Motor Aji mogok.
Ditengah-tengah perbincangan kami di atas motor, tiba-tiba motor matic Aji tersendat-sendat sebelum akhirnya mogok di tengah jalan. Aku panik ketika mesin motornya tidak bisa dinyalakan, yang ternyata penyebabnya karena kehabisan bahan bakar.
Aji meminta maaf padaku berkali-kali karena membawaku ke dalam situasi ini. Dia lupa melihat fuel meter di motornya sampai tidak sadar kalau indikatornya sudah menunjukkan huruf E.
Ditengah jalan, kami seperti orang bingung. Banyak kendaraan yang berlalu lalang, tapi tidak ada satupun yang berhenti dan mencoba menolong kami. Kami sampai putus asa untuk mencari bantuan kepada orang-orang.
"Maaf banget Mbak. Padahal tadi saya yang nawarin tumpangan, malah akhirnya jadi ngajakin Mbak Bunga dorong motor gini." Ini entah sudah permintaan maaf yang keberapa terlontar dari mulut Aji. Pria itu masih merasa bersalah karena harus membawaku mendorong motor untuk mencari pom bensin terdekat.
Aku merasa kakiku sudah mau copot ketika akhirnya Aji melihat hilal di ujung jalan. Aji melihat palang pom bensin yang jaraknya tidak jauh dari tempat kami berada. Sekitar lima ratus meter.
"Ayo Mbak, lebih semangat lagi, bentar lagi kita nyampe." Aku juga inginnya begitu, namun saat hormon dopaminku bekerja, tiba-tiba rasa nyeri datang menjalari perutku. Rasa sakit yang sering kurasakan saat aku tidak memperhatikan pola makanku. Maagku kambuh. Aji baru menyadari ketika aku duduk berjongkok jauh dibelakangnya, tak lagi mengikutinya mendorong motor.
"Loh, Mbak Bunga kenapa?" Aji menstandar motornya kemudian berlari menghampiriku. Aku merintih kesakitan menahan rasa sakit yang berpusat di perutku sampai tidak bisa menjawab pertanyaan dari Aji.
"Mbak, mbak Bunga gak apa-apa? Perut Mbak Bunga kenapa?"
Aku pusing sekali mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari mulut Aji. Aku sedang berkonsentrasi penuh untuk menghilangkan sedikit rasa sakit yang ada di perutku, namun pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkannya membuat fokusku terpecah. Rasanya ingin sekali berteriak pada Aji untuk diam, tapi untuk berbicara saja mulutku tidak sanggup, apalagi berteriak marah-marah padanya.
"Sebentar, saya beli bensin dulu, abis itu kita jalan cari apotek terdekat ya, Mbak. Mbak Bunga tunggu sebentar di sini." Aku tak lagi memedulikan ucapan Aji, lebih fokus pada rasa sakitku. Ini pasti gara-gara saat makan siang tadi aku hanya menyendokkan beberapa suap nasi untuk mengisi perutku. Pola makanku yang kacau memang sangat memengaruhi kondisi lambungku. Apalagi sampai jam pulang tadi, aku belum memasukkan makanan apa-apa lagi selain soto yang masih bersisa banyak.
"Mbak Bunga masih bisa berdiri, kan?" Aku tidak ingat sejak kapan Aji sudah berdiri di dekatku, dengan motor yang sudah menyala dan memapahku naik ke motornya. Dia melajukan motornya ke minimarket terdekat, menyuruhku untuk duduk di bangku depan yang disediakan oleh minimarket. Aji kembali dengan kantong kresek di tangannya, mengeluarkan isinya yang ternyata roti, air mineral dan obat lambung.
"Makan dulu Mbak, setidaknya bisa ngeredain sakitnya."
Aku susah payah mengunyah roti yang dibelikan oleh Aji. Setidaknya bisa mengganjal perut sebelum dimasuki oleh obat.
"Gimana, agak enakkan?"
Aku mengangguk ketika obatnya beraksi dengan cukup baik, walaupun masih ada sisa-sisa nyeri yang terasa, namun ini lebih baik dari sebelumnya.
"Kenapa Mbak Bunga gak bilang kalau punya penyakit lambung, tau gitu kita kan bisa mampir makan dulu tadi." Aji bersuara.
"Gimana mau mampir makan, orang motor lo aja mogok, sampe gue harus dorong."
Aji menggaruk rambutnya yang tidak gatal, benar juga.
"Setidaknya kita bisa mampir beli makan dulu sebelum motor saya mogok." Aji membela diri.
"Udah Ji, udah kejadian juga, gue juga gak tau kalo tiba-tiba penyakit gue kambuh di tengah jalan."
