pernikahannya saja atas dasar pemaksaan. Ingat Raisa, ingat dengan ucapan Andrew beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa ia hanya ingin membalas dendam padamu karena sebuah masalah dari masa lalu. Masalah yang sebenarnya bukanlah berasal dari kesalahanmu.
Dengan wajah yang kembali masam, Raisa tidak mempedulikan Andrew lagi yang kini terlihat tengah meronggoh ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Halo,"
"Halo, syukurlah kau menyalakan ponselmu. Dari tadi aku mencoba menghubungimu, tapi tidak bisa. Kau ini kemana saja Drew? Aku mengkhawatirkanmu. Bagaimana keadaan kau dan Raisa? Kalian baik-baik saja, 'kan?"
Di sebrang sana Andrew bisa mendengar nada kekhawatiran Zack hingga saudaranya itu bertanya secara beruntun.
"Kami baik, saat ini aku dan Raisa sedang ada di halaman belakang rumah. Kami sedang bersembunyi."
"Oh ya tuhan.. kalian sudah berada di sana ternyata. Bagaimana situasi di sana? Kau tahu rumahmu itu kembali diserang Drew!!"
Andrew menghela nafasnya.
"Ya dan aku baru tau itu saat aku sudah sampai di sini, keadaan di sini sudah lumayan tidak sekacau tadi. Tapi di sini banyak sekali anak buahku yang tewas akibat perbuatan si biadap itu,"
Mendengar nada tajam dan kebencian Andrew saat menjawab telpon, hal itu mau tak mau membuat Raisa kembali menatapnya penasaran setelah tadi enggan untuk mempedulikan Andrew.
"Ku rasa kau sudah tahu siapa mereka. Kau tetap ditempatmu. Aku dan anak buah lainnya akan segera menyusul dan menjemputmu dan Raisa di sana. Tunggulah!"
"Ya, aku tunggu."
Andrew pun segera memutus sambungan telponnya dengan Zack setelah mendengar bahwa saudara dan para anak buahnya akan datang ke rumahnya yang sudah kacau ini untuk menjemputnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Raisa dengan nada kesal kepada Andrew.
Andrew menoleh Raisa dengan tatapan tajam. "Sudah aku katakan bahwa aku tidak memiliki waktu untuk menjawab semua pertanyaanmu saat ini, cukup diam dan menurut padaku saja, Raisa!" Jawab Andrew penuh penekanan.
"Ya ampun, kenapa kau ini sangat menyebalkan!! Aku hanya bertanya satu pertanyaan. Apa susahnya menjawab?!" Kata Raisa sedikit membentak Andrew tanpa sadar.
Mendengar istrinya membentak, Andrew mulai naik pitan. Dengan sengaja ia kembali menjepit dagu Raisa hingga istrinya itu meringis.
Maafkan aku. Batin Andrew.
"Dengar aku baik-baik, jangan pernah sekali-kali kau berani membentak apalagi membantahku," desis Andrew tajam. "Tidakkah kau ingat bahwa saat ini aku adalah suamimu?"
Raisa hanya bisa menatap kesal dan mencengkram tangan Andrew yang semakin menjepit dagunya ketika mendengar ucapan laki-laki itu.
"Jangan buang waktuku dengan harus menanggapi perlawananmu!!" Kata Andrew lagi dengan tajam seraya melepas jepitannya pada dagu Raisa dengan kasar hingga mau tak mau Raisa sedikit terdorong ke belakang.
"Aku membencimu Dre!!" Kata Raisa marah.
Andrew tak menghiraukan ucapan Raisa. Ia hanya menatap dingin pada wanita itu.
"Tadi kau bersikap baik dan lembut padaku, sekarang kau bersikap kasar lagi. Sebenarnya kau ini kenapa, hah!!" Kata Raisa lagi sedikit membentak dan hal itu membuat Andrew semakin geram. Tidakkah wanita itu takut jika persembunyiannya akan ketahuan dari luar karena bentakkannya itu?
Andrew pun berjalan mendekati Raisa dengan tatapan yang semakin tajam, bahkan ia sampai menghimpit Raisa dan membuat wanita itu bertubrukkan dengan sebuah tembok yang berada di belakangnya.
