31

1220 Kata

Alan keluar dari Ruang Dokter. Kemudian berjalan dengan tangan kanan yang memegang kantong berisi Obat obatan. Alan kembali menyusuri setiap lorong Rumah Sakit, mencari keberadaan kamar Paviliun nomor empat puluh dua, setelah menaiki Lift. Sesuatu yang menggores dadanya membuat tubuhnya bergetar hebat. Rasanya cukup mengejutkan harus menerima kenyataan pahit yang baru ia ketahui hari ini. Perasaan aneh yang menjalar menyakitkan itu segera di tepisnya. Ia harus pandai-pandai menyembunyikan ekspresi itu di balik semua orang. Karena ia hanya ingin satu, tidak ada orang lain yang tau masalah ini. Dengan kaki yang terus berjalan lurus kedepan, matanya melihat nomor yang terpasang di setiap pintu coklat bertuliskan empat puluh dua. Sekitar sepuluh menit berkeliling Rumah Sakit. Akhirnya Alan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN