Aji
Mbak Bunga lagi sibuk gak?
Aku membaca notifikasi chat dari Aji. Merasa aneh kenapa di akhir pekan seperti ini Aji bertanya padaku.
Me
Enggak sih, Ji
Kenapa emangnya?
Aji
Gini Mbak.
Sebenernya saya punya dua tiket ke Dufan, tapi gak tau mau pergi sama siapa.
Sayang banget tiketnya kalo gak dipake
Mbak Bunga mau pergi bareng saya gak?
Me
Hahaha, bisa-bisanya lo punya tiket ke Dufan, dapet darimana?
Aji
Beli, lagi ada promo
Cuma pas mesen gak sengaja kepencet dua kali, jadi kebayar double
Me
Lagian, lo ada-ada aja sih Ji pake kepencet segala
Aji
:(((
Mbak Bunga ada acara ya hari ini?
Me
Enggak juga sih
Aji
Jadi, mau pergi bareng saya gak?
Me
Emmm... gimana ya
Boleh deh, tapi dengan satu syarat
Aji
Syarat apa Mbak?
Me
Berhenti manggil saya-saya terus, gue bukan bos lo Ji
Aji
Ya ampun iya, saya lupa
Eh, maksudnya gue
Gue lupa
Me
Hahaha
Kok aneh ya
Tapi gak apa-apa deh, biar lo terbiasa
Aji
Iya Mbak
Jadi pergi kan, Mbak?
Me
Oke bentar, gue siap-siap dulu
Nanti kita ketemuan langsung di sana apa gimana?
Aji
Kalo gue jemput pake motor gimana Mbak? Keberatan gak?
Me
Why not?
Lo kenapa nanyanya gitu sih, kesannya gue anti banget naik motor
Aji
Haha, iya mbak maaf
Yaudah gue otw ke tempat Mbak Bunga dulu
Me
oke see u
Aku langsung bersiap setelah membalas chat terakhir Aji. Dufan? Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya, di umurku yang dalam beberapa tahun akan memasuki kepala tiga ini, aku akan pergi ke tempat yang biasanya dikunjungi anak-anak.
Mungkin ini kedengaran aneh, tapi jujur salah satu wishlist-ku yang belum tercapai dari dulu adalah pergi kencan ke Dufan. Tapi, apakah pergi berdua dengan Aji termasuk kencan juga? Kami tidak ada hubungan apa-apa, jadi sepertinya ini tidak termasuk memenuhi wishlist-ku.
Aku butuh tiga puluh menit untuk bersiap. Dering dari ponselku terdengar saat aku sedang sibuk mencatok rambut. Itu adalah telepon dari Aji. Aku langsung mengangkat begitu melihat namanya menari-nari di layar.
"Halo Ji?"
"Mbak Bunga udah siap? Gue udah di lobby nih."
"Oh, oke. Tunggu bentar ya Ji, gue otw turun."
"Oke Mbak."
Setelah menutup telepon dari Aji, aku buru-buru menyelesaikan ritual mencatok rambutku dan bergegas turun ke lobby menemuinya.
"Hei Ji," sapaku pada Aji. "Sorry ya, lama."
"Gak apa-apa Mbak, udah biasa nunggu. Kita berangkat sekarang?"
Aku mengangguk. "Yuk."
***
Kami sampai di Dufan sekitar pukul sebelas. Hari itu panas sekali, ditambah ternyata banyak orang yang pergi ke Dufan di weekend begini.
"Rame banget," ujarku.
"Mbak Bunga mau naik apa dulu, nih?" Aji bertanya.
"Hmm, naik apa ya. Gimana kalo gue tantangin elo." Tiba-tiba terbersit satu ide di otakku.
"Oh berani?" Aji terlihat siap menerima tantangan.
"Siapa takut."
Aku menantang Aji naik kora-kora dan duduk dipaling ujung. Sebetulnya part menaiki wahana yang ekstrim-ekstrim seperti ini adalah kesukaanku. Walaupun terasa menakutkan, namun ada sensasi yang membuat ketagihan.
"Ini yakin kita naik ini Mbak?" Aji bertanya ketika kami sudah antri untuk naik kora-kora.
"Yakin lah! Lo udah nyerah duluan?"
"Enggak!" ucapnya tegas, walaupun terselip sedikit nada keraguan di baliknya.
"Awas aja ya kalo lo sampe teriak."
Dan benar saja, Aji yang paling keras berteriak saat kora-kora yang kami naiki bergerak kencang.
"Mbak, gue masih mau hidup Mbak, tolong!"
"Mbak tolong, Mbak!"
"Please, berhenti, udah, udah!"
Aku sebetulnya ingin tertawa ngakak mendengar teriakan Aji, namun aku sendiri juga berusaha meredakan ketakutanku di atas sana.
"Demi apapun, gue gak mau naik itu lagi!"
Tawaku pecah ketika kami sudah turun dari kora-kora. Wajah Aji pucat pasi. Mukanya langsung bergidik ngeri ketika menoleh ke belakang dan melihat wahana itu mulai jalan.
"Cupu banget lo, gue aja berani."
"Enggak deh Mbak, saya nyerah duluan kalo gini."
Aku tertawa. "Yah, padahal habis ini gue mau ajakin lo naik itu." Aku menunjuk wahana Histeria diujung kanan. Salah satu wahana paling menantang di Dufan. Menawarkan pengalaman meluncur keatas dengan kecepatan tinggi seperti ketapel lalu jatuh bebas dari ketinggian 60 meter. Bahkan teriakan orang-orang dari atas sana terdengar sampai sini.
Aji terlihat menelan ludah.
"Ayok Ji, temenin gue naik itu, sekali aja." Aku memohon pada Aji. Kami sebetulnya saling berkebalikan. Aku suka wahana yang memacu adrenalin, sedangkan Aji tidak bisa naik wahana seperti itu.
"Mbak, kita cari wahana yang lain aja, deh. Ada banyak yang lain, tuh. Kalo naik yang biasa-biasa aja pasti gue temenin."
"Ih, sayang dong, udah jauh-jauh ke sini, tapi cuma naik wahana yang di pasar malem juga ada."
"Tapi serius itu serem banget, Mbak. Mbak Bunga gak denger teriakan mereka kedengeran sampai sini?"
"Ih justru itu letak serunya."
"Gue gak habis pikir kenapa itu jadi letak serunya."
"Sensasi memacu adrenalinnya tuh bikin nagih tau, Ji. Ayok dong, naik itu."
Setelah beberapa kali kubujuk-bujuk, akhirnya Aji mau juga menemani aku naik Histeria. Namun, tak hanya sampai situ, aku juga harus tetap meyakinkan dia agar tetap mau berada di barisan antrian, karena beberapa kali dia mau kabur mendengar teriakan orang-orang di atas sana.
"Ini aman gak sih, Mbak?" Akhirnya tiba giliran kami untuk naik. Aji sampai ngotot ingin duduk di sampingku saat sebelumnya sempat akan terpisah karena kursi di sebelahku sudah diduduku oleh orang lain.
"Maaf ya Kak, temen saya ini emang agak penakut, jadi gak bisa jauh-jauh dari saya." Aku sampai minta maaf pada kakak yang dimintai tukar tempat oleh Aji.
"Mbakkkk, udah Mbak berhenti!"
"Aaaaaa, tolong!"
"Mbak Bunga pliss gue masih mau hidup!"
Benar-benar dari awal sampai akhir aku hanya mendengar teriakan Aji menggema di telinga. Sampai aku ragu kalau sosok laki-laki yang selama ini kukenal adalah Aji.
"Mbak udah Mbak, jangan ngajakin ke wahana yang serem-serem deh. Tobat gue." Aji langsung kapok begitu kami selesai naik.
Aku tertawa. "Ya udah iya. Kasian banget muka lo pucet. Mau beli eskrim gak? Biar agak mendingan."
Kami memutuskan untuk membeli eskrim dan menikmatinya sambil duduk di kursi sekitaran situ.
"Lo ternyata penakut banget ya, Ji." Aku tertawa mengingat teriakan-teriakan Aji selama naik wahana.
"Gue emang takut ketinggian. Makanya gak bisa banget naik yang gitu-gituan."
"Kalo naik bianglala, masih oke gak?"
Aji menggeleng. "Sama aja, tetep takut pas liat ke bawah."
"Ya jangan liat ke bawah dong!"
"Tetep aja Mbak. Segala wahana yang berhubungan sama ketinggian, gue gak bisa."
"Yah, terus kita naik apa dong abis ini. Masa naik kuda-kudaan yang muter itu."
Dan betul saja, kami benar-benar naik komedi putar setelah itu. Aku sampai harus menekan sedikit rasa malu, karena kebanyakan yang naik wahana ini adalah anak-anak dan orang tuanya yang sengaja mengawasi.
"Ji, kita kayaknya salah tempat deh."
"Gak apa-apa Mbak, mending salah tempat dibanding disuruh naik yang aneh-aneh lagi."
Aku tertawa. Sepertinya Aji benar-benar trauma gara-gara naik kora-kora dan histeria.
"Eh, ada yang fotoin. Mas-mas tolong fotoin kita dong." Aji memanggil mas-mas fotografer yang memang bertugas untuk mendokumentasikan di situ.
Aku dan Aji langsung berpose saat mas fotografer mendekat untuk memotret kami.
"Ini lucu nih, mau dicetak gak fotonya?" Sebelum keluar kami sempat melihat-lihat hasil jepretan foto tadi dan berniat untuk mencetaknya.
"Boleh, ini lucu nih." Aku menunjuk salah satu foto kami dan sepakat untuk mencetaknya. Setelah membayar dan mendapatkan hasil cetakan fotonya, kami keluar dan memutuskan untuk mencari makan siang.
"Fotonya lucu deh," ucapku masih memandangi foto kami di wahana tadi.
"Iya Mbak, berasa nostalgia pas jaman masih kecil. Dulu kalo ke pasar malem gue pasti naik ini."
"Iya ih, gue juga."
"Mbak Bunga happy gak?" Aji tiba-tiba bertanya.
Aku mengernyitkan dahi, agak kaget mendapati pertanyaan seperti itu dari Aji. "Happy. Kenapa nanyanya gitu?"
Aji menggeleng. "Gak apa-apa. Cuma nanya aja."
Aku mengendikkan bahu, tak ingin terlalu berpikir keras apa maksud Aji.
Kami menghabiskan waktu seharian di Dufan. Mencoba semua wahana yang terasa aman menurut Aji. Walaupun ada sedikit kekecewaan karena tidak bisa naik tornado, tapi aku tetap senang.
"Makasih ya Ji, udah ajak gue ke sini. Entah kenapa gue menikmati banget seharian di sini ."
"Sama-sama Mbak."
"Kalo gitu gue masuk dulu ya, sampai ketemu di kantor Senin nanti."
Aji mengangguk, kemudian berpamitan untuk pulang.
***