Aji mengangguk. Sama seperti dia yang tidak menyangka motornya akan mogok di tengah jalan, aku juga begitu. Lagian mana ada sih orang yang mau dapat kesialan berturut-turut. Kambuh waktu lagi dorong motor. Rasa sakitnya terasa double.
"Kalau gitu kita nyari makan dulu sebelum saya anter Mbak Bunga pulang. Memangnya tadi siang Mbak Bunga gak makan, kok bisa penyakitnya kambuh gini?"
"Makan, tapi cuma dikit, paling cuma geletikin lambung doang."
"Mbak Bunga kan udah tau punya penyakit lambung, kenapa makannya gak teratur, itu bahaya loh Mbak, apalagi kalo udah akut."
Ya, memang sudah akut. Aku menjawab dalam hati, malas berdebat dengan Aji.
"Jadi gak nih, makannya? Apa lo masih mau nerusin ceramahnya?"
Aji tertawa, "Sori kalo saya jadi cerewet, kebiasaan ngomelin adik saya di kampung kalo makannya telat. Ya udah ayo sekarang kita cari makan."
Aku dan Aji bangkit dari kursi minimarket kemudian berjalan menuju motor Aji yang terparkir di depan kami.
"Mbak Bunga mau makan apa? Jangan bilang terserah loh ya, saya pusing kalau Mbak Bunga bilang terserah. Bingung mau nentuin mau makan apa."
Aku tertawa mendengar Aji yang nyerocos terus seperti kereta api. Sepertinya suasananya sudah mulai mencair. Padahal beberapa jam lalu pria itu masih bersikap sopan, kaku dan seperti merasa tak enak hati padaku.
"Kayaknya lo paham banget ya, jawaban cewek kalo ditanya mau makan apa."
"Di rumah saya itu didominasi sama perempuan, Ibu dan adik saya. Saya anak laki-laki pertama, punya adik tiga, perempuan semua. Kalau lagi jalan-jalan ditanya mau makan apa, pasti jawabannya sama semua. Terserah. Sayanya yang bingung, milih tempat makan di mana."
"Ya udah kita makan yang simpel aja. Nasi goreng abang-abang pinggir jalan aja gimana?" Aku menyebutkan ide. Aji mengangguk menyetujui opiniku. Boleh juga katanya.
Akhirnya kami berhenti di sebuah warung tenda pinggir jalan yang menjual nasi goreng. Aji memesan tiga porsi. Dua makan di tempat dan satu untuk dibungkus.
"Lo gak kenyang cuma makan satu porsi? Sampe bungkus satu lagi?"
Aji menggeleng. "Bukan buat saya, itu buat sepupu saya, gak enak kalo saya udah makan diluar tapi gak bawa apa-apa buat yang dirumah."
"Lo itu orangnya ga enakan banget, ya?"
Aji hanya tertawa, "Mungkin lebih ke peduli."
Aku berdecih pelan, yang ditanggapi Aji dengan tawa renyahnya.
"Nasi gorengnya mau pedes apa enggak, Mas?" Abang nasi goreng menghampiri meja kami.
"Yang satu pedes banget Bang." Aku yang menjawab, namun segera ditimpa oleh ucapan Aji.
"Pedes sedang aja Bang, semuanya." Abang nasi goreng mengangguk, lebih memilih mendengarkan ucapan Aji. Ya memang sih, yang pesan Aji, tapi kan nasi gorengnya ujung-ujungnya dimakan aku.
"Gue mau yang pedes banget." Aku protes pada Aji.
"Mbak Bunga boleh aja makan pedes. Tapi, nanti setelah saya antar pulang."
"Lo gak mau direpotin sama gue ya?" Aku mendengkus.
"Memangnya Mbak Bunga sesuka itu diperhatiin sama saya?"
Aku diam, tidak bisa menjawab pertanyaan Aji. Yang benar saja, kami baru kenal beberapa jam yang lalu, tapi percakapan kami seolah dua orang yang sudah lama saling kenal. Kenapa Aji tak segan melempar pertanyaan dengan nada tengil seperti itu? Dan kenapa aku nyaman-nyaman saja dengan tingkah lakunya?
Aku memutuskan untuk tidak menanggapi pertanyaan Aji. Lebih memilih menghabiskan nasi goreng yang diantar oleh Mamang nasgor dengan cepat. Kami menghabiskan nasi goreng dalam diam. Selesai menghabiskan nasi goreng, Aji mengantarku pulang ke apartemen. Say good bye ala kadarnya kemudian melajukan motornya berbalik meninggalkanku. Aku menatap punggung Aji yang hilang menembus jalan. Tersenyum sekilas, kemudian berbalik hendak masuk ke apartemen. Saat berbalik, aku terkejut mendapati seseorang sedang berdiri di depan lobi apartemenku, menatapku dengan sesuatu yang tidak bisa didefinisikan.
"Bima?"
***