"Gue bakal selalu ada buat lo, Zel.." Mengangkat kepalanya yang tertunduk, Anzela menatap mata dengan netra pekat di depannya. Cowok bersenyum manis itu berjongkok di hadapannya. Seolah meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja lewat senyuman yang menenangkan itu. "Sebagai teman lo," lanjut Alan tanpa sebuah dusta di setiap kalimatnya. "Gue mau jadi temen lo. Gue nggak mau debat sama lo terus, gue mau memperbaiki hubungan kita yang sempet nggak baik, gue minta maaf.." sambung Alan tanpa mengalihkan tatapan matanya. Alan mengangkat jari kelingkingnya ke arah Anzela yang duduk di kursi roda. Berharap gadis berwajah pucat pasi di hadapannya akan membalas uluran jari kelingking itu. "Teman?" Tanya Alan dengan kedua tangan yang terangkat. Anzela tersenyum kemudian mengambil uluran ta