"Jangan terlalu berharap padaku Raisa, aku sama sekali tidak ada niat untuk berbuat baik padamu," desis Andrew.
Melihat mimik wajah Andrew yang berubah menjadi seperti seorang iblis. Raisa merasa takut. Namun tidak, ia tidak mau terlihat lemah di hadapan lelaki itu. "Jika kau tidak memiliki niat baik padaku, lalu kenapa tadi kau berusaha untuk melindungiku dari para penjahat di luar?" Tanya Raisa angkuh sebari menaikkan dagunya menatap Andrew.
Walaupun memakai cadar dan berpakaian serba tertutup, Andrew tetap merasa kagum dengan keberanian Raisa saat ini. Biasanya wanita yang berpakaian seperti itu selalu bersikap lemah lembut, tapi tidak dengan Raisa. Sepertinya istrinya itu memang bukan wanita muslimah biasa. Keadaan yang memaksanya untuk menjadi wanita tangguh seperti dizaman Rosullullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Hindun binti Utbah misalnya.
Andrew tersenyum miring menatap wajah Raisa yang hanya berjarak beberapa senti saja dengan dirinya. "Karena aku hanya ingin kau menderita dan sakit olehku saja, bukan oleh orang lain," Andrew semakin menatap Raisa, dan ia bisa melihat ada perubahan dalam sorot mata wanita itu setelah kalimat itu terucap dari bibirnya.
"Apa kau benar-benar dengan balas dendammu Dre?" Tanya Raisa dengan nada tercekak. Sungguh, kalimat Andrew tadi sangat menyakiti hatinya.
Seolah paham dengan suasana hati Raisa sekarang, Andrew pun kembali berusaha untuk menekan perasaannya dan berusaha untuk tetap terlihat jahat di hadapan istrinya itu, meskipun padahal sebenarnya Andrew ikut terluka jika Raisa terluka.
"Ya, kau pikir aku ini sedang main-main dengan ucapanku, hah?!"
Deg.
Raisa langsung memejamkan kedua matanya ketika mendengar nada tajam dari jawaban Andrew. Benar bukan bila saat ini tidak perlu ada yang diharapkan dari laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya? Sementara tanpa Raisa tahu, saat ini Andrew sedang merasakan sesak yang luar biasa dalam dadanya. Keadaan memaksanya untuk melakukan hal sekejam ini pada wanita yang masih ia cintai. Andrew tetap berusaha kejam, kasar, dan jahat kepada Raisa agar ia bisa mengintimidasi wanita itu untuk tetap berada di sampingnya. Biarlah dia egois, karena semua ini demi kebaikkan wanita yang ia cintai.
Maafkan aku Raisa, aku hanya ingin kau tetap aman berada di sampingku.
..........
"Quickly remove all the evidence that is pointing at me and Andrew in this mansion!!" Bentak Zack dengan bahasa Inggris untuk memerintah semua anak buahnya yang masih terlihat baik-baik saja setelah penyerangan Jansion—tangan kanan Xander—tadi di rumah Andrew.
Setelah kedatangan Zack dan semua anak buah Andrew ke rumah yang tadi diserang oleh Janson, kini mereka semua tengah berada di ruang tamu rumah dengan situasi yang menegangkan. Zack menyuruh semua anak buahnya untuk membersihkan segala bukti yang mengarah padanya dan Andrew atas semua yang sudah terjadi di mansion tersebut. Tentu Andrew dan Zack bukan baru dalam menangani hal seperti ini, mereka sudah biasa dalam mengurus semua itu. Mereka harus gerak lebih cepat sebelum pihak FBI berhasil menemukannya.
"Rumah ini tidak baik untuk kita tempati, aku yakin agen-agen FBI akan segera ke sini." Kata Zack.
Andrew terdiam mendengar itu. Saat ini ia tengah berpikir keras untuk mengatasi semua masalah yang telah terjadi. Sementara Raisa yang sejak tadi hanya bisa duduk terdiam di sofa ruang tamu sejak ia menginjakkan kakinya pertama kali di dalam rumah Andrew, Raisa sama sekali tak berkutik atau melakukan apapun. Sungguh, situasi saat ini benar-benar membuat dirinya shock dan bingung dalam waktu bersamaan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
"Untuk sementara kau akan tinggal di rumah bibi Alma," ucap Zack yang langsung mendapat tatapan menghunus dari Andrew yang duduk di samping Raisa.
"Apa kau gila??!!" Bentak Andrew pada Zack seraya beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati saudaranya itu yang kini tengah berdiri.
Mendengar bentakkan Andrew yang kelewat kasar itu, Raisa menjadi semakin takut. Kenapa semua orang di sini sangat menyeramkan? Termasuk sosok laki-laki yang kini telah menjadi suaminya.
Zack terdiam sebari menatap Andrew serius.
"Kau ingin pria jahat itu membunuh istriku?!" Tanya Andrew yang masih bertahan dengan nada bentakkannya kepada Zack.
"Tidak Drew, percayalah padaku! Tadi sebelum aku ke rumah ini, aku sempat menemui Frans di rumahnya."
Andrew semakin menatap Zack berang setelah mendengar ucapan saudaranya itu. "Untuk apa kau menemuinya Zack?" Tanya Andrew murka.
Zack menghela nafasnya berat sebelum menjawab setiap perkataan Andrew. Seperti yang ia duga, saudaranya ini pasti akan murka bila ia meminta bantuan pada Frans yang notabennya masih kerabat dari keluarga Kendrick.
"Maafkan aku Drew atas tindakanku ini, tapi percayalah ini adalah jalan terbaik untuk kau dan Raisa." Zack menatap dalam manik mata Andrew yang terus menatapnya tajam. "Kau dan Raisa tidak akan mungkin mendapatkan rumah baru dalam waktu dekat untuk tempat tinggal. Hanya Frans yang bisa kita andalkan sekarang,"
"Lantas bagaimana dengan keselamatan istriku dan kalian nanti?!" Timpa Andrew cepat dengan tajam.
Zack kembali menghela nafasnya. "Percayalah! Frans tidak akan melukai kita, termasuk istrimu." Zack berusaha membuat Andrew paham dengan kondisi saat ini. "Aku sudah berdiskusi dengannya tadi walau hanya sebentar."
"Lalu kau percaya begitu saja padanya setelah diskusi itu, hah!!" Bentak Andrew naik pitan. Ia tidak habis pikir dengan otak Zack. Tidakkah saudaranya itu tahu bahwa Frans bukan orang yang bodoh?
Frans Kendrick. Dia merupakan saudara Andrew. Frans adalah anak dari bibi Alma, bibi Andrew yang berasal dari ayahnya—Yusuf. Frans dan Andrew bukanlah sepasang saudara pada umumnya. Keduanya selalu bersitegang, terutama sejak kematian Yusuf ayah Andrew. Frans yang memang sejak dulu mengincar untuk mendapatkan sebutan The Leader of Mafia yang saat ini masih bertahan dipegang penuh oleh Andrew, hal itu membuatnya selalu berusaha untuk menghancurkan bahkan membunuh Andrew itu sekalipun.
"Ku mohon Drew, percayalah padaku. Kau bisa membunuhku bila aku lalai dan salah dalam hal ini." Kata Zack meyakinkan.
Andrew semakin berang mendengar itu. "Aarrghh!!!!" Kesal Andrew seraya menyugar rambutnya frustasi.
Sementara di belakang Andrew dan Zack yang tengah ribut itu, Raisa hanya bisa terus terdiam duduk di sofa dengan tubuh yang mulai bergetar. Sungguh, Raisa sangat takut saat ini. Apa yang harus ia perbuat?
"Tuan, semua bukti sudah kami bersihkan. Kita harus segera pergi dari sini sebelum FBI datang." Ucap salah satu anak buah Andrew yang berasal dari Indonesia dan baru saja datang dari lantai atas setelah membereskan semuanya.
Andrew dan Zack saling adu tatap sekilas.
"Bereskan semuanya, dan siapkan mobil untukku dan Andrew. Kita pergi ke rumah Frans sekarang juga!!"
Andrew terus menatap Zack tajam. "Kau serius dengan ucapanmu, hah!!"
"Drew percayalah, kau bisa pegang ucapanku tadi. Bunuh aku bila aku lalai dan salah." Balas Zack tegas.
Andrew terdiam dengan kepalan tangan yang semakin kuat untuk meredam emosinya saat ini.
Mata Zack beralih ke belakang Andrew, tepatnya melihat Raisa yang saat ini masih setia di tempatnya dengan tubuh bergetar. "Tenangkanlah istrimu, ku rasa ia sedang ketakutan."
Ucapan Zack kali ini membuat Andrew sedikit tersentak. Ya tuhan.. bagaimana bisa ia melupakan istrinya karena tersulut emosi?
Dengan cepat Andrew menoleh ke belakang, dan betapa sedihnya ia ketika melihat Raisa yang duduk di sofa sebari tertunduk dengan tubuh yang bergetar takut.
"Tenanglah, maafkan aku. Semua akan baik-baik saja," ujar Andrew lembut setelah duduk di samping Raisa dan membawa tubuh wanitanya ke dalam dekapannya dengan erat.
Seketika Raisa pun terisak karena mendapat pelukan hangat dari Andrew. "Aku.. hiks.. takut.." lirih Raisa disela tangisnya.
"Tenanglah," jawab Andrew cepat dengan perasaan pedih.
"Hikss..."
Tanpa kedua pasangan itu sadari, terlihat Zack dan anak buah Andrew lainnya yang menyaksikan itu, mereka semua tersenyum. Terutama Zack, ia percaya bahwa sekejam apapun saudaranya itu, di balik hati terdalamnya Andrew memiliki hati yang lembut. Andrew masih sangat menyayangi dan mencintai Raisa. Bahkan bila nyawa sebagai taruhannya, Andrew akan tetap siap jika itu bertujuan untuk menyelamatkan Raisa dari bahaya.
..........
Setelah dari rumah Andrew yang sudah hancur akibat serangan Janson, kini Andrew, Raisa, Zack beserta anak buahnya sudah berada di rumah bibi Alma, ibunya Frans—saudara Andrew lainnya selain Zack. Dengan pengawalan yang begitu ketat, Andrew juga tak lepas dari menggenggam telapak tangan Raisa dengan erat. Terkadang Raisa juga heran sendiri, sebenarnya Andrew itu baik atau tidak padanya? Walaupun laki-laki itu pernah mengatakan bahwa hanya laki-laki itu saja yang berhak menyakitinya, tapi di saat situasi berbahaya seperti ini Raisa juga dapat merasakan kekhawatiran dan kasih sayang laki-laki itu yang begitu besar terhadapnya. Apakah benar Andrew tidak memiliki niat baik sedikitpun padanya?
"Waw.. sudah sampai rupanya." Sapa Frans dari pintu masuk mansionnya sebari tersenyum miring melihat kedatangan Andrew, Zack, dan.. istrinya.
Andrew tidak membalas sapaan Frans. Ia hanya membalas ucapan saudaranya itu dengan tatapan tajam. Seolah akan menghabisinya sewaktu-waktu. Sementara Zack yang paham dengan situasi menegangkan antara kedua saudaranya itu, akhirnya dirinyalah yang akat bicara.
"Terima kasih Frans atas sapaanmu dan sudah sudi untuk membantuku dan Andrew." Kata Zack dingin.
Frans semakin tersenyum misterius mendengar ucapan Zack yang terlalu basa-basi. Lalu tatapan laki-laki itu beralih pada sosok wanita berbeda yang saat ini berdiri di hadapannya dengan wajah tertunduk. Tak lupa di samping wanita itu terdapat Andrew yang terus menggenggam erat telapak tangannya. Ck! Frans berdecak dalam hati, apa seposesif itu Andrew terhadap wanitanya?
"Owh.. jadi ini wanita yang saat ini sudah menjadi istrimu, brother?"
Pertanyaan Frans dengan nada meremehkan itu membuat Andrew semakin menatapnya tajam dan melihat ekspresi tersebut, Frans terkekeh. "Tenanglah, dude! Sepertinya kau terlihat ingin segera menelanku bukan?" Ejek Frans meremehkan Andrew yang sedang menahan emosinya.
Frans kembali menoleh Raisa. "Gadis ini berbeda," Frans mulai menatap Raisa dari atas hingga bawah tubuh wanita itu. "Dia nampak lebih.. tertutup."
"Tutup mulutmu!!" Timpa Andrew cepat.
"Bahkan aku sampai tidak bisa melihat dan mengenali wajah cantik istrimu karena tertutup oleh kain ini," Frans dengan iseng hendak membuka kain cadar Raisa, namun sebelum berhasil Andrew segera menepis tangan saudaranya itu hingga tangan itu hanya mengambang di udara.
"Jaga sikapmu!!" Kata Andrew menatap Frans nyalang.
Frans terkekeh. Sementara saat itu Raisa yang takut hanya bisa membalas genggaman tangan Andrew dengan sama eratnya. Kini ia tahu, bahwa laki-laki bernama Frans bukanlah orang yang baik. Terbukti jelas dari cara laki-laki itu memperlakukan dirinya.
"Kau terlalu banyak berkata tidak baik padaku, brother!"
"Hentikan omong kosongmu Frans. Kami ke sini bukan untuk mendengar bualanmu!" Tegas Zack menengahi.
Frans kembali terkekeh. "Kenapa kalian ini terlalu serius denganku?" Tanya Frans berlaga polos, seolah tidak pernah terjadi perselisihan di antara mereka.
"Ingat diskusi kita, Frans!" Kata Zack berubah tajam. Ia sedikit khawatir Frans akan mempermainkannya.
Frans menegakkan tubuhnya dengan kedua tangan yang ia simpan dikedua saku celananya. "Baiklah.. jadi.. kau, Andrew, dan istrinya akan tinggal di rumahku?" Tanya Frans pada Zack yang berubah serius.
Zack melirik sekilas Andrew yang hanya terus terdiam dengan tatapan yang tidak bersahabat ketika berhadapan dengan Frans.
"Ya, kami akan tinggal di sini sampai mendapatkan rumah baru." Jawab Zack.
Frans beralih menoleh Andrew. "Laki-laki serakah itu kembali menyerangmu?"
Masih dengan menatap Frans tajam, "bukankah itu kabar baik untukmu?" Balik tanya Andrew dengan sinis.
Seketika Frans terkekeh ringan mendengar pertanyaan Andrew. "Ya ya, aku akui itu adalah kabar baik untukku. Tapi, aku lebih suka menghabisi Xander lebih dulu sebelum kau."
Tanpa Raisa sadari, ia langsung menatap Frans setelah mendengar jawaban laki-laki itu yang sangat mengerikan di telinganya. Apakah itu artinya Frans berniat akan membunuh Andrew yang kini adalah suaminya?
Andrew semakin menatap Frans berang setelah mendengar ucapannya.
"Cukup Frans, biarkan kami masuk ke dalam man..." Ucapan Zack seketika terhenti saat melihat tindakan Andrew yang langsung masuk begitu saja ke dalam rumah Frans dengan membawa Raisa dalam genggamannya.
"Hei brother! Bersikaplah sopan, setidaknya ingatlah bahwa ini adalah rumahku." Kata Frans sedikit berteriak pada Andrew yang masuk begitu saja ke dalam rumahnya bersama istrinya itu. Tak lupa Frans juga tersenyum miring melihat sikap Andrew yang sedang gejolak menahan emosinya saat ini akibat ulahnya.
"Berhentilah bersikap bodoh Frans!!" Kata Zack tajam yang berdiri di belakang Frans.
Frans pun membalikkan tubuhnya menghadap Zack dengan senyum smirk-nya yang khas.
"Bukankah ini terlihat menyenangkan?"
..........
Drak!
Andrew menutup pintu dengan keras dan segera ia juga menyeret paksa tangan Raisa yang masih ia genggam dengan erat untuk segera duduk di sisi ranjang yang berada di kamar lantai dua yang dahulunya kamar itu adalah kamar bibi Alma. Setelah meninggalkan Frans dan Zack tadi, Andrew segera masuk ke dalam rumah Frans karena sudah muak dengan segala omong kosongnya yang hanya malah semakin membuatnya tersulut emosi.
"Lepas Dre!! Sakit!!"
"Aduh!!"
Raisa mengaduh saat bokongnya di dudukan paksa oleh Andrew dengan kasar di sisi depan ranjang.
"Kau ini kenapa Dre? Kenapa kau menarik tanganku ke sini dengan sekasar itu?" Tanya Raisa kesal menatap wajah Andrew yang berdiri di hadapannya—di sisi depan ranjang.
Andrew menghela nafasnya sebari mengusap wajahnya kasar, seolah terlihat sangat frustasi. "Dengarkan aku baik-baik Raisa," ucap Andrew mulai menatap wajah Raisa dan kini ia sudah berjongkok di hadapan gadis itu yang masih duduk di sisi depan ranjang.
"A-apa yang kau lakukan, Dre?' Tanya Raisa yang tiba-tiba merasa gugup karena posisi Andrew yang berjongkok di hadapannya sebari menggenggam kedua telapak tangannya erat. Tak lupa suaminya itu juga saat ini sedang menatap wajahnya dengan intens.
"Di sini bukanlah tempat yang aman. Ingat kata-kataku ini dengan baik." Andrew terlihat begitu serius dengan ucapannya hingga mau tak mau Raisa menurut dan siap mendengarkan setiap kata demi kata yang akan keluar dari mulut laki-laki itu.
"Ini adalah rumah Frans, saudaraku. Meski dia adalah saudaraku, tapi dia juga sekaligus musuhku yang sangat berbahaya."
Raisa membulatkan matanya mendengar itu. "Musuh?"
"Ya Raisa, aku ingatkan padamu jangan sekali-kali kau mencoba untuk keluar dari kamar ini. Kau hanya akan tetap berdiam diri di dalam kamar ini."
"Apa?" Raisa menatap Andrew tak percaya. Bagaimana bisa itu terjadi? Memang dia ini hewan kebun binatang apa sampai harus dikurung seperti itu.
"Di luar bukan tempatmu, di sana berbahaya. Frans dan anak buahnya bisa saja melakukan hal yang tidak-tidak padamu, bahkan mereka juga tidak akan segan-segan untuk melakukan pelecehan terhadapmu," ucap Andrew untuk membuat Raisa takut.
Raisa menganga mendengar ucapan Andrew. Sekejam itukah saudara suaminya ini?
Andrew menoleh sekilas ke arah balkon kamar dengan pintu yang terbuka di sebelah kanannya, lalu ia kembali menoleh istrinya yang terdiam dengan wajah seolah tak percaya. "Di luar kamar ini akan ada lima anak buahku yang akan menjaga keamanan di sini, dan di balkon sana," Andrew menunjuk balkon yang ia maksud dengan dagunya meski matanya tetap tertuju pada Raisa. "Di balkon itu akan ada dua orang ART wanita yang berjaga di sana untuk mengawasi barangkali ada penyelundup yang akan melukaimu dari balkon itu."
Raisa menoleh sekilas ke arah balkon yang Andrew maksud, lalu ia kembali menatap wajah suaminya yang masih dengan posisi sama. "Apa harus seketat itu?"
"Dengar Raisa, menurutlah padaku. Ini demi kebaikkan kita." Jawab Andrew penuh penekanan.
Tanpa Andrew ketahui, seketika d**a Raisa berdesir setelah mendengar kalimat yang baru saja lelaki itu katakan.
Kebaikkan kita?
"Setelah ini kedua ART wanita akan masuk ke dalam kamar ini dan menemanimu di sini. Mereka juga akan membawakan koper yang sudah kau bereskan ketika masih berada di Indonesia."
Raisa terdiam mendengar itu.
"Aku harus keluar dulu." Andrew beranjak dari jongkoknya. "Aku akan kembali lagi ke sini, dan ingat kata-kataku tadi Raisa!" Tegas Andrew penuh penekanan sebelum akhirnya laki-laki itu melegang pergi keluar kamar.
"Hahh.." Raisa membuang nafasnya berat setelah Andrew benar-benar keluar dari kamar. "Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa.. kenapa kehidupan Andre begitu rumit dan.. berbeda?"