ENAM

1314 Kata
"Pagi guys." Bima menyapa kami dengan senyum cerah yang mengembang di bibirnya. Dia melewati mejanya dan berjalan ke arah mejaku. Meletakkan segelas kopi tepat di sebelah tanganku yang menganggur di atas meja. "Thanks." Aku tersenyum menerima kopi darinya. "Parah Bima, yang dibeliin kopi cuma Bunga aja. Pilih kasih banget," Virly protes seperti biasa. "Eh Vir, kalo gue beliin lo kopi, yang ada gue yang repot harus gotong lo ke RS." "Gak harus kopi! Lo kan bisa beliin gue yang lain, apa kek, matcha, atau apa, kan banyak pilihannya. Itu juga kalo lo niat." Bima menggeleng. "Gak ada Vir, yang ini cuma jual kopi." Virly mendengus, sementara aku tertawa. Kami berdua tau, itu cuma alasan Bima saja. Tara dan Milly datang bersamaan, tak lama kemudian disusul Aji yang menyapa kami dengan senyum sopannya. Kubikel Aji berada tepat disebelahku, membuat pria itu bisa langsung melihat kopi yang diberikan Bima ada di mejaku. "Itu kopi Mbak Bunga?" Aji menunjuk kopi pemberian Bima. Aku mengangguk. Aku cukup terkejut ketika Aji tiba-tiba tanpa izin mengambil kopi pemberian Bima yang ada di mejaku. "Kopi ini buat saya." Mataku melebar, otomatis berdiri dan berusaha mengambil kopi pemberian Bima dari tangan Aji. "Itu kopi gue, kenapa lo ambil!" Aku masih berusaha menggapai tangan Aji yang terangkat ke atas menyingkirkan kopiku. "Mbak Bunga gak inget, semalem penyakit lambungnya kambuh? Terus sekarang mau minum kopi?" Aji menyerocos persis seperti Mamaku yang selalu mengomel ketika aku tidak menuruti perkataannya dan bandel. "Tapi itu kopi dari Bima," ucapku. Aji langsung menoleh pada Bima saat mendengar nama laki-laki itu disebut. "Ini kopi dari Mas Bima? Eh, maaf Mas, saya ambil kopinya. Soalnya semalem penyakit lambung Mbak Bunga kambuh, takutnya kambuh lagi kalo minum kopi pagi-pagi." Tanpa sadar perdebatan kecilku dan Aji menarik perhatian anak-anak kantor. Daritadi mereka memperhatikan interaksi kami. Tara yang pertama kami bersuara dengan nada menyelidik. "Gue liat kayaknya kalian berdua udah akrab banget, ya." Aku dan Aji saling pandang. "Iya nih, jangan-jangan sebelum ini kalian pernah ada sesuatu yang kita gak tau." Milly menambahi. "Bukan, bukan gitu." Aji segera menyangkal. Sepertinya dia baru sadar dengan tindakannya yang membuat orang-orang salah paham. Semalam kami memang melewati malam panjang bersama, yang membuat suasana di antara kami mulai mencair, tapi aku tidak menyangka kalau Aji akan bertindak sejauh ini. Kami baru kenal dan ngobrol kemarin. "Maaf saya kebiasaan ngomelin adik saya di kampung kalo bandel, jadi kebawa sampe ke Mbak Bunga, maaf Mbak." Aji meminta maaf padaku, tapi tetap tidak mengembalikan kopi dari Bima. "Tapi, serius Mbak, Mbak Bunga gak boleh minum kopi ini. Saya aja ngeri liat Mbak Bunga kambuh semalem, gimana kalo . tambah parah." "Duh, Aji, kayaknya lo orangnya perhatian banget, ya. Sampe kesehatan orang aja lo perhatiin." Tara mengedip menggoda. "Mau dong, diperhatiin juga sama Aji." Virly ikut-ikutan. Suasananya jadi bertambah chaos. Anak-anak kantor malah jadi menggodaku dengan Aji. Curiga ada apa-apa di antara kami. "Eh, kalian jangan gangguin adek baru gue ya. Awas aja Aji gak betah gara-gara kalian." Bima berdiri, merangkul leher Aji sehingga tubuh mereka menempel "Sebagai abang-abangannya Aji, lo kayaknya punya PR bikin mas-mas Jawa satu ini jadi anak Jaksel abis deh, Bim," ucap Virly "Iya, nih, kuping gue ngerasa aneh tiap Aji manggil sopan pake saya-kamu gitu." Milly ikut berpendapat. "Selaw, nanti gue bikin dia jadi abang-abangan Jaksel kayak gue juga." Tara menggeleng, "Mending jangan, deh. Gue gak percaya sama lo soalnya, yang ada Aji diajarin hal-hal yang gak bener lagi." "Paling clubbing sama TP-TP dikit." Bima mengedip. (TP : tebar pesona) "Tuhkan, emang kelakuan lo gak bisa dipercaya. Jangan mau Ji, nanti otak polos lo ternodai," seru Tara. Anak-anak kantor saling melempar ledekan satu sama lain, dengan Aji yang hanya bisa tersenyum kikuk, tak tahu harus merespon apa. Entah karena Aji belum terbiasa dengan candaan kami yang dibumbui dengan umpatan-umpatan kecil, atau dia memang tidak tahu cara membalasnya. "Besok lo mau gue bawain apa Mel? s**u? Cupu banget gak bisa minum kopi," celetuk Bima. "Mulutnya minta dijahit emang si Bima." Virly berseru tidak terima. Dia juga merasa tersinggung karena dia tipe yang tidak bisa minum kopi. Aku mendengar nada tengil terselip pada candaan yang Bima lemparkan. Entah kenapa aku merasa Bima seolah sedang menantangku. Dia meremehkanku karena aku semudah itu bisa dikontrol oleh orang lain. "Kata siapa gue cupu? Lo bawain gue kopi 10 gelas juga gue jabanin." Bima tersenyum puas mendengar jawabanku. "Siniin Ji, kopi gue." Aku meminta kopiku kepada Aji. "T-tapi Mbak ...." Tanpa aba-aba aku langsung menyambar kopi di genggaman Aji, kemudian meneguknya sampe abis. "Aigoo, lo salah nyari lawan, Bim. Bunga mana bisa ditantangin." Virly berseru. Aku tahu kalau perutku tidak akan baik-baik saja setelah ini. Tapi selalu saja aku kalah dengan egoku yang setinggi langit, apalagi kalau sudah disenggol. Obrolan kami otomatis bubar ketika Pak Bos datang. Masing-masing dari kami bergegas kembali ke kubikel kami. Notifikasi dari aplikasi w******p diponselku membuat mataku beralih. Melirik sebentar benda pipih persegi panjang tersebut kemudian membaca satu pesan dari seseorang yang ada di depanku. Bima: Good Girl *** "Gue tau lo sengaja." Aku menyodorkan sekaleng soda pada pria yang duduk menyandar di sofa apartemenku. "Apa?" "Kejadian di kantor tadi. Lo pasti sengaja, kan?" Aku memperbaiki posisi dudukku, menuntut jawaban darinya. "Gue gak ngapa-ngapain." Pria itu mengangkat bahu, pura-pura tidak tahu. "Ngaku aja, deh!" Aku menjeda sejenak. "Gue tau arti senyuman lo tadi." Pria itu tertawa, membuat kekesalanku bertambah kali lipat. "Bima ... Ihhh ngeselin banget lo." Aku menimpuk bantal ke arahnya, membuat serangan bertubi-tubi pada tubuhnya. "Ahahaha, iya ampun Mel ...." "Kenapa sih, lo nyebelin banget." Terakhir kupukulkan dengan keras bantal sofa ke arah kepalanya. "Gara-gara lo, gue hampir dibawa ke rumah sakit tau!" Bima tertawa keras. "Gue cuma bantuin lo." "Bantuin apa hah?" Bima mengangkat bahunya. " Bantuin lo balik jadi Meli lagi." Dahiku mengernyit. Bima memperbaiki posisi duduknya. Kini dia duduk menghadap ke arahku. Iris matanya tepat menatap mataku, membuatku seketika terdiam. "Meli yang gue kenal gak semudah itu dikontrol orang lain. Apalagi sama orang asing." Bima mendesah pelan, "Entah kenapa gue gak suka sama cara Aji ngelarang lo minum kopi tadi. Seolah dia mau nunjukin kalau dia deket sama lo. Oh, come on, Mel, kalian baru pulang bareng sekali, dan dia udah ngatur-ngatur lo." Aku tersenyum dalam hati mendengar penjelasannya. Ini artinya Bima cemburu pada Aji, kan? Aku tidak tau perasaan Bima yang sebenarnya padaku, tapi aku tahu kalau seseorang cemburu melihat kita dekat dengan orang lain itu artinya ada perasaan suka. "Emang kenapa kalau Aji ngelarang gue minum kopi tadi? Niat dia kan, baik. Itu artinya dia peduli dan perhatian sama gue." Salah satu hobi yang kusukai adalah memancing api di tengah api unggun yang menyala. Aku sengaja memanasi keadaan, lebih ke penasaran apa reaksi Bima. "Emang lo suka diperhatiin sama Aji?" "Kenapa enggak? Gue seneng banyak orang yang sayang dan peduli sama gue." Aku menjawab tegas. Kulihat perubahan raut wajah Bima setelah kalimat itu terlontar dari mulutku. Dia bergerak gelisah, menyisir rambutnya ke belakang asal. "Sekarang lo suka sama Aji?" Bima langsung menembakku dengan pertanyaannya. Aku menimbang jawabanku, "terlalu dini buat bilang gue suka sama Aji sekarang. Tapi, gue gak tau kedepannya gimana." Bima membuang napasnya kasar, kemudian mendesah. "Apa gue harus merasa terancam dengan keberadaan Aji sekarang?" Aku pura-pura bodoh bertanya dengan nada polos kepadanya. "Kenapa lo harus merasa terancam? We're not in relationship." "Mel, gue ...." Sebelum Bima berhasil menyelesaikan kalimatnya, dering ponselnya mengalihkan perhatian kami. Aku membaca nama pacarnya terpampang di layar ponselnya, menghubungi lewat sambungan telepon w******p. "Gue angkat telepon dari cewek gue dulu." Bima menyambar ponselnya di atas meja, kemudian menjauh dariku untuk mengangkat panggilan telepon dari pacarnya. 'Cewek gue'. Dua kata itu saja sudah berhasil membuat dadaku nyeri tanpa alasan. Aku menyukai Bima, itu jelas. Tapi perasaan Bima? Aku tidak tahu. Dia jelas memiliki pacar, tapi mengapa bersikap seolah tidak rela aku dekat dengan cowok lain? Kenapa dia merasa terancam dengan keberadaan Aji yang peduli dan perhatian padaku? Kenapa? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN