bc

Lampu Merah

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
fated
playboy
badboy
drama
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Carmelia Bunga Radesa (26) terjebak hubungan rumit dengan teman kantornya — Bima. Mereka berdua jelas memiliki ketertarikan satu sama lain, namun tidak bisa bersatu karena salah satu dari mereka sudah memiliki pasangan.

Bunga tidak pernah mau berada di situasi sulit seperti ini. Perasaannya tumbuh dengan sendirinya tanpa diminta. Perasaan yang sudah jelas-jelas salah.

Ketika Aji datang dalam hidupnya sebagai sosok penyelamat baginya. Bunga malah merasa bahwa dirinya sudah menerobos terlalu jauh.

Seperti lampu merah yang lebih menantang ketika pengendaranya menerobos, seperti itulah dirinya terseret terlalu jauh

chap-preview
Pratinjau gratis
SATU
‎Aku melirik pelan pria yang berada di seberangku. Matanya tengah fokus menatap layar komputer dihadapannya. Jari-jemarinya menyentuh keyboard di atas meja, membuat bunyi ketikan yang bersahut-sahutan dengan ketikan keyboard meja lain. Merasa diperhatikan, pria itu menghentikan aktivitasnya, balas menatapku yang kini salah tingkah karena kepergok mencuri pandang ke arahnya. ‎ ‎"Kenapa Mel?" Pria itu bertanya padaku. Meminta penjelasan atas tindakanku yang diam-diam memerhatikannya tadi. ‎ ‎"Gak pa-pa. Cuma agak bingung dikit, nih. Lo bisa bantuin gue gak?" Aku dengan cepat berusaha membuat alasan. Agar tidak kentara sedari tadi menganggumi wajah tampannya. ‎ ‎Pria itu beranjak dari duduknya, melangkah mendekat ke mejaku dan sekarang berdiri tepat di sebelahku, ikut memperhatikan layar monitor. Aku menceritakan problem yang sedang kuhadapi, meminta pendapatnya. Tidak sepenuhnya berbohong, karena aku memang sedang buntu, dan tadi iseng saja memperhatikan wajahnya yang serius menatap layar komputer. Tidak mengira akan ketahuan. ‎ ‎"Thanks ya Bim, gue kebantu banget sama lo." ‎ ‎"Aman aja, kayak sama siapa aja sih, Mel. Btw bibir lo kering banget. Jangan-jangan lo dehidrasi ya, gue ambilin minum bentar." Pria itu bergegas menuju pojok ruangan, tempat dispenser air mineral berada. Kemudian mengambil gelas di rak, mengisinya dengan air galon. ‎ ‎"Cielah, romantis amat sampe diambilin minum. Gue juga mau dong Bim, tenggorokan gue kering banget, nih, kayak abis lari di gurun Sahara." Virly — teman sekantorku yang seperti baru saja selesai meeting dengan bagian Tax, mengoda kami. ‎ ‎"Lo kalo mau ambil sendiri aja sana." Bima meletakkan gelas berisi air di mejaku. Aku berterima kasih pelan. ‎ ‎"Giliran Bunga aja, pasti dimanjain. Pilih kasih lo Bim jadi temen." Virly bersungut-sungut kesal. ‎ ‎Aku terkekeh mendengar perdebatan kecil mereka, kemudian tersenyum hangat pada Bima yang sudah kembali ke meja kerjanya. ‎ ‎Dari semua anak finance di kantor ini. Aku merasa Bima memang memperlakukanku agak spesial dibanding yang lain. For your information, divisi kami terdiri atas lima orang. Masing-masing memiliki jobdesknya sendiri-sendiri. Seharusnya ada enam, namun salah satu dari kami baru saja resign seminggu yang lalu karena menikah dan memilih fokus untuk menjadi ibu rumah tangga. ‎ ‎Aku dan Bima memiliki jobdesk yang sama, bertanggungjawab jawab atas permintaan invoice dari bagian sales dan gudang. Sementara Virly sekarang sendirian menghandle reporting. Tara dan Milly di bagian Cash & Bank. ‎Pak Indra - manajer kami memang bermaksud untuk meng-hire orang baru untuk membantu Virly, karena cewek itu kewalahan menghandle pekerjaannya sendirian. Sekarang saja dia sering meminta bantuan Milly - Junior kami — untuk membantu pekerjaannya ketika pekerjaan Tara sedang selow. ‎ Aku menggeser posisi dudukku, mencari posisi ternyaman. Di depanku, Bima sudah sepenuhnya kembali fokus pada layar monitor di depannya. Sebenarnya‎ kedekatanku dan Bima bermula saat pria itu sering mem-back up pekerjaanku. Waktu itu aku sering izin mengantar Papa kontrol gula darah ke dokter. Aku berterima kasih sekali kepada Bima, karena berkat dia, pekerjaanku tidak keteteran. Sejak saat itu, aku sering keluar berdua dengannya untuk sekedar mentraktir makan malam. Malah jadi keterusan dekat sampai sekarang. ‎ ‎Teman-teman kantorku juga sepertinya sadar dengan kedekatan kami berdua. Mereka sering sekali menggoda kami. Contohnya, adalah ketika mereka tidak sengaja melihat Bima yang akhir-akhir ini sering membawakan kopi untukku, dibumbui hiasan latte art berbentuk love diatas kopi yang dia berikan. Atau saat istirahat makan siang, mereka juga sering memergoki Bima membantuku membukakan tutup botol, memakan bagian sayur yang sengaja kusisihkan langsung dari piringku, dan masih banyak lagi. ‎ ‎Jujur saja, aku tidak bisa menolak segala perhatian yang Bima berikan padaku. Atas tindakan kecilnya yang membuat aku merasa spesial di antara yang lain. Bahkan yang membuatku semakin tidak bisa lepas darinya adalah kecocokan di antara kami berdua. Aku dan Bima memiliki kesamaan di hampir semua hal. Itu yang membuat obrolan kami mengalir begitu saja jika sudah mengobrol berdua. Bagiku perhatian Bima seperti candu. Membuat ketagihan, sampai-sampai aku tidak tahu cara untuk menolaknya. Berkali-kali aku berusaha untuk waras, meyakinkan diri sendiri bahwa kami hanya sebatas rekan kerja - tidak ada yang istimewa. Namun, berkali-kali juga Bima berhasil mematahkan kewarasanku, kembali bersikap manis padaku. Memperlakukanku layaknya seseorang yang istimewa dan berharga baginya. "Guys, hari ini mau makan dimana? Gue kemarin nemu warung soto yang enak banget. Mau nyoba kesana gak?" Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Pantas saja Tara sudah membuka obrolan mengenai makan siang. "Boleh tuh, gue juga lagi bosen sama makanan di kantin bawah. Tiap hari menunya ayam mulu." "Gass, kita berangkat. Lo sama Bima gimana? Mau ikut gak?" Tara melempar pertanyaan padaku dan Bima. Mulutku hendak mengatakan iya, namun terpotong dengan kalimat yang keluar dari mulut Bima. "Gue gak ikut dulu deh guys, siang ini ada janji soalnya." "Gak asik lo Bim, makan enaknya sendirian. Gak ngajak-ngajak." Virly menyahut. Bima tertawa. "Next time gue ikut deh, soalnya udah terlanjur janji nih." Aku yang penasaran dengan siapa Bima akan pergi, bertanya, "Janji sama siapa?" Bima terlihat ragu menjawab. Pria itu tertawa tak enak hati kemudian menjawab, "Sama cewek gue." Detik berikutnya, seruan cie-cie menggema di ruangan. Tara dan Virly sibuk menggoda Bima. Sementara aku hanya bisa tersenyum kecut, untuk kesekian kali tertampar menerima kenyataan yang selalu coba kutolak. Bima sudah punya pacar. Dan pacarnya bukan aku. Sejak awal aku sudah tau kalau Bima memiliki pacar. Pacarnya merupakan seorang model majalah wanita. Kalau soal cantik, sudah tidak diragukan lagi, itu memang daya jual yang dimiliki pacar Bima. Dibandingkan denganku, pacar Bima jauh lebih cantik dan modis. Aku memang tidak waras karena berharap dengan pria yang jelas-jelas sudah memiliki pacar. Tapi, aku juga tidak bisa menolak Bima masuk ke kehidupanku. Aku nyaman bersama dia. Aku rasa aku sudah gila karena setiap hari mendoakan agar hubungan mereka segera berakhir dan aku bisa menjadi satu-satunya wanita yang dekat dengan Bima. Tak pernah seharipun aku terlewat mengharapkan hal-hal buruk terjadi di hubungan mereka. Jelas-jelas masalah utama hubunganku dengan Bima masih stuck disini ya karena wanita itu. Bima masih memiliki pacar, itulah kenapa pria itu tidak pernah terlihat menunjukkan arah keseriusan pada hubungan kami. Pria itu hanya sibuk menarik ulur diriku. Memberi perhatian, mendengarkan keluhanku, mensupportku, tapi pada akhirnya dia akan kembali ke pelukan pacarnya. Bukan kepadaku. Kenyataan yang aku dapat lebih pahit lagi. Pria itu tidak akan pernah menjadi milikku seutuhnya. Kami hanya teman sekantor yang saling mem-back up pekerjaan. Bukan pria dan wanita yang sedang membangun sebuah pondasi bernama cinta. Aku memilih untuk keluar dari obrolan. Berfokus pada layar monitor di hadapanku. Berpura-pura sibuk menyelesaikan pekerjaanku. Suasana hatiku yang buruk tentu saja membuatku sulit fokus. Tapi, lebih baik berusaha fokus dengan apa yang kukerjakan sekarang, daripada harus bergabung dengan obrolan menyakitkan Bima tentang ceweknya. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sweetest Pain || Indonesia

read
78.1K
bc

Nikah Lagi Aja, Yuk!

read
6.8K
bc

Stuck With You

read
76.4K
bc

23 VS 38

read
303.2K
bc

Happier Then Ever

read
94.6K
bc

Ay Lub Yu, BOS! (Spin Off MY EX BOSS)

read
267.5K
bc

Pernikahan Wasiat

read
243.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